Let The Fate Lead Me (Chapter 8)

poster let the fate lead me 1

Tittle : Let The Fate Lead Me

Author : Cicil

Cast : exo’s Luhan and GG’s Jessica

Other cast : exo and gg members

Rating : G

Genre : romance

Disclaimer : all belong to GOD

Summary :

Satu sensasi yang tidak pernah diselami Jessica, menyentuh lapisan minyak bibir kasat mata di mulutnya. Rasanya jantung berpacu lebih cepat dari lari kuda, ia memejamkan sang bola mata rapat-rapat. Antara tidak sanggup melihat wajah Luhan dalam dekat atau gerakan refleks seorang wanita.

Bulan mengundurkan diri dari jagat raya ketika mentari bersi-kukuh merebut pekerjaannya, hari-hari Jessica seperti terlampau biasa mengikuti rutinitas.

Tepatnya sejak dua minggu lalu, ia pulang ke rumah dengan hati takut plus harap-harap cemas. Kendati tak satupun kalimat amarah bahkan bentakan, Tuan Jung membiarkan Jessica lenggang begitu saja masuk ke kamarnya setelah memberi salam.

Keluarga itu berbincang seperti hari-hari sebelumnya, Soojung yang mengeluh karena tugas sekolahnya atau ibu yang minta ijin pergi—arisan—dengan temannya.

Jessica mengunyah rotinya seirama. Meneguk susunya kemudian bergegas meninggalkan meja makan bersama Soojung. Ia bertemu pandang dengan Luhan ketika melewati pintu kelas bagian belakang.

Luhan tersenyum menggoda sedangkan dirinya tersipu malu, hubungan mereka lebih dari sekedar rahasia umum untuk seisi kelas. Jessica suka membawakan makan pagi atau siang seperti nasi goring dan semacamnya—karena Luhan tidak suka makan di rumahnya.

Mereka kadang melahapnya berdua, kadang bersuap-suapan, kadang rona merah bersemu di pipinya, juga kalimat mengejek satu sama lain. Ia seperti terbebas dari ikatan yang lalu, ketakutan yang terlalang, dan rasa was-was saat bersama sang kekasih.

Tapi kali ini tidak lagi, hanya ada romantisme yang semu yang hanya dapat dirasakan oleh lubuk hati—kala Luhan menggenggam tangannya, mencium pipinya, mengucapkan selamat pagi, dan masih banyak lagi.

Hatinya berdegup kencang sementara deburan oksigen dari Luhan menyentuh pori-pori pipinya, hidung mereka hampir bersentuhan, seakan tidak membiarkan cela setipis kertas mengganggu keduanya.

Sore itu, di tengah hamparan pantai di pinggir kota—laki-laki itu membawanya ke sini dalam perjalanan berjam-jam. Tanpa puluhan wisatawan memenuhi atau pedagang pernak-pernik. Hanya dua insan itu yang terjatuh di atas butiran pasir bak mutiara putih.

Air laut membiru dari biasanya –serasa Jessica, dan lebih bening dari kaca tembus pandang. Ketika deburannya pasang hampir menyentuh kaki dan di Tarik lagi ke alamnya, bunyinya menggelitik telinga.

Ketika secara tidak sadar keduanya tertawa tanpa alasan. Matahari mungkin lelah bekerja dan mengundurkan diri sesegera yang ia bisa, kendati bulan tidak sabar untuk kembali menyandang tugasnya yang mulia.

Luhan pernah bilang kalau sunset di sini yang paling menakjubkan, karena itu ia mengajak Jessica bersamanya. Tepatnya menjelang malam, langit berwarna oranye-keunguan, dan laki-laki itu menyukainya.

Satu sensasi yang tidak pernah diselami Jessica, menyentuh lapisan minyak bibir kasat mata di mulutnya. Rasanya jantung berpacu lebih cepat dari lari kuda, ia memejamkan sang bola mata rapat-rapat. Antara tidak sanggup melihat wajah Luhan dalam dekat atau gerakan refleks seorang wanita.

Mereka saling menyentuh bibir, tapi laki-laki itu seperti memberikan pelajaran tentang cinta, ia tidak melumat lembut pun kasar. Ia hanya memberi hadiah tentang apa yang belum pernah Jessica dalami.

Hingga udara mulai menipis kemudian hilang dari paru-paru. Jessica mengelap bibirnya yang basah dengan punggung tangan. Luhan memperhatikannya, tersenyum sekilas saat mata mereka berada pada satu garis lurus.

“Kau menyukainya?” tanya si laki-laki, Jessica seakan kehilangan urat malunya untuk mengangguk tanpa berpikir. Sedetik kemudian barulah jitakan keras mendarat di dahi.

Ia memalingkan wajah ke arah lain –bertolakan dengan si laki-laki—sementara Luhan tertawa geli sampai matanya terpejam dan perutnya dipegangi. Ada suasana menghangat di tengah suhu yang minimum –karena ini akhir februari.

Di mana kota masih berselimut hawa dingin dan siswa-siswi mengenakan jaket. Laki-laki itu menepuk pundak Jessica berkali-kali seperti tidak sabar. Yang merasa terganggu menoleh ke arah yang mengganggu.

Mendapati telunjuk kanan Luhan di lantangkan lurus-lurus tepat pada bulatan yang tinggal setengah—berwarna oranye– karena sisanya di tutup garisan tak berujung dari laut. Jessica membentuk lingkaran sempurna pada lekuk mulutnya.

Salah satunya yang berhasil membuat kata-kata menganggumi keluar dari dalam hati lewat pancaran mata yang berkilat. “Bagus ‘kan? Sudah aku bilang, yang satu ini memang yang paling indah.” Jessica menoleh ke asal suara tapi dengan tatapan menyelidik.

“Apa?” Luhan bertanya. “Berapa kali kau mengunjungi pantai? Ah, tidak! Berapa banyak pantai yang sudah kau datangi, heum? Apa kau benar-benar menyukainya?”

Jessica bergidik kala mengucapkannya, membayangkan sudah berapa kali kekasihnya itu selalu bercerita tentang deburan ombak dan sebangsanya. Ia seperti…. Cemburu mungkin? Tapi tidak mungkin ‘kan Jessica bilang terus terang pada Luhan bahwa ia iri dengan pantai?

Luhan mengetukan jarinya di dagu berulang-ulang, “Sepertinya, kalau dihitung-hitung… eumm… sekitar…aah! Aku tidak tahu. yang pasti setiap minggu pasti ada waktu yang kuluangkan untuk pergi ke tempat seperti ini, di mana pun itu.”

“Sejak kapan?”

“Saat sekolah dasar, tepatnya juga tidak pasti. Tapi yang pasti sejak eomma dan appa bertengkar, aku tidak bisa melampiaskannya dalam bentuk air mata jadi aku meneriaki mereka di tempat seperti ini.”

Jessica rasa ia sedikit bersalah telah menyinggung soal pertengkaran tak berujung dari kedua orang tua Luhan. laki-laki itu tidak pernah mengingat ayah dan ibunya ketika dia senang, tapi selalu mengenang masa-masa pahit kembali ketika satu momen membuat suasana hatinya buruk.

Ia tidak ingin atmosfer penuh senyuman geli karena cinta kandas di telan angina tanpa jejak karena masa-masa suram laki-laki itu. Luhan menerawang jauh pada kekosongan bunyi sentuhan kasar air dan pasir. Seakan mencari-cari ujung dari sang samudera tapi tak kunjung menemukan.

Laki-laki itu menoleh, kendati Jessica pun tengah menatapnya. Gadis itu salah tingkah sendiri, jadi memelintir rambutnya sendiri yang cokelat keemasan. Luhan terkekeh, “Sudahlah, ayo pulang. Appamu bisa memarahiku sudah membawa anak kesayangannya pergi sampai malam.”

“Ini belum malam, Lu” penjelasan kini tidak di butuhkan menurut Luhan, tepatnya ia kehabisan kata-kata untuk menjelaskan. Ia menarik tangan mulus Jessica, mengantarkannya pada tempat tergeletaknya dua pasang sepatu warna gelap.

Jessica memakai sepatunya, begitu Luhan menyentuh miliknya juga. Entah mereka yang mengheningkan suasana, atau udara malam yang amat berisik hingga merendam suara keduanya.

Perjalanan pulang membutuhkan beribu-ribu detik. Terlihat warna oranye-ungu kesukaan Luhan memudar pelan-pelan, di gantikan dengan hitam dan kelap-kelip bulan tanpa bintang.

Kendati suara Jessica mendominasi mobil, ia tidak segan lagi menyumbang nada-nada kala Luhan menyalakan mesin pemutar lagu. Ia tersenyum tulus, menyadari betapa bahagianya saat-saat seperti ini.

Okay, kita sampai” Jessica hendak membuka pintu di sebelahnya dengan music yang masih berdentum di bawah kulit. Namun satu genggaman tangan menahannya pergi. Mendapati Luhan dengan senyum anak-anaknya seperti biasa, bersama ketukan jari telunjuk di pipinya.

“Tidak, tidak” Bibir Luhan melorot sempurna membentuk lengkungan ke bawah. “Ayolah,”

“Aku bilang tidak, ya tidak” Jessica melepaskan tarikan itu dan menutup pintu di samping kemudi. “Bye~ mimpi indah ya.” Dan satu flying kiss melayang kemudian meledak di senyuman Luhan.

“Baiklah, mimpikan kekasihmu yang tampan ini ya~” Jessica mencibir, memandang mobil itu memudar dari pandangan.

—-,———

Mobil putih itu berhenti tepat di depan pintu utama rumahnya. Ia membuka pintu, dan melemparkan kuncinya pada salah satu penjaga yang ada. Masuk dalam ruang tamu, hendak manjatuhkan tas sekolahnya di antara bantal sofa.

Tapi niat itu terkurung saat posisi tas yang seharusnya sudah mendarat di gantikan oleh Tuan Xi. Pria paruh baya itu menoleh, membenarkan posisi duduknya. “Tidak ada kata tolak,” tangan yang mulai berkeriput itu menggeser satu amplop coklat besar ke hadapan anaknya.

Luhan membukanya santai, ia pikir itu semacam panggilan orang tua dari sekolah seperti kebanyakan pun kertas berisi saham-saham tertentu yang dihadiahkan padanya.

Tapi dugaan mudah itu meleset tepat saat tertera penjelasan tentang keluar dari sekolah. “Apa ini? Appa tidak ingin aku sekolah?”

“Bukan itu—“

“Lalu?”

“Bisakah kau tidak memotong ucapanku?” laki-laki beriris gelap menganggukan dagunya mengerti. “Kita akan pindah, lebih tepatnya pulang kembali ke rumah—“ Luhan sudah membuka mulut, siap untuk melontarkan argumennya.

“Tunggu! Cukup untuk diam dan mendengarkan.” Ia kembali menutup bibir dan gigi yang bertemu. “Kembali ke Beijing sepertinya pilihan yang tepat, biarkan perusahaan yang di sini diatur oleh Sekretaris Kim, appa harus menangani masalah yang ada di sana karena omset mulai menurun. Mungkin bisa tinggal di sana dan tidak kembali lagi ke sini.”

“Bagaimana kalau aku tidak mau?”

TBC

Note: dan chapter 8 jadilah, sebenernya lagi kena wb tapi imajinasi berkeliaran kemaren jadi langsung dituangkan aja deh daripada menguap, wkwk. Comment are really welcome and thanks for reading.

Advertisements

7 thoughts on “Let The Fate Lead Me (Chapter 8)

  1. Tambah seru..dan konflik juga udh muncul nhhh
    Gmana ya prasaan jessi pas tau luhan bkan pndah?
    Apa yang bakal luhan lakuin?
    Hm hm hm penasaran
    Thor klo blh saran ya,mendingan narasinya dikurangin,soalnya kayanya lbih dominan narasi dibanding percakapan dhh…dan ff-nya pendek#readerkurangajar
    Hahahahah maap komen ku kurang ajar#bow

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s