FF : I’m Just (Chapter 2)

i'm just poster

I’m Just by Cicil. Staring with GG’s Yoona and Seohyun and EXO’s Luhan. Twoshoot. All belong to God.

Aku

Hanya

Terjebak dalam Cinta

Happy Reading 🙂

Apa jatuh cinta membuat dirimu lebih percaya diri?

Aku melanjutkan jalan lurus ke depan tepatnya mengambil arah yang bertolak belakang dengan laki-laki tampan barusan. Intinya, enggan menambah  rona merah di pipi yang kusadari  pasti wajahku sudah semerah kepiting rebus dan urat maluku belum putus.

Dosen masuk ke kelas dengan angkuhnya, ia menggeprak meja guna mendiamkan kericuhan kelas. Memulai pelajaran paling membosankan selama sejarah hidup. Aku hanya bisa bertumpu dagu, sekali-kali melirik si arlogi soft pink di tangan kiri.

Aku tidak malu menyatakan aku menunggu waktu agar bergulir lebih cepat, untuk segera bertemu dan menagih ketepatan janjinya.

Ketika jam mungkin seperasaan denganku hingga ia bersedia memutarkan detik supaya terlampau cekatan. Aku dengan senyum terlebar keluar dari kelas sambil sesekali bersenandung tak jelas. Niatnya ingin mencari  kelas Luhan atau  ruang guru .

Namun keinginan itu terampas sudah saat kutangkap sosok Seohyun tengah menjewer telinga Luhan yang memerah. Cowok itu berjalan seperti di seret dan meringis. Seohyun dengan matanya yang hampir loncat dan mulutnya yang tak kunjung tertutup karena omelan  panjang.

Okay, aku  rasa aku mulai risih lewat kehadiran wanita cantik itu. Mereka kembali  berjalan  kearahku seperti kejadian berulang kemarin. Itu membuatku mulai menganggapnya bosan daripada sebuah kejadian ajaib terlampai tidak sengaja.

Seohyun berhenti menarik telinga Luhan dan cowok itu menghusap-usap bagian yang merah perlahan. Ia menyapaku lewat mimik kelewat manisnya. Aku membalasnya, “Annyeong,”

“Sedang apa? mau pulang ya?”

“Baru saja keluar dari kelas dosen tua itu.” Seohyun tertawa diikuti gelaku menambah keramaian di Antara kami. “Mau pulang bareng? Kebetulan Luhan bawa mobil hari ini, kita bisa jadikan dia supir sementara.” Seohyun menyenggol bahu Luhan yang masih mencoba membuat Seohyun terganggu dengan mata tajamnya.

“Tidak ditolak,”

“Ahya, sebelumnya kita harus menyeret laki-laki bodoh ini ke ruang dosen untuk mengumpulkan tugasnya,”

—-,———

Author pov

Ketiganya duduk di kursi sederhana berukiran unik –kafe favorit Seohyun—memesan segelas minuman panas masing-masing, setelah pelayan itu bergegas ke dapur. Seohyun angkat bicara.

“Yoona-si, kemarin obrolan kita berhenti di mana ya?” Seohyun mengetuk-ketuk dagunya menggunakan telunjuk lentiknya. Yoona ingat apa yang terakhir ia bicarakan hari lalu, namun pembungkaman kata-kata adalah yang pilihan yang paling baik –menurutnya—saat ini.

Luhan mengacuhkan keduanya, memilih sibuk dengan kegiatan memasang earphone kemudian menyalakan lagu di handphone-nya. Ketika dentuman nada mulai menggema di telinganya, ia menyenderkan bahu lalu melipat tangan sambil menutup mata.

“Bicarakan saja apa yang mau kalian katakana, aku tidak akan mendengarnya. Anggap aku tidak ada di sini.” Kedua perempuan paras cantik di depannya menatapnya dengan tertulis jelas di dahi ‘apa dia masih waras?’ entahlah, yang tahu cukup dia dan Tuhan.

“Sudahlah, abaikan saja namja kurang waras itu. Biarkan kita mengobrol.” Seohyun memperbaiki posisinya untuk lebih nyaman menghadap Yoona. Sedangkan si gadis rambut gerai –Yoona—tengah sibuk mengambil cangkir-cangkir kopi miliknya juga yang lain, menaruhnya perlahan di atas meja.

“Aku ingat!” Yoona beralih pandang dari gelasnya pada Seohyun. “Kau menanyakan tentang Luhan kan?” Seohyun melirik namja itu memastikan dia tidak mendengar barang sedikitpun. “Y-ya, kau benar sekali Seo.”

“Yoona-si—“ Seohyun menyipitkan matanya lebih lagi membuat Yoona lebih risih dari sebelumnya. Ia menjadi salah tingkah. “—apa kau menyukai namja bodoh itu?” Yang ditanya malah cepat-cepat menaikan telunjuk kanannya ke sudut bibir bermaksud menyuruh Seohyun menutup mulutnya.

“MWO!!” Yoona membuang muka dengan raut semasam yang ia bisa. Ia melihat Luhan tak bergeming dari peradabannya –tetap melipat kedua lengan di dada dan menutup mata—sepertinya namja itu tertidur, atau ketiduran?

Namun itu adalah respek yang paling Yoona inginkan untuk Luhan. tidak mendengar. Semoga namja itu benar-benar tidur.

“Yoona-si, kau menyukainya?”

Gadis rambut tergerai itu terlalu malu untuk mengangguk dan terlalu bodoh untuk tidak tahu harus melakukan apa selain memerahkan mukanya.

Seohyun tersenyum selebar saat ia amat senang bak dapat undian miliyaran juta won.

Ketika semenit berlalu dan keadaan menjadi lebih normal dari sebelumnya. Seohyun rasa tepat waktunya menceritakan tentang namja bodoh itu.

“Kami berteman sejak sekolah menengah atas dan berlanjut sampai sekarang. Luhan orang yang –menurutku—terlalu rajin daripada murid lainnya, terlalu baik dibandingkan orang biasanya. Dia jarang cemberut bahkan menangis—“

Yoona mulai menumpukan dagunya bersiap seakan mendengar cerita dongeng sang nenek. Sedangkan Seohyun berusaha tidak peduli. “Lalu?”

“Tapi ketika ayahnya pergi berselingkuh dengan wanita lain sedang ibunya sakit, ia menjadi terlalu terluka mungkin. Ibunya meninggal tak berapa lama kemudian, hubungan Luhan dan ayahnya tidak pernah membaik sejak itu, sejak pemakaman Nyonya Xi.”

Seohyun memastikan Luhan tetap menutup telinganya dan tak terganggu ketika rahasia namja itu bocor ke tangan Yoona. Malainkan si gadis satunya tenggelam dalam bayangan penuh luka. Mata kedua manusia rupawan itu bertemu, “Lalu?” Seohyun kembali membenarkan posisi duduknya.

“Lalu ia berubah seratus-delapan-puluh-derajat. Tidak pernah mengerjakan tugas, jarang tersenyum bahkan tertawa. Karena itu aku sering menjewernya demi mengumpulkan tugasnya pada dosen. Kalau tidak, ia terlalu punya pekerjaan untuk sekedar mengerjakan makalahnya.”

Yoona tak pernah tahu laki-laki itu semuram cerita Seohyun. Yang ia tahu, Luhan yang bandel dan biang onar. Yang kegemarannya mencari masalah lalu berubah ciut ketika Seohyun menghampirinya. Yang terkenal karena parasnya di kampus. Dan terakhir yang telah menjebaknya dalam cinta…. Mungkin bertepuk sebelah tangan? Mungkin juga ia beruntung.

Seohyun berdiri dan mengalungkan tasnya di pundak lalu tersenyum kea rah Yoona. “Aku pulang dulu ya.” Gadis itu memukul-mukul lengan Luhan. ketika ia sadar kalau yang ia pukul-pukul adalah orang gila tidur. Seohyun menarik earphone hitam itu dan, “Ya! Cepat bangun. Apa kau punya malu untuk tidur di kafe hah?!”

Luhan mengeliat tipis di balik kelopak matanya. Mengabaikan ketika hampir seluruh pasang mata mengarah padanya. Ia mengucek mata, berupaya mengumpulkan sisa-sisa nyawa. “Jangan berisik Seo-a. aku mau tidur dan aku punya malu.” Luhan mengambil kembali earphone-nya. Detik selanutnya mata itu tertutup kembali. Seohyun terlalu kesal untuk berdecak pinggang hingga ia menarik lengan namja konyol itu paksa. Membuatnya terbangun lagi.

“Iya iya iya, kita pulang sekarang.” Luhan beranjak dari tidurnya, memasukan handphone-nya dalam saku celana. Mengeluarkan kunci mobil warna hitam pekat. Ia menatap Yoona yang tengah mengaduk-aduk minumannya tak selera. “Aku pulang duluan dengan Seohyun.” Yoona mengagguk tanpa mata mereka saling bertemu.

Gadis itu menatap kedua manusia yang baru saja menemaninya lenyap di telan pintu kafe. Ia menghela nafas sepanjang yang ia bisa, melorotkan kedua bahunya, dan bersiap membayar tagihan minuman di kasir depan.

—-,———

“Luhan-si,” namja itu mendapati Yoona tengah ragu memegang bahunya ketika ia sigap membalikan badan kea rah suara tadi –belakangnya— ia pasangkan ekspresi tidak terbaca oleh Yoona. “Ehmm… aku mencari Seohyun.”

“Ooh, dia sedang ada jam kuliah. Mungkin setengah jam lagi usai.” Mereka berjalan berdampingan, entah angin apa yang mendorong Yoona untuk lebih berani melangkahkan kakinya.

Sedangkan Luhan tidak merasa hal salah sedikitpun missal mereka bersama. lagipula apa salahnya mengobrol sebentar?

“Kau mau kemana?” Luhan melirik beberapa map besar di pelukian gadis itu. “Mengumpulkan tugasku sekaligus yang lainnya.”

“Apa kau pesuruh?”

“Mwo?”

“Mau saja disuruh mengumpulkan tugas orang lain, bodoh.”

“Apa? aku? Bodoh? Hei! Itu juga karena mereka memberikana aku tip sebagai gantinya.” Ketus Yoona tak terima di cap bodoh oleh laki-laki yang tak lebih logis kelakuannya darinya.

“Calm down, kau temperamental sekali.” Yoona mengalihkan pandangannya dari namja itu sambil cemberut. Luhan cukup mencibirnya. “Ya sudah, kita ke ruang dosen sekarang.”

Langkah kaki mulus itu tiba-tiba berhenti dan membalikan tubuhnya. “Tunggu,”

“Apa?” Luhan ikut berbalik tak mendapati apapun yang aneh dari sisi belakangnya. “Dasar bodoh, kita salah arah. Seharusnya lewat sana.” Ia melongo hebat mengetahui Yoona dengan mudahnya mengeluarkan kata ‘bodoh’ ia pikir yeoja itu penuh santun.

“Itu balas dendam, okay?”

“Balasan macam apa itu? Aku tahu otaku benar-benar bodoh,”

“Aku tidak bilang begitu, kau sendiri ya yang mengatakannya.”

“Hei!”

“Apa?”

“Sudahlah,” Namja itu melangkah mendahului Yoona yang berdecak tawa berhasil mengalahkan Luhan.

—-,———

Keduanya memperatikan dosen tua berkacamata itu tengah memeriksa isi dari map-map bawaan Yoona. ‘Ia bahkan menilik tulisannya seperti mencari emas, tinggal memberikan nilai sempuna saja apa susahnya?’ Luhan mengintimidasi dosen di hadapannya dengan tatapan dan kalimat-kalimat dalam hati.

Namun yang ditatap tidak peka sama sekali.

Lain halnya dengan Yoona. Gadis paras cantik itu dengan matanya berbinar-binar menunggu nilai berapa yang akan ia dapatkan. Penuh harap. Berharap. Dan tubuhnya seakan melorot habis ketika bukan angka sempurna yang ia dapat.

Luhan memperhatikan tingkah gadis di sebelahnya dengan kening penuh kerut sekaligus mata bosan. “Itu saja sudah sempurna.”

“Sempurna dari mana? Aku kurang lima nilai kau tahu?”

“Tentu saja aku tahu, kau pikir aku tidak bisa menghitung?”

“Tidak, aku tidak berpikir seperti itu.”

“Makanya jangan berlebihan.”

“Berlebihan ap—“

Brakk

Tangan keriput berhasil menimbulkan suara gebrakan keras di mejanya. Cara paling efektif menghentikan adu mulut keduanya. “Diam!”

Mereka menundukan kepala bersikap acuh tak acuh untuk sesopan mungkin.

Yoona keluar dari ruangan dosen tadi sambil memeluk kembali tumpukan map warna-warninya. Luhan mengikutinya di belakang.

“Yoona-a!” Terlihat Seohyun melambaikan tangannya tinggi dari kejauhan dengan senyum semerekah mawar.

“Ada acara setelah ini?”

Yoona menekuk bibirnya ke bawah, “Maaf sekali, aku punya janji makan malam dengan yang lain nanti.” Seohyun ikut berekspresi sama seperti Yoona. Tak lama ia mengedarkan pandangannya, menemukan sosok Luhan di belakang Yoona.

“Hey! Untuk apa kau di situ?” ketusnya. “Menemani dia,” Luhan nemunjuk bahu Yoona dengan telunjuknya. “Jangan coba-coba permainkan sahabat baruku.” Seohyun seperti tengah mengancam seseorang lewat mata tajamnya dan kalimatnya.

Luhan maju selangkah lebih dari Yoona dan menarik tangan Seohyun. “Aku pulang dulu ya,bye” Seohyun ikut melambaikan tangannya kembali.

“Jangan menariku kasar-kasar!” pekikan Seohyun terdengar samar di indera Yoona saat pandangannya akan mereka mulai mengecil.

Yoona berjalan berlawanan arah dengan kedua sahabat kecil itu. Mengeratkan pelukannya. Rautnya masih di tekuk, matanya menerawang jalan.

Perasaan apa ini?

Apa aku cemburu?

Tidak mungkin, Seohyun bilang ia sahabatnya kan?

Ingat Yoong.

Sahabat.

TBC

Advertisements

4 thoughts on “FF : I’m Just (Chapter 2)

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s