FF TRILOGY : L.O.V.E (part 1/3)

 

L.O.V.E (1/3)

l.o.v.e poster

 

Tittle : L.O.V.E

 

Author : Cicil

 

Cast : Kim Myungsoo and Stephanie Hwang

 

Support Cast: Suzy

 

Genre : romane, fluff

 

Length : trilogy / threeshoot

 

Disclaimer : all characters belong to God

 

 

 

Happy Reading

 

 

Kisahnya bak cerita picisan, murah dan umum. Tapi ada sesuatu yang membedakan, bukan karakternya, bukan bahasanya, namun ketulusan cinta.

 

Stephanie mengambil langkah-langkah panjang dalam tempo cepat. Ia terlalu terburu-buru untuk sekedar sarapan pagi hingga pilihan terakhir ialah membawa secangkir kopi panas harga murah dijalan. Cukup itu dan bisa mengganjal si cacing perut.

 

Hello? You’ve got there? sorry I’m late. wait a minute and I’ll get” panggilan sebrang menjawabnya malas lewat nada rendahnya yang kecewa –harus menunggu Stephanie lebih lama lagi. Stephanie segera menyelipkan lagi alat telekomunikasinya di sela-sela kantung blaze pinknya.

 

Ia sedikit bersyukur, jalan setapak yang disediakan pemerintah untuk pejalan kaki kali ini lenggang tanpa seorang. Otaknya kali ini tak bekerja lebih keras lagi, kenapa tidak menggunakan taksi atau bus? Setidaknya itu lebih tak menguras tenaga. Stephanie terlalu cepat berpikir dan menurutnya berpikir lebih lagi itu menghabiskan waktunya.

 

“Oh God, You are so messy” nadanya dimainkan berebihan bak pemain film drama. Myungsoo tersenyum mengejek, menangkap siluet teman sekerjanya dari kejauhan. Ia baru saja berkomentar tak penting ‘lagi’

 

“Maaf, sungguh, alarmku kehabisan baterai kemarin” Myungsoo mencibir sejenak, ia masih duduk dikursi dan berhadapan dengan meja komputer kantor mereka. “Kita punya janji pagi ini. Karena kau, aku jadi harus memohon dramatis pada pak direktur supaya diberi sedikit lagi waktu.” Stephanie menaruh barang-barang bawaannya sembarangan dimeja.

 

Kertas file biru itu masih mengapit dilengan kanan, dan tangan kirinya sibuk merapikan rambut berharap sedikit tampil lebih rapi. Waktu di New York dan Seoul itu berbeda, dan bodohnya Stephanie Hwang masih menyetel alur jamnya searah ibukota Korea.

 

Ceritanya panjang, huh! Terlalu berbelit diucapkan. Yang intinya adalah, ia pindah ke kota berbahasa Inggris ini sebuan yang lalu. Myngsoo, cowo sok pintar itu memaksanya. Tapi cinta mereka menghipnotisnya hingga mau saja. Jadinya begini kan? Dia sulit beradaptasi dan kekasihnya selalu marah-marah. Bukankah tadi mereka adalah teman sekerja? Jawaban tepat adalah iya tapi mereka juga sepasang kekasih.

 

“Tiff”

 

“Hmmmn?”

 

“Kau tau? Hidup disini memang agak susah. Aku harap kau masih betah menjalankan hari-hari kita” wajah cowo itu berubah serius, masuk kedalam retina mata Tiffany.

 

“Te-tentu saja, aku pasti nyaman” seumbar senyum melukiskan bibir pink nya. “Sudah-sudah jangan menatapku terus. Ayo masuk” tangannya menarik lengan Myungsoo.

 

_____,___________

 

 

 

Tiffany mendongakan kepalanya saat bel pintu café berdering. Myungsoo belum menepati janjinya ‘lagi’ lelaki itu pasti masih sibuk dengan kerjanya. Berhubung ia sebatang kara, Myungsoo  adalah satu-satunya manusia yang ia pegangi, jadikan alasan hidup.

 

Seorang barista menghampirinya, perempuan itu meletakan secangkir moccacino coffee. Asapnya mengepul, entah embun uap kopinya atau udara New York yang mendingin. Ada setitik-titik air dikaca jendelanya.

 

“Hei! Bagaimana urusanmu? Cepat sekali selesainya.” Kalimat itu mengagetkan, sungguh. Tiffany sontak menoleh, mendapati Myungsoo sudah bertengger manis di kursi hadapannya. Ia tak membalas, malah mengalihkan pandangan lagi, mengamati berembunya tembok bening itu.

 

Myungsoo terbiasa sudah akan sikap kekasihnya, ia menyeruput halus moccacino Tiffany tanpa permisi. “Hei! Moccacinoku!” Tiffany beramarah sambil menunjuk coffee-nya yang tengah dipegang Myungsoo. “Masalah kita masih banyak. Ayolah, jangan bersikap seperti ini”

 

“Apa? kau ingin aku seperti apa?” ia menghela nafasnya kasar, kekasihnya ini benar-benar sensitive rupanya. Selanjutnya, keheningan mengisi. Samar-samar suara penyanyi café terdengar mengalun pelan.

 

Myungsoo asik memikirkan kerjaannya sedangkan Tiffany sibuk melamun. Keduanya canggung walaupun lama bertemu. Hujan dingin bak peluru dari atas langit, menembaki jalanan bersemen diluar kaca café. Orang-orang mulai memlebarkan payungnya yang berwarna.

 

Disenja yang suram, tentu ada yang menarik bukan? Di warna yang hitam, pasti ada pelangi bersembunyi.

 

“Lama menunggu?” Tuan Kim menarik kursi yang ada disebelah anaknya. Keduanya menoleh bersamaan, lalu menggeleng sambil tersenyum ramah. Entah angin apa membuat ayah Myungsoo mau bertemu Tiffany. Setaunya dari dulu hubungan mereka kurang disetujui.

 

Berpikir dari sisi positif, Tiffany merajut senyum manIsnya lagi. Di sisi lain pula sejenak rasa takut menghampirinya. Suara langkah kaki tiba-tiba menggema di telinga Tiffany. Sentuhan hak tinggi runcing dan lantai berporselen.

 

Tiffany menangkap siapa itu? Tubuhnya simetris, lekukan badan sempurna dan wajahnya yang cantik. Ia tidak mengenali sosok wanita itu, walaupun datangnya bergairah dan mempesona. Tiffany hanya tau kalau wanita itu mengarah mejanya.

 

Tebakannya mulus setepat anak panah di angka sepuluh. Si wanita duduk dihadapan Myungsoo –sebelahnya–  mengulas senyum tipis, menurut Tiffany itu indah tapi serasa ada sesuatu dibaliknya.

 

Disisi lain, Myungsoo bergeming, bahkan ia tak membalas tarikan bibir wanita itu. Otaknya sudah berargumen yang bukan-bukan. Tapi kali ini ‘argumen yang bukan-bukan’ itu memang nyata.

 

“Kenalkan ini Bae Soo Ji” nada rendah dari sang ayah mengalihkan pandangan Myungsoo. Pria berkacamata plus itu tertawa singkat, sambil tangannya yang merangkul Bae Soo Ji santai. Wanita itu –Bae Soo Ji—juga ikut terkekeh.

 

“Tiffany.”

 

“Ne?”

 

“Sebelumnya saya minta maaf. Bae Soo Ji ini adalah wanita cantik yang akan kujodohkan dengan putraku.” pupil pria itu menunjuk lelaki muda di sebelah Tiffany.

 

Bak awan yang tiba-tiba menggelap, ada segelintir petir sambar dihatinya. Bahkan ayah Myungsoo sendiri seperti meremas hatinya. Ia meledak juga.

 

“Maaf, saya harus pergi sekarang.” Tiffany berdiri, sempat membungkuk hormat sebelum ia melesat hilang dibalik pintu utama café.

 

Sedangkan si laki-laki – yang sebelumnya duduk disebelah Tiffany—hanya bisa melongo tak jelas. Matanya membulat lebar seperti donat. Ayahnya sengaja dan ia tau itu. Sejam yang lalu, ia juga tak yakin kalau Tuan Kim akan dengan senang hatinya mau makan siang bersama.

 

Sedari dulu, sedari dia masih tinggal di Korea dan berpasangan bersama Tiffany. Tuan Kim lantas tak suka, entah mengapa. Alasan kurang jelas memperlengkap juga.

 

“Tunggu! Apa maksudnya? Jodoh? Siapa nuna Bae ini?” ia membiarkan Tiffany berlari menghilang, ia ingin memberikan waktu bagi kekasihnya untuk menyendiri. Pilihan paling baik menurutnya adalah tetap duduk dan menuntut penjelasan.

 

“Tidak ada maksud apa-apa. suzy adalah anak rekan bisnis Appa. Bukankah lebih baik kau berpacaran dengannya? Dibandingkan wanita murahan itu?”

 

“Apa murahan? Itu terlalu menghina. Sekali lagi maaf saya menolak perjodohan ini” semacam dengan Tiffany, Myungsoo ikut memudar dari pandangan ayahnya.

 

—-,———

 

“Hello?”

 

“Taeyeon-ah” Tiffany menyerukan nama sahabatnya, sambil terus menghusap air mata yang tak kunjung terkendali. “Ada apa? kenapa kau menangis?”

 

“Dia. Ah! bukan, ayahnya. Menjodohkan Myungsoo dengan wanita lain didepan mataku sendiri. Seperti sengaja. Kau tau ‘kan?”

 

Tiffany mulai bercerita panjang lebar.

 

Tok tok tok

 

Seseorang mengetuk pintunya, Tiffany menoleh. Curhatannya berhenti sejenak. Semenit dihabiskan dan ia beranjak dari kursi. Membuka relung pintunya. Tampak Myungsoo berdiri disana, dengan kepala menunduk. Tiffany menangkap jelas surai kekasihnya berwarna hitam.

 

“Ada apa?” tanpa intonasi tanpa gaya bahasa. Ia mencoba bersikap dingin. Walaupun faktanya ia baru saja menangis habis-habisan karena Myungsoo.

 

“Hubungan kita tidak akan berakhir ‘kan? Tidak akan berakhir. Pasti. Tiff aku akan mempertahankanmu.” Gadis itu tertohok, ia kembali meledak bak bom atom. Tangisnya pecah, langsung berhambur memeluk Myungsoo erat-erat. Enggan melepaskan.

 

Bak Myungsoo adalah kumpulan awan gumpal yang akan menghilang jika hujan turun.

 

“Tidak akan pernah Tiff, tidak akan.” Sosok itu menghusap-usap punggung Tiffany lembut.

 

 

 

 

TBC

 

One thought on “FF TRILOGY : L.O.V.E (part 1/3)

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s