FF : I’m Just (Chapter 3)

i'm just poster

I’m Just by Cicil. Staring with GG’s Yoona and Seohyun and EXO’s Luhan. Twoshoot. All belong to God.

Aku

Hanya

Terjebak dalam Cinta

Dalam sahabat mungkin ada cinta. Yoona bahkan terlalu resah akan hal itu. Ia rasa ia jadi lebih protektif dan serakah sekarang. Entahlah, mungkin ada angin yang menciptakan sifat, menerpanya kemarin.

Semilir angin membawanya pada sebuah rumah. Aah, tempat yang terlalu tidak asing bagi irisnya. Bangunan bertingkat dua itu sederhana dalam pandangan mata dan segar dalam sekali tarikan nafas.

Rasanya ingin sekali tinggal di situ selamanya, meninggalkan singgah –yang orang tuannya sebut rumah—di sudut jalan jauh dari sini, yang kosong dan hampa. “Bibi!” teriakan yang berhasil mengguncangkan bahu seorang wanita –kulit mulai berkeriput— ketika baru keluar dari pintu.

Nampak Yoona di depan gerbang sana, melambai-lambaikan tangannya antusias sekaligus menaikan ujung-ujung bibir setinggi mungkin. Bibi Cho tersenyum, segera membuka gembok terkunci itu dan membiarkan keponakannya masuk.

Cuaca siang menuju sore, di tengah kekosongan waktu, Yoona menghabiskannya dengan –semacam—curhat pada sang bibi. Bahkan wanita berkeriput itu tak bosan-bosannya menerima ocehan panjang seperti dongeng.

Ia tersenyum tipis, mendengarkan keluhan Yoona tentang tugas kuliahnya, kesibukan orang tua, masalah persahabatan sejati atau palsu, dan masih banyak lagi. Ia menyenggol soal seorang perempuan dan laki-laki yang berteman sejak sekolah menengah.

Yoona tertohok meskipun sadar itu benar, baru saja bibi bilang kalau ia memang menyukai laki-laki itu. Aah, kendati namanya saja belum ia sebutkan tapi keyakinan seratus persen terpampang jelas di raut sang bibi.

“Sudah larut, kau tidak mau pulang?” yang ditanya menggeleng pelan. Bibi Cho menaikan kedua alisnya –lalu? “aku mau tidur di sini, yaa bibi~ ayolah.” Perempuan muda itu mengayun-ayunkan tangan bibinya seperti anak sekolah dasar sedang merajuk.

“Ya sudah, tapi tidak ada baju ganti.”

“Tidak apa-apa.” Yoona menampilkan sederet giginya kemudian melenggang pergi dari hadapan sang bibi. Ke tempat ini cukup sering, uh, bahkan dia tahu di mana letak kamar tamu –yang malam ini menjadi singgahnya.

—-,———

Yoona menguap lebar seraya bias-bias cahaya menusuk matanya. Bersyukur juga karena hari ini libur. Beranjak mengganti baju dan mencuci muka. Memakan sarapan yang sudah disiapkan dengan baik.

Satu yang menyelubungi pikirannya, apa yang akan dia lakukan sekarang? Kakinya beranjak melangkah keluar pintu rumah, mulai menggeser gerbang minimalis itu. Dan jantungnya serasa berhenti beberapa saat.

Oh, tidak, itu sosok namja yang ia sukai. Berdiri sambil memakai sepatunya, terlihat terburu-buru dan tas yang belum dipakai sempurna. “Luhan?” Yoona memanggil memastikan ketika mereka berada pada satu garis.

Well, dia memang Luhan ternyata, lewat muka kantuk dan rambut acak-acakan. Tersenyum bodoh ke arahnya. “Hai,” sapa Luhan merapikan t-shirt biru pekatnya. “Hai juga,” Yoona mengangkat tangannya sambil diayunkan sedikit.

“Eumm… kau tinggal di sini?” katanya memeperhatikan rumah di belakang Yoona, “Ya, tapi tidak,” jawabnya ragu-ragu menimbulkan sederet garis dan kerutan di dahi Luhan.

“Oh, maksudku, aku hanya sering menginap di rumah Bibi.”

“Jadi Bibi Cho itu bibimu?”

“Ya,” Luhan membuat mulutnya berbentuk bulat sempurna. Tanpa sengaja melirik arlogi yang tersemat di tangan. Sedetik kemudian berlari menjauh dari si perempuan. Sempat menoleh ke belakang sebentar, dan berucap, “Aku lupa ada jam sekarang! Maaf tidak bisa menemanimu!”

Yoona melengos tanpa balas teriakan laki-laki itu. Lagipula siapa yang minta dia menemaninya? Sebentar kemudian Yoona terkikik sendiri mengulang kejadian beberapa menit lalu. “Yoong!” ia kembali masuk kala bibi menyebut namanya.

“Iya!”

“Sedang apa?” Yoona berpikir entah kemana membuatnya tertawa lagi. “Tidak, tidak, hanya mencari udara pagi.”

“Kalau begitu ayo temani bibi ke pasar. Ada beberapa bahan yang harus di beli untuk makan malam nanti.” Yoona mengangguk seraya mengantungkan tangannya pada milik Bibi Cho.

—-,———-

“Seo-Joohyun!” Seohyun memukul sekali lagi lengan yang berdempetan dengannya. Luhan benar-benar kesal dengan tingkahnya, dan itu terjadi bila Luhan memanggil nama lengkapnya sekaligus.

“Ya! Kau tidak mengumpulkan tugasmu lagi, terlambat masuk, dan, oh, mau sampai berapa tahun lagi kau menjadi pelajar di sini, huh?” mereka ada di koridor setelah keluar dari ‘penjara’ –kata Luhan—dan Seohyun lagi-lagi bertingkah seperti seorang ibu.

“Ya! Aku yang terlambat, aku yang terkena hukuman, aku yang mengerjakan tugas, aku yang mengumpulkannya, kenapa kau yang selalu berisik?”

“Itu karena sebentar lagi aku akan lulus, lalu siapa yang memperhatikanmu lagi kalau aku sudah tidak di sini? Jadi kau harus lulus bersama-sama dengan aku—“

“Tapi—“

“Titik, tidak ada koma.”

Luhan mengembungkan pipinya, matanya bosan dan tarikan Seohyun membawanya pada perpustakaan. Satu lagi penjara yang menyebalkan. “Luhan!” mereka berhenti melangkah, laki-laki itu tersenyum lebar sambil menjentikan jarinya. Berbalik, menemukan Sehun di sana. “Yes, aku ada urusan dengan Sehun, bye.”

Luhan melepaskan genggaman Seohyun yang melongo, berlari menuju Sehun, kedua laki-laki itu saling merangkul lalu pergi ke arah kantin. Seohyun tahu itu bukan ‘urusan’ seperti yang Luhan katakan, itu lebih mirip sebagai bentuk kerja sama antara keduanya untuk membebaskan Luhan dari belajar.

Sehun terlalu dekat dengan laki-laki bermarga Xi itu, bahkan Luhan menyebutnya seseorang yang paling penting setelah dirinya. Seohyun menghembuskan nafas kasar, mengantarkan dirinya ke sebuah tempat penuh buku dan berdebu.

—-,———

Kedua laki-laki itu saling tertawa dan mengumbar lelucon, bergabung dengan beberapa lainnya. Mereka seperti sebuah kelompok yang erat pegangan sahabatnya. Tiga tahun berada di sini mempertemukannya dengan Sehun, Jongin, dan Yixing.

Mereka saling mengerti hanya dengan pandangan mata, seperti sudah punya telepati. Saling membantu untuk keluar dari hal yang tidak disukai, saling melengkapi. Dengan hobi yang sama yaitu menari mengeratkan komunikasi masing-masing.

“Hyung,”

“Jangan panggil aku Hyung, kita hanya berbeda 3 bulan,” Jongin menyeruput minumannya, Luhan dan Yixing tengah membicarakan beberapa gerakan tari untuk lomba selanjutnya. Sehun menumpukan dagu di tangan dan mengaduk-aduk spaghettinya. “Tiga bulan itu lama,” kata Sehun.

“Sebentar,” balas Jongin

“Lama,”

“Sebentar,”

“Lama”

“Sebentar,”

“Lama!”

“Seentar!”

“Aku bilang lama, tentu saja lama!”

“Aissshhh!” Jongin mengacak rambutnya frustrasi, di balas senyum kemenangan dari Sehun, ia membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu tapi, “Jangan panggil aku Hyung!” Jongin lebih dulu berkata.

“Iya, iya, tapi traktir aku untuk satu bulan.”

“Tentu saj—Mwo? Satu bulan? Kau gila? Aku bisa bangkrut.”

“Sejak kapan kau membuka usaha tuan Kim.”

“Sejak aku lahir,”

“Cih, bodoh.”

“Pintar,”

“Bodoh,”

“Pintar”

“Bodoh”

“Aah, terserah, aku ada kelas sekarang.” Jongin berdiri, meninggalkan mereka. Sehun tertawa memegangi perutnya, berhasil mengalahkan Jongin dua kali baginya adalah jackpot. Yixing dan Luhan memperhatikan namja yang paling muda di antara mereka itu sebentar. Merasa aneh, tapi toh mereka tidak menganggap itu masalah.

“Sehun-ah,” Yixing memanggil diikuti gerakan tangan menyuruh Sehun menrapat. “Ada apa?”

“Bagai mana kalau…

—-,———

“Yoongie, apa garamnya sudah kau masukan tadi?” Yoona mengangguk, tangannya sibuk memotong beberapa sayuran serba hijau. “Paman pasti bahagian sekali punya istri seperti bibi.” Godanya kemudian mengumbar tawa bersamaan.

“Kamu ini ya, bisanya muji orang lain terus.”

“Omong-omong, gimana kuliahnya?” ucap bibi Cho sambil terus mengaduk masakannya. “Lancar,”

“Ohya, kamu umur berapa sekarang?”

“Sekitar 22 tahun.”

“Eeyy, harusnya kau sudah punya pendamping sekarang.” Yoona membulatkan matanya malah hampir salah mengarahkan pisau ke jari. “Aku masih muda bi, belum lulus kuliah, belum bekerja, mana mungkin sudah  cari kekasih.”

Bibi Cho menajamkan matanya, menemukan sedikit nada getar di ucapan Yoona dan kegugupan di matanya. “Yakin,”

“Tentu saja,”

Yoona memerah wajahnya,  dapur tiba-tiba berubah jadi padang gurun pasir menurutnya. Sangat panas. “Sudahlah,” ujarnya saat bibi Cho terus memeperhatikan tingkah lakunya. “Baik, baik, ayo lanjutkan memasak. Kau taruh di mana sayur yang tadi?”

—-,———

Makan malam selesai, Paman Cho pulang larut hari ini, jadi ia hanya makan berdua. Sepasang suami-istri itu memang belum di berikan anak dari dulu, menjadikan Yoona benar-benar dianggap anak sendiri.

Yoona mencuci piringnya dan milik bibi, setelah itu beranjak keluar pintu dan duduk di teras. Udara malam nyatanya tidak sehat tapi hatinya memaksa ingin duduk di sini. Sambil sesekali meminum teh panas dan terus memfokuskan mata pada deretan kalimat di buku novel.

Samar-samar terdengar suara beberapa orang mengobrol. “Aku ingin menginap di rumahmu malam ini,”

“Tidak, tidak, kau pikir aku untung menerimamu?”

“Bwahahahahaha, Sehun kau di tolak,”

“Memangnya ini acara pernyataan cinta, huh?”

Suara Luhan juga ikut mendominasi, Yoona kenal itu. Tapi telinganya berusaha untuk tuli dan menahan diri agar tidak beranjak dari kursi. “Ya sudah, Lu, kami pulang dulu.” Dari gerbang minimalis itu nampak Luhan melambaikan tangannya pada tiga orang laki-laki seumuran lainnya.

Setelah beberapa saat, laki-laki itu mengintip gerbangnya lewat celah-celah yang ada. “Kau mengagretkanku.” Ucap Luhan mengelus dadanya, sama dengan Yoona yang mulai membuka gembok.

“Sudah makan,” basa-basi Luhan kala mereka berada di sebuah mini market kecil. Luhan memakan mie instannya lahap, seperti tidak makan berhari-hari. Yoona memperhatikan. “Sudah.”

“Baguslah,”

“Kenapa bagus?” Yoona ingin melanjutkan kalimatnya dengan, ‘aku pikir kau akan sedih karena tidak bisa makan bersama.’

“Karena dengan begitu aku tidak perlu mengeluarkan uang.” Yoona berubah ekspresi, langsung memukul keras lengan si laki-laki.

“Sudahlah, aku mau pulang!” ia berdiri dengan geram, mulai melangkahkan kakinya cepat ke arah komplek rumah. Di belakang rasanya tidak ada yang mengikuti, apa berarti Luhan membiarkannya marah? dan melanjutkan makannya?

Ah, ia tidak mungkin kembali lagi dan minta maaf, “Yoongie bodoh.” Ucapnya sendiri sambil menjitak dahi.

Menit berlalu,

Sret

Ini kedua kalinyam jatung itu berhenti. Terlalu kaget. “Jangan marah seperti itu,”

Yoona melipat tangannya di dada, hendak tidak mendengarkan. “Terserah.” Yoona melepaskan tangan Luhan yang memegangnya dan berbalik kembali melangkah.

“Oke,oke—“ Luhan kembali meraih lengan itu. Membuatnya menatapnya sekali lagi. Mata mereka saling bertemu. “Aku menyukaimu.”

“Apa?”

TBC

Note : ff ini udah kena wb banget -_- makanya jarang dilanjutin. Dan kalau aku menemukan ide yang bagus untuk cerita ini bakal cepet going nya ^^ thanks for reading.

Advertisements

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s