FF Ficlet : DayDream

poster daydream

Tittle : DayDream || Author : Cicil || Cast : Lee Minhyuk and Bae Suji || Support cast : Minyoung / Min Miss A ||  Genre :  fantasty romance || Disclaimer : All Belongs to GOD || Length : Ficlet || Poster by G.Lin –makasih ya posternya udah keren abis><–

Summary :

Ada candu mengisi relungku hingga aku tidak pernah bisa lepas darimu.

 

 

“Suji-a.” si perempuan berponi mengalihkan pandangannya pada si laki-laki.  Minhyuk menatapnya penuh arti hingga ia tidak mengerti barang sedikitpun maksudnya. “Waeyo oppa?” Suji memperhatikan tingkah laki-laki itu seksama. Gerakannya salah tingkah menandakan kegelisahan.

“Apa lebih baik kalau ki—“ Suji menutup mulut Minhyuk lewat jari telunjuknya. Ia menggelengkan kepala tak suka. “Jangan katakan lagi, aku mohon.” Iris pekatnya ikut memancarkan wajah memelas seperti kebanyakan halnya.

Minhyuk melorotkan kedua bahunya lelah diikuti helaan nafas sepanjang yang ia mampu.

“Suji-a!!!” Suji merasa dunianya runtuh seketika ketika pekikan tajam itu menggema di udara. “Okay, kita harus berpisah di sini. Bye Minhyuk.”

Laki-laki rambut hitam itu turut melabaikan tangannya seperti apa yang dilakukan Suji. Sedangkan matanya menyaksikan perempuan itu perlahan lenyap ditelan cahaya.

 

—-,———

 

Suji merasa percikan air dingin bertubi-tubi menerjang wajahnya. Sebuah keterpaksaan untuk membuka mata. “Eommaaaaa,”

“Wae?” sang ibu dengan datarnya bertanya. Suji menghempaskan selimutnya kasar, mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ia melengkang jauh ke kamar mandi dengan handuk soft-pink di pundaknya.

Nyonya Bae tersenyum puas, menurutnya inilah cara paling efektif demi membangunkan ‘si putri tidur’.

Suji mengikat tali sepatunya secepat kilat, “Eomma! Aku pergi dulu ya, jangan lupa tinggalkan kuncinya di bawah karpet kalau ingin pergi.” Dari dalam rumah tidak terdengar sahutan namun Suji tahu ibunya mendengar, hanya terlalu malas untuk menjawab.

 

 

Suji duduk sambil bertumpu dagu di mejanya, lewat sorot mata bosan melirik segelintir tulisan yang tengah diukir Mr.Kim di depan sana. “Suji-a. jangan melamun,” Minyoung menyikut perempuan cantik di sebelahnya.

Suji memperbaiki posisinya. Namun bukan seperti yang diinginkan Minyoung –meneggapkan tulang punggungnya dan menyegarkan matanya yang nampak kusut—Suji malah menyenderkan kepalanya pada meja kayu mereka.

“Diamlah, aku mau bertemu Minhyuk.” Bahkan Minyoung baru membuka mulutnya, terpaksa ia kembali menutup mulutnya dalam diam. Lebih baik memperhatikan Mr.Kim daripada membangunkan Suji.

 

 

“Minhyuk-a.” si laki-laki terdiam ketika ia sedang berjalan mengelilingi pasar dengan kedua tangan di saku celana. Mencerminkan sosok dinginnya tanpa kenangkuhan yang terselip. “Aku merindukanmu. Sangaaatt.” Suji memeluknya segera dari belakang. Seerat yang ia bisa.

“Rasanya kita baru bertemu.” Suji menarik lengan laki-laki itu kasar hingga mata mereka saling bertemu. Minhyuk melihat sorot kesal dari situ. “Sudah lama tahu!” ia menggandeng Suji ke tepi jalan. “Sekarang aku mau tanya, kau bangun jam berapa tadi?”

“Setengah tujuh kira-kira.”

“Kau tertidur jam berapa barusan?”

“Saat pelajaran Mr.Kim berarti sekitar jam sembilan.” Suji tidak mengerti segala pertanyaan yang dilontarkan namjanya tapi ia yakin dan menjawabnya penuh kejujuran.

“Coba hitung, jam Sembilan di kurangi jam setengah tujuh.” Suji memutar irisnya, memaksa otaknya menjadi kalkulator untuk sementara.

“Satu setengah jam?”

“Itu lama waktu kita tidak bertemu.” Suji terkekeh malu, pipinya bersemu memerah. “Dan kau bilang sangaattt merindukan aku?” entah mengapa Minhyuk terlalu temperamental hari ini. Ia terbiasa menghadapi sifat manja yeojanya tapi kali ini ia terlihat begitu kesal.

Suji berusaha melupakan kejadian barusan, menggantinya dengan mengajak Minhyuk jalan-jalan keliling pasar. “Ramai sekali ya,”

“Ini hari senin, tentu ramai.”

“Aku tahu, aku tahu. kenapa kau senang sekali memarahiku hah?” ia cemberut untuk kali ini. Melainkan Minhyuk mencibir. “Arraseo, aku tidak akan marah-marah lagi. Sudahlah ayo ke sana.”

Suji menggandeng tangan Minhyuk. Penuh semangat menuju toko musik di sana, tepat berserta telunjuk Minhyuk terarah. Laki-laki rambut pekat itu tahu apa yang paling Suji gemari. Musik. Dan tarian.

“Aku ingin beli album itu, tapi eomma tidak memberikannya. Katanya mem-bu-ang u-ang.” Minhyuk terkekeh mendengar nada penekanan di dua kata terakhir. Ia tentu saja bisa memberikan apapun yang Suji mau.

Tapi ini hanya sebuah khayalan.

Khayalan mimpi Suji yang terlampau jauh, hingga ia menciptakan dunianya sendiri. Terlepas dari kenyataan dunia manusia. Tiap-tiap malam ia bermimpi panjang yang tak pernah tamat ataupun terlupakan.

Terlampau jauh hingga ia memunculkan sosok laki-laki idamannya yang tak pernah ada di dunia nyata. Minhyuk. Laki-laki itu sadar ia hanyalah kiriman Tuhan penuh kasih untuk mengisi angan-angan Suji. Ia sadar ia tidak akan pernah bisa menyentuh kehidupan asli yeojanya.

Ia tahu sebab itu Suji dapat panggilan ‘Si putri tidur’ karena terlalu senang berada dalam rekaan mimpi. Ia tahu Suji sering meninggalkan pelajaran sekolahnya demi bertemu dirinya, demi menceritakan apapun yang ia alami.

“Minhyuk-a.” Suji terlihat membulatkan matanya sambil melambaikan tangnya di depan wajah Minhyuk. “Kau melamun?”

“Ti-tidak,”

“Aah, jangan berbohong padaku.”

“Sungguh. Lagipula—“ Minhyuk membenarkan posisi duduk ketika mereka menempati sebuah kursi taman berukir putih. Kali ini Suji tidak mengarahkan telunjuknya pada bibir Minhyuk. Ia menutup kedua indera pendengarannya rapat-rapat sekaligus memejamkan matanya.

“Cukup! Aku tidak mau dengar alasanmu, apapun itu.”

Minhyuk menarik perlahan telapak tangan Suji agar telinganya tidak tertutup lagi. Ia menatap yeojanya penuh pengertian. “Aku tahu ini menyebalkan untukmu—“

“—tapi, dengarkan aku sekali lagi. Aku tidak ada di dunia nyatamu, kau tidak akan pernah merasakan jatuh cinta atau bahkan menikah jika kau terus mencintaiku. Suji-a, akhiri mimpimu yang indah.”

Suji meneteskan kristal-keristal beningnya, irisnya mulai bergetar, matanya perlahan memerah. “Aku tidak bisa—“

Ada candu mengisi relungku hingga aku tidak pernah bisa lepas darimu. Ada sebuah kesenangan sendiri ketika bergandengan tangan dengamu.”

“Baiknya kau mengakhiri mimpimu dengan hal menarik tak terlupakan daripada aku harus menghancurkannya dengan hal buruk.”

“Tidak bisa!”

“Aku mencintaimu Minhyuk-a.” Suji memeluk namjanya seerat mungkin agar sosok itu tidak menghilang. Di balik kata-kata Minhyuk tersimpan bahwa ia juga tidak rela ini berakhir. Tapi ketika memikirkan masa depan Suji. Ia serasa makin di dorong.

“Suji-a!!”

 

 

Minyoung berteriak dalam bisikannya berusaha membangunkan Suji. Mr.Kim tengah menatap kea rah mereka tak suka, siap-siap melempar Suji dengan penghapus kapur papan tulis dalam genggamannya.

“Waeyo?” Suji berusaha mengumpulkan sisa-sisa nyawanya. Ketika itu kembali dan ia sadar cepat atau lambat balok panjang kotor itu akan membentuk dahinya.

Untung saja dewi kehidupan berpihak padanya. Mr.Kim berbalik badan, meneruskan tulisannya yang tidak bisa terbaca jelas. “Kenapa kau suka sekali tidur sih? Itu menyusahkan aku tahu!” Ujar Minyoung ketus.

Ada candu mengisi relungku untuk tidur Minyoung-a.”

 

Selesai dehhh, ini ff udah menjamur di dataku jadi mending di lanjutkan dari pada membusuk(?) pertama kali mencoba genre fantasi ._.  harap dimaklumi kalau ga kerasa amat fantasinya, atau ini apaan sih? Fantasi kok kayak gini? Saran di terima dengan lapang dada(?) gomawo 🙂

Advertisements

4 thoughts on “FF Ficlet : DayDream

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s