FF : Still (ficlet)

Still

Tittle : Still

Author : Cicil

Cast : – BtoB’s Minhyuk                 and Sungjae

Genre : Brothership

Rating : G

Length : Ficlet

Disclaimer : All belong to GOD

–Like Still live in the same day.

Kelopak matanya berangsur-angsur terbuka, seperti baru pertama kalinya menangkap si matahari yang menyemprotkan sinarnya. Retinanya serasa berkunang-kunang, ada empat sampai lima burung kecil berterbangan mengitari kepalanya –tentu saja itu hayalan—

Tanpa suara, tanpa kebisingan. Pikirannya mengosong. Entah apa yang ia tau sebelumnya, otaknya serasa tak bekerja kali ini. Irisnya menerawang ke langit-langit ruangan, ada setembok bercat putih mulus dengan lampu putih yang tampak setitik kecilnya.

Beranjak dari kasur nyaman, menengok sebelah kirinya. Mendapati lemari kayu yang berdempetan dengan pintu kamar mandi. Ya, seingatnya itu papan persegi panjang berfungsi memisahkan ruangannya dan kamar mandi.

Minhyuk menghusap wajahnya lembut memakai handuk putih ukuran kecil. Wajahnya kusam sekalipun dibasuh berkali-kali, bagian bawah matanya berkantung, ada gradasi kehitaman melingkar disana.

Semenit merenung dan ia sadar, kamarnya berantakan.

Tok tok tok

Langkahnya terburu-buru.

Cklek

Seorang paras tampan, berdiri dihadapannya. Senyum lebar semampai. Alis terangkat semangat. Dan jangan lupa, postur tubuhnya yang lebih tinggi dari Minhyuk. “Hai!”

Minhyuk menaikan sebelah alisnya, dengan dahi berkerut. Pria itu mengulurkan tangannya, segera menjabat tangan Minhyuk yang keliatan enggan bersalaman ria.

“Sungjae, Yook Sungjae.”

“Minhyuk.” Jawabnya singkat, tanpa membalas senyuman empuk Sungjae. Tanpa permisi, pria lumayan tinggi itu menggandeng tangan kanannya. Menariknya –sedikit pemaksaan— keluar dari ruangan berantakan hampa udara.

Minhyuk merasa paru-parunya baru terisi oksigen. Tulang rusuk dan dadanya berlomba mengembang.

Udaranya sejuk.

“Bagaimana kau bisa masuk kerumahku?” Sungjae hanya menoleh, dan pandangan mereka bertemu. Tak ada jawaban justru semanis gulali lagi senyumnya mengembang.

“Kita sudah terlambat! Kau tau? Pacarku menunggu di ruang tamu sejak tadi. Kau bangun terlalu terlanbat hyung.” Minhyuk hanya berhasil memunculkan tanda tanya. Hyung? Pacar? Apa yang pria itu maksud? Ia tak mengerti bahkan kenal pun tidak –sebelum Sungjae memperkenalkan dirinya sendiri tadi—

Mereka menuruni tangga dan Minhyuk melihat sosok gadis mungil membelakanginya. Rambut panjang warna coklat dengan balutan kain sutra bermodel.

“Jiyeon-ah!” gadis itu menoleh, untuk ketiga kalinya ia melihat senyum lebar semampai lagi. Tapi kali ini dari Jiyeon.  “Annyeong! Aku Jiyeon, Park Jiyeon.”

Sepuluh menit berlalu, cepat lambatnya Minhyuk sudah merasa nyaman. Melupakan sejenak pertanyaan-pertanyaan anehnya tadi pagi. Ketiganya beriringan keluar rumah, tujuan mereka adalah café.

“Ya! Itu punyaku!”

“Siapa suruh kau tak minum? Aku haus.” Jiyeon menyeruput ice coffee –miliknya sekarang—

“Siapa suruh kau tak pesan minuman? Hyung! Kenapa kau diam saja? Lihat itu! Jiyeon mengambil minumanku!” gaya ala anak kelas 3 SD, jari telunjuk Sungjae lantang-lantang mengarah pada kekasihnya. Hyungnya hanya menghabiskan sisa tawa.

Tanpa sederet jawaban bahkan sekata untuk membela adiknya. Minhyuk seperti bebas dalam penjaranya, entah apa yang ia maksud ‘penjara’ tapi kehadiran Sungjae dan Jiyeon memberikan nuansa lain, selain hitam putih.

Menjelang sore, langitnya keunguan. Matanya menerawang kembali, diam sendiri sementara sepasang kekasih disebelahnya itu tengah adu mulut. Ia lelah melerai keduanya, sejak pagi tadi hingga kini.

“Sudah larut. Eomma akan marah padaku kalau kita tidak pulang sekarang.” Jiyeon beranjak dari duduknya, meletakan gelas ice coffee bekas di meja berbundar. Sedangkan pacarnya mengeluarkan dompet kulit hitam, menarik selebaran uang untuk membayar.

Minhyuk cukup memperhatikan tingkah keduanya, tanpa bergerak dari kursinya. “Oppa! Ayo pulang!” gadis itu menarik lengan Minhyuk –seperti Sungjae menariknya tadi pagi—

—-,———

Kicauan burung mengalun semerdunya lantunan piano. Kelopak matanya mulai membuka sedikit demi sedikit. Ia seperti beru pertama kali menangkap cahaya mentari. Kali ini lengan sikunya bertekuk. Usaha melarang sorotan silau itu.

Menggangunya.

Minhyuk menerawang sengut langit-langit kamarnya, setitik lampu dan setembok bercat putih. Ia beranjak dari ranjang tidurnya dan mengahadap kekiri. Ada lemari kayu coklat berimpitan pintu kamar mandi.

Tok tok tok

Cklek

“Hai!” pria lumayan tinggi mengumbar senyuman gigi putih padanya. Minhyuk mengerutkan keningnya. “Sungjae. Yook Sungjae.” Mereka bersalaman, namun hanya pria bernama Sungjae itu yang bersemangat.

“Minhyuk.”

Dengan paksaan, Sungjae meraih tangan kanan Minhyuk, memaksanya keluar dari kamar sempit. “Hyung! Ayo cepat. Pacarku sudah menunggu sejak tadi di ruang tamu.”

Sampai di ruang tamu. “Jiyeon-ah!” gadis cantik bertubuh mungil menjadi objek utama retina matanya. “Annyeong! Park Jiyeon imnida.” Mereka bersalaman.

Aku seperti berputar dalam 24 jam, jarumnya masih berputar, waktunya masih berjalan. Seperti berulang-ulang. Like live in the same day.

Author note : ini absurd banget 😦 yang paling ga jelas yang pernah aku buat >< maaf ya kalo typo sama ga feel. Thanks for reading my fiction.

Advertisements

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s