FF : Side to Side (Chapter 1)

poster side to side

Side to Side by Cicil

Menyeseal? Oh, tentu saja, aku benar-benar amat sangat menyesal mau pindah ke sini.

“Sooyoung-shi!” perempuan itu menoleh dari obrolannya, diikuti poni yang bergerak halus seiring gerakan.

“Ne?”

Pletak

“Auch!” Taeyeon –sebagai guru yang mengajar di kelas—baru saja melempar penghapus kapur dan mendarat tepat di dahi Sooyoung. Murid perempuannya yang satu memang bisa dikatakan ‘biang onar versi cewek’ setelah Sehun sebagai murid terparah.

Bahkan tadi Taeyeon sudah meneriakan namanya tapi hanya di balas dengan jawaban reflek bukan seharusnya tertunduk malu dan mulai meredam suara jadi diam.

Wanita muda berparas mungil itu kembali menghadap papan tulis dan mulai menjabarkan rumus fisikanya. Sooyoung di sisi lain, mengambil penghapus itu dari lantai, mengumpatnya. Ia bergaya ingin menimpuk balik sang guru dan membuat seisi kelas terkikik tanpa suara.

Beberapa detik kemudian Taeyeon berbalik cepat, mendapati Sooyoung yang tengah bergerak terburu-buru duduk, menaruh si penghapus, seraya merapikan seragamnya. Taeyeon menilik curiga, “Ada apa songsaenim?” tanya Sooyoung berlagak manis.

“Kembalikan penghapusku!” Sooyoung beranjak dari kursinya kemudian meju ke depan. Samar-samar mengucapkan kalimat-kalimat—Kau yang melemparnya, aku yang mengembalikan, atau sejenisnya. Taeyeon besikap tuli, tatkala pelajarannya kembali berlanjut sampai bel istirahat berdengung.

“Okay, okay, kau memang hebat tadi, Soo!” Sehun merangkul pundaknya, menampilkan deretan gigi yang sebagian belakangnya di kawat. Sooyoung ada di kelas 11A sedangkan sehun di sebelah kelasnya.

Sehun baru saja mendengar cerita Sooyoung ingin melempar penghapus balik dari temannya yang ada di kelas Sooyoung. Dan, oh! Ia tersanjung kali mengetahui partner sebangsanya melakukan hal seperti itu. Sooyoung tidak tahu harus menanggapi atau tidak, ia terbiasa mengabaikan Sehun, dan laki-laki itu pasti menganggap sepele kala ia tidak membalas.

Jiyeon menariknya duduk di salah satu kursi-kantin. Mereka memesan makanan ketika pelayan datang dan bersorak heboh saat Sehun dengan nada pasrah—karena di paksa oleh yang lain—berkata ia akan membayar semuanya.

Mereka berbicara satu sama lain, mengumpulkan kata-kata di tenggorokan dan mengeluarkannya secara bersamaan. Kantin itu riuh, seperti pasar dengan papan reklame diskon 75%.

Mereka berpisah di koridor yang memisahkan arah kelas masing-masing, Sehun melepaskan rangkulannya dari Sooyoung kemudian di gantikan dengan Jiyeon yang menggenggam. Ia masuk, melewati deretan kursi kayu, ngobrol dengan teman sekelas, membuat keributan kecil sebelum seonsaengnim datang.

Kali ini, bukan Taeyeon lagi yang mengatakan lantang bahan ulangan minggu depan atau secercah kalimat membuat pening kepala. Tapi, Jeon Boram, wanita wajah imut tapi bersuara galak –dan sialnya, ia menjadi wali kelas Sooyoung.

Ketika semua murid memancarkan tatapan aneh ke depan kelas, Sooyoung ikut mengerutkan kening mendapati seorang perempuan gerik malu berdiri di samping Boram. “Bisakah kau perkenalkan dirimu? aku tidak akan punya banyak waktu untuk menjelaskan materi.” Sengut wanita itu merapikan tumpukan bukunya.

“Na-namaku, Jung Soojung.” Awalnya Sooyoung tidak merasakan sensasi apa pun dalam hatinya, Soojung menelusuri kelas begitu saja karena bangku tersisa di pojok sana. Lantas, Boram mulai mengukir tulisan tak berujung di papan tulis dan uapan kantuk bersambung dari para muridnya.

Sooyoung sesekali melirik anak baru itu, tempatnya tidak terpaut amat jauh tapi tidak terlampau dekat seperti Chorong—di belakangnya. Anak itu kesulitan memilah buku, pen hitam yang jatuh karena ceroboh, dan rambut yang berantakan sebab terlalu sering di acak.

Niat ingin membantu telah tercipta, namun sirna begitu Boram berteriak lagi seperti Taeyeon karena alasan yang hampir serupa—bedanya Sooyoung tidak mengobrol, melainkan tidak memperhatikan pelajaran.

Kala bel pulang berdentum memekakan telinga, ia bangkit dengan semangat penuh, merapikan seisi meja, tatkala Jiyeon—dari kelas B—menariknya begitu saja bersamaan tas yang tak sempat di tutup.

Bruk

“Maaf, aku tidak sengaja! Sungguh,” Soojung begitu ketakutan hingga tubuhnya gemetar, ia melonjorkan kaki ketika berhasil duduk di salah kursi untuk menunggu jemputan. Tak lama, Sooyoung lewat dengan tarikan Jiyeon dan itu namanya nasib –amat beruntung—karena bibir Sooyoung hampir menyium lantai.

Iris cerah itu berkelebat amarah untuk ketidak-sengajaan yang jauh dari kata masalah besar. Tapi Jiyeon juga ikut berkacak pinggang dan matanya menunjukan rasa tak suka. Sooyoung berbalik setelah susah payah di bantu Soojung berdiri sebab kakinya luka. Menemukan Jiyeon di belakangnya, “Urusi saja anak baru itu, aku mau pulang duluan.”

Jiyeon berubah jadi memelas dan binar matanya mengkilap, “Yah, lalu kalau kau pulang siapa yang menemaniku pergi ke market?”

Mata Sooyoung dengan sinis menunjuk Soojung, “Suruh saja dia menemanimu.” Ia melenggang pergi meskipun kakinya sebelah di seret, meninggalkan Soojung akan sekelebat ketakutan dan Jiyeon dengan tiupan di poni panjang tak bersahabat.

Jiyeon menyingkirkan rambutnya dari pandangan menggunakan karet rambut. Sementara Soojung menautkan sepuluh jarinya dan aliran darah terasa begitu cepat melewati sela-sela di bawah kulit. “Mungkin kau bernasib sial anak baru, ini hari pertama mu ‘kan?”

Soojung mengangguk ragu, “Itu berarti kau benar-benar sial, karena mulai sekarang akan selalu ada mata tak suka dari teman-temanku.” Jiyeon melebarkan bola matanya, menarik Soojung kasar ke taman belakang.

Tangan satunya sibuk menekan digit angka, menghubungi Chorong juga Minah. Soojung rasa ia salah masuk sekolah, ia ragu menebak nasibnya sehabis detik-detik berlalu, bahkan mengedipkan mata pun terasa berat.

“Masih berani, huh?” Chorong menumpakan sebotol air dingin ke atas kepala Soojung. Gadis malang itu cuma bisa menangis dan teriakan tanpa suara, tangannya di ikat mengikuti lingkaran pohon besar, tanpa sejeda pun untuk bergerak.

Jiyeon melirik arlojinya, menggerakan kepalanya, dan berucap, “Ayo pulang, sebentar lagi hujan, lagi pula ini udah sore.” Chorong membanting sisa botol plastik itu di depan Soojung, diikuti Minah yang melipat tangannya di dada mengikuti Jiyeon.

Soojung pikir ini penderitaan pertama yang terasa begitu perih menggores kulit. Tumbuh dengan kasih sayang penuh dari orang tua menjadikannya sosok lembut dan ceria. Kendati, keputusan pindah sekolah adalah penyesalan pertamanya setelah menginjakan kaki di sini.

Ia tidak tahu bagaimana cara melepaskan diri.

Bagaimana kalau nanti ada binatang melarat menggerayapi kala malam datang?

Bagaimana kalau ia terjebak di sini sampai pagi menjelang?

Bagaimana kalau orang tua nya cemas?

Bagaimana, bagaimana, dan kata itu terus mengulang dalam otak tanpa tinggalkan jawaban pasti menjamin.

“Soojung?” Gadis itu mendongak dari tangisannya. Menemukan sosok perempuan dengan bibir merah. “Namamu, Soojung?” ia mengangguk, “Jung Soojung.”

Perempuan itu berjalan mendekati, “Oh, kenalkan, namaku—“ ia yang tadinya mengulurkan tangan semangat mulai ragu mengembalikan si lengan ke tempat semula. Sadar bahwa Soojung tidak mungkin membalas ulurannya karena tangan yang diikat.

“Apa yang terjadi pa—“

“Omong-omong, dari mana kau tahu namamu?” Perempuan itu menunjuk sisi kiri atas seragam Soojung, dan ia menertawai kebodohannya karena ada name tag bertulis namanya jelas di sana.  “Okay, maaf—sialahkan lanjutkan bicaramu.” Ia menertawai Soojung, well itu hal memalukan.

“Aku, Oh Hayoung.” Perempuan itu memperkenalkan diri seraya beranjak melepaskan tali yang mengikat Soojung. “Terima kasih.” Ia mengangguk.

“Pasti ulah Sooyoung dan teman-temannya ‘kan?” Hayoung tertawa lagi melihat Soojung berwajah –dari-mana-kau-bisa-tahu? “Karena hanya Sooyoung yang berani melakukannya.” Jawabnya santai.

“Memang, ia sudah berani melakukan apa saja? Bukankah itu termasuk pelanggaran sekolah?”

“Pertama, tentu saja masuk pelanggaran sekolah. Kedua, hanya Sooyoung yang berani mengunci siswi di kamar mandi, menyiram dengan satu ember besar, mengerjai guru, menyontek, dan itu hanya sebagian dari semua yang sudah dilakukannya sejak sekolah menengah.”

Soojung melongo.

Sebegitu beraninya kah, Sooyoung? Dan sekarang, gadis biang onar itu tidak suka padanya. Apa lagi ditambah Jiyeon, Chorong, dan Minah. Yang tadi, memang bukan perbuatan Sooyoung seara langsung tapi sama saja kalau yang menyuruh dan ujung-ujungnya juga nama perempuan bermarga Choi itu.

Keduanya sampai di depan gerbang sekolah. Berhenti, Soojung sadar dari lamunan. “Rumahmu?”

“Oh, eumm….” Otaknya serasa kosong, ia tidak bisa berpikir apalagi mengingat. Mengetukan jari di dagu dan menggigit bibir. “Kalau kau lupa, bisa menginap di rumahku semalam kok. Lalu mengabari orangtuamu dan selesai.”

Raut kaget plus tidak percaya tercetak jelas.  “Benarkah?”

Dan akhirnya, mereka berakhir di secangkir cokelat panas dan duduk di ranjang kamar Hayoung.

Soojung meniup kepulan asap di mulut gelas, “Terima kasih banyak, sungguh, kau sudah melepaskan aku, membiarkan aku menginap di sini, padahal kita baru berkenalan.”

Hayoung menaikan kedua bahunya seperti yang alisnya lakukan. “Tentu saja, kita teman ‘kan? Aku bukan bagian dari kelompok biang onar itu.”

“Jadi—tunggu! Apa, kelompok?”

“Sekolah kita punya setidaknya tiga kelompok lewat keadaan ekonomi yang berbeda.” Hayoung menyeruput sebentar susunya, sementara Soojung menajamkan telinganya. “Pertama, kelompok biang onar itu. Mereka selalu menghabiskan uang, berbicara seenaknya, dan bisa mendapatkan apa pun yang mereka mau. Kedua, kelompok sepertiku, tidak terlalu mapan tapi setidaknya berkecukupan, kami tidak berbicara seenaknya walaupun menghabiskan uang termasuk—“ Hayoung tertawa malu.

“Oke, lanjut. Yang terakhir, kelompok semacam anak guru yang dapat diskon di uang sekolah tiap bulan mereka atau karena beasiswa, semacam tidak mampu tapi memaksakan. Kau mengerti ‘kan?”

Soojung mengangguk, ia belum juga bisa menentukan di kelompok mana ia berada. Tapi, sudahlah, toh Hayoung mau berteman dengannya bahkan dalam keadaan sulit. “Ohya, hubungi orangtuamu.” Sambil menyodorkan handphonenya.

Soojung menekan beberapa digit, “Halo? Ibu? Ya, aku di rumah Hayoung—teman baruku. Seragam untuk besok?—“ Soojung melirik Hayoung sebentar, dapati perempuan itu tengah menulis sesuatu. Tidak lama, mengangkat tulisannya. Bacaan—pinjam-saja-punyaku—tertera jelas di situ. “—Hayoung bersedia meminjamkannya untuku. Ya, selamat malam, mimpi indah.” Satu kissbye melayang di telfon.

“Bagaimana?”

“Diijinkan,” Hayoung melompat-lompat di atas ranjangnya, mengayun-ayunkan tangan Soojung penuh semangat. “Yeay, besok kita akan berangkat bersama!”

 

Bruk

“Hahahahaha!!” Soojung terjatuh dengan posisi seperti menyembah dan kepala menunduk. Merutuki diri sendiri bisa tersengkat begitu mudah. Ia menengok ke belakang, menemukan kaki Sooyoung sebagai penyebabnya.

“Hadiah yang bagus untuk pagi-pagi seperti ini, bukan? Sebuah memar merah di lutut yang cantik, aku berbaik hati memberikannya padamu.”

“Oouuuuu!” teriak Jiyeon keras-keras. “Kasiaann Soojungku yang manis.” Matanya memerah ingin menangis, berusaha menahannya dan bersikap tuli.

“Soojung!” Sooyoung menoleh ke arah pintu kelas bagian depan, ada Hayoung di sana. “Mau apa kau memanggilku!” teriak Sooyoung, padahal jelas-jelas Hayoung meneriakan nama teman barunya. Satu kelas tertawa, termasuk Jiyeon yang mengejeknya tuli. Soojung yang sudah berdiri lagi dan menaruh tas punggungnya di bangku.

Itu pertama kalinya Sooyoung ditertawakan satu kelas, bukan karena ulah jahilnya tapi karena kesalahan kecil dalam mendengar panggilan nama. Sooyoung mengedarkan pandangan mencari Soojung, melihat gadis itu tengah berbincang di luar pintu kelas dengan Hayoung.

Ia menatap sinis gadis itu, untuk kali ini, target yang benar-benar sangat dibencinya. Jung Soojung.

TBC

Note:  akan lebih panjang di chapter selanjutnya>< janji wkwkwk. Thanks for reading and comment are really welcome!

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s