FF : Tonight

 Tonight

Author : cicil

Title: Tonight

Pairing : LuFany

Genre : Romance

Rating : PG-13

Disclaimer: semua manusia milik Tuhan termasuk, main cast dan support cast sendiri. But cerita atau ff ini murni dari inspirasi pikiran otakku.

Summary :

Untuk pertamakalinya aku bertemu dengan dirinya

Malam ini

Happy Reading ! 😀

>>>>>>>><<<<<<<<

Aku, ya diriku yang lelah dalam segala hal. Lelah untuk terus bekerja bangting tulang seperti tulang punggung keluarga namun keluarga yang kupunya hanya diriku dan rumahku sendiri. Lelah untuk terus tersenyum, mengatakan bahwa aku baik-baik saja pada semua orang tapi nyatanya aku tidak baik-baik saja sekarang. Aku lelah.

Terduduk diatas hamparan pasir, malam ini aku ingin melepaskan semuanya, semua rasa lelah itu, beban yang menumpuh di pundak dan kepalaku, aku ingin melepasnya sekarang. Bagaimana caranya?

Angin malam berhasil membuat rambut hitamku berantakan. Kedua tanganku sibuk merapikan rambut berantakan ini. Didepanku terpampang jelas deburan ombak air laut menari-nari. Gelap dan hanya ada satu buah lampu neon dengan cahaya kuning yang remang – remang jauh dibelakangku.

Keluargaku meningalkan aku dengan alasan yang tidak masuk akal, semua keluargaku bahkan sampai sanak saudara pun ikut berpartisipasi dalam acara ‘meninggalkan Tiffany sendirian’ bukan acara jebakan ulang tahun, bukan juga lelucon dalam sehari. Tapi mereka menjauhi diriku. Entah apa yang salah dengan ku.

Aku sekarang hanya tinggal sendiri dirumah keluargaku yang sebelumnya aku tinggali bersama mereka. Mereka bukan pergi selamanya namun pergi menjauhiku, memang setiap bulannya aku mendapat uang untuk kebutuhanku sendiri. Tapi jumlahnya terlalu sedikit sehingga aku harus bekerja sendiri.

Aku menyisir-nyisir rambut hitam panjangku yang sedikit kusut dan berantakan di bagian belakang. Tanganku akhirnya berhenti menyisir rambut, mengernyitkan alisku bingung. Tangan kananku masih saja menempel di rambut. Ada sepasang tangan hangat yang menyentuh tangan kananku sehingga aku masih terpaku sampai sekarang.

Menolehkan kepala kesebelah kiri, dan bisa ku lihat seorang namja imut berpakaian kaos putih oblong? Duduk disebelahku dengan gaya yang persis sama sepertiku, menekuk lutut. Matanya masih tertuju pada rambutku, aku memandangnya lekat-lekat mencoba mencari informasi siapa namja ini melalui kedua mata.

Deg

Mataku membulat, rasanya jantung ini berdegup sangat kencang sampai aku bisa merasakannya. Dia menoleh, menatapku persis dimanik mata dengan wajah antara datar dan bingung. Membuatku kaget dan tersentak. Tangan kananku aku turunkan,dia masih menatapku

‘ahh ottokhe?’ ya aku benar-benar panik sekarang. “fyuhhh” untung saja dia kemudian menoleh kearah lain entah kemana aku tidak peduli. Aku tidak mengenalnya untuk apa peduli? Bukankah kata orang ‘tak kenal maka tak sayang’ (sedikit Indonesia asli).

Suasana hening, aku juga tidak berniat sedikitpun memecahkan keheningan ini. Kami sama-sama diam membisu tanpa kata-kata. Suasananya memang canggung, ah tidak, bahkan sangat sangat tidak nyaman untuku dan mungkin untuknya juga.

“aku Luhan” untuk pertama kalinya mendengar suara namja itu, dan yang keluar bukan kata-kata sapaan terlebih dahulu atau menanyakan siapa namaku dulu. Terlalu informal, menurutku.

“Oo”balasku membulakan mulut menyerupai huruf ‘O’

“kau?”

“eh? Aku?”

“apa disini ada orang lain selain kamu?” Tanya namja yang bernama Luhan disampingku. Kedengarannya seperti meledeku huh!

“Aku Stephanie tapi panggil aja Tiffany” Stephanie nama yang dibeikan appaku dan Tiffany nama yang diberikan eomma. Saat eomma meninggal aku ingin memakai nama Tiffany untuk selalu mengingatnya

“kau bukan orang korea?”

“ne, hanya saja menetap disini”

“oohh, aku juga”

“oe? Jinjjayo? Lalu kau dari mana?” ucapku semangat, sangat sulit menemukan orang asing di korea

“aku dari China, tapi tidak tinggal disini” aku menyatukan sepasang alisku tanpa mengucapkan apapun Aku yakin dia pasti tau apa maksud dari ekspresiku.wajah kami masih saling bertemu dan aku bisa melihat reaksinya terhadap ekspresiku barusan, dia tertawa kecil namun bagiku itu ledekan “aku hanya liburan sebentar”

Mungkin dirinya yang mudah diajak bicara membuatku nyaman sekarang. Entah mengapa aku merasa kalau aku bisa menumpahkan keluh kesahku padanya. Sorang namja imut datang padaku secara tiba-tiba apa dia malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menemaniku?

Dari tadi dia terus saja menyerocos tanpa henti. Mulai dari teman sekolahnya, orang tuanya, sampai nonnanya yang katanya berisik dan galak, apa dia tidak sadar dirinya sendiri sepertinya lebih berisik. Aku juga menceritakan semuanya padanya,tentang nasib malangku dan sebagainya. Kami seperti bertukar cerita. bercanda, tertawa-tawa untuk lelucon yang kami buat-buat sendiri.

Perlahan aku menyadari sosoknya yang tampan…..

Ya, sangat tampan. Rambut blondenya yang berantakan karena angin malam, iris coklat pekat dan matanya yang berbinar-binar . senyumnya yang menghangatkanku seperti sinar matahari pagi. Siluet tubuhnya sangat terlihat, terkena pantulan sinar bulan yang tak begitu terang. Gelap namun aku masih bisa melihatnya. Dia mempunyai eye smile sepertiku, saat dia menunjukannya aku jadi ikut tersenyum lebar. Imut dan tampan

Perlahan ada rasa yang timbul di hati. Rasa seperti ingin dirinya menjadi miliku, aku baru saja mengenalnya. Apa dia namja baik atau jahat? Tapi aku tak peduli aku hanya mau dirinya yang hangat seperti sinar matahari selalu ada menemaniku disini.

Aku sadar sekarang, aku menyukaimu….

Bukan sekedar rasa suka…

Tapi rasa mencintai yang kian membesar disini, di hatiku

“Lu” panggilku, secara tak sengaja juga aku menghentikan ocehannya yang tak berujung itu.

Dia mengalihkan pandangannya padaku. Menatapku persis dimanik mata. Ada rasa gugup. Matanya berbinar-binar, senyumannya belum pudar sedikitpun, sudut-sudut bibirnya masih dia tarik sampai sekarang.

“ya? Ada apa tiff?” sejenak aku berhenti mengagguminnya, menggeleng-gelengkan kepalaku “tdak ada apa-apa. Hanya saja…”

“apa?” tanyanya penasaran karena aku menggantungkan kalimatku.

“Hanya saja ehmmm…. Nan jeoaheyo” ucapku tanpa sadar, aku baru saja menyatakan perasaanku, ah Tiffany pabo bagaimana kau bisa sejujur ini?

Detik berikutnya terlihat perubahan besar dimataku. Bibir tipisnya tak lagi menlukiskan senyuman hangat. Mata binarnya berganti jadi sendu, dia terlihat sedih dan memendam rasa itu. Apa aku salah bicara? Apa aku salah untuk mencintainya?

“nado” sejenak aku terdiam, mencoba mencerna satu kata singkat yang keluar dari bibir munglinya. Mataku berhasil membulat, senyumku sudah tak bisa ditahan lagi untuk tidak keluar. Tak sepatah katapun terucap dari bibir ini. Aku masih terlalu bahagia sampai tak tau harus berbuat apa. Ingin melompat-lompat kegirangan sekarang juga tidak mungkin, jadi aku melakukan pesta kecilku ini di dalam hati saja.

Perlahan tubuhnya mulai mendekat, mennyisakan hanya beberapa centi ataraku dengannya. Wajahnya mendekat, aku menutup mata tidak ingin tau apa yang akan terjadi sebentar lagi. Tiba-tiba aku merasakannya, hangat di bibirku.

Cukup lama, dirinya memberikan lumatan lembut. Membuatku nyaman dan tidak ingin segera menyudahinya. Tangannya terulur, melingkar di sekitar leherku. Mengikuti permainannya tanganku juga ikut bergerak, memeluk bagian punggungnya.

Sampai akhirnya aku kehabisan nafas, bahkan diriku terlebih dahulu yang menyudahinya. Menarik dan mengehembuskan nafas beberapa kali, mencoba menstabilkan detak jantung yang seperti ingin copot. menundukan kepalaku, merasa belum siap melihat wajahnya lagi.

“fanny-ah” dia bahkan memakai bahasa informal padaku. Aku mendongak melihat wajahnya yang berseri. “wae?” tanyaku.

“aku harap kau tidak melupakanku” bingung, itulah yang memenuhi sebagian otak ku sekarang ‘untuk apa melupakannya?’

“nan saranghaeyo” tanannya menyentuh bahuku, menarik tubuhku untuk tertidur diatas pasir. Aku tidak menolak, hanya mengikuti apa yang dia inginkan.

Kami tiduran, mengarahkan wajah ke langit. Tidak ada bintang, hanya bulan sabit dan si lampu neon kuning menerangi ditambah dengan background gelap hitam dan warna pasir yang tak jelas. Suara ombak masih menemani dari tadi, deburan air yang menghantam pasir kasar.

“aku mau tidur” ucapnya tanpa ditanya dulu olehku

“kalau mau tidur, tidur aja ngapain bilang-bilang ke aku” Luhan mencibir

“Hanya memberitau kok apa salahnya?”

“sudahlah, aku juga mau tidur” lebih baik aku yang mengalah, daripada nanti bertengkar tak jelas seperti tadi. Menyebalkan untuk beradu mulut dengannya, dia tidak akan mau kalah terus menjawab sampai aku kehabisan kata untuk melawannya.

Aku mendiaminya, tidak mengajaknya bicara selama beberapa menit. Dia tetap saja diam. Penasaran wajahku menoleh mencari sosoknya.

Eo? Dia tidur pantas saja dari tadi tidak bicara ternyata aku sudah ditinggal tidur.

Malam ini malam yang mengesankan, ada seorang namja yang datang tiba-tiba menghampiriku mengajakku bicara dan akhirnya rasa sukaku mucul dalam semalam

Hanya malam ini, ya hanya malam ini. Satu malam yang berbeda dari yang biasanya aku jalani. Aku harap kau terus disini menjadi pengganti keluargaku yang sudah lama hilang.

Tonight is just one night and Luhan saranghaeyo…..

END

Makasih yang udah mau baca, maaf kalo banyak typo dan semuanya ini pov Tiffany. Aku bersedia menerima kritikan dan saran atas ffku ini, mungkin tulisan dalam bahasa koreannya salah atau gak kaya akan kata-kata. Siap diterima supaya author amatiran ini? Bisa jadi yang lebih baik dan gak amatiran lagi…. gomawo 🙂

Advertisements

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s