FF : Let The Fate Lead Me (chapter 9)

poster let the fate lead me 1

Tittle : Let The Fate Lead Me

Author : Cicil

Cast : exo’s Luhan and GG’s Jessica

Other cast : member lainnya.

Rating : G

Genre : romance

Disclaimer : all belong to GOD. And, for only this chapter is inspired by Milli dan Nathan-film bioskop Indonesia itu loh(?)

Summary :

“Tentu saja, ada hari esok!”

“Bagaimana kalau aku tidak mau?” Luhan mendelik tak suka pada ayahnya, coba menantang sejenak. “Tentu saja, tidak ada kata ‘tidak’. Seperti di awal aku berbicara.” Tuan Xi lenggang melewati anaknya dan entah pergi ke arah mana—sebab Luhan tidak peduli lagi.

Kepalanya tertunduk dalam, perasaannya kalut, ingin sekali berdiri dan membanting apa pun yang nampak, ingin sekali teriak dan melontarkan apa yang membuat hatinya sakit. Sedetik kemudian, ia mendongak ke atas, seatas mungkin yang ia bisa.

Mungkin orang lain kira ia tengah meratapi kristal-kristal putih sebagai alat penerangan, tapi bukan itu sebenarnya, ia menangis, berusaha menahan apa yang akan jatuh. Ia bingung harus kemana setelah ini, pikirannya kosong, entah harus mengadu pada siapa.

Cukup lama, dan seseorang menepuk pundaknya. Luhan terlonjak kaget padahal sentuhannya begitu hati-hati. Itu Bibi Nam, sosok seperti ibu yang menemani masa kecilnya hingga saat ini. “Ada apa, bi?” Wanita itu menggeleng disertai senyum menenangkannya dan mata terpejam.

“Ini sudah tengah malam,” Luhan melirik arloji pekatnya. Okay, sekarang lewat jam sebelas malam, puluh menit kemudian lagi pun akan berganti hari. “Aku mengerti, aku akan tidur sekarang.”

Luhan membalasnya dengan tarikan bibir persis seperti Bibi Nam. Ia tahu, terlalu munafik untuk bilang tidak bersyukur lahir dengan serba cukup malah lebih. Tapi akan jauh sangat bersyukur, kalau ia bisa tinggal di keluarga kecil penuh kehangatan dengan rumah sederhana dan asri. Apalagi, kalau sosok ibu adalah seperti Bibi Nam.

Ia terbiasa memimpikan ibu idaman, Nyonya Xi memang jarang mengecup kening anaknya, mengelus surai-surai keemasan itu, mengucapkan kata sanjung dan pelukan erat penuh kasih. Luhan jarang melaluinya, bahkan ia lupa bagaimana rasanya.

Kakinya melangkah cepat menaiki anak-anak tangga, menutup pintu kamar malas, dan menjatuhkan diri diikuti gelutan dalam selimut. Persetan, ia belum mandi pun ganti pakaian tidur. Yang ia dibutuhkan hanya kelana mimpi di pelangi.

 

—-,———

 

Jessica menarik tubuhnya untuk posisi duduk di ranjang, tak lama menyibakan sang selimut. Ia tidak bisa tidur nyenyak semalam, kendati tersenyum seketika memikirkan kemarin. mungkin itu yang membuatnya bangun pagi-pagi sekali tanpa bantuan.

60 detik berlalu, lewat sedikit dan ia mendongak ke arah jendela di belakang headboard, mendapati warna kelabu pucat menghiasi awan. Ada segelintir gerimis hujan mengembun di sela-sela kaca.

Sekonyong-konyong senyum itu hilang tanpa bekas terbawa angin. Mengikuti suasana si cuaca agar dapat bersahabat. Merasakan firasat tidak jauh berbeda menyetrum hatinya. “Jess!” Suara dari bawah merayap ke dinding kamarnya. “Ya, bu!”

“Cepat mandi, sana!” Jessica pergi mengambil handuk, dan menyiapkan pakaiannya, mendekati si pintu kamar mandi dan masuk ke sana.

Ia meniup halus asap yang mengepul di mulut gelas, tanpa di sengaja bersamaan dengan Soojung. Keduanya tertawa, sambil menyenggol sikut satu sama lain. “Sudah? Tidak ada yang tertinggal ‘kan?” Jessica mengangguk sembari suara—tidak-ada-bu—dari Soojung.

“Biarkan ayah pergi sendiri,” ucap wanita paruh baya itu menjulurkan lidahnya, merangkul dua anak perempuannya dan mengambil langkah cepat untuk segera naik ke mobil.

Jessica berargumentasi tentang tas sekolahnya yang hampir usang, sedang Soojung ikut-ikut melakukan hal yang sama. Sang kakak marah tentunya, di balas cengiran polos Soojung. Nyonya Jung diam saja, senyum tanpa suara decakan.

 

—-,———

Jessica menemukan Luhan di kursi sekolahnya. Senyum yang ia bawa dari kejadian-argumentasi selama perjalanan tadi hilang seperti kala warna kelabu menghiasi langit. Membentuk garis-garis horizontal di dahi.

Bukankah laki-laki itu di atas satu tingkat dengannya? Tapi seisi murid di sana pun tidak ada yang mengubris keadaan aneh karena munculnya kakak kelas. Ia terlihat menumpuhkan kaki di atas meja, menyumpal si telinga dengan earphone putih-silver, dan pandangan menerawang ke bawah.

Jessica mendekatinya, hendak menepuk sisi bahu tapi tidak jadi, sebab dia sudah buru-buru berbalik menatapnya dan melepaskan si earphone. Luhan membiarkan Jessica menaruh dulu tasnya, sesaat langsung menarik pergelangan tangan lembut itu keluar kelas.

Menuju kantin yang—oh, Luhan lupa kalau kantin terlalu ramai di pagi hari karena kebanyakan murid tidak sarapan seperti dirinya. Mereka menduduki kursi di meja yang satu-satunya masih kosong.

“Oke, ini mungkin sulit di terima.” Jessica mengernyitkan kedua alis, mulai curiga.

“Aku—“ rasanya seperti berpuluh-puluh menit sudah ia menunggu dan Luhan hanya mengucapkan kata—aku.

“Harus pindah ke China, besok.” Luhan menutup matanya segera sehabis kalimat itu terlontar susah payah dari bibir. “Apa?” Jessica pikir nadanya meninggi tiba-tiba dan ada air menggenang di pelupuk mata. “Ta-tapi, pasti kembali lagi ‘kan? Berapa lama? Oh, pasti hanya sebentar, mungkin seminggu atau beberapa hari.” Ia bertanya dan menjawab sendiri. Terlalu takut mendapat balasan mimpi terburuk.

Dan, itu yang dia lihat, Luhan menggelengkan kepalanya. “Tidak—“ Jessica menghusap sisa tetes yang ada di pipi. “—ini akan membutuhkan waktu serumit benang kusut yang tidak punya jalan untuk kembali benar.” Gaya bahasnya mulai hiperbolis menurut Jessica. Kendati itu kenyataan.

Jessica membuka mulutnya, hendak mengucapkan berbagai pertentangan tanpa sela, tepat dengan bel masuk yang berbunyi. Luhan berdiri, “Aku tunggu di depan kelas mu, pulang sekolah nanti, ya.” Pergi menjauh darinya.

 

—-,——–

 

Ada sederet kalimat perpisahan dari si ketua osis yang tertempel di dinding majalah sekolah. Beberapa melirik, melewatinya, atau membaca sampai habis. Ada yang melirihkan nada tidak setuju atau bersorak senang.

Waktu bergulir terlalu cepat, pikir gadis itu. Minggu-minggu dan hari kemarin ia bilang—waktu-terlalu-lambat-berputar. Tapi tidak sekarang, ia ingin lari dari kenyataan dan Luhan, ia ingin tuli dari segala fakta ucapan Luhan.

Membereskan buku-buku enggan, beranjak mendekati pintu kelas bagian belakang. Iris kecoklatan itu bahkan belum sempat melihat si iris pekat, kendati tangannya telah di tarik sama kala pagi tadi.

Luhan mengajaknya ke gedung putih tempat mereka beribadah satu kali seminggu, tempat yang seperti altar pernikahan dengan deretan bangku kayu panjang dan segaris karpet untuk berjalan.

Jessica sudah memegangi lututnya berkali-kali, mengeluh lelah karena tangga-tangga menuju sana amat panjang. Luhan terus mendahului, menciptakan jarak terpaut satu meter lebih. “Udahlah, cape tahu!” teriak si gadis berhenti melangkah.

Si laki-laki berbalik, menuruni anak-anak tangga, mendekati Jessica. “Yaa! Apa-apaan ini! yaa! turunkan!” Jessica sukses memukul lengan si laki-laki berulang kali, kala tubuhnya sudah di gendong oleh Luhan.

Iris pekat itu tersenyum, namun di setiap kebahagiaan pasti ada kata-sedih. Dan, Luhan membenarkannya.

Ia menurunkan Jessica di depan dua pintu warna putih dengan kusen seperti jendela kebanyakan. Mereka saling menautkan tangan, merasakan sensasi hangat menyebar ke seluruh tubuh. Jessica menarik dua sudut bibirnya, kepalanya menempel pada pundak kekasihnya.

Mereka berjalan seperti di altar, bedanya—kedua sejoli itu memakai seragam. Sampai di paling depan, dihiasi panggung kecil dan mimbar. Luhan membenarkan posisi, saling berhadapan, memegang tangan.

Jessica membulatkan matanya dengan mulut bentuk ‘wah’ sekaligus kaget. Ada mahkota dari ranting kayu dan bunga-bunga warna putih di sela-selanya, bersembunyi di balik punggung Luhan dan sekarang ditunjukan olehnya. “Luhaann,” panggilnya terlalu bahagia.

Laki-laki itu memasangkannya di kepala, Jessica terkikih malu pegangi hadiah mengejutkan itu. “Ehem!” Luhan menarik nafas, membuat dadanya naik. Jessica menemukan guru agama mereka berdiri di sudut, masih dengan rambut keputihan dan kulit berkeriput.

Seakan punya telepati, Luhan menarik telapak tanga lembut itu, berlari menuruni tangga secepat yang mereka mampu. Sampai, nampak Jessica mengatur seberapa oksigen yang masuk paru-parunya.

“Luhaaannn! Udah, udah, udah, udah—“ mengucapkan kata itu beribu kali, ia memeluk kekasihnya erat mengetahui namja itu mengangkat tubuhnya sambil berputar.

 

—-,——–

 

Baekhyun cemberut bukan main sepanjang hari ini, bahkan teman terbaiknya—Chanyeol—tidak bisa merekahkan senyum di bibir itu. Sama frustrasinya dengan Taeyeon. Ketigannya—Chanyeol, Baekhyun, Sehun– duduk di karpet rumah Baekhyun, Sehun menyetel siaran Tom and Jerry yang biasa mereka tonton sambil cekikikan.

Tapi kali ini tidak, tidak satu pun dari mereka tertawa. Sehun terkadang mengumbar lelucon garing atau Chanyeol yang bertingkah aneh supaya Baekhyun lepas dari murungnya. Hingga, Luhan datang dan memecahkan suasana.

Sorry, sorry, di luar gerimis berat,” Sehun bungkam, kembali pada acara tv. Chanyeol tidak lepas pandang dari Baekhyun. Membuat Luhan menghela nafas kasar, dan oh, ini hari terakhirnya, bagaimana bisa semua orang bersikap dingin seperti ini?

Luhan meloncati sofa, duduk di sisi Baekhyun. “Ayolah~” rengeknya entah alasan mengapa. Baekhyun menoleh ke sumber suara, “Bagaimana bisa kau tidak memberitahu kami, Lu?” iris pekat itu bingung harus menjawab apa, ia tahu sahabatnya pasti menanyakan hal ini, tapi sama sekali tidak menemukan balasan yang tepat agar tidak melukai hati.

“Lupakan dulu masalah itu—“

“Lupakan?” Sehun akhirnya geram juga dan berucap. “Okay, anggap saja berita itu tidak ada. Jadi, bisakah kalian bersikap seperti kemarin, huh?” Sehun baru akan melontarkan protesan lagi tapi Chanyeol lebih dulu mengangguk.

“Aku pergi ke dapur, sebentar.” Baekhyun lalu dari keadaan canggung itu, memanggil Nyonya Byun untuk segera membuat coklat panas layaknya biasa. wanita paruh baya itu sempat bertanya tentang kabar Luhan, tapi Baekhyun tidak mengubris, tetap diam walaupun itu kelihatan laku tidak sopan.

Ia kembali dengan senampan berisi empat gelas, Chanyeol bersorak segera menyambar. Sehun memukul-mukul tangan Luhan—berebutan, ingin lebih dulu. Dan, Luhan melayangkan mata tajamnya, kemudian Sehun tertawa mengejek.

Baekhyun tidak tahu apa yang membuat kedua sahabatnya bersikap lupa, atau pura-pura mungkin. Ia menatap Luhan, laki-laki dengan sisi mata terlipat kala tertawa. Sosok yang menemaninya beberapa tahun belakangan.

Ia rasa ia lebih dekat dengan Chanyeol, tapi Luhan punya sisi yang berbeda dari yang lain. Sosok yang menyusahkannya karena hampir setiap hari ingin menginap, juga yang membuatnya bosan tentang ocehannya.

Namun Luhan selalu bersedia mendengar apa pun yang dikeluhkan Baekhyun, mau bersikap mengerti dan mengalah, lebih seperti saudara daripada teman. Baekhyun memegang dadanya, merasakan sensasi kekosongan di situ.

“Bahwahahahahhaa!!” Baekhyun buyar dari ratapannya, mendapati Luhan dan Sehun yang kejar-kejaran, Chanyeol yang perutnya di pegangi, mata tertutup, gigi nampak. “Baekhyun-ah, coba lihat itu, Tom benar-benar bodoh. Aku yakin dia tidak lulus sekolah dasar.”

“Aww!” Jitakan Baekhyun mendarat mulus, menjadikan laki-laki tinggi itu mengusap-usap kepala belakangnya. “Bodoh, Tom itu kucing, dia tidak mungkin sekolah.”

“Jerry juga tikus ‘kan? Kenapa dia lebih pandai?” pertanyaan polos itu melongoskan hati Baekhyun. Sekarang, ia malah menanyakan apa Chanyeol lulus dari sekolah dasar dulu.

“Jangan minum coklatku!” Sehun berhenti dari larinya, meneguk habis seisi gelas itu. Luhan menubruknya, tampak raut ingin menonjok ketara jelas. Sehun angkat tangan tanda menyerah seperti di film-film tentang penjahat dan polisi.

Mereka berakhir seperti itu, mencoba hidup dalam keseharian biasa tanpa ada kata-kata perpisahan atau air mata. Mungkin, esok hari rasanya akan jauh lebih baik.

Jessica memakai sepatu kesukaannya, hari ini layaknya hari lalu. Laki-laki iris pekat itu mengajaknya kencan—setelah mengantarnya pulang tadi siang. Matahari mulai malas bekerja dan berangsur-angsur menyingkir dari pandangan.

Bunyi klakson mendengung di gendang telinga. Ada sosok Luhan bertengger di depan gerbang. Jessica bingung harus mengumpat lagi atau marah. Rasanya percuma untuk itu.

Mereka menuju tempat yang sama–daerah terpencil di pinggir kota. Mendirikan istana pasir lewat bantuan ember-ember plastic warna cerah, kemudian dihancurkan seirama dengan kekesalan masing-masing.

Kaki mereka memerah, mulai mengeraskan otot tanpa dipinta. Luhan ikut menjatuhkan diri di samping gadisnya. Tangan menumpu ke belakang, warna jingga-keunguan mendominasi, dan ia tersenyum.

Begitu puas akan hari ini, menyembunyikan air mata di baliknya. Menyaksikan kehebohan dalam hati sendiri kala matahari tenggelam di balik garis laut. Langit yang mulai kelam tanpa bintang dan beberapa kunang-kunang melewati pandangan.

“Luhan?” Jessica memanggilnya skeptis.  Luhan menoleh. “Apa-apa ini mimpi?” tanyanya lagi masih nada yang serupa. Luhan tertawa sumbar, tapi lebih terdengar isakan tangis. “Tentu saja—“

Gadis itu menatapnya penuh harap, seakan ini benar-benar bukan kenyataan. Binar-binar tak percaya dan luka dari iris kecokelatan. “—tentu saja, bukan.” Mengatur nafas sejenak—netralkan paru-paru.

Ia jatuh, tidak sanggup membohongi diri lagi. Tangisnya pecah dan elusan Luhan di punggung membuatnya makin hancur. Kepalanya bertupu pada pundak itu, mata terpejam dibiarkan basah—termasuk baju laki-laki itu. Ia tidak peduli.

Semakin larut dalam keadaan pojok jurang, saling menautkan tangan dan menipiskan jarak. Memberi pelukan sensasi hangat serupa puluhan jam lalu. Namun, tidak ada percikan senyum dan kupu-kupu terbang di perut. Yang ada, hanya saling tidak mau melepaskan dan rindu melingkupi.

Menit berlalu menjadi jam, Jessica tidak tahu waktu—tepatnya tidak mau tahu. persetan, masa bodoh, Tuan Jung akan menghukum atau marah besar.  Lagipula, Luhan juga belum menyebutkan kalimat—sudah larut malam—atau—ayo pulang.

Berbaring di pasir yang mendingin, puluhan butir menggelitik kulit. Merekatkan jari ke sela-sela jari lainnya, enggan melepas. Jessica bisa mendengar hembusan nafas Luhan amat berat. “Sekarang—“ ia mengalihkan pandang dari langit malam.

“—yang aku butuhkan,

bukan pagi cerah tanpa warna kelabu,

bukan suasana putih bayangan sorga,

bukan kehangatan sarapan pagi karena harmonisme keluarga,

bukan suara-suara mendukung prestasi,

bukan apa pun dari itu,

yang aku butuhkan, hanya kau.”

 

Terdengar berlebihan tapi itu yang ia baca di kisah-kisah—yang menurutnya dulu adalah dongeng fantasi. Dan, sekarang, kedengaran lebih datar dari masalahnya.

Luhan tahu yang ia lakukan salah, melukiskan kenangan-kenangan terlampau manis untuk hari terakhir. Egois, ia merasakannya. Begitu kuat ditahan supaya tidak berbuat apa-apa serupa laku Baekhyun tadi siang.

Tapi, tangan yang bergelut pada ranting-ranting kayu membuat bulatan dan petikan sembarang bunga warna putih. Tarikan halus pada tangga-tangga menuju tempat ibadah biasa dilakukan. Mengangkat tubuh mungil itu, membantunya dari peluh lelah. Menggendongnya berputar karena kelewat senang. Mengecup kening saat ratusan kristal bening mengalis, kebutuhan peluk hangat dan samar-samar warna kuning dari si kunang-kunang.

Semua, dilakukan tanpa rencana, tanpa paksaan, hanya hati yang kali ini cocok bekerja sama dengan otak. Gerakan tanpa sadar.

Jessica ikut terlelap seraya kepastian bahwa Luhan lebih dulu tidur dari pada dia. Cinta membuatnya, tidak ada rasa tidak nyaman karena alas butiran pasir, tidak karena hawa pengap melengkup pori-pori.

Dalam hati, ia berusaha memohon lewat ribuan doa. Supaya, tidak ada hari esok, atau perpisahan menyakitkan.

Pagi menjelang, sisakan sulit membuka mata dan netralkan cahaya silau. Jessica bangun dalam tenang juga degup jantung seirama. Ia mengumpulkan keseluruhan nyawa, menoleh ke sisi sebelah—mendapati Luhan masih bergelut dalam bayangan guling atau selimut di mimpinya.

Apa mereka benar-benar tidur di situ semalaman? Entahah, antara yakin dan tidak yakin bahwa Jessica akan pulang dengan amarah besar menamparnya. Uh, membayangkannya saja tidak bisa.

Ia tersenyum meski lebih cocok dikatakan sedih. Tanganya terulur, mengguncang sedikit si lengan balutan baju sekolah.

“Lu, bangun…

TBC

 

Gaada note di sini -_- aku kesel banget ke bayang-bayang ngetik gara” ide udah luber. Berasa ga feel nya? Ini dibuat se’gitu’ mungkin biar berasa(?) #ini aneh” aja yak, tadi bilang gaada note tapi akhir-akhirnya se-paragraf juga yang di tulis –“a# thanks for reading and comment are really welcome! See you in next chapter.

Advertisements

5 thoughts on “FF : Let The Fate Lead Me (chapter 9)

  1. Keren thor,aku gk nemu ada unsur paksaan dh..atau aku aja yang kurang peka(?) Hahahahhaa
    Tapi ini udh bagus kok thor cman percakapannya msh sedikit…
    Itu lusica tidur di pantai? Gileee gk dingin apa? Kan di korea dongin coyy#sotak
    Itu luhan bangun gk ya?#plak
    Aku tnggu next chap thorrr…jngan lama2 soalnya udh penasaran 😀

    • Sipp, thanks for commenting^^ ya ampun padahal aku baru publish ff nya tadi?? kebeneran aja kali ya>< oke" emang lagi belajar mengekspresikan keadaan dan mempertipis percakapan hehehe

  2. Prckapan nya msh kurang thor…n pnggambaran suasan nya msh kurng d mngrti kalimt nya…itu mrk tidur d pasir tp tba2 ada slmut n guling…hehehe…bgus thor…tp msh kurng feel klw bwt aq..heehhe…

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s