FF :Let The Fate Lead Me (Chapter 6)

poster let the fate lead me 1

Tittle : Let The Fate Lead Me

Author : Cicil

Cast : exo’s Luhan and GG’s Jessica

Other cast : exo and gg members

Rating : G

Genre : romance

Disclaimer : all belong to GOD

Summary :

Would you be my girlfriend?

“Luhan-a”

“Wae?” Baekhyun dan Chanyeol telah kembali dari dapur. Membawa senampan plastik berisi gelas minuman. Chanyeol menaruh nampan itu di meja. Tanpa kesadaran penuh langsung diserbu Sehun dan Luhan.

“Bagaimana untuk acara kelulusan nanti?”

“Aah,” namja itu mengulum senyum. “Aku akan berduet,”

“Uhuk!uhuk!” Sehun di sebelahnya sengaja tak sengaja tersedak minumannya. Terlalu kaget. Luhan menatapnya heran. “Hyung, kau benar-benar akan berduet? Kau yakin? Duet nyanyi? Suaramu…” Luhan menelan senyumnya bulat-bulat, irisnya berputar kesal.

Siapa lagi sekarang yang meragukan suaranya?

“Apa kalau aku nyanyi jelek, huh?”

Ketiganya sontak mengangguk pasti.

“Ya!”

“Pwahahahhahaa!!!” Semuanya bergelut tawa kecuali namja beriris cokelat itu.

“Luhan-a, aku tidak yakin. Lagipula kau berpasangan dengan siapa? Hyojung?” Chanyeol berusaha memakan habis guyonannya.

“Bukan, Hyojung pasti manggung solo. Aku akan menyanyi bersama Jessica.”

“Mwo??!” Luhan mengabaikan ketiga cowok itu. Alih-alih mengambil remote, mencari siaran kesukaannya.”

Baekhyun menghampiri ketua osis itu, mendekatinya. “Sudahlah, ayo main kartu.” Luhan mengalihkan pandangan melihat temannya sebal, mendapati senyum lebar dan mata berbinar Baekhyun.

—-,———

Tiap-tiap menit yang dihabiskan memang tak terasa begitu mengulur waktu. hingga menjadi hari, berganti bulan. Jessica sadar ia makin dekat dengan Luhan, perasaan yang timbul kala pertama mereka bertemu mata itu kian membesar.

Kali ini tiba waktunya untuk memakai sepatu flat-shoes kesukaannya untuk pergi –bisa dibilang kencan—dengan Luhan. siang yang hangat karena matahari membuat hatinya bergairah.

“Jessica!” gadis itu terpaksa mendongakan wajah –karena sepatu yang ia pakai baru sebelah—mendapati Luhan berdiri di depan pagar. Oh! Jangan tanya kenapa ia tidak takut bertemu dengan Tuan Jung, nyalinya amat membeludak dan Jessica jengah untuk menasihati namja itu agar tidak mendekat pada ayahnya.

Namja itu melambaikan tangannya penuh semangat berharap si yeoja dapat melihatnya. Jessica menghampirinya –setelah memakaikan sepatu dengan sempurna—membuka pintu gerbang keemasan itu pelan begitu pula dengan menutupnya. Ia melewati Luhan tanpa ada sapaan sedikitpun dan langsung duduk di samping kemudi.

Luhan tercengang-cengang tapi ia tidak bertanya, ada sorot kesal di situ dan dia tahu alasannya. Terlalu malas mengumbar pertengkaran kemarin, jadi lebih baik diam.

Si laki-laki mengendarai mobilnya, penuh akan kecepatan. Tapi tak satu kata pun keluar dari mulut sang gadis. Entah ‘Turunkan kecepatannya!’ atau ‘Berbahaya tahu!’ itu tidak sama sekali terucap, bukan tertahan di tenggorokan pun mogok di ujung lidah. Tapi Jessica memang ingin mengacuhkan namja di sebelahnya itu.

Keduanya turun dari mobil, Luhan buru-buru melepas sepatunya, membuka si kaos kaki abu-abu, dan berlari mendahului Jessica ke tengah ramainya deru ombak. Ia merentangkan tangan dan tersenyum sepuas yang ia bisa.

Jessica ikut menanggalkan kasutnya tapi tidak di tinggal di mobil seperti Luhan, ia cukup menentengnya. Angin lembut menerpa wajah, merasakan sensasi tersendiri yang di alami. Jessica tidak tahu kalau pantai semenyejukan ini, jika anginnya membuat mendamaikan pikiran, dan tingkah namja rambut gelap itu memecahkan tawanya.

Okay, ia sempat mengerutkan dahi kala pantai itu bersih dari pengunung –kecuali dirinya dan Luhan. bahkan secuil penjual yang menawarkan barang pun tak nampak. Pertanyaan logis timbul dari ungkapannya pada Luhan, namun namja itu hanya mengidikan kedua bahunya. Kemudian kembali sibuk dengan pesona laut.

Hari mulai mengelam dan mentari berambisi tuk segera istirahat. Luhan menjatuhkan diri di kilaunya warna pasir –sebelah Jessica. Mengelap peluhnya, mengatur nafasnya, tatkala juga tersenyum. Jessica memeluk lututnya, cuaca mulai mendingin dan ia hanya memakai bawahan celana pendek.

“Lagu apa yang ingin kau nyanyikan? Atau kesukaanmu?” Luhan menatapnya penuh tanya, ia berpikir sejenak memutar otak. Judul-judul music dan liriknya yang menggoda mulai bersenandung di pikiran.

Alih-alih menjawab sorot tanya dari Luhan, laki-laki itu malah mengerutkan dahinya. Makin bertanya lagi, kenapa gadis itu malah senyum-senyum sendiri. Tangannya terulur mengguncangkan bahu si gadis, membuatnya kembali kea lam sadar seketika.

“Ya! Jangan bertingkah aneh dengan senyumu itu.” Jessica memajukan bibir serentak bersama raut kesalnya. “Emmmn…. Kau tahu drama Dream High 2 ?” Luhan diam saja, mencoba berputar kembali ke masa lalu apa ia pernah menontonnya atau barang sekedar mengenal.

Jessica tahu jawabannya diambang ‘tidak’ jadi ia menarik napasnya panjang, “Sudahlah, intinya, kau memerankan Yoo Jin dan aku Rian. Judul lagunya Romeo and Juliet.” Cowok itu mengangguk-anggukan kepalanya kendati terus memasang raut berpikir.

Luhan menatap Jessica, bermaksud ‘Apa kau yakin lagunya bagus?’ dan gadis itu tersenyum kemudian berkata bahwa ia terlalu yakin, amat sangat .

Okay, keduanya kembali mengheningkan suasana. Masing-masing melayang dengan alamnya sendiri. Hingga Luhan mengubah tuturnya menjadi lebih serius, dan seonggok ranting dahan. Mengukir sebuah tanda berikut kalimat di atas pasir.

Jessica tak percaya ini terjadi, jantungnya hampir meledak karena itu ia memegangi dadanya sedari tadi. Melihat Luhan selesai dengan gambarnya dan ah! Ia ingin berteriak sesegera mungkin. Ada bacaan jelas di sana. ‘Would you be my girlfriend?’ ditambahkan sempurnanya lekukan hati.

Luhan menatapnya berbinar-binar, sampai Jessica menganggukan kepalanya. Kau tahu, rasanya seperti ribuan kupu-kupu menggelitik perut. Keduanya melukiskan senyum hangat lalu berpelukan. Hal yang paling ingin dilakukan Luhan selama mereka berdekatan akhir-akhir ini.

“Oke, mungkin aku tidak seromantis orang lain—“ Jessica menggeleng ketika matanya mulai berkaca-kaca. “Tidak, kau tidak perlu romantic Lu—cukup apa adanya.” Luhan sadar ini hari paling bahagia yang pernah ia alami. Dan mungkin kedepannya aka nada lebih banyak kejadian lagi yang membuat keduanya tersenyum dan menganggap itu adalah peristiwa sejarah dalam hidup.

—-,———

Waktu berlalu cepat tiap-tiap kencan yang mereka lakukan terasa amat menyenangkan. Hari ini seperti yang beberapa bulan lalu terjadi. Ada rapat osis. Ia dan Taeyeon kembali berdua, namun bukan ruangan osis yang di lewati. Melainkan aula besar di lantai paling atas, yang rencananya di jadikan saksi bisu kelulusan anak kelas akhir.

Jessica tidak lagi mengintip di balik pintu bersama sahabatnya, tidak juga di tinggalkan Taeyeon karena terlalu banyak melamun. Tangannya mendorong pintu yang sedikit melongo itu. Menimbulkan gesekan, jadi kebanyakan yang ada di dalam menoleh –ingin tahu siapa yang baru saja masuk.

Jessica tersenyum malu tatkala ia mulai salah tingkah. Sementara Yoona yang ikut berpatisipasi menghampiri keduanya. “Bergabung?” Taeyeon ikut serempak berkata ‘Iya’

Sesudah itu Yoona mengajak keduanya masuk dalam pembicaraan topic yang tengah terjadi. Semenit berlalu. Ternyata Taeyeon juga berduet dengan Baekhyun. Dan Jessica tahu kalau kedua sejoli itu memang menyimpan rasa. Tidak habis akal, ia mencuri pandang kepada namja di seberangnya itu.

Namja yang baru saja mengacak-acak rambutnya—kelihatan frustrasi. Kendati terus tenggelam dalam berlembar-lembar scenario yang di pegangnya. Jessica tahu jabatan ketua itu hal tersulit termasuk berat, yang paling diimpikan satu sekolah tapi ketika kau telah menyandangnya maka bukan bangga lagi tapi masalah harus mengurus segalanya.

Tak hayal ia sering mendapati Luhan keluar dari kelasnya hanya untuk sibuk mendata pertandingan olahraga, pertemuan dengan sekolah lain, atau entah apa pun itu karena Luhan tak jarang mengeluh padanya juga.

Niat menghampiri itu berujung membulat juga, ia memantapkan kaki mendekati sosok Luhan. tangannya terulur mengambil segelintir kertas yang sedang Luhan amati itu lembut. Sosok itu hampir saja marah kalau yang ia lihat di hadapannya bukan Jessica.

Namun si gadis memancarkan wajah penuh pengertian sebab itu Luhan melunak. Mereka duduk berdua di bangku penonton. Memperhatikan beberapa siswa berlatih di atas panggung. “Sudahlah, jangan di pikirkan lagi. Bisa-bisa kau jadi profesor berkepala botak kalau terus memaksa otak itu bekerja.”

Si laki-laki cukup menutup matanya, ikut senderkan punggung di badan bangku. “Tapi acaranya akan di selenggarakan sebulan lagi dan kita belum menyiapkan apa pun.” Well, si gadis mulai jengkel.

Belum menyiapkan apa pun, katanya? Bahkan dia sudah mengajaknya untuk duet dari bulan-bulan yang lalu. Sudah mendiskusikannya dari kapan hari. Tapi memang benar kendati ia belum sama sekali latihan, bahkan ia ragu Luhan telah hafal lirik lagunya.

Ia dengar dari Yoona persiapan hampir sempurna. Yeoja cantik itu memang bertugas di balik panggung, tapi bukankah yang bekerja di belakang layar jauh lebih penting dan bertanggung jawab? Taeyeon juga telah menyelesaikan beberapa latihannya dengan si wakil osis.

Jessica kembali dalam kenyataan, menyadari si laki-laki sudah tidak ada di sampingnya. Melainkan kembali berkumpul dengan gerombol diskusi. Sebenarnya, ada rasa kawathir juga menyelimuti. Apa namjanya menjaga kesehatan baik-baik, apa dia makan tepat waktu, apa hubungan keluarganya lebih dari harmonis, apa batinnya tidak lelah? Berikut sebaris pertanyaan panjang lainnya.

Tapi bidadari kecil berbisik di hatinya pelan. Sudahlah, toh Luhan tidak akan menjadi gila karena semua ini karena ada dirinya menemani.

“Jessica!” Yoona berteriak, mengibaskan tangannya bermaksud menyuruh Jessica mendekat. “Luhan bilang kau akan latihan hari ini.”

“MWO??!” Yoona terpaksa menutup telinganya, “Ya! Kau mau membuatku tuli, huh?”

“Bukan, bukan itu maksudku. Aku bahkan tidak yakin cowok itu hafal liriknya.” Nadanya mulai terdengar menurun di ujung kalimat. “MWO?!” kali ini Jessica bergantian menutup telinganya. Ia menutup bibirnya buru-buru, seperti mengumpat dengan kalimat yang sama tapi dalam hati.

“Jessica!” Okay, ia kesal dan dengan geram berbalik badan menyadari asal suara dari belakang. Ah! Luhan sudah berdiri di tengah panggung, memegang dua mikrofon, salah satunya di condongkan. Jessica naik ke atas panggung dengan muka datar. Mengambil miliknya, “Apa kau hafal—“

“Sudah,” Luhan tersenyum jahil, mengangkat handphonenya. Jessica bisa membaca dengan amat jelas bait-bait yang akan mereka nyanyikan. “Dapat dari mana?”

“Kau berisik sekali, nyalakan musiknya.” Luhan menyuruh Chanyeol yang berkutat di laptop sekolah.

—-,———

Malam ini akhir dari 365 jumlah hari. Malam tiba mengundang decak pelangi di hati Jessica. Ia di undang oleh kekasihnya untuk datang ke rumah Tuan Xi. Gaun putih anggun dengan lilitan dan berlian mengkilap di bagian atas, juga bawahnya menjuntai jatuh seperti aliran air.

Kali ini ia nyatanya tidak di jemput Luhan, sebab namja itu mungkin sedang mempersiapkan makan malam mereka. Jadi sasaran terakhir adalah Soojung. Adik perempuannya berparas menawan itu, enggan mengetuk pintu kamar sang kakak, guna mengingatkan waktu yang mulai larut.

“Ya, sebentar lagi.” Jessica menyisir sedikit helai rambutnya dengan jemari tangan. Bercermin sebentar di kaca. Baru membuka pintu. Tampak perbedaan jelas di sana. Soojung yang murung dan Jessica yang cerah.

Ah! Apa saudara perempuan selalu seperti itu? Rasanya tidak.

Soojung menyetir mobil sesuai arah yang Jessica tunjuk, melewati setiap detik keheningan. Membiarkan hanya suara Jessica yang berkumandang diikuti kepalanya yang mengangguk. Sang kakak membuka pintu mobil, “Terima kasih ya, bye~” ia melambai-lambai di depan kaca. Sedangkan Soojung hanya mencibir. Lalu kembali menginjak pedal.

Jessica ragu sejenak, apa tampilannya tidak berlebihan? Hei, ini hanya makan malam dan riasan wajahnya seperti pergi ke pernikahan seseorang. Oh, sudahlah abaikan rasa itu. Ia menekan bel di samping gerbang ukiran itu.

Gadis itu sadar rumah kekasihnya terlalu megah untuk tinggal sekeluarga. Ia berhenti melamun lagi ketika sosok Luhan muncul dari balik pintu, menghampirinya dan mengajaknya masuk. “Apa—“

“Sudah siap semuanya,” si gadis memukul lengan si laki-laki kesal, “Ya! Aku belum menyelesaikan ucapanku, kau sok tahu sekali.” Luhan masih menghusap-usap lengan kirinya, tidak mengeluarkan sedikitpun kata.

Keduanya sampai di ruang makan. Jessica duduk di samping bangku paling utama –berseberangan dengan kekasihnya. “Apa ayahmu tidak ikut makan?”  Luhan berhenti menyuap sayurannya, tak hayal tertawa sebentar.

“Aah, dia sedang bekerja. Tidak usah di pikirkan—sibuk.” Jessica membentuk mulutnya bulat dan matanya beralih pada sajian makanan. “Apa kau menyiapkan kembang api?”

Laki-laki bersurai gelap itu hampir membanting sendoknya kalau ia tidak sadar yang bertanya adalah sang kekasih. Ia terbiasa makan dengan hening, sementara sekarang Jessica terus berceloteh. Nyonya Xi bahkan bilang makan sambil bicara itu tidak baik.

“Bisakah kau diam?”

Jessica benar-benar menutup mulutnya hingga santapan malam mereka usai. “Aku sudah menyiapkannya.”

Langit tidak setenang kemarin. Sebab ribuan petasan telah menghiasi. Menyambut detik-detik baru di mulainya tahun. Jessica sebegitu binarnya memperhatikan, kendati Luhan terus sibuk menyalakan kembang api.

Duaarr

“Ya! Kau mengaggetkanku—“ ia memukul lengan namja itu lagi lebih keras dari awal ia tiba. “—bicaralah kalau ingin meledakannya. Kau mau aku mati kaget, huh?” Luhan menggeleng polosnya, pun menyalakan korek apinya lagi.

—-,———

Sebulan berlalu, amat singkat untuk Luhan. ia rasa ia belum bersiap apa-apa tatkala ujung waktu geladi bersih usai. Artinya satu jam lagi. Ia seakan demam panggung kala itu dan Jessica mengeluarkan kalimat-kalimat menenangkan.

Matahari masih berasa di ufuk timur, satu persatu orang-orang mulai berdatangan serta duduk di bangku masing-masing. Luhan tidak bisa diam dari tadi –mencoba menetralisir rasa gugup dengan berjalan bolak-balik.

Dan Jessica amat gregetan melihat tingkah namjanya. “Luhan, duduklah.” Yang di panggil menurut, menjatuhkan tubuhnya di samping Jessica. Sedetik kemudian kembali berdiri, “Aaah, tidak bisa, aku harus membantu yang lain.”

Jessica menahan tangan namjanya, menyebabkan ia berbalik dengan seribu raut tanya. “Sudah hafal liriknya?” ia mengangguk, melepaskan genggaman Jessica, berlari segera tuk bergabung dengan sekelompok anggota osis lainnya.

TBC

Note : untuk menyambut tahun baru yeay!! Sebenernya engga juga sih ._. karena cuman diselipkan aja moment mereka. Curcol bentar nih, kemaren abis nonton sbs gayo daejun. Di situ ada SeoHan >< makin nge-ship deh, wkwk. Okay, thanks for reading ya. See you in next chap. tapi, apa yang chap ini berasa lebih panjang? sudah di perpanjang sama aku wkwk, kalo masih kurang juga bilang ya ntar diperpanjang(?) lagi #thor emang ini asuransi pake diperpanjang”-__-#

8 thoughts on “FF :Let The Fate Lead Me (Chapter 6)

    • iya soalnya ngeship sama couple luhan -__- siapa pun itu wkwk. itu cuman sekedar curcol kok engga masuk dalam cerita. kecepetan ya? thanks for commenting 🙂

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s