FF : I’m Just (Chapter 1)

 

I’m Just by Cicil. Staring with GG’s Yoona and Seohyun and EXO’s Luhan. Chapter. All belong to God.

Aku

Hanya

Terjebak dalam Cinta

.

Yoona merangkap rambut cokelatnya dengan telapak tangan. Mengikatnya dalam satu karet. Kemudian menegapkan tubuhnya kembali. Merapatkan pelukannya pada buku-buku sastra. Kakinya melangkah perlahan. Tidak ada perasaan apapun yang lebih dari sekedar biasa.

Bibir kemerahan itu tersenyum tipis, tiap-tiap orang menyapanya. “Yoona!” dan ia balas tersenyum.

Ia menundukan kepala, membenarkan si cardigan ungu agar tampak lebih rapih. Sebab ia di tengah-tengah perempatan lorong gedung. Yoona tepat berhenti di situ. Tanpa rasa peduli orang akan menyenggolnya. Atau setidaknya, menganggap Yoona pengganggu di jalan.

“Ya! Ya! Ya! Jangan lari! Hey!” gadis itu memalingkan pandangannya ke kanan. Menangkap siluet sorang perempuan cantik yang marah-marah. di depan perempuan itu ada laki-laki dengan senyum bodohnya. Berjalan mundur, membelakangi Yoona.

Yoona seakan terpaku. Ia tahu laki-laki berjalan mundur itu pasti segera menabraknya. Sekali lagi, ia tahu. Tapi tidak satu pun syaraf kakinya bergerak.

Bruukkkk

“Aww!”

“Maaf. Aku tidak sengaja, sungguh.” Laki-laki itu mengulurkan tangannya. Membantu Yoona berdiri. Ia menekuk lutut, mengambil buku-buku sastra Yoona yang berserakan. Yoona membisu dari seribu kalimat amarah yang patut saja ia lontarkan.

Dentuman flat shoes mulai menggema. Ia mendapati si perempuan cantik itu mendekatinya. Lebih tepatnya, ia dan laki-laki ‘senyum bodoh’ itu.

Perempuan itu berkacak pinggang, dan matanya melebar ingin keluar. “Sudah aku bil—“ jari laki-laki itu menyentuh bibir si perempuan. Sedangkan Yoona seperti penonton diam di antara mereka. “Diamlah, kau berisik sekali Seo.”

Ah! Perempuan itu tersenyum pada Yoona. “Aku Seohyun, jurusan hukum. Kalau kau mendapati kerugian lagi atas tingkah laku laki-laki ini, silahkan cari aku. Dan aku akan menghabisinya.”

Yoona terkikik, melihat laki-laki yang ditunjuk-tunjuk Seohyun pura-pura bersikap tuli. “Aku Yoona, jurusan sastra inggris. Senang berkenalan denganmu. Walaupun dalam situasi kurang menyenangkan.”

“Lain kali kita bisa ngobrol ‘kan? Aku harus membawanya ke ruang dosen sekarang.” Seohyun menggandeng laki-laki itu. Tepatnya, menyeret. Yoona kembali merapatkan pelukan pada bukunya. Kembali merapikan cardigannya. Mulai mendongak melihat jalan. Ia melangkah menuju pintu keluar.

Kejadian barusan seperti film reka ulang di memorinya. Ia ingin tertawa keras tapi juga tahu tempat. Laki-laki itu tampan, meskipun senyum bodoh luar biasanya yang menjengkelkan Yoona.

Namun, sorot mata teduh membuatnya nyaman. Seohyun juga, rambutnya panjang menggantung, make up setipis lembaran kertas, dan bando hitamnya yang berkilap.

Ia berhenti ketika mobil sedan menampakan wujudnya. Sedetik kemudian ia balik berjalan, membuka pintu mobil bagian belakang dan masuk. Rasanya seperti rutinitas, semua sudah dijadwalkan dari jauh hari. Seorang Im Yoona yang terlalu disiplin, serius, dan rapih.

Tujuh menit berada di dalam mobil, tiba-tiba mesin itu mati. Okay, mobilnya mungkin kehabisan bensin, atau mogok, atau ban kempes.  Pak supir bisa mengatasinya segera, pikir gadis itu.

“Nona,”

“Ya?”

“Sepertinya ada bagian yang rusak. Saya harus menghubungi pihak bengkel terlebih dahulu. Apa nona tidak keberatan?”

“Oh, tentu saja tidak—“ ia keluar dari mobilnya, “—aku akan menunggu di sana.” Menunjuk sebuah kedai teh pinggir jalan. Bapak itu mengangguk segera.

Tentu saja tidak keberatan, kalau ia keberatan sekalipun. Toh tidak aka nada kendaraan lagi yang bisa ditumpangi. Ingin marah-marah juga tidak berfungsi. Ia duduk di salah satu bangku, memesan teh hijau.

“Hey!”

Yoona kebingungan setengah mati hanya untuk mengenali pria di depannya sekarang. Pria itu langsung menarik kursi, segera bergabung dengan Yoona.

“Siapa?” senyum pria itu menghilang seketika dan wajahnya bermuram. “Maaf, aku baru ingat. Kau yang barusan sengaja menabrak aku ‘kan?”

“Yeah, bukan menabrak juga. Hanya tidak sengaja.”

“Baiklah, tidak sengaja.”

Yoona tertawa, dan pria itu juga. “Aku Luhan,”

“Yoona,”

“Nama yang cantik, haha.” Wajahnya mulai merah masak.

“Terima kasih.”

“Kau suka minum apa di kedai kecil seperti ini? Green tea? black tea?”

“Ice cream.”

“Ooh, aku juga menyukainya. Rasanya manis,”

“Tentu saja manis, apa kau pernah menemukan es krim pahit?”

“Ahahaha, tentu saja tidak.”

Hampir tiga puluh menit sudah mereka habiskan. Luhan seorang yang pandai bergaul menurut Yoona. Pria itu tidak pernah kehilangan topik, apapun. Entah makanan kesukaannya, dosen tua yang galak, sampai Seohyun ikut ia sertakan.

Yoona membalas tiap-tiap komentar lucu itu dengan tawaan atau kalimat wajar. Saat laki-laki itu melirik jam tangannya. “Sudah mulai larut, kau tidak ingin pulang?” Yoona akhirnya merasa aneh juga, kenapa pak supir tak kunujung memberi kabar?

Ia berdiri, mencoba melihat ke luar kedai apa mobilnya masih nampak. “Ya, aku ingin pulang juga. Tapi mobilku sedang rusak. Kau tidak lihat di situ?” Luhan mengikuti arah mata Yoona. Melihat sebuah mobil sedan hitam.

“Mau aku antar pulang?”

“Apa?”

“Ya, lebih baik aku yang mengantarmu pulang daripada kendaraan umum ‘kan?”

Yoona memasang mimik ragu seperti gambaran perasaannya. Mereka baru saling berkenalan,dan  Yoona tahu batas dimana saat ia yakin menerima tawaran atau tidak. Ia putuskan untuk menggelengkan kepalanya pelan.

“Baiklah, tidak apa ‘kan kalau aku pulang lebih dulu?”

“Tentu saja tidak apa-apa.” gadis itu tertawa hambar disela bicaranya. Luhan akhirnya bangkit setelah menimbang-nimbang dengan berat apa ia akan meninggalkan seorang perempuan sendirian di kedai sepi seperti ini.

“Kau yakin?” ia bertanya sekali lagi memastikan, gadis itu mengangguk mantap dengan senyumannya pula. “Ya sudah, jaga dirimu baik-baik, bye.” Mereka melambaikan tangan sampai siluet Luhan hilang dalam pandangan Yoona.

Semenit kemudian Yoona membuka ponselnya, menekan sederet nomor, dan mendekatkannya ke telinga kanan. “Ahjussi kenapa lama sekali? Apa mobilnya rusak parah?” ia menutup telfonnya ketika kalimat di seberang sana usai. Yoona berdiri lalu membayar di meja kasir.

‘Apa aku harus pulang naik bus? Menyebalkan sekali’ Yoona merutuk dalam hatinya, ia berjalan melewati mobilnya sendiri. Beberapa orang bengkel tengah mengerumuni kendaraannya berusaha membetulkan. Sedangkan si supir memperhatikan sebagai mandor.

—-,———

Yoona menapakan kaki di depan gedung kampusnya tepat saat matahari berada di atas kepalanya. Ia kuliah jam siang hari ini. Baru beberapa langkah maju, samar-samar terdengar suara. Ia mengenali suara itu, sepertinya.

“Ya! Sudah kubilang kumpulkan tugasnya kemarin. Karena ulahmu aku diceramahi lagi.” Itu Seohyun, suara perempuan yang ia kenal kemarin. “Bisakah kau diam? Telingaku bisa putus.” Seohyun menjitak kepala namja itu saat kalimat gerutu penuh rengekannya diselesaikan .

Mereka berjalan mendekati Yoona, tepatnya ke arah situ. Yoona tersenyum ketika iris coklat matanya bertemu dengan iris pekat Seohyun. Begitu pun yeoja cantik itu, ia bermimik kaget sekligus menampakan deretan giginya.

“Hai Yoona!”

“Hai juga, senang bertemu denganmu juga Seohyun.” Kedua gadis itu melambaikan tangan dengan penuh semangat sedangkat satu-satunya laki-laki diantara mereka cukup sibuk menghusap-usap telinganya yang kini berwarna merah pekat.

“Ehmm.. kemarin ‘kan aku sudah bilang kalau kita bertemu lagi, aka nada sedikit waktu untuk mengobrol. Apa kau mempunyainya?” Yoona memutar irisnya berpikir. Sedetik kemudian ia mengangguk.

Yoona melihat Seohyun beralih pandang darinya pada Luhan. Namja itu seperti punya kontak batin dengan Seohyun. Ia berhenti menghusap telinga saat bahkan Seohyun belum mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya dengan arti mata.

“Iya iya, aku tahu. tenang saja, aku bisa ke sana sendiri. Tidak perlu kau antar terus layaknya anak kecil.” Kedengarannya Luhan berucap dengan begitu enggan di indera Yoona. Iris pekat itu menjadi lebih bersinar, Seohyun mengelus punggung namja itu pelan.

Sesaat kemudian, Luhan mulai menghilang dari pandangan keduanya.

“Baiklah,” Seohyun menunjuk arah kanan lewat gerakan kepala dan matanya. Dalam hati, Yoona membetulkan kenapa Luhan bisa seolah punya telepati dengan gadis cantik di hadapannya, nyatanya mata Seohyun seperti tulisan surat dan gerakan badanya ibarat kantor pos.

“Kafe? Atau kantin kampus aja?” Yoona berjalan mengimbangi langkah Seohyun. “Menurutmu? Aku lebih suka di kafe, lebih…. Lebih—“ bahkan mengucapkan kelebihan kafe dibandingkan kantin saja Seohyun butuh pemikiran.

“—aku rasa lebih nyaman, haha. Jangan dipedulikan ucapan asalku.” Seohyun membetulkan tas talinya yang hampir melorot. Mereka berputar arah ke jalan keluar universitas.

Perempuan tetaplah perempuan, meskipun ‘selaki-laki’ apapun kelakuannya. Perempuan yang senang berbincang, mengobrol. Yoona bahkan berubah jadi yeoja banyak bicara. Seohyun sendiri tipikal yang cukup terbuka.

Di sepanjang pembicaraan ada suatu hal mengganggu hati Yoona. Rasanya seperti mengganjal sejak mereka pertama kali bertemu. Pertanyaan cukup lancang pikir Yoona. Mungkin Luhan itu namjachingu Seohyun, atau adiknya, atau sepupunya, atau sahabatnya.

Entahlah, pikirannya terlalu penuh dan sesak.

“Ehmmm… Seohyun-ssi”

“Ne?” Seohyun mengaduk-aduk mocha latte-nya.

“Ada yang ingin ku tanyakan, tapi—“

“Katakan saja, aku akan menjawabnya kalau itu tidak keluar dari batas.” Seohyun tersenyum ketika matanya mulai menajam memperhatikan iris cokelat Yoona. Gadis itu risih juga diperhatikan ternyata.

“Luhan—“

“Ooh, Luhan? Xi Luhan?”

“Iya.”

“Memangnya ada apa dengan namja itu? Dia berbuat ulah apa lagi?”

“Tidak-tidak, bukan itu maksudku. Kita sudah dua kali bertemu, dan dua-duanya disaat kau bersama Luhan. apa namja itu dekat denganmu?”

“Iya, kami cu—“ satu telefon masuk berbunyi menggema di tas Seohyun. Gadis itu berhenti bicara dan mengangkat telefonnya. “Halo? Ada apa lagi? Kau di mana sekarang?” Seohyun mendengus kesal, “Dasar merepotkan! Baiklah aku akna ke sana.”

Gadis itu menutup telefonnya, ia menurunkan alis juga bibirnya di tekuk ke bawah. “Maafkan aku, tadi Luhan bilang ada sedikit masalah yang terjadi. Aku pergi duluan ya? Terima kasih, obrolannya menyenangkan.” Yoona memperhatikan gadis itu berdiri, memakai tasnya, kemudian menghilang di balik pintu kafe.

Yoona menunduk dan menghembuskan nafasnya sekasar yang ia bisa. Apa lagi ini? Apa Tuhan tak memberikannya kesempatan bertanya? –oke, sikapnya berlebihan memang, tapi penjelasan tentang namja itu seakan menjadi lebih penting dari apa pun sekarang.

Tak lama meratapi kekesalannya, Yoona beranjak dari kursi kemudian membayar minumannya di kasir.

—-,———

Pagi ini, pagi yang cerah baginya. Begitu udara segar menerpa tubuh dan bisingnya kicauan burung di dekat jendela kamarnya. Seakan hidup dalam film-film hayalan.

Ia bangkit untuk mencuci muka sekaligus membersihkan badannya. Ia memakai dress warna biru tua favoritnya dengan semangat.Memasukan kakinya yang lembut ke dalam flat shoes putih. Terakhir, mencantelkan tas soft pink-nya di pundak sebelah kanan.

Sampai di kampus, ia menelusuri lorong ramai seperti hari-hari sebelumnya. Yoona melongok ke arah mana saja hanya untuk mencari sosok namja itu. Pikirannya bahkan menjadi lebih sesak karena Luhan.

“Hey!” Yoona terlonjak setengah kaget ketika seseorang menepuk pundaknya dan suara ‘Hey’ khas teriakan menerjang indera pendengarannya. Ia berbalik, mendapati namja itu di hadapannya. Tepat. Persis. Hatinya mulai tak beraturan, jantungnya berpacu lebih kuat, perutnya terasa menggelitik.

Ia bingung harus melakukan apa.

Apa ini namanya orang jatuh cinta? Apa ketika kau tidak tahu harus bertindak apa di depan orang itu maka kau menyukainya?

Yoona pertama kali merasakannya dan hanya pada Luhan. irisnya bergerak semena-mena. “Hei, ada apa?” Luhan kelihatan mabuk akan tingkah Yoona. Hingga ia menaikan sebelah alisnya, juga mengerutkan dahi.

Ah! Semenit kemudian rasanya baru bisa di netralisir. Ternyata, berusaha menenangkan diri butuh waktu cukup panjang pikir Yoona.

Ia mendongak wajah, menatap Luhan dengan iris berkilapnya. Mengulum senyum seribu watt, “Aku tidak apa=apa, hanya sedikit terkejut tadi haha.” Ia tertawa hambar menambah mabuk di otak Luhan.

“Okay, ehmm… apa kau ada jam kuliah setelah ini?”

“Tentu saja aku punya,” bak hujan deras di temani petir datang tiba-tiba, Luhan menekuk wajahnya.

“Ya sudah, kalau kau telah menyelesaikan belajarmu, hubungi aku ya? Pengen ngobrol , hehe.” Namja itu menyengir bodoh.

Yoona mengangguk dan Luhan berlalu dari pandangannya.

Apa jatuh cinta membuat dirimu lebih percaya diri?

TBC

Author note : duh ini udah mau UAS masih sempet-sempetnya buat ff baru. Tiba-tiba pikiran melenceng dari pelajaran dan jadinya gini deh. Yang lama aja belom selesai, udah bikin yang baru -__- semoga suka ya J thanks.

Advertisements

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s