FF : Let The Fate Lead Me (Chapter 7)

poster let the fate lead me 1

Tittle : Let The Fate Lead Me

Author : Cicil

Cast : exo’s Luhan and GG’s Jessica

Other cast : exo and gg members

Rating : G

Genre : romance

Disclaimer : all belong to GOD

Summary :

ia akan datang, sebentar lagi. Bagaimana ini?

 

Jessica menahan tangan namjanya, menyebabkan ia berbalik dengan seribu raut tanya. “Sudah hafal liriknya?” ia mengangguk, melepaskan genggaman Jessica, berlari segera tuk bergabung dengan sekelompok anggota osis lainnya.

Lima menit termenung sendiri di tempatnya. Gadis itu beranjak menyusul namjanya. Ia hendang menarik tangan itu tapi yang terjadi hanya tatapan mereka bertemu. Tidak ada acara membawa Luhan ke tempat lebih sunyi untuk bicara.

Namja itu kelihatan kesal di mata Jessica. Apa pun bentuk intimidasi tatapan itu, ia tidak peduli lagi. Hatinya tiba-tiba gundah, entah angina apa yang barusan melewatinya. Namun seraut wajah kawathir nampak di situ.

“Ada apa?”

Jessica memutar irisnya. Bodoh! Bahkan ingin bicara apa ia tidak tahu, lalu untuk apa menarik Luhan?

“Emmnn—“ matanya berlari kesana-kemari, seperti mencari sesuatu.

“—Aah, apa kau bawa mp3 yang kemarin kuberikan? Tiba-tiba saja aku lupa nada lagunya.” Luhan lebih menatapnya penuh keanehan, apa lagi ini? Lupa nadanya? Bagaimana bisa?

Si namja berpandang kosong sejenak, memaksa sang pikiran agar menemukan jawaban dari pertanyaan kekasihnya. Sedetik berlalu dan tepukan keras mendarat di dahinya sendiri. Sekeras yang ia mampu supaya hal bodoh yang sempat menghampirinya kemarin tidak datang.

Hal terbodoh yang membuat jantungnya tenang. Namun sekarang justru memacunya lebih kuat. Ia berusaha menyembunyikan penyesalannya, bersikap sedatar mungkin. “Aku lupa. Ya, aku lupa menaruhnya di mana kemarin.” Jessica jelas melebarkan matanya. Membuka mulut kendati tak satu pun kalimat yang keluar.

Kemarin bukanlah benar-benar kemarin. Maksudku, itu sebulan yang lalu atau lebih, saat Jessica menentukan lagunya lalu ia membelikanku mp3 itu. Aku memang cenderung ceroboh semoga Jessica tahu itu. Kemarin atau lebih tepatnya beberapa hari yang lalu, benda itu kutaruh entah di mana.

Mencarinya sejenak, kelabakan dengan jantung berdebar. Toh hal bodoh itu nyata datang dalam pikiran. Membuatku tenang, aku tidak bermaksud mengatakan kalau Jessica akan memaafkan jika ku katakan pemberiannya hilang. Tapi itu yang membuatku tenang.

Dan saat ini, percuma merutuki diri sendiri.

Jessica rasa kakinya kehilangan sang tulang. Ia pasti jatuh kalau Luhan tidak segera menopang, membawanya duduk secepat yang laki-laki itu dapat lakukan. Air mata itu kunjung mengalir tanpa di sadari.

Sekonyong-konyong Luhan menatapnya bingung. Lagi pula yang hilang hanya mp3 ‘kan? Buat apa di tangisi?

Namun Luhan menggenggam tangan itu lebih erat dari biasanya. “A-aku tidak tahu mengapa bisa seperti ini. Tapi—“ Luhan mengelap air mata itu lewat sudut ibu jarinya. “—aku memang terbiasa kau selalu seceroboh itu, toh barang yang hilang akan di ganti dengan yang lebih baik.”

Jessica berhenti dari ucapannya. Menilik iris kelam di hadapannya itu lebih lagi. “Apa ini juga berlaku padaku?” namjanya tertegun seketika, sekali ini saja otaknya bekerja secepat kilat. Menegerti arti ungkapan Jessica. “Apa kalau aku menghilang maka kau akan menggantinya dengan yang lebih baik?”

Luhan memeluk gadisnya, supaya burat tak jelas di wajahnya tidak dapat di tangkan gadis itu. Jujur, ia tidak tahu jawabannya. Ia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya barang sedikit pun. Apa cinta yang hilang akan mudah di gantikan?

“Tidak, itu tidak akan pernah berlaku untukmu.” Yang jelas, ia tidak mau Jessica ditukarkan.

Gadis itu merobohkan butiran air yang ia tahan. Sampai bahunya berguncang dan Luhan mendapati kemejanya basah. Ia tetap memeluk gadisnya, menepuk punggungnya berulang kali.

Perlahan namun tak ketara, ia tahu masalah sebesar apa yang akan dihadapi. Tahu sekuat apa orang yang menentang. Sesedikit apa topangan terlebih pendukung. Kendati satu hal yang terlalu pasti untuk di percaya. Ia tahu, ia akan tetap berdiri di samping Jessica.

Sedetik berlalu.

“Sudahlah, acaranya akan di mulai sebentar lagi, ayo.” Luhan membantu gadis itu berdiri, lewat pelannya sentuhan berharap Jessica tidak tersakiti. Ia menuntun menusuri deretan bangku yang penuh. Mencari bagian khusus untuk pengisi acara.

Telapak tangan itu terus menempel pada milik Jessica. Tidak ada satu pun yang berdentum di telinga Luhan, entah itu bentuk protes atau umpatan. Mungkin Jessica mengatakannya dalam hati.

Sampai ia berhenti di tempat yang ia pikir benar. Di depan lambaian tangan Taeyeon, dan di sebelahnya ada Baekhyun duduk nyaman sambil memainkan handphonenya.

Antusias perempuan mungil itu sirna seketika. Ketika nampak Jessica yang bersembunyi di balik punggungnya. Ada hasrat bingung terselip tapi sudahlah mungkin gadis itu malu, atau insiden kecil terjadi padanya. Yang Taeyeon tahu mood Jessica amat cepat kembali kecuali kalau dia bertekad mendatangkan si hujan petir di hati.

Luhan mengisyaratkan Taeyeon tuk diam lewat matanya, saat mulutnya sudah terbuka lebar siap berucap. ia beralih pada gadisnya yang tertunduk diam, menatapnya binary walaupun mengerti tatapan itu tak akan di lihat. “Duduk saja di sini, ada Taeyeon. Aku harus ke sana sebentar bersama Baekhyun.” Ia lihat Jessica mengangguk ragu.

Sejenak teralih melihat Baekhyun yang menatapnya pasti, keduanya berlari kearah Yoona, yang barusan memanggilnya. “Ada apa lagi?” kedengarannya Baekhyun gemas. “Itu… emmmm…. Aku belum menentukan daftar panggungnya.” Perempuan cantik itu menggigit bibirnya bimbang, melirik-lirik Sehun yang tengah berbincang dengan Chanyeol di bagian kabel-kabel pengeras suara.

Luhan sontak menepuk –untuk yang kedua kali—dahinya. “Ya sudah, tentukan sekarang.” Yoona menatap –bagaimana caranya? “Siapa saja yang mengisi?” ketiganya segera duduk di bangku terdekat, dengan Yoona yang siap mencatat apa pun menggunakan kertasnya. Ia menjelaskan detil-detilnya.

30 menit berlalu. Jongdae dan Kyungsoo sudah berdiri di panggung, mengutarakan apa saja yang ada di pikiran mereka. Yoona sibuk menulis, Baekhyun terus berbicara, dan Luhan memainkan jarinya yang di ketuk-ketuk pada bangku berpikir.

“Jadi, Aku dan Taeyeon akan menjadi pembuka. Jongdae akan bernyanyi solo setelah itu, lalu Lay bermain piano klasik. Sehun dan Yoona duet dance. Setelah itu Hyojung. Di lanjutkan oleh Eunhyuk dan Donghae hyung. Dan kau terakhir, Luhan.”

“Bisakah aku di tengah?” Luhan memincing Baekhyun penuh harap. Tapi namja itu justru menggelengkan kepalanya. “Kau pikir tidak sulit menyusunnya? Kalau kau mau di tengah, silahkan bicarakan dengan Yoona.”

Luhan tahu itu bukan mempersilahkan tapi lebih ke mengancam. Okay, ia dan Yoona tak pernah lancar dalam bekerja sama apalagi mendiskusikan hal darurat seperti ini, sehingga Baekhyun –mau tidak mau– jadi penengah.

“Iya, iya, aku penutup.” Baekhyun hampir saja meledakan tawanya kalau ia tidak tahu acara telah berlangsung. “Sudah ‘kan?” Yoona membuka mulutnya hendak menjawab tapi Baekhyun dan Luhan terlebih dahulu meninggalkannya.

Dasar dua cowok menyebalkan. Sama-sama lebih tua darinya, tidak setinggi Sehun pun Chanyeol, tapi posisi mereka sepenting itu. Menjabat osis, Yoona tidak tahu kalau cowok berprestasi adalah idola di sini, bukankah biasanya cowok biang onar?

Hampir setahun sekolah, ia tidak menemukan biang onar –yang bodoh– barang satu pun. Luhan suka  membolos dengan Sehun, Baekhyun sering menjahili guru, dan Chanyeol membuat keributan di kelas. Terlebih keempatnya bergabung bersama Sembilan orang lainnya. Yoona tidak pernah membayangkan bagaimana kacaunya sekolah ini kalau dua belas orang itu bersama.

Kendati mereka berbeda tingkat dan di pisahkan dalam kelas-kelas yang berbeda. Yang ia ingat, Kim Joonmyun anggota paling terpelajar, Kris yang paling dingin, dan masih banyak lagi ciri khas masing-masing.

“Yoongie…Yoong…..Im Yoona!” Sehun mengipaskan telapak tangannya di depan muka yeoja itu. Yoona seketika terperanjak kaget. Aah, dia baru saja terbangun dari lamunan panjang. Sehun duduk di sampingnya, memperhatikan ke depan pun Yoona mengikuti arah pandangan namja itu.

Murid-murid kelas tiga berbaris, menunggu giliran pidato kelulusan.

 

—-,——–

 

Jessica memegang handphoenya, meliriknya berulang-ulang kali. Sampai Luhan terlihat gemas ingin tahu apa yang yeojanya lakukan. Mata mereka bertemu saat Jessica memutar irisnya mengelilingi seisi ruangan.

“Ayahku….ia akan datang, sebentar lagi. Bagaimana ini?” Luhan berhasil menampilkan keruta di keningnya –untuk apa ayahmu datang?. “Aku juga tidak tahu, dia bilang dia ingin melihatku berdiri di panggung. Tapi—“

Well, masalah melandanya lagi. Jessica merutuki bertapa bodoh dirinya kala itu. Menyampaikan bahwa ia akan berartisipasi dengan antusiasme memuncak, meta penuh binar, dan mulut terbuka.

“Aku tidak bilang kalau aku akan berduet bersamamu, kau tahu ‘kan?” ia tahu, jelas, bahkan terlalu mudah di mengerti. Sebelum ia bertemu dengan Tuan Jung pula Jesica sudah bilang pria tua itu tidak suka dengannya.

Dalam arti, dendam mungkin? Tidak sekeji dendam tapi sejenis yang lebih tenang. Tidak ada kata balas dendam dalam kamus pria bermarga Jung itu tapi hanya tidak suka. Cukup, melarang Jessica barang dekat dengannya.

Luhan rasa ada yang menekan jantungnya amat kuat, menimbulkan secercah kesesakan di hatinya. “Baik sekarang segera kita tampilkan! Duet serasi di padu suara menggelegar dari Taeyeon dan Baekhyun!” Suara Jongdae menggema ke seluruh ruangan, di sambut tepuk tangan ramai.

Jessica melirik ke belakang, bagian terbelakang tempat pintu utama tertutup rapat. Namun matanya melebar sebulat milik Kyungsoo dan jantungnya berdebar secepat pacuan kuda. Kendati, pria itu datang, membuka pintu perlahan sebab tak menimbulkan sorotan apa pun –karena tidak bersuara. tidak membuat acara berhenti karena keterlambatannya. Hanya Jessica yang terganggu.

Pria itu meluaskan pandangannya, menemukan Jessica di deretan sebelah kiri. Sedangkan Luhan menunduk begitu dalam, berharap Tuan Jung tak dapat melihatnya duduk di sebelah sang buah hati. Ia tersenyum lebar di balik tebalnya kumis, sorotan Jessica menyuruhnya untuk tidak mendekat. Jadi ia mengedarkan mata mencari tempat kosong.

Jessica rasa ini akhir dari hayatnya, oh! Bahkan drama picisan yang sering membuat tangisnya pecah kalah telak dari kisahnya sekarang. “Selanjutnya, persembahan terakhir dari anak kelas tiga…. EunHae!”

Dua cowok itu naik ke atas panggung, seiring mati rasanya genggaman Luhan pada Jessica. Sebentar lagi. Jessica menghembuskan nafasnya kasar. Bagaimana ini? Ia ingin segera bangun dari tidur kalau ini mimpi, sudah mencoba dengan Luhan yang mencubit pipinya. Ia ingin lari kalau ia bisa, atau pura-pura sakit perut kalau ia berani.

Tapi Luhan lebih nampak dewasa dari biasanya, perasaanya masih kalut seperti Jessica. Pasalnya bukan masalah susunan acara yang berantakan, mikrofon yang tidak berfungsi, atau kesalahan dalam mengucapkan lirik. Tapi ini mungkin akhir hubungan mereka.

3 menit berlalu amat cepat, Jongdae dan Kyungsoo kembali naik dengan mikrofon dalam genggaman masing-masing. “Dan penutup kita pada hari ini… silahkan di sambut dengan meriah! Jessica Jung dan Xi Luhan.”

Kyungsoo hampir tertawa mengingat ia belum pernah mendengar suara Luhan. Sehun sudah memegangi perutnya bersamaan Yoona yang memukul lengannya berulang kali supaya tawa gelinya itu sirna. Baekhyun mencibir dan Chanyeol bersiul di bangkunya.

Keduanya berdiri, agak terburu-buru mengambil alih sang pengeras suara dari dua pembawa acara. Jessica tidak sanggup melihat ayahnya, di bangku paling belakang sebelah kanan. Tapi Luhan bisa, ia melihat pria tua itu berdiri melipat tangan di dada. Wajahnya datar, tanpa senyum setitik pun.

Dentuman music mulai bersenada dengan suara khas milik Jessica. Luhan menangkap pria itu keluar dari bangkunya, membuka pintu utama –sekali lagi tanpa suara. Dan menghilang.

 

Nahl oolleeneun, nuhlbuh reeneun
Seulpeun yehgeen haji mahyo
Oori doori hohlloh ahreumdahb dohrohk
Ee sesangeh
Neh nahldeulri nuheh bamdeuleun
Gachee kkeucheul bogoeet-jyo
Baby lover hahmkkeh nooneul gama yo

(Romeo and Juliet – Dream High 2)

 

Keduanya menyelesaikan lagu, membungkuk sejenak sembari terdengarnya tepuk tangan meriah. Luhan turun lebih dulu, Jessica membuntut di belakang.

Hingga ruangan nampak sepi, sampai murid-murid kelas 3 yang terlihat bergariah berbondong-bondong keluar telah habis. Tersisa beberapa anggota osis merapikan kabel-kabel. Baekhyun dan yang kedua teman dekatnya mendekati Luhan.

“Hei! Kau tidak pernah bilang suaramu sebagus itu, Luhan.” Chanyeol menepuk bahunya. Bukan jawaban kalimat dari mulut Luhan yang di dapat. Mereka terbengong-bengong, Seusai kalimat Chanyeol barusan, Jessica beridiri tegap dan meninggalkan mereka.

“Ada apa dengannya?” Sehun berbisik, Luhan mengangkat bahunya dengan wajah datar. “Sudahlah ayo pulang,” Luhan ikut berdiri seperti Jessica tadi. Ia berbalik, tapi kali ini tidak dengan wajah murung atau garis datar di bibir.

Matanya menilik jahil, “Bagaimana kalau menginap di rumah Baekhyun?” Baekhyun mengerjapkan matanya, mengumpat ucapan Luhan barusan. Sedangkan dua lainnya mengangguk cepat.

Luhan merangkul pundak Sehun meskipun tubuhnya tidak mencapai. “Baik-baik, kita ke kedai bubble tea—“ Baekhyun terlihat lebih cerah, ia pikir rumahnya tidak akan jadi penginapan hotel lagi. Tapi, “—dulu, baru ke rumah Baekhyun.”

“Pwahahhahhhahahahahha….” Chanyeol sibuk menertawai  wajah masam Baekhyun, sedangkan kaki mereka terus berjalan ke luar sekolah.

Rangkulan Luhan terlepas dari Sehun, ia berhenti, membiarkan Sehun, Chanyeol dan Baekhyun jalan mendahului. Ada Jessica di hadapannya, memegang tali tasnya erat, nempak datar dalam sorot mata.

“Mau ku antar pulang?”

“Tidak perlu, sudah begini jadinya, Appa pasti akan lebih marah lagi melihat mobilmu di depan gerbang rumahku.”

Luhan sedikit kecewa, enggan menjawab, “Baiklah… hati-hati di jalan—“ ia melirik Sehun yang berbincang dengan Yoona tak jauh darinya. “—kalau perlu suruh Yoona menemanimu.” Suaranya lebih tinggi sedikit dan di perkeras.

Dua pasang itu menoleh, terlebih Sehun dengan tatapan tidak suka. “Hei! Jangan mengganggu kencanku! Urusi urusanmu sendiri!”

TBC

Note : happy new year! Semoga tahun ini makin baik ya^^ gimana alurnya? Masih cepat kah? Thanks for reading.

Advertisements

4 thoughts on “FF : Let The Fate Lead Me (Chapter 7)

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s