FF : Keep Me Safe

Keep Me Safe

keep me safe taeyeon kyungsoo

Tittle : Keep Me Safe

Author : Cicil

Cast : Kyungsoo and Taeyeon (diposter udah ada tulisannya gede-gede)

Support cast : Baekhyun (tapi dia ga ngomong apa-apa alias cuman pinjem nama)

Genre : romance(maybe), family, sad, angst

Rating : semua umur

Disclaimer : cast milik Tuhan, author cuman meminjam demi kelengkapan ff. ff ini milik author juga Tuhan. Ga boleh plagiat karena author juga buatnya murni dari pikiran sendiri.

Summary :                                          ‘He keep me safe…………

^^^^^_____^^^^^

“Kyungsoo” aku berhenti menulis sejenak mendengar namaku dipanggil oleh suara yang tak asing lagi ditelinga. Segera bangkit menuju keberadaannya. Setelah sampai bisa ditangkap oleh mataku bahwa matanya berbinar-binar, senyum meriah terpahat dibibir tipisnya, kedua tangannya menggenggam erat sebuah rangkaian bunga lili putih.  Dan yang terakhir kakinya tidak bisa diam bergerak seperti orang siap-siap melompat kegirangan.

Bisa kutebak pasti dia baru mendapatkan namjachingu seperti biasa. “Kyungsoo-ah aku berpacaran dengan Baekhyun oppa!! Ah ottokhe? Aku terlalu bahagia” kata-katanya memburu seperti jalan kereta api, mungkin… terlalu senang. Rasanya begitu sakit mendengar Taeyeon membicarakan namja lain padaku, dan itu terjadi sudah berkali-kali.

“ooh chukkae nonna” ucapku tersenyum tipis dengan nada dibuat-buat semangat. Sebenarnya sangat malas mendengar celotehannya, dia terus mengulang ceritanya inti sama namun beda kalimat bukankah sama saja mengulang cerita?

Taeyeon nonna menyuruhku duduk dimeja makan, katanya dia mau masak saking senangnya sampai mengadakan perayaan kecil-kecilan namun bukan bersama namachingunya sendiri tapi bersamaku aneh kan? Dia memang seperti itu yang berpacaran mereka tapi merayakannya denganku.

Aku mengamatinya memasak, tangan kecil itu terus bergerak kesana-kemari. Membuat bola mataku ikut mondar-mandir berputar arah memperhatikannya. Menumpu dagu dengan tangan kananku diatas meja, bagaimana ini? tugasku didalam kamar menunggu sedangkan aku hanya bengong-bengong disini.

“caaa ini dia kimchi spaghetti buatan chef Taeyeon yang mendunia” ujarnya dramatis melebarkan tangan bak pemasak-pemasak terkenal di tv. “ne ne nonna aku tau itu jangan berlebihan” entah mengejeknya atau nada malas.

Dia mengerucutkan bibir sambil duduk dibangku sebelahku, sedetik kemudian tersenyum ceria lagi “ah sudahlah ayo makan. Nanti dingin, kalau dingin masakannya tidak enak, kalau tidak enak nanti ka-

“kita tidak akan makan kalau nonna terus bicara. ssstttt” potongku menempelkan jari telunjuk dibibir tanda menyuruhnya diam. Dia kembali cemberut, ekspresinya yang lucu itu selalu menaikan moodku kkkk nonna you’re so pretty. kembali seulas senyum kutunjukan tanpa tujuan untuk siapa.

^^^^^_____^^^^^

“Kyungsoo! Ottokhe? Aku lupa membeli garam kemarin. Baekhyun oppa pasti tidak akan menyukai masakanku” adunya lagi padaku setelah seminggu berpacaran dengan Baekhyun hyung dia jadi suka masak, menyiapkan ini-itu sebagai hadiah untuk namjachingunya padahal bukan hari special.

“biar aku yang membelinya di minimarket depan. Nonna tunggu disini sebentar” aku berbalik arah menuju pintu apartment, mengambil payung dan jaketku yang berada disekitar pintu.

Diluar hujan deras, aku tidak bisa menyetir mobil pula jadi satu-satunya cara adalah berjalan kaki. Membuka payung warna hitamku kemudian mulai mengambil langkah panjang.

“ini garamnya, lain kali jangan sampai lupa” ujarku menyodorkan sebungkus kecil garam padanya. Taeyeon nonna mengambilnya tapi dia tidak langsung berbalik menuju dapur melainkan matanya sibuk menelusuri setiap sudut diriku.

Tak lama setelah itu tangannya yang satu terulur menepuk-nepuk lengan kiriku bermaksud membersihkannya dari air hujan. Aku hanya memandanginya, tadi hujannya turun disertai angin jadi walaupun aku memakai payung juga tidak bisa melindungiku dari butiran air hujan.

“harusnya tadi aku saja yang pergi. Ini kecerobohanku, lihatlah sekarang tubuhmu basah kuyup. Cepat mandi, rambutmu juga basah. Nanti kau sakit” segurat kekawathiran tampak dimatanya, aku tersenyum tipis mendengar cecarannya yang seperti ibu-ibu itu.

Dengan tangan kanan masih memegang bungkusan yang baru saja kubeli. Dia beralih mengambil sehelai handuk lalu mengusapkannya dirambutku, aku hanya diam terpaku disini. Apapun yang dia minta pasti kuturuti.

“sudah cepat mandi. Aku mau kembali ke dapur” suruhnya. Kemudian langkah kecil kuambil menuju kamar mandi.

^^^^^_____^^^^^

Author pov#

“Kyungsoo-ya dia jahat padaku” tangisan Taeyeon menyeruak lagi, matanya sudah sembap juga hidung yang memerah. Dia terus mengeluarkan air mata didalam dekapan Kyungsoo.

“sudahlah namja seperti Baekhyun hyung tidak perlu ditangisi” Kyungsoo mengelus-elus punggung Taeyeon, guna menenangkannya.

“kenapa aku begitu bodoh? Lagi-lagi tertipu, sudah berapa kali aku dicampakan? Mereka selalu memanfaatkanku. Taeyon bodoh bodoh bodoh” tangan yeoja mungil itu terus memukuli kepalanya sendiri. Sontak Kyungsoo langsung menghentikannya.

“Nonna hanya terlalu polos” katanya lagi dengan nada lembut.

“apa aku tidak punya jodoh? Mungkin aku membuat kesalahan hingga Tuhan menghukumku seperti ini. Kyungsoo-ya tidak ada namja yang tulus mencintaiku” emosi gadis itu meluap bagai air mendidih.

‘aku mencintaimu nonna, sangat sangat tulus’ batin Kyungsoo dalam hati. Taeyeon dengannya memang bukan saudara kandung hanya tinggal satu atap dan dekat.

Appa Kyungsoo sendiri bekerja di daerah London, Inggris. Sedangkan si ibu sudah menetap diSurga. Orangtua mereka sangat dekat jadi saat Kyungsoo ingin kembali ke London karena eommanya meninggal dengan sigap Taeyeon menariknya kembali menetap di Korea. Ayah ibu Taeyeon juga tidak keberatan kalau apartment anaknya ditempati juga oleh seorang namja.

Lalu kemana orang tua Taeyeon? Mereka menetap di Jepang entah untuk alasan apa. Taeyeon menganggap Kyungsoo sebagai adiknya namun Kyungsoo tidak memberi status saudara pada Taeyeon. Karena Kyungsoo mencintai nonnanya.

Berkali-kali tanpa sadar Taeyeon menorehkan luka dihatinya. Dengan berpacaran bersama namja lain lalu sebulan kemudian menangis tersedu-sedu karena dicampakan. Semua itu menyakiti Kyungsoo secara batin.

Dia ingin menyatakan rasa cinta ini tapi sebesit ketakutan menghantui. Kalau-kalau Taeyeon mengusirnya apabila gadis itu tau Kyungsoo menyayanginya lebih dari seorang kakak.

Rasa ingin memiliki harus dikuburnya dalam-dalam. Bagi Kyungsoo seorang membuat Taeyeon merasa aman sudah cukup. Membuat Taeyeon menerimanya juga mengulas senyum untuknya itu lebih dari bagus. Dan terakhir membuat Taeyeon merasa aman dalam lingkungannya meyakinkan Kyunsoo untuk selalu menemani Taeyeon.

“minumlah, berhenti menangis nonna” diberinya segelas air putih pada Taeyeon. Gadis bersurai coklat keemasan itu menerimanya, meneguk si air tergesa-gesa sampai habis. “aku memang polos sampai jadi bodoh” ulasnya lagi putus asa.

“cukup jangan mengatai dirimu sendiri”

‘biasakah nonna sadar? Aku mencintaimu sangat tulus. Bukan seperti Baekhyun, Suho, atau Sehun yang hanya mempermainkanmu nonna. Aku selalu ada disisimu, kenapa kau mencari namja lain?’ batin Kyungsoo.

^^^^^_____^^^^^

Sorang gadis berparas cantik dengan pelannya berjalan menelusuri jalan setapak, dikiri-kanannya berjejer gundukan tanah lama. Ditangannya membawa sebuah rangkaian bunga anggrek putih bersih.

Ditaruhnya bunga itu diatas batu nisan berkramik. “eomma bogoshipo” suaranya tercekat, bendungan air mata sudah tidak bisa ditahan lagi membuat kalimatnya tehenti.

Baru bulan kemarin dia patah hati dicapakan oleh namjachingunya, dan minggu kemarin sang ayah menghubunginya dengan suara parau memberitau kalau nyonya Kim sudah tiada. Rasanya sangat sedih, tidak bisa menemani ibunya disaat-saat terakhir, tidak hadir ketika ibunya menghembuskan nafas untuk yang terakhir kali.

Rasa sesal juga sedih mendominasi hati gadis bersurai coklat keemasan tersebut. Tetesan air mata bak hujan deras terus menemani harinya. Menangis sampai lelah kemudian tertidur lelap, lalu pagi harinya terbangun teringat lagi tentang kematian sang ibu lalu kembali menangis.

Dan itulah hari-hari Taeyeon sebulan terakhir ini.

Dari kejauhan si namja beriris hitam pekat itu mengamatinya. Dibalik pohon besar seperti di drama-drama tv. Matanya berbinar-binar namun bukan memancarkan kegirangan justru cahaya biasanya meredup, terluka, sekaligus menahan air matanya.

Kaos tipis dan celana pantai polos selutut membalut tubuhnya. Sampai sekarang mereka masih tinggal berdua di apartment Taeyeon. Tidak ada yang berubah mulai dari kuliahnya, tugas-tugas mengerikan itu, juga kebiasaan Taeyeon yang suka memasak.

Tapi satu yang pasti berubah semenjak kemarin Taeyeon yang merubah sikapnya terhadap Kyungsoo. Gadis berbinar itu mengambil sikap dingin walaupun masih menyediakan sarapan atau makan malam untuk adiknya.

Entah mengapa perlahan-lahan muncul rasa muak dalam hati si gadis. Muak ya muak akan sikap Kyungsoo. Seharusnya terbalik, harusnya Kyungsoo yang kesal bukan Taeyeon yang muak. Seharusnya Kyungsoo yang bosan menemani Taeyeon yang tidak tau terima kasih itu kalau orang-orang katakan.

Taeyeon masih larut dalam kesedihannya sementara gelap mulai menghantui. Cahaya sang mentari sudah berpindah ke belahan dunia sebelah. Menjadikan si rembulan sepi harus menemani Taeyeon. Gadis itu terduduk menekuk kakinya, berhadapan langsung dengan batu nisan Ibundanya.

Kristal-kristal bening selalu menempel dikulit wajahnya. “eomma” panggilnya dengan suara serak “aku ingin eomma disini” sejenak tangan kirinya beranjak menghapus si Kristal-kristal tak berwarna. “Taeyeon mau eomma disini” lanjutnya lagi.

eomma! Cepat kembali” teriak si gadis. Kyungsoo tak bisa lagi menahan kakinya. Langkah panjang mendekatkan dirinya dengan Taeyeon.

nonna kajja kita pulang” ajaknya mengulurkan tangan bermaksud membantu Taeyeon bangun. Gadis itu menoleh menatap manik mata Kyungsoo tajam, segurat kebencian tersirat. Tangan si gadis sontak menepis uluran Kyungsoo “shiro” tolak si gadis dingin

nonna ayo kita pulang nanti kau sakit”

“ya! Aku bilang aku tidak mau!” bentak Taeyeon, matanya melebar bak nyonya besar yang galak

“tolong jangan seperti ini, kajja” Kyungsoo mengambil lengan Taeyeon lalu menariknya. Dengan sigap Taeyeon memukul-mukul tangan Kyungsoo yang menariknya “aku tidak mau!”

Cekalan Kyungsoo terlepas tapi namja itu malah ikut terduduk memeluk nonnanya. “lepaskan aku, menjauh dariku!” Taeyeon meronta-ronta, memukul dada Kyungsoo berkali-kali.

Kyungsoo mempererat pelukannya “tenanglah” ujarnya. Sedangkan Taeyeon menyerah dia tidak lagi menolak dekapan namja yang dia anggap sebagai adiknya sendiri. “kembalilah seperti yang dulu, ceria dan bersemangat”

Taeyeon mulai terisak lagi “bagaimana aku bisa kembali seperti dulu? Kau lupa? Eommaku meninggal Kyungsoo! Eommaku meninggalkanku!” suaranya meninggi.

“apa nonna juga lupa? Eommaku juga meninggalkanku tapi aku bisa kembali seperti biasa” sejenak Taeyeon membisu, tenggorokannya tercekat.

Ya Taeyeon lupa kalau-kalau namja yang mendekapnya ini telah kehilangan sosok ibu sedari dulu. Otomatis Kyungsoo tau perasaannya sekarang. Jeda rekaman berputar dipikirannya mengulang kembali apa yang terjadi pada Kyungsoo dulu.

Dulu Taeyeon yang mendekap tubuh adiknya, mengusap-usap punggung namja itu, kemudian memberikan kalimat-kalimat penyemangat. Saat punggung Kyungsoo tak lagi tegak seperti biasanya, saat mata bulatnya memerah dan bengkak. Taeyeon selalu menemani disisi, memaksanya tetap tinggal di Korea, hingga keadaan kembali semula.

Satu yang tidak berubah adalah Kyungsoo yang selalu membuatnya merasa aman. Entah mengapa tapi sampai sekarang rasa aman masih tersimpan dibalik hati Taeyeon.

“larut dalam kesedihan bukanlah hal yang baik nonna

^^^^^_____^^^^^

Prannngggg

Suara pecahan kaca berhasil menembus indra pendengaran Kyungsoo, matanya langsung terbuka lebar.pagi hari yang cerah dihiasi cahaya matahari tidak bisa membangunkan Kyungsoo dari tidurnya tapi dengan sebuah suara akhirnya Kyungsoo bernajak dari tempat tidur. Langsung berlari menuju sumber suara itu.

Kyungsoo menghentikan langkahnya diruang dapur, tebakannya benar pasti Taeyeon biang kebisingan tadi. Mata bulat yang sudah besar itu melebar lebih lagi. Taeyeon duduk dilantai dekat meja makan, disekelilingnya pecahan beling gelas minum berserakan.

Tangan mungil Taeyeon mengambil salah satu kepingan tajam tak berwarna itu. Entah apa yang dia pikirkan yang pasti dia tidak menyadari Kyungsoo datang. Diarahkannya benda tajam itu pada lengan kiri miliknya.

Pikiran Kyungsoo berargumen cepat ‘Taeyeon ingin bunuh diri’. “nonna apa yang kau lakukan??!!!” dihampirinya Taeyeon lebih dekat lagi, gadis itu tak mengubris teriakan Kyungsoo dia terus melanjutkan acaranya sendiri. Seperti tidak ada orang lain dalam dunianya.

Ditarik paksa pecahan bening itu dari tangan Taeyeon, tapi tak semudah bayangan Kyungsoo. Nonnanya mempertahankan kepingan itu dalam tangan kanannya. Matanya lagi-lagi berbinar menyaratkan rasa kebencian juga sesal mendalam.

Keduanya masih bergelut dalam perebutan pecahan beling tajam hasil kerjaan Taeyeon. Namun tiba-tiba terbesit pikiran gila di otak Taeyeon. Dia terdiam memperhatikan adiknya yang masih sibuk dengan beling ditangannya.

Tanpa pikir panjang Taeyeon mengarahkan tangan kanannya pada leher Kyungsoo dan ujung tajam itu menyentuh permukaan kulit Kyungsoo. “nonna” serunya terdengar ditahan. Apa Taeyeon mau membunuhnya? “pergi dari sini, aku tidak suka kau melarang-larangku seperti tadi” dentum Taeyeon dingin.

“tidak, aku akan tetap disini”

Kemarahan Taeyeon meledak lagi tangan kanannya bergerak untuk menorehkan luka tapi Kyungsoo lebih cepat.

“aaakkhhh!!!” suaranya berat milik namja. Untung saja dia masih bernafas, si benda tajam yang bening itu tak membunuhnya tapi berhasil membuat garis panjang berdarah dilengan Kyungsoo.

Hening…. Taeyeon hanya memperhatikan lantai pijakannya, terdapat genangan kecil berwarna merah pekat. Seulas senyum kemenangan terukir, dia yang membuat genangan itu tapi bukan darahnya meainkan milik satu-satunya namja yang tinggal bersamanya.

Kyungsoo tidak lagi ditempat kejadian seperti Taeyeon. Dia berlari cepat mencari kotak obat lalu mengobati sendiri luka panjangnya.

Gadis itu berubah, seperti ada jiwa lain menutupi pikiran baiknya. Tidak ada rasa sesal kawathir muncul dari manik matanya. Malah sorot kemenangan tersenyum licik bak nyonya besar yang jahat. Sadarlah Taeyeon kau telah melukainya!

^^^^^_____^^^^^

Gadis mungil tersebut menyeret-nyeret langkahnya malas. Tidak punya tujuan hidup yang berarti. Dibelakangnya Kyungsoo dengan setia mengikuti.

Hujan angin saat ini tidak membuat Taeyeon segera berteduh, dia terus berjalan menyusuri jalan-jalan umum dari tadi pagi. ‘Untuk apa berteduh? Toh dibelakangku sudah ada penguntit yang memayungi’ batin Taeyeon. Penguntit yang dimaksud memang memayunginya sekarang. Payung warna hitam pekat itu berhasil melindungi Taeyeon dari guyuran hujan.

Tapi tidak dengan Kyungsoo, tubuhnya basah kuyup. Tanpa sengaja berhasil mengekspos badan bagian atasnya karena kaos putih tipis yang dikenakan berubah warna menjadi samar-samar warna kulitnya akibat air dingin hujan. Luka ditangan kanannya terpampang jelas, karena Kyungsoo memakai tangan itu untuk memegang payung. Luka panjangnya masih berwarna kemerahan, tidak ditutupi perban ataupun plester.

“nonna, kajja kita pulang”

Taeyeon tak merespon. Arahnya berbelok kekanan, tepat menghadap jalan raya. Lampu lalu lintas belum menandakan pejalan kaki bisa menyebrang. Dengan niat yang sama seperti kemarin Taeyeon malah berjalan menyebrang.

Sementara penguntitnya masih mengikuti “nonna jangan lakukan ini” larang Kyungsoo menarik tangan nonnanya. Taeyeon berbalik “pergilah, jangan lagi menjadi penguntitku” suaranya pelan tapi menusuk. Gadis berambut pirang itu meneruskan jalannya yang sempat terhenti barusan.

Tiiinnnnn Tiinnnnn

Belum Taeyeon tidak menghentikan langkahnya.

Brruuukkk

Taeyeon tidak berhenti dia terus berjalan. Sampai dia sadar suara teriakan orang-orang yang melarangnya menyebrang tadi tidak terdengar, klakson-klakson bising itu tak menusuk telinganya lagi. Akhirnya dia berhenti terpaku diam dalam pikirannya. Dan satu lagi, kini air hujan mengguyur tubuhnya hingga basah seperti Kyungsoo.

“Kyungsoo” ucapnya tanpa sadar, dia mendongak keatas melihat langit gelap. Payung hitam tadi hilang, kemana payungnya? Kemana penguntitinya?

Tindakan terakhir adalah menoleh kebelakang mencari penyebab hal-hal yang berubah. Sekejap matanya melebar sempurna. Kakinya langsung bergerak lari menghampiri Kyungsoo.

Lutunya tertekuk, dia berhasil terduduk ditengah penyebrangan jalan raya. Dihadapannya Kyungsoo tergeletak dengan kaos berwarna merah pekat. Banyak orang mengelilingi mereka berdua.

“Kyungsoo-ah” tangan mungil itu menyentuh pipi Kyungsoo, juga sedikit menamparnya. “ya! Kyungsoo!” bentaknya.

Kedua tangannya sigap menekan-nekan dada adiknya. Ditekan satu kali dua kali lalu berhenti. Tangannya tadi tak merasakan tulang rongga dada milik Kyungsoo seperti kebanyakan orang. Taeyeon beralih, disandarkannya kepala Kyungsoo dipangkuan. Kembali manampar-nampar wajah adiknya.

“bangun!” tubuh tidak bernyawa itu terus digerak-gerakan oleh Taeyeon, berharap nyawa yang sudah pegi kembali menyatu dengan raganya.

^^^^^_____^^^^^

Taeyeon pov#

Aku duduk dibangku kayu milik Kyungsoo serta menghadap meja belajarnya yang mulai berdebu, karena sudah lama tak disentuh sang pemilik. Kubuka lembar pertama buku tulis kosong miliknya, sampulnya unik bergambar ‘Pon and Zi’ si laki-laki sedang memayungi gadisnya. Ditengah hujan dan langit gelap persis seperti terakhir aku bersamanya.

Aku mulai menulis sederet kalimat ‘Regret always comes too late and I feel’

Ya aku menyesal sekarang.

Setelah menulis satu kalimat itu aku membuka lembar selanjutnya dan menemukan secarik kertas kecil yang terselip.

‘they should see it all’

‘from my point of view’

  ‘that I would keep you safe’

Tiga baris kalimat yang dia tulis membuat hatiku tertohok, ada sebuah palu besar yang menghantamku menghasilkan rasa sesak lebih dari sebelumnya.

Kyungsoo-ah aku menyesal pernah menganggapmu seorang penguntit, adik sialan yang sok melarangku ini-itu. Maaf karena aku terlambat menyadarinya. Bahwa kau mencintaiku sebagai seorang yeoja bukan nonna. Maaf kalau aku selalu menyakitimu sampai terakhir kalinya.

nado saranghae Kyungsoo-ah

Kemudian aku beralih, merobek kertas polos berukuran enam kali sepuluh senti mungkin, robekannya berantakan tapi cukup untuku menulis satu lagi kalimat.

Author pov#

Gadis mungil itu selesai dengan aktivitasanya menulis sederet kalimat juga mengenang adiknya. Dia menutup pulpennya dan mengembalikannya pada kotak yang tersedia. Secarik kertas yang robekannya tak berbentuk itu dia tinggalkan.

Taeyeon beranjak dari kursinya ingin mengambil minum didapur. Tanpa sadar tangannya menyenggol buku tadi. Membuat kertas robekan itu terjatuh.

Melayang kemudian menyentuh lantai marmer yang dingin. Tulisannya terlihat, sebaris kalimat dengan tulisan tangan besar dapat terbaca dari jauh sekalipun.

‘He keep me safe until he died’

END

Cuap cuap bentar hehe. Akhirnya selesai juga yang satu ini, berat loh bikinnya kehabisan kata-kata mulu aku. Kayaknya sih agak dipaksain intinya cuman aku gam au buat misteri atau biar readers nyadar sendiri. Kalo masih engga ngerti atau ada pertanyaan saya siap menjawab tinggal komen aja. Harapannya sih readers mau komen tapi kalo ga mau alias jadi siders terserag kalian. Gomawo^^

Advertisements

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s