FF : Let The Fate Lead Me (Chapter 10)

poster let the fate lead me 1

Tittle : Let The Fate Lead Me

Author : Cicil

Cast : exo’s Luhan and GG’s Jessica

Other cast : member lainnya.

Rating : G

Genre : Romance

Disclaimer : The story/fiction is actually mine, but I don’t own the cast.

aku pikir lagu Baekhyun dan Chen di Immortal Song, Really I Didn’t Know cocok buat backsound chapter ini. selamat membaca^^

Summary :

Kamu itu baik, tapi juga jahat. Kamu itu menyenangkan tapi juga menyedihkan.

 

Luhan pergi tanpa kata-kata panjang layaknya yang ia katakan pada Jessica kemarin. Hanya ada untaian air mata bersarang di pelupuk. Awal memang sulit, tidak ada hubungan jarak jauh atau komunikasi. Bahkan teman-temannya sendiri mengabari kalau Luhan mengganti semua media sosialnya, entah itu e-mail atau nomor telepon.

Jujur itu benar bukan kehendak Luhan, tapi, oh, sudahlah, kebanyakan berpikir rasional—condong ke negatif. Cowok itu tidak menjelaskan bagaimana kelanjutan hubungan mereka, kehilangan kontak setelahnya, tanpa secuil titik terang. Seperti menghilang di telan bumi, mungkin ia masih hidup, atau mungkin ia sudah mati?

Jessica melalui harinya, masuk sekolah terlambat, tubuh lebih kurus, kurangnya konsentrasi, lebih malas belajar, suka melamun, dan masih banyak perbedaan jauh lainnya yang Taeyeon, Yoona, dan keluarganya alami.

Nyatanya tidak semudah membalikan telapak tangan untuk mencari pengganti. Tanpa alasan yang penting. Tahun mulai berlalu, melewati acara kelulusan, menerima bunga dari orangtua dan Soojung yang ingin cepat-cepat seperti kakaknya –lulus lalu kuliah.

Gadis itu memilih jurusan sastra bahasa, sesuai yang ia inginkan, walaupun sebenarnya tidak terlalu beminat. Tapi itu setidaknya yang terbaik, pun orangtua memaksanya untuk kuliah, asalkan belajar untuk tingkat akhir itu.

Persahabatannya dengan Taeyeon dan Yoona berjalan terlalu baik. Mereka berpisah ketika jam kuliah masing-masing berdentum. Berkumpul di café, sekedar menonton Baekhyun dan Taeyeon yang makin lengket. Sehun dan Yoona yang terlihat tidak cocok sama sekali dari luar, tapi siapa yang tahu isi hati mereka? Memendam perasaan masing-masing, usaha pendekatan lewat pertengkaran bukan cara yang salah. Jessica tidak melirik Chanyeol pun cowok tinggi itu ternyata sedikit-tidak menyimpan rasa. Tapi, toh, namja tidak bisa diam itu tidak tahan sikap Jessica dan memilih pacaran dengan Tiffany.

Lima tahun berlalu, Jessica tidak menyangka ia dapat ijasah sarjana lumayan baik. Tidak berniat jadi penulis sebenarnya, jadi, yang dia lakukan sehari-hari hanya menghabiskan waktu. menunggu Taeyeon selesai dari acara manggungnya –ia debut sebagai penyanyi, berbeda grup dengan Baekhyun dan Chanyeol meskipun satu agensi–, atau Yoona yang pulang dari studio radionya setiap pukul 5 sore.

Sampai ia dapat tujuan yang jelas ke arah mana pandangan hidup. Seseorang menawarkan dirinya bekerja sebagai model untuk iklan, majalah, buku-buku cover, baju luncuran baru, dan berjalan di catwalk.

Karir mulai melonjak, waktu seiring berlalu, melupakan Luhan nyatanya tak begitu sulit seperti di awal. Meski belum menemukan yang baru–oh, Jessica memang tidak ingin fokus lagi pada cinta. Biarkan rasa itu memudar ditelan detik.

Tapi

Di suatu pagi, cahaya menyinari, musim semi nampak lebih baik dari gugur. “Halo?” Jessica menarik tubuh dari selimut, mengambil si telepon yang terus berdengung tidak sabar diangkat. “Jessica Jung?” ia menautkan alis, ada rasa mengenal si pemilik suara.

“Saya sendiri, ada apa, ya?”

“Hei! Dasar bodoh, kau sampai melupakan suara bos-mu sendiri. Inilah Jessica kalau pagi-pagi aku menelponnya, tidak akan ada yang dia ingat.” Jessica ingat hal itu berulang lebih dari dua kali, belum terkumpulnya nyawa adalah alasan terampuh untuk Kris—si bos yang baru saja mengatainya bodoh.

“Oke, oke, aku lupa, maaf. Jadi, untuk apa membangunkanku?”

“Aku tidak membangunkanmu, hanya ada pemberitahuan penting…” Jessica diam, menunggu lanjutan kalimat Kris. “Jongin cuti untuk sementara waktu, jadi nanti akan ada fotografer baru.”

“Itu bukan pemberitahuan penting, Kris” ucap Jessica malas.

“Terserah, intinya aku sudah mengatakannya padamu. jadi jangan bingung atau bolos bekerja karena alasan tidak ada fotografer. Mengerti?”

“Iya, pak.”

“Hei, aku masih muda.”

“Terserah—“

Tututut

Bunyi nada sambung terputus nyaring merayap di sela-sela jarinya saat Jessica menekan icon end-call. Kris, namja yang terpaut usia dua tahun darinya, dan Jongin, fotografer terbaik yang Jessica tahu, ia humoris, kadang serius juga, parasnya mempesona, kulit maskulin, dan parfum mint selalu menyebar ketika berada di dekatnya. Jessica suka itu. Tapi tidak ada getaran hati atau pacuan jantung.

 

Ia datang terlambat kali ini, tanpa wajah bersalah. Melainkan, raut setenang hembusan angin, tidak ada rambut acak-acakan karena tidak sempat disisir seperti biasa. ia melewati Kris, “Jess, sebentar lagi mobil akan datang, ada pemotretan di padang rumput.”

Kris hendak melewatinya, ia nampak terburu-buru, tapi Jessica mengambil tangannya dan ia berbalik, “Tunggu,”

“Apa lagi?”

“Padang rumput? Kau yakin? Ini tahun berapa, Kris? Masih ada padang rumput di Seoul? Bahkan taman umum saja kecil.”

Ohya, Kris melupakan satu kalimat. “Maaf, akan aku ulangi. Kau ada pemotretan di padang gurun, di desa yang ada di ujung kota. Terserah padamu, ingin pulang dulu membereskan baju—tapi kita tidak menginap, ya. atau langsung pergi.”

Kris meninggalkan Jessica dengan sejuta raut kaget dan setruman di pembuluh darahnya. Sejauh itukah? Tema serumit apa lagi yang akan ia lakukan nanti?

“Wu Yifan!!” cowok iris abu-abu kelam itu berjalan terus meninggalkan teriakan Jessica barusan. “Apa lagi, sih?” tidak, tidak, lima detik kemudian dia berbalik dan muka sekusut kertas buangan tampak jelas di situ.

“Aku tidak mau,” jawab gadis itu enteng.

“Hah?”

“Telingamu di mana, huh? Aku bilang, aku tidak mau, titik!” Oh, Kris terlalu terbiasa menghadapi rengekan Jessica yang dingin. Ia memutar arah kembali pada tujuannya tadi. “Ya,ya,ya! Kris!”

“Terserah, pokoknya mobil yang menjemputmu siap setengah jam lagi.”

Jessica menghentakan kakinya, mengepal si telapak tangan seraya umpatan-umpatan kecil keluar dalam hati. “Terserah, terserah, terserah! Apa saja maumu, terserah! Ya, terserah!” Kris hilang di balik pintu sebelah kanan, menyisakan kata ‘terserah’ yang berulang kali Jessica ucapkan.

—-,——–

 

Iris gelap itu sibuk berkelana di dinding kaca, tangan amat terampil menjepret gambar-gambar langka dan cepat tangkap. Kamera sewarna matanya tidak kenal lelah dan baterai tak kunjung habis. “Maaf, permisi”

“Kenapa lagi?”

“Eumm, Anda belum makan siang, pasti?” seseorang di sebelahnya, menaikan alis jahil lagi tampang tanda tanya.

“Tidak perlu sok sopan untuk membujuku makan.”

“Ya! aku tidak membujukmu Luhan, hanya….hanya….hanya”

“Hanya apa, tuan Nam?”

“Uh, kau menyebalkan.” Itu Nam Woohyun, sosok laki-laki cerewet, hidup penuh candaan, juga tidak satu pun yang serius, kecuali saat tangannya menyentuh dentingan piano, memainkannya hingga lupa waktu.

“Memang,” si iris gelap mengalihkan pandangan dari wajah Woohyun yang dongkol, kembali mengangkat kameranya, sesaat kemudian ribuan bunyi potretan berdengung di sela-sela jari Woohyun sepanjang perjalanan kereta mereka. (Oya, dan Woohyun benci bunyi itu)

Jam berlalu, Luhan baru berhenti memakai kameranya kala layar itu menunjukan kekuarangan energi. Mereka tetap tertib–dengan duduk bersebelahan selama lebih satu jam—Woohyun memenuhkan mulutnya dengan segudang makanan dan Luhan membanjiri si perut dengan lapar.

“Mau?”

“Tentu saja,” tangan kurus itu menyomot kentang goreng lewat semangat kemerdekaannya sementara pelototan mata dari Woohyun. “Pesan makananmu sendiri! Ya! jangan ambil yang itu, aku menyukainya.”

“Tapi aku juga” kentang goreng terakhir hilang di mulut Luhan.

“Luhan,” Panggil Woohyun kala acara adu mulut mereka tentang makanan berangsur-angsur pudar. Menjadikan sejumlah kata tertahan tinggal di tenggorokan. Iris gelap itu bertemu dengan iris terang Woohyun, memandanganya penuh tanya.

“Kenapa kau menerimanya?”

“Menerima apa?” tanya Luhan polos. Woohyun menepuk jidat. Mungkin salahnya langsung bertanya ke inti tanpa menjelaskan asal mulanya.

“Bodoh.” Woohyun sukses menerima jitakan kedua—setelah yang pertama ia lakukan sendiri. “Aku tidak bodoh!”

“Ya sudah, pintar.” Dan itu yang ketiga membuat dahi Woohyun sukses bermerah ria.

“Kalau kau bilang aku pintar, itu namanya kau menyindirku.”

“Oke, oke, aku kalah.”

“Aku menang,”

Oh, kesabarannya habis akan tingkah bocah tengik di sebelahnya. “Cukup! Berhenti dan serius.”

“Baiklah,”

“Kau tahu ‘kan? Appa, melarangmu ke Korea, apalagi Seoul.”

“Iya, aku tahu.”

“Lalu?”

“Hei Woohyun, aku bukan anak kecil lagi yang harus diatur harus berjalan ke mana. Ini pekerjaanku, kebetulan Joonmyun menawarkan jadwal pengganti cukup lama di Korea.”

“Dia hanya menawarkan.” Penuh penekanan, Woohyun mendekati emosi yang terpancing.

“Tapi aku tidak menolak.” Luhan bersikukuh.

“Tahu akibatnya?” Luhan mengangguk. Jelas dan begitu yakin.

“Perlu aku jelaskan lagi?” Lanjut Woohyun. Tapi Luhan terpaku di sana. Tanpa ekspresi, tanpa gelengan kepala, atau anggukan. Atau senyum, atau air mata. Kosong.

Woohyun sudah angkat bicara, membuka mulutnya hendak mengeluarkan penjelasan. “Tidak.” Namun suara Luhan lebih dari cepat menyelanya. Ia menutup si mulut lagi. Mulai kehabisan akal untuk melakukan apa.

“Aku hanya menemanimu sampai dua minggu, setelahnya kalau Appa mau kau kembali, dank au tidak mau, tidak pernah ada cara lembut untuk membawamu pulang.”

“Aku tahu, terima kasih, sudah mau jauh-jauh membuang waktu.” Woohyun mengulum senyum.

Keduanya bukan lagi teman, bukan sahabat, tapi lebih ke saudara. Tuan Xi mengangkatnya jadi anak, setelah kejadian buruk menimpa keluarga Nam. Woohyun enggan menerima ajakan itu, bermaksud ingin mandiri. Tapi tidak ada yang bisa membantu ketika kau di luar dunia sana sebatang kara.

Luhan terlalu kekanak-kanakan, Woohyun terlalu berisik. Luhan lebih betah tinggal di rumahnya yang baru sejak ada Woohyun. Sejak mereka main playstation bersama, main bola dengan yang lain, dan sederetan lainnya.

 

—-,——–

 

Jessica sudah pamit untuk pergi menginap alasan pekerjaan pada Nyonya Jung, wanita itu mengiyakan. Selesai, barang-barang yang perlu ia bawa hanya segenggam pakaian, alat mandi, dan sepatu flat-shoes kesukaannya.

Eonni” Soojung memanggil. Jessica menoleh. “Aku harus pergi dengan pacarku malam ini, dia merayakan ulang tahun di rumahnya, Minho  oppa tidak akan menjemputku, kau tahu ‘kan? Dia pasti sibuk. Aku ingin memberinya kado special malam ini, aku sudah—“

Stop it” Jessica menutup mulut Soojung dengan tangannya. “Tidak usah basa-basi, aku harus cepat-cepat pergi sekarang.” Soojung nyatanya memang suka berbelit-belit, menghubungkan kata satu dengan yang lainnya, kalau Jessica tidak segera menghentikan itu maka setengah jam lagi baru ada titik yang sebenarnya tanda akhir Soojung bicara.

“Aku bingung memilih baju.” Soojung memajukan bibirnya, mata berbinar-binar seperti anak sekolah dasar. “Bisa ‘kan, untuk bicara langsung apa yang harus aku bantu. Tidak perlu berbelit—“

“Oke, oke.” Jessica sendiri tidak sadar kalau ia juga berbicara panjang lebar mengenai suatu hal.

Sehabis mendapat ucapan terima-kasih-banyak dari Soojung, Jessica kembali ke studio kantornya. Sempat melirik sang jam tangan, dari situ ia tahu ia terlambat. Setelah sampai di sana, ia menangkap Kris sedang berdiskusi dengan seorang pemuda.

Oke, tidak ada acara mengganggu kalau wajah dingin itu lebih serius. Jessica keluar dari mobil pribadinya, mengeluarkan koper dibantu oleh supir, lalu langsung masuk ke mobil yang sudah di tunjuk Kris tadi.

 

—-,——-

 

Luhan menegakan barang bawaannya di bangku tunggu, dan Woohyun duduk di sebelah koper itu. Berjalan kea rah meja resepsionis. Mereka sampai sejam yang lalu, sudah mengelilingi daerah pinggiran dari Busan itu.

“Ini kunci kamarmu, lain kali kalau mau ikut denganku kau bayar kamarmu sendiri.” Sedikit peninggian nada di kalimat. Ugh, tentu saja kesal, ia seharusnya tidak mengeluarkan uang untuk sewa kamar hotel—karena Joonmyun yang membayar.

“Ckckck, begitu saja kau marah, ya sudah, aku tidur dulu.” Woohyun mengambil jaketnya, menyeret si tas besar berodanya, dan mengabur dari pandangan. Luhan juga berlaku sama, toh, pemotretannya akan dilakukan mulai besok.

 

Di sisi lain, Jessica terburu-buru mengambil kunci kamarnya setelah sampai. Bukan untuk melepas lelah di kasur seperti biasa. tapi, tadi matanya sempat melihat pantai berbutiran putih yang sunyi ketika menuju penginapan.

“Aaaaaaaaa!!!” tidak ada satu pun balasan atau kritik karena berisiknya suara yang ditimbulkan Jessica. Tangannya terulur melawan arah angin, kakinya lepas berlari mengitari pantai yang rasanya terlampau jauh.

Menyentuh si deburan ombak, merasakan sensasi dingin yang jarang ditemui. Ia suka tempat itu, terlalu menyukainya sampai kegilaan Luhan tentang pergi ke pantai seminggu sekali menular padanya.

Sendiri.

Satu kata unik, menggambarkan sejuta arti kesedihan tapi juga tegar dan mandiri.

Senja melukiskan ribuan titik warna unggu-jingga. Hingga ia menjatuhkan diri di atas butiran mutiara. Memeluk lututnya dan bergumam, “Kamu itu baik, tapi juga jahat. Kamu itu menyenangkan tapi juga menyedihkan. Bernostalgia adalah kegiatan yang tidak pernah membuat rasa rinduku hancur. Tapi candu akan kenangan setidaknya memperbaiki.”

Well, dia bisa jadi penulis berpenghasilan cukup kala mengeluarkan kata-kata puitis layaknya barusan. Pipinya basah akan air mata, meskipun hatinya lebih tergores dan menyerukan kesakitan.

“Aku tidak pernah bisa lupa.” Menidurkan si kepala pada dengkulnya, tidak peduli malam merenggut hangatnya suhu, menyelimutinya akan udara menusuk tulang. “Tidak pernah.”

 

—-,———

 

Luhan terlalu malas membuka matanya, apalagi kalau matahari belum benar-benar menyorotkan sinarnya. Sampai Woohyun harus lompat-lompat di ranjangnya, dan meneriakinya seribu kali lebih keras dari speaker.

Itu kesulitan murni, Woohyun mengakuinya. Terlalu sulit membangunkan Luhan, butuh waktu lebih dari satu jam. “Aku akan pulang kalau kau tidak bangun juga, yak!” Woohyun menarik selimut tebalnya.

Tapi dalam sekejap, Luhan sudah menariknya lagi dari Woohyun dan bersembunyi di baliknya. “Ya sudah,” Woohyun menyerah—lebih tepatnya berpura-pura menyerah–, langkahnya menjauh dari Luhan. pelan-pelan sampai beberapa detik kemudian, “Oke, oke, oke, aku bangun. Puas?” Woohyun tersenyum kemenangan, meskipun Luhan tidak melepaskan mukanya dari tutupan selimut. Yang penting, namja gila tidur itu sudah bersuara.

“Mandi, Lu”

“Sebentar lagi.”

“Mimpimu pasti sedang bersama wanita idaman, huh?” tersengar suara kekehan Luhan sebagai balasan.

“Tentu saja, kau seperti peramal memang.”

“Hahahaha…”

Beratus detik setelahnya, Luhan baru mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Woohyun menunggu. Tidak ada kerjaan jadi dia memilih tidak bisa diam dengan mengutak-atik barang saudaranya itu.

Dan dompet warna gelap senada dengan irisnya yang terakhir. Woohyun membukanya, tidak ada apa pun di sana—maksudnya hanya lembaran uang dan kartu member. Itu membosankan, tidak ada foto keluarga, foto diri sendiri, atau foto kekasih mungkin? Tidak, sama sekali tidak.

Menjelang siang, Luhan siap dengan perlengkapannya, mengingat ia ke sini bukan liburan saja tapi juga bekerja. Kakinya sudah gatal karena butiran pasir menelusup masuk ke sandal-sepatunya. Maka sepasang alas kaki itu berakhir juga di dekat mobil yang terparkir.

“Lama sekali.” Gumamnya mengeluh, Woohyun tidak ikut kali ini—cowok itu harus jalan-jalan katanya. Ia belum kenal siapa yang akan ia ambil gambarnya nanti untuk edisi majalah bulan depan.

Yang pasti, namanya Jessica Jung.

Pikirannya baru saja melayang tentang bagaimana rupa perempuan itu. Tapi, sosok yeoja paras anggun berteriak padanya. “Maafkan aku, terlambat.” Wajahnya menunduk ditutupi rambut karena itu Luhan tidak bisa melihatnya penuh.

“Tidak apa,” balasnya singkat.

Jessica mendongak.

Luhan melihat perempuan itu membelalakan matanya, seperti salah tingkah dan ucapan yang tergugu kelewat gemetar. Sela-sela jari lentik itu terisi oleh jari yang saling bertautan erat. Tak lama, pandangan mereka bertemu.

Luhan mendapati perempuan itu menyipitkan sang mata, “Lu….han?”

“Iya, saya Luhan, fotografer pengganti Kim Jongin selama dia cuti.” Luhan mengulurkan tangannya, bersikap ramah nyatanya bukan kesalahan ‘kan?

Jessica membalas jabatan tangan itu ragu-ragu. Perasaan campur aduk melingkupi. Apa cowok di hadapannya ini benar Luhan adanya? Jika tidak maka ia bermimpi terlalu nyenyak, namun jika iya, mengapa Luhan sama sekali tidak mengenalinya? Iris gelap itu kelihatan jujur saat Jessica menatapnya. “Luhan.”

“Jessica,” tangan yang bertaut terlepas.

Sisi yang baru mulai Jessica ketahui dari cowok itu, seperti raganya adalah Xi Luhan, tapi hatinya bukan. Lalu kemana perginya si cinta yang kehilangan jejak bertahun-tahun lalu?

7 thoughts on “FF : Let The Fate Lead Me (Chapter 10)

  1. Sumpah thor keren ff nya,cman kata2nya sedikit berat di otak hahahahah 😀
    Itu luhan emng lupa/pura2 lupa sma jessi?
    Klo ada cowo pihak ketiga smoga aja sma donhae hahahahahhaa soalnya kayanya sifat dongek rada mirip luhan jadi jessi bsa sedikit tergerak hatinya kekekeke
    Kutunggu next part 🙂

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s