FF : L.O.V.E (END)

l.o.v.e poster

Tittle : L.O.V.E

Author : Cicil

Cast : Kim Myungsoo and Stephanie Hwang

Support Cast: Suzy

Genre : romane, fluff

Length : twoshoot

Disclaimer : all characters belong to God

Cinta itu setulus perasaan. Sebahagia tawa. Sesetia menunggu. Dan, sehangat mentari.

 

 

Fajar telah tiba dan mentari menyambut pagi Tiffany dengan hangat. Perempuan itu mengedipkan mata beberapa kali, usaha untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa nyawa dalam mimpi. Ia melirik jam kecil yang tertera di nakas samping tempat tidur.

Ada yang berbeda. Sebuah note kecil warna kuning-stabilo menutup angka digital yang biasa ia tangkap. Tulisan pen biru terukir jelas di dalamnya. Butuh waktu berpuluh detik agar Tiffany bisa mencerna maksud kalimat itu.

Aku kembali ke Korea sebentar, jangan khawatir.

 

Tiffany memejamkan matanya seketika. Berharap bebannya ke depan akan berkurang. Memikirkannya saja sudah mebuat kepala pusing. Apalagi mengahadapinya langsung? Ayah Myungsoo, wanita paras cantik yang baru ia temui kemarin, rekan kerjanya yang bermasalah.

Dan sekarang Myungsoo pergi dari genggamannya, apa ini berlebihan? Di note itu bertuliskan ‘sebentar’ tapi rasanya seperti ditinggalkan bertahun-tahun.

Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Meminta supaya pikiran positif menyelubungi otaknya segera dan mengusir dugaan-dugaan buruk yang akan terjadi. Mungkin. Tiffany baru beranjak dari tempat tidurnya dan nada dering terunik yang ia punya berkumandang.

~Ada panggilan masuk. Ada panggilan masuk. Ada panggil—

“Halo?”

“Apa ini Stephanie Hwang? Saya menelfon karena ada sesuatu yang penting. Masalah terjadi di kantor. Mr.Sam tiba-tiba menggantikan posisimu dengan pekerja yang baru saja magang.”

Okay, ia baru saja mendapat berita terburuk sepanjang hidupnya di New York tentang pekerjaan. Kalau saja ia punya segudang uang dolar, handphone putih itu sudah tidak berbentuk membentur lantai. Pasti.

Tiffany tidak berpikir lagi. Ia mencuci mukanya sesegera mungkin. Mengambil tas dan memakaikan blaze-pink ke pundaknya.

Ia sampai di dalam ruangan atasannya –Mr.Sam—dengan keringat bercucur. Kebiasaannya ketika panik, berpikir terlalu bodoh hingga lebih memilih berlari dibandingkan naik kendaraan umum.

Pria paruh baya di hadapannya tengah memutar-mutar pen silver di kedua ujung jari. Seorang perempuan duduk membelakanginnya dengan rambut tergerai di bawah bahu.

“Ms.Hwang, maaf sekali. Saya terpaksa memberhentikan anda dari pekerjaan anda sebelumnya. Silahkan mencari tempat lain.”

Tepat saat kalimat tersebut terucap. Tiffany bisa melihat siluet senyuman dari perempuan yang membelakanginya.

Apa-apaan ini? Anda punya sopan-santun bukan? Apa dia menyogokmu hingga memberhentikanku?

Rasanya Tiffany sudah melebarkan mulutnya tapi tak satupun dari kata-kata itu yang keluar. cukup ia marah-marah dalam hati. Mengeluh pada Tuhan. Berharap berkat lebih indah mengunjunginya.

Ia memincingkan matanya sebal hendak berbalik keluar dari kantor –kurang ajar menurutnya—itu. Tapi niatnya terhenti. Saat si perempuan berdiri, menunjukan wajah angkuhnya dengan menyeringai rendah. Tiffany terbelalak sempurna karena dugaannya tepat sasaran.

Dia Bae Soo Ji.

Perempuan paras cantik yang terobsesi merebut Myungsoo darinya. Terlalu.

“Terima kasih Mr.Kim atas kerjasama yang menyenangkan.” Keduanya hampir menunjukan keseluruhan gigi mereka kalau Tiffany tidak cepat-cepat meninggalkan pijakannya sekarang.

Tiffany melangkah kasar diselingi hentakan-hentakan keras dari high heels hitamnya. “Tunggu!” pasti perempuan itu yang memegang lengan atasnya dan berteriak kencang tepat di telinganya. Ia memejampkan mata untuk kesekian kali guna meredakan emosi.

“Apa?”

“Kau lihat sendiri kan? Oh! Bukan, kau mengalaminya sendiri kan? Aku bisa melakukan apapun untuk menghancurkan karirmu.” Ucapan Suji serasa menohok hatinya, ia terbatuk sedikit. Kemudian mulai mengangkat kepalanya. Berusaha tidak terlihat lemah justru lebih kuat.

“Kau bisa menghancurkan karirku tapi tidak dengan hubungan kami!” Suji mengerutkan keningnya. “Ya, cintaku pada Myungsoo setulus ia mencintaiku juga. Dan uang tidak akan bisa membelahnya menjadi kepingan pasir. Yang ada mungkin kau, terpuruk karena gagal menyandang status tunangan.”

Suji terperangah ketika tahu ujaran Tiffany setajam pisau diasah. Tapi itu kenyataannya.

 

—-,———

 

Tiffany sudah mencoba menghubungi kekasihnya hampir lebih dari tiga puluh kali saat ia sadar jam New York berbeda jauh dengan Seoul. Karena itu ia menekan digit-digit nomor ketika malam tiba dan bintang gemerlapan.

Mungkin ia perlu alasan lebih dari sebuah kertas note warna kuning benderang. Bahkan ia tidak menemukan kenapa Myungsoo harus mengunjungi kota di mana mereka tinggal dulu. Ia tidak tahu dan Myungsoo tidak memberitahu.

Tiffany merasa status ‘kekasih’ sudah lebih dari cukup untuk ‘kepo’ dengan urusan laki-laki itu. Namun sambungan telfon berbunyi melenceng dari harapannya.

Malam makin larut, matanya mulai lelah menopang. Dan posisinya yang terlalu pas untuk langsung pergi ke alam mimpi. Tiffany hampir saja terlelap kalau handphone kesayangannya tidak menyerukan suara panggilan.

~Ada panggilan masuk. Ada pang—

“Halo? Myungsoo-a” terdengar helaan nafas berat dari seberang sana. Tiffany terlalu bisa menyadari kekasihnya tengah ada dalam masalah. Begitu cepat pikirannya melayang, memutuskan untuk menyimpan cerita tentang masalah—pemberhentian pekerjaan—nya.

Waeyo fany?” ia tersenyum geli tatkala Myungsoo masih sempat-sempatnya menyelipkan gurauan manja. “Aniya, hanya…rindu” ia ikut tertawa lagi seperti si laki-laki yang jauh di sana. “Kalau begitu peluk aku. Aku juga merindukanmu. Sangat.”

“Ya. Aku harap Tuhan memberikan keajaiban sebesar mungkin supaya aku bisa ke sana dan memelukmu. Dasar pikiran konyol.” Sekonyong-konyong Tiffany benar ingin hal itu terjadi. Semoga saja.

“Ada apa? kau menghubungiku hingga puluhan kali. Apa pulsamu tidak habis? Jangan suka buang-buang uang, mengerti?”

“Mwo? Aku tidak gemar membuang uangku, enak saja.”

Myungsoo sadar Tiffany menyembunyikan apa yang ingin dia katakana mungkin. Karena sepanjang mereka bicara, Tiffany selalu mengalihkan topic dari tujuan asli. Ia sudah mencoba kembali tapi gadis itu menolak tuk serius, memberi cela tuk candaan.

“It’s okay, baiklah. Pasti di sana sudah larut. Cepat tidur, pakai selimutmu, jangan sampai keding—“

“Sssttt akan saya laksanakan Nyonya Myungsoo, terima kasih atas kebawelan anda.”

“Hei! Aku pria!” gadis itu merasa kupu-kupu terbang di perutnya. Ia yakin Myungsoo tidak akan berpaling kepada siapa pun, terlebih perempuan sok kaya itu. Melupakan desahan panjang laki-laki itu kali pertama mengangkat telefon, mengabaikan nada gelisah di setiap hurufnya, yang diperlukan Tiffany hanya pergi dari masalah dan lari dari penjahat dunia. Sebentar saja. Cukup malam ini.

“Aku tidak mau tidur. Aku ingin Myungsoo”

“Mwo? Permintaan macam apa itu? Apa au pikir aku jin yang bisa mengabulkan keinginan huh?” gadis itu terdiam dengan mulut tertutup. “Sudahlah, cepat terlelap dan mimpi indah ya. Aku ada meeting, bye honey.” Terdengar suara kecupan dari situ memejamkan Tiffany karena rasa menggelitik.

 

—-,———

 

Myungsoo bohong.

Ia tidak pergi ke acara meeting di mana pun. Yang ia lakukan hanya mendekati pintu ruang kerja ayahnya. Mencoba menyiapkan batin akan larangan. Ia harus terlalu bersikukuh ketika baru saja mendengar suara Tiffany.

 

Ceklek

 

Perlahan pintu terbuka sepencil memperlihatkan sosok ayah tengah duduk. Itu awalnya, namun ketika sudut mulai menjadi tumpul dan mata Myungsoo melebar. Tercetak siluet Suji di samping Tuan Kim. Tersenyum penuh kebanggaan dan percaya diri.

Keduanya menoleh bersamaan ke arah Myungsoo mendapati laki-laki itu masih cengo. Lewat gerakan mata, Tuan Kim menyuruh putranya masuk. “Aku sudah cukup bersabar memberimu waktu dan kekasihmu untuk membicarakan hal ini. Dan waktunya telah habis.”

Myungsoo terbelalak dalam hati meskipun raganya masih bersikap datar. Apa yang di maksud memberi waktu? ia memperkenalkan diri dengan Suji saja baru beberapa hari silam. Apa itu waktu? bisakah lebih lama? Bahkan hanya untuk menunggunya kembali ke New York, bertemu cintanya kemudian mengucapkan salam maaf. Apa itu tidak boleh?

Ia rasa hatinya dipenuhi kesesakan sampai harus menaikan rongga dada kuat-kuat kemudian menghembuskan nafas sepanjang yang ia mampu. Ia ingin marah, ingin sekali. Tapi seorang anak tidak punya hak untuk itu, yang terbaik adalah menurut dan menurut. Apa pun yang dilakukan sang ayah pasti adalah positif. Tapi apa Myungsoo bisa menerima ini? Bukan positif tapi hal buruk.

Suji duduk di hadapannya tanpa melunturkan sedikit pun tarikan bibirnya. “Bolehkah aku kembali padanya dan minta maaf? Hanya sebentar saja, setelah itu ayah boleh melakukan apa pun padaku.” Tuan Kim berusaha menyabarkan hatinya lagi kemudian mengangguk berat.

Akhirnya, Myungsoo bisa mendapati senyum kemenangan itu pudar dari wajah Suji. Ia beranjak dan hilang di balik pintu.

Derapnya dipercepat. Ia sudah menghubungi Woohyun—salah satu sahabatnya yang bekerja di bidang surat nama—tadi. Rencana itu keluar begitu mendadak tanpa memikirkan efek buruknya. Myungsoo kembali berkutat dengan digit-digit angka. “Hello? Are you Mr.Lee?” ada jawaban ‘iya’ di seberang sana.

“Howon-a. aku butuh bantuanmu.”

Seorang Lee Howon. Pria muda yang menjadi ketua pengurus landasan pesawat. Kendaraan udara yang akan di terbangi Myungsoo menuju New York.

Rencana ini tidak pernah keluar sebelumnya. Kendati terbesit pun tidak.

Gila, adalah respon yang Tiffany seusai kekasihnya menjelaskan panjang lebar tentang rencana aneh itu.

Apa kau gila huh? Aku masih mau hidup, tidak ingin mati di tangan ayahmu tahu! rencana apa-apaan ini? Dari mana kau mendapatkannya? Dan sederet kalimat lainnya memburu handphone Myungsoo. Laki-laki itu kehabisan akal, terlalu malas mendengarkan ocehan Tiffany.

Hingga benda persegi panjang itu berakhir di saku bajunya, dengan suara cempreng Tiffany masih berkumandang. Alih-alih ia malah memasang earphone di telinga, menyalakan susunan lagu di ipod.

 

—-,——–

 

Di beritakan pesawat dengan tujuan New York, jam 10.30 telah mendarat tidak sempurna di daerah kehutanan bagian utata amerika. Diprediksikan seluruh penumpangnya tewas, termasuk sang pilot dan wakilnya.

 

—-,———

 

Tiffany mengayunkan kaki-kakinya pelan. Mengamati lamat-lamat sepatu flat-shoes pink-softnya pemberian Myungsoo. Dengan pita warna senada secantik mawar di sana.

 

“Myungsoo-a,”

“Wae?”

“Aku ingin itu.” Si perempuan menunjuk sepasang sepatu wanita cantik. Mencolok di antara deretan lainnya. Dari luar kaca toko terpampang jelas siluet keduanya yang bergandengan tangan.

Si laki-laki berpikir sejenak. Tak lama, ia menarik yeojanya masuk ke dalam toko tersebut. “Yang itu, berapa harganya?”

“Yang ini?” kata pemilik toko. “Ya,” si perempuan membulatkan matanya sontak mendengar deretan harga. Sepatu itu mahal, terlampau mahal dibandingkan dengan pendapatannya saat ini. Dunia angan-angan serasa runtuh begitu saja. Digantikan dengan kelamnya langit sepekat tinta. Ia menunduk sedih.

Si laki-laki justru tidak menghibur yeojanya, melainkan mendekati kasir. Meninggalkan si perempuan yang termenung. Tak berapa lama laki-laki itu kembali. Menggandeng tangan lembutnya keluar dari toko sepatu.

Mereka duduk di bangku taman, cuaca dingin membeku. Salju turun tanpa memikirkan perasaan. Mendinginkan suasana, sebeku senyum tipis perempuan itu. Si laki-laki tersenyum seperti cahaya lilin di tengah gelapnya kota.

“Ambilah, jangan bersedih lagi.” Iris cokelat –milik si perempuan—mendapati kotak cukup besar di hadapannya. “Apa ini?” gadis itu menatap kekasihnya penuh harap, sedangkan yang ditatap malah enggan bertemu mata, malah menelusuri setiap sudut taman dengan iris pekatnya.

“Yang kau inginkan.” Perempuan itu membukanya dan berbinar matanya. Sepatu flat-shoes cantik warna pink-soft bergelut diantara remahan kertas. Seperti rangkaian bunga mawar ditemani baby breath. “Sungguh? Kau membelikannya untuku?”

“Tentu saja.”

Iris cokelat itu lebih berkaca-kaca lagi sebab terharu. “Tapi ‘kan harganya sangat mahal.”

“Tidak apa kalau kau yang minta.”

“Myungsoo-a.” si laki-laki melebarkan tangannya. Membekap yeojanya dalam hangat.

“Apa pun untukmu. karena Cinta itu setulus perasaan. Sebahagia tawa. Sesetia menunggu. Dan, sehangat mentari. Karena cinta itu kamu. Satu-satunya yang kumiliki. Lebih berharga daripada uang.”

 

Tiffany tersenyum, merona pipinya sehabis membayangkan kejadian beberapa tahun yang lalu. “Fany-a.”

“Kau sudah tiba?” ia berdiri dan memeluk kekasihnya erat.

“Kim Myungsoo kau adalah segalanya. Apa rencanamu berhasil?”

“Aku bukan lagi Kim Myungsoo. Tapi Tuan Hwang, kkkk~ tentu saja berhasil. Sangat mulus bahkan, berkat Woohyun dan Howon.”

“Berterima kasihlah pada mereka.”

“Sudah.”

Mereka memilih kembali duduk. Namun sama-sama terngiang dalam pikiran masing-masing. “Myungsoo-a.”

“Mmm…”

“Kenapa kau mau melakukan semua ini?”

Laki-laki itu tersenyum penuh makna, menerawang langit yang cerah. “Karena Cinta itu setulus perasaan. Sebahagia tawa. Sesetia menunggu. Dan, sehangat mentari. Karena cinta itu kamu. Satu-satunya yang kumiliki.

END

Dan selesaii jugaa yeay! Seneng banget, tadinya mau threeshoot tapi jadi twoshoot deh karena buntunya ide. Ini juga aku bikinnya ampe lumutan(?) berjam-jam doh –– dan ini kaitannya sama quote yang di header. Ada yang nyadar? #enggaada-– okelah cuman curcol bentar hehe. Thanks for reading 🙂

Advertisements

3 thoughts on “FF : L.O.V.E (END)

  1. Bila baca penulisan nie berulang kali… saya jadi hormat dengan pendirian awak…
    tak keterlaluan saya kata, walaupun banyak blogger kita dah
    semakin kurang sopan.. tapi awak tetap dengan pendirian awak yg
    sederhana.. dari peminat blog awak 😉

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s