FF : A Mini Drabble for Christmas

poster drabble for christmas

Drabble for Christmas Day, dalam rangka menyambut hari natal super bahagia >< Merry Christmas and Happy New Year ya^^

Cicil’s Present

Rasanya manis seperti stroberi. Kepahitan yang menuju kebahagiaan.

“Apa yang kau lakukan huh?!” sakatis si ibu pada anaknya. Gadis kecil itu meringkuk di pojok sambil menghusap pipi kanannya beberapa kali, yang bersona merah karena tamparan.

“Aniya, aku hanya berkata jujur” wanita itu mendekati putrinya dengan seribu hentakan kasar. Menarik tangan mungilnya untuk berdiri. Pemaksaan. “Apa kau bilang?? Hanya? Ungkapan jujur sialanmu itu sudah membuat karirku hancur!”

Seohyun memberanikan diri menatap mata sang ibu, dilihatnya sorot kemarahan penuh asap menyala. Kelopaknya kembali terpejam. ia berdiri, terseok-seok keluar dari rumahnya. Memandang turunnya salu sejenak lalu kembali melanjutkan langkah entah kemana.

Dan entah dari mana angin salju membawanya pada bangku panjang di pinggir jalan pertokoan. Masa bodo bagaimana cara menemukan jalan pulang, kendati menurutnya lebih penting mencari pelarian lebih dahulu.

Sekonyong-konyong bak angin barusan yang menerbangkannya. Kini udara sejuk itu menghantarkan seorang laki-laki kecil tak berbeda umur amat jauh. Ia menatap laki-laki di sampingnya polos, memperhatikan bagaimana anak itu menjilat es krim stroberi penuh nikmat.

Ia menelan saliva kuat-kuat, berusaha membuang keinginan makan es krim. Sehun merasa risih diperhatikan, akhirnya menoleh dan, “Apa?” Seohyun segera mengalihkan pandangannya. “Tidak,”

Sehun mengamati es krimnya lamat-lamat menyadari perempuan kecil itu menginginkannya juga. Tanpa sadar tangan yang menggenggam es krim itu terulur. Memperlihatkan Seohyun sebuah obyek menggiurkan lidah. Ia memberikan Sehun iris berbinarnya ditambah kilatan bayangan salju.

“Untuku?”

“Tentu saja, tapi tidak semuanya. Aku juga masih mau makan, jadi….. berbagi.” Seohyun mengangguk cepat, membiarkan Sehun tetap menggenggam es krim itu dan melontarkan lidahnya untuk merasakan manisnya paduan susu dan stroberi.

“Hari ini hari natal ‘kan? Kata ibu, aku semestinya saling berbagi. Dan aku membaginya untukmu.”

“Ne, gomawo.”

Awal yang mengejutkan berlanjut tawa menggelikan

Minah melirik jam tangannya resah sambil terus berlari. Ia terlambat dan sialnya jam pertama ada di perpustakaan. Tempat paling jauh dari jangkauan mata dan enggan dikunjungi –kecuali penggemar membaca.

Hasilnya setelah sepersekian jam berlalu, omelan Ms.Kim terlewatkan dengan bosan. Ia terjebak di perpustakaan, dengan mengisi bangku di bagian tengah. Membiarkan sinar matari menyorot saat dia menulis karangan.

Ah, sial. Umpatnya dalam hati, satu buku tertinggal di rak –tepatnya lupa di raih. Minah terpaksa kembali berdiri, langkahnya penuh kemalasan mendekati rak-rak buku yang hampir berdebu kalau Ms.Han –guru penjaga perpustakaan—tidak menyapunya dengan kain.

Okay, sastra adalah pelajaran yang tidak dianggap enteng olehnya tapi tidak terlalu sulit juga. Hanya butuh beberapa inspirasi dan imajinasi tinggi, jika perlu mencapai langit. Untungnya mentari berbaik hati, menghangatkan suasana tubuhnya dan mencairkan banjiran salju yang semalam tertumpuk rapih.

Ia berhenti mencari, tangannya terulur memegang bagian buku yang terselip. Mengambilnya, menyisakan spasi celah untuk menampilkan wajah seorang laki-laki. Ia kaget bukan main, malah menepuk-nepuk dadanya karena jantung terus berdegup.

Melelehkan perhatian namja mata bulat itu dari buku.  Namja itu mengerutkan keningnya dan Minah menggeleng tersenyum, lalu meninggalkan tempat barusan. Bergegas kembali ke meja yang penuh akan kertas tulisannya.

Menit-menit berlalu tanpa disadari. Minah hampir terlonjak ke belakang kalau ia tidak kenal keseimbangan. Namja tadi menaruh buku –yang menurutnya amat tebal—di atas meja sebelahnya, kemudian menjatuhkan diri di kursi.

Ia terlihat dingin tapi imut menurut Minah. Matanya bulat sempurna seperti melotot namun bibirnya kecil dan datar. Minah memperhatikan namja itu membuka bukunya, menilik setiap kata demi halaman. Sampai namja itu gerah dan menatapnya balik dengan raut menyebalkan.

Minah ragu membalikan dirinya ke tempat semula ia berkutat. Risih juga ternyata diperhatikan, ujarnya dalam hati. “Bagaimana rasanya?”

“Eummp?” namja itu mengibaskan tangannya di depan muka Minah dan terkikik pelan.

“Kenalkan aku Kyungsoo,” mereka berjabat tangan dan Minah merasakan ada sensasi tersendiri menyetrum hatinya. Menggelikan, ia sudah coba menahan tawa itu tapi tidak bisa juga hingga akhirnya mereka sama-sama tertawa malu.

Di mulai dari situ, Minah mengenal sosok rajin dengan bibir datar tapi penuh menyenangkan ketika bibir itu melekuk membentuk kalimat.

 

Cinta pertama memang tidak terlupakan

“Baekhyun-a.” Baekhyun berpaling dari acara melihat matahari tenggelam. Irisnya melihat Taeyeon bertindak tak nyaman, seperti salah tingkah. Pasti ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan. “A-aku—“ca

“Apa kau kedinginan? Saljunya mulai turun.” Baekhyun memperhatikan langit berkelimpahan butir-butir es. Taeyeon menghembuskan nafasnya, berulang kali mencoba bicara tapi tidak bisa juga. Mereka berteman sejak sekolah baru di mulai, dan sekarang usianya menginjak 14 tahun.

Di mana saat ia menyadari perasaannya berubah, menjadi wanita bukan anak-anak lagi. Dan ia tahu ia menyukai Baekhyun. Tapi rasanya kalimat-kalimat ungkapan itu selalu tertahan di ujung bila saatnya tiba untuk diucapkan. Kegugupannya naik drastis, keringat dingin berbulir di sekitar dari, dan jantung ingin loncat keluar dari posisinya.

Tanpa pikiran namja itu memperdekat jarak antara dirinya dan Taeyeon. Nasibnya tak jauh berbeda dari yeoja mungil itu. Begitu ingin berubah menjadi cowok remaja yang mengerti arti suka. “Ehmm… aku punya permen lollipop, mau?” Laki-laki itu merogoh saku celananya, mendapati dua batang permen masih setia menunggu tuk di ambil.

Taeyeon mengangguk ragu, Baekhyun menunjukannya rasa cokelat. Ia mengambilnya gemetaran, membuka bungkusnya perlahan.

Mereka terdiam dalam pikiran masing-masing. Waktu serasa berputar lebih lama, ketika Baekhyun sadar matahari tak kunjung menghilang dan salju terus menderu. Tidak selebat kemarin sore, membuatnya beruntung masih bisa duduk santai di hamparan pasir yang mulai memutih.

Sampai isapan terakhir Baekhyun, mengalihkan pandangan mencari sosok Taeyeon. Mendapati yeoja itu tengah bingung mau menaruh sisa batang permen dimana. Ia lebih mendekat pada Taeyeon, hingga jarak mereka tak lebih dari 20cm.

“Taeyeon-a, kau tahu…” yeoja itu menunggu harapan yang tak kunjung membuahkan hasil. “ehmm… aku menyukaimu.” Sekejap pipinya bersemu semerah mawar mekar. Serasa ribuan kupu-kupu terbang mengelilingi perutnya, menggelitik.

“Maukah—“ Taeyeon melihat namja itu menggigit bibirnya, memutar-mutar irisnya kebingungan.

“—maukah kau jadi pacarku?”

Tanpa perlu alasan, Taeyeon mengangguk. Baekhyun seperti ingin meledak sekarang kalau ia tidak sadar bahwa ia merupakan seorang manusia bukan kembang api. Senyumnya tak kunjung luntur, malah makin lebar seiring tawa kecil Taeyeon yang penuh malu.

Baekhyun memeluk Taeyeon lembut, mengecup dahinya penuh hasrat. Taeyeon merasa kehangatan itu menjalar keseluruh tubuhnya. Ia yakin ini natal yang tidak akan terlupakan.

Ketulusan dan pengertian muncul begitu saja tanpa diminta

Jongin menutup payung beningnya, menyenderkannya di tembok terdekat. ia berniat mencari Krystal di ruang latihan dance seperti biasa. Hari ini kristal dingin itu turun tak hingga habis –sebab itu ia membawa payung tadi.

Dugaannya tepat sasaran, dentuman musik keras-keras menusuk indra telinga bahkan dari kejauhan. Ia mengintip di sekitar jendela pintu. Ada siluet yeoja rambut di bawah bahu, meliuk-liuk cepat sesuai irama.

Bruk

Jongin segera membuka pintu itu, menghampiri Krystal secepat yang ia mampu. “Apa sakit?” Jongin mengangkat kaki kanan yeoja itu ke pangkuannya, menekan-nekan beberapa bagian agar rasa nyeri berujung reda.

Krystal menyemburkan senyum tipis, meski matanya tidak bisa berbohong kalau ia meringis perih. “Hanya terkilir,” Jongin mencibir pelan. Bukan menuntun yeojanya lagi dengan uluran tangannya. Tapi namja itu bertindak menggendong Krystal. Mendudukannya di sofa.

Beralih dari yeojanya, ia mematikan alunan lagu yang masih berputar. Membuat ruangan sunyi. “Jongin,” Krystal bisa melihat raut khawatir terpaku di wajah Jongin. “Sungguh, aku tidak apa-apa.” Jongin menjatuhkan dirinya di samping Krystal. Menghusap wajahnya sampai ke rambut.

“Bagaimana aku tidak khawatir? Bagaimana jika tadi aku tidak datang dan menolongmu?” Krystal terdiam. Ia pasang iris merenung diri, mengabaikan lirihan Jongin barusan. Menjadikan laki-laki itu muncul rasa bersalah juga.

“Sudahlah, lain kali jangan berlatih terlalu keras.” Ia melihat kekasihnya mengangguk ragu sambil tetap menunduk, memegangi bagian pergelangan kakinya sendiri.

Setengah jam berlalu, Krystal merasa dirinya lebih baik dan segar begitu pula Jongin. Setelah menyibukan diri dalam pikiran masing-masing, kemudian saling berbicara penuh artian. Jongin berdiri, merapikan bajunya yang sempat kusut.

Mengulurkan tangan kanannya untuk Krystal, sedangkan yeoja itu terlampau bingung dengan apa yang harus ia lakukan. “Menari bersamaku.” Tanpa keraguan ia mengapit tangan keras kekasihnya, seiring bunyi music bergariah di putar.

Liukan bak ular menyelubungi keduanya, membuat tarian itu amat cantik karena ada cinta terselip di sela-sela gerakan. Saling mencintai tidak perlu untuk di rangkai dengan kata-kata, tapi di tunjukan dengan gerakan.

Sama halnya dengan Jongin dan Krystal. Lewat lantunan musik, duetan tari, dan tatapan mata.

Tergantikan untuk yang lebih baik

“Myungsoo,” Suji menatap namjanya penuh arti, mencoba menyadarkan. “Bisakah kau tidak bermain dengan yeoja lain? Bisakah kau mengerti perasaanku?” laki-laki itu membenarkan posisi berdirinya supaya lebih nyaman memegang kedua bahu Suji.

“Suji-a, coba untuk mengerti –ini tugasku, memang kewajiban untuk dekat dengan seorang yeoja, aku harus professional” Suji mengerti kalau kekasihnya merupakan actor hebat nan ternama, yang selalu muncul di berbagai layar kaca. Entah untuk iklan atau drama.

Tapi sesuatu membuat hatinya gundah. Kendati beberapa bulan yang lalu ia mulai menemukan sorotan mata Myungsoo yang berbeda. Sorot mata itu menatap lebih kepada perempuan yang menjadi lawan mainnya, dan berkurang di matanya. Tidak ada lintasan kasih sayang di sana, dan Suji menangis.

“Tidak, tidak, kau bukan professional tapi memang tidak ada cinta lagi di antara kita.” Suji melepaskan paksa kedua cengkraman tangan Myungsoo.  Berbalik lari meninggalkan namja itu.

Berlari sampai ia menemukan café kesukaannya. Tempat terlampau nyaman untuk menenangkan diri. Secangkir kopi panas yang asapnya mengepul ke udara tersaji di atas mejanya. Setelah beberapa menit menenangkan diri, ia bisa mengontrol air matanya.

Mencoba menghangatkan hati di tengah dinginnya musim.

Ketika Minhyuk datang terlalu tepat waktu. menjatuhkan tubuhnya di samping yeoja itu. Tangis Suji tidak dapat terbendung, mengetahui yang memeluknya adalah Minhyuk. Namja itu dekat dengannya sejak Myungsoo tidak memperlihatkan kilatan sayang lagi. Sejak hatinya mungkin berpaling dari Myungsoo.

Note : okay! Jadilah drabble super kilat ini yang aku kerjakan dalam satu setengah jam lirik jam dinding ada sweet”nya tapi mohon dimaklumi yah kalo feel nya gaberasa-berasa amat soalnya ini ga pake bantuan lagu nuansa, dan muncul begitu saja dari otak(?) sorry for typo J and thanks for reading.

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s