FF : Let The Fate Lead Me (chapter 11)

 poster let the fate lead me 1

Tittle : Let The Fate Lead Me

Author : Cicil

Cast : exo’s Luhan and GG’s Jessica

Other cast : member lainnya.

Rating : G

Genre : Romance

Disclaimer : The story/fiction is actually mine, but I don’t own the cast.

Untuk chapter ini, backsound : jayesslee-breakeven

Summary :

 “Dan, apa kau benar-benar tidak mengingatku?”

Semua sesi pemotretan berjalan lancar. Tidak, tidak, Jessica memang tidak pernah pandai beracting. Meskipun tetap dengan sosok ‘dingin’ yang pasti ia bawa masuk ke dalam kamera atau panggung.

Luhan pikir seorang Jessica memang seperti itu, muka datarnya, aura sedingin musim salju, dan wajah terangkat. Ia menangkap mata coklat Jessica yang kebingungan, sering kali kehilangan gaya dan gelisah.

“Eummn… maaf, tapi bisakah kau memasang wajah lebih relax?” itu jujur, mewakili kegeramannya karena, hei, ini pantai, mengambil suasana spring, tapi wajah Jessica lebih dari tidak cocok untuk itu.

Apa Joonmyun salah memilih model?

Ternyata tidak untuk beberapa saat kemudian. Jessica mulai memancarkan senyum dan sisi hangatnya. Sehangat matahari siang itu, Luhan mengambil waktu istirahat sebentar untuknya makan bersama Jessica.

Tentu saja, mereka harus membangun interaksi yang baik, mengingat Jessica akan menjadi model pemotretan Luhan lebih lama lagi. Lebih, sampai Jongin kembali.

“Kau orang Korea asli?” Jessica mendongak dari makanannya. “Eh, ma-maksudku, wajahmu tidak terlihat 100% wajah asia.” Jessica menahan tawanya.

“Ya, ayahku tinggal di California sekarang, kami juga sempat menetap di sana beberapa tahun.” Diakhiri dengan bulatan sempurna tercetak di mulut Luhan. “Kau sendiri?” Jessica mengulur pembicaraan mereka, berusaha menghapus canggung.

“Hampir sama, hanya saja, ayahku tinggal di Beijing, sekarang. Pun, kami tinggal di sana sekarang,” Jessica pikir ia mulai pandai memainkan peran.

Ia tahu, cerita seorang Xi Luhan, lebih dari sekedar ‘tahu’, kendati bahkan pernah ikut masuk ke dalamnya. Tapi, kali ini berbeda, mari coba mengulang semuanya dari awal, dari nol, dari pertemuan mengejutkan dan berbeda. mencoba mencari alasan di balik, apa yang ia tanya.

Apa ia benar-benar Xi Luhan?

“Haloo?” Jessica dapati Luhan mengibaskan tangannya tepat di wajah. “Iya? Maaf mengabaikanmu.”

“Kau melamun?” Jessica mengangguk, “Sepertinya,”

“Oh, berarti kau tidak mendengarkanku.”

Jessica takut Luhan marah. “Tidak, eumm… coba ulangi sekali lagi, aku janji, pasti akan mendengarkan.” Tampak terburu-buru dan kawathir.

“Oke, oke, tidak perlu seperti orang panik, Jess.” Satu debaran menyetrum jantung saat kata terakhir.

“Aku sekolah di sini, untuk beberapa tahun, tapi tidak sampai lulus, juga. Harus pindah, karena urusan pekerjaan ayahku.” Tawanya terdengar sumbang, diikuti Jessica yang—

Apa hanya seperti itu? Tidakah ada yang special selama ia tinggal di sini? Atau, mungkin…ia…lupa?

Wajahnya terpahat aneh, penuh pertanyaan membingungkan yang tidak dapat Luhan artikan. Seiring detik berlalu, maka keduanya kembali pada keheningan. “Aku traktir,” Luhan beranjak ke kasir.

“Terima kasih,”

Jessica pasang senyum terbaik yang ia miliki di depan cermin. Memastikan gaun malam warna putih yang melekat terlihat bagus. Dandanan senada, menambah nuansa cantik di sana.

Tingtong

Jessica mendapati senyum Luhan dan mata berbinar—masih seperti dulu—ketika ia membuka pintu kamarnya. Laki-laki dengan balutan kemeja putih itu terlihat tampan.

“Hai,” sapa Luhan, “Sudah selesai? Atau, apa aku mengganggumu?” lanjutnya. Jessica memutar bola matanya sejenak entah mencari apa, tapi. “Sudah, tentu tidak mengganggu.” Jawabnya antusias.

Oh, lalu Luhan menunggu sejenak untuk Jessica kembali masuk ke dalam kamarnya, mengambil tas, merapikan sedikit surainya, dan bergegas menutup pintu. Itu reflek, saat tangan Luhan tiba-tiba menggenggam Jessica, ia sendiri tidak tahu kenapa.

Mereka berjalan menuju bagian pantai tadi siang. Kebetulan mendatangi ajakan Luhan untuk bertemu nanti malam—tadi siang, setelah mereka selesai makan. Ada, Busan Sea Festival malam ini.

Langit malam dihiasi setidaknya riuh kembang api dan musik band, panggung yang meriah dan ratusan orang mengantre untuk menonton. Menjelang lebih larut lagi, Jessica mengeluh kakinya pegal dan tangannya capek untuk menggoyangkan stick-light.

Jadi, Luhan membawanya ke tempat lebih tenang. Di pinggiran antara deburan ombak dan mutiara pasir. Jessica merapatkan jas yang dipinjamkan Luhan. meskipun lebih dingin dan menusuk, ia lebih menyukai suasana seperti ini, tidak berisik dan pengap layaknya barusan.

Awalnya mereka berdiri, membicarakan banyak hal, tentang setting panggung, majalah, model, kamera, kesibukan, dan banyak lagi. Sampai titik di mana Luhan kehabisan kata-kata dan memilih duduk.

“Ayo duduk, kau pasti capek ‘kan?”

Jessica awalnya ragu untuk ikut duduk, karena, oh, tentu saja, dia memakai gaun sekarang, sepatunya tinggi, dan pasti kotor duduk di antara pasir-pasir keputihan tanpa alas apapun. Tapi, apa boleh buat?

“Kalau aku lihat-lihat, ternyata kau memang cocok jadi model, ya” Jessica mencibir entah itu kalimat pujian atau apalah.

Ia tidak mau melihat jam tangannya, tidak mau tahu tentang jam berapa sekarang. Merasakan detik makin larut, hingga pembicaraan mereka sampai pada titik yang ia pertanyakan sejak pagi menjelang.

Sejak, lima, atau enam, atau tujuh tahun lalu. “Woohyun bilang, aku menderita Retrograde amnesia—“ Jessica rasa jantungnya tidak bekerja lagi dengan baik.

“—Semacam, penyakit lupa, itu dua tahun yang lalu. Aku sudah melakukan pengobatan, terapi, tapi tidak ada hasil. Karena itu, aku hanya mengandalkan cerita appa tentang masa lalu, kemudian Woohyun datang dan appa bilang ia mengangkatnya jadi anak untuk menemaniku, setidaknya seperti itu.”

Luhan begitu ragu untuk mengucapkan setiap kata, takut terlihat lemah dan oh, bisa saja Jessica bilang dia bukan pria. Hatinya seribu kali bergumul, lidah yang lebih kelu dari saat presentasi tentang pekerjaannya di depan banyak orang. Lebih dari itu.

Jessica bohong kalau ia bilang, cukup mendengar penjelasan Luhan tadi. Tidak, itu sama sekali belum menjawab semuanya. Ia ingin bertanya, bagaimana itu bisa terjadi? Apa yang akan kau lakukan? Bagaimana caramu melanjutkan hidupmu? Apa hatimu sekeras batu jadi tidak bisa hancur? Dan, apa kau benar-benar tidak mengingatku?

Luhan melihat air mata itu jatuh, Jessica menangis, memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di sana. Luhan menajamkan irisnya, antara bingung dan aneh, apa kisah hidupnya sebegitu menyedihkan?

Mengulurkan tangan karena gerakan hati untuk menghusap punggung itu. Berakhir pada pelukan dan kemeja yang basah di bagian dada. “Luhan,” ucap Jessica disela tangisanya, terdengar hangat di telinga Luhan, seperti begitu ia rindukan, seperti begitu mengenal suara ini lebih dari jangka waktu lama.

“Kenapa takdir begitu jahat padaku?” tanya Jessica kemudian. Wajahnya mendongak, mempertemukan matanya dengan mata sendu milik Luhan. terselip senyuman tipis dan alis yang meninggi di situ.

Lambat, tapi akhirnya, Luhan menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu atau mungkin tidak mengerti alur pembicaraan Jessica.

“Aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang, aku tidak tahu, aku tidak tahu, aku benar-benar tidak tahu—“ terus diulang, seperti seseorang yang kehilangan miliknya yang paling berharga. Tangisnya semakin menjadi, bahunya berguncang dan wajahnya ditutupi oleh kedua telapak tangan.

Surainya menjuntai tidak diperdulikan, kala Luhan menyelipkan poni panjangnya ke belakang telinga. “Cobalah untuk tenang,” suara Luhan setenang aliran sungai di gunung tinggi sana, menyejukan sekaligus menghangatkan. Membuat bahunya perlahan berhenti beguncang dan isakannya makin pudar untuk didengar.

Hari semakin larut, mungkin sudah berganti menjadi pagi meskipun masih ada gelap menyelimuti dan riuhnya suasana panggung di tengah sana—jauh dari mereka yang ada di pinggir pantai.

Jessica kadang bertanya, apa tangan Luhan tidak lelah untuk menghusap punggungnya kala ia menangis, apa senyumnya tidak pernah menjadi kaku untuk menenangkannya, apa matanya tidak kantuk karena mendengar suara tangis begitu lama, apa punggungnya tidak sakit untuk terus jadi sandarannya.

Tapi, Luhan menjawabnya dengan sebuah gelengan kepala lantas berkata, “Tidak apa-apa asal kau berhenti menangis. Itu membuatku lebih lega dari seseorang yang dapat nilai sempurna di ujian matematikanya.”

Jessica tertawa mencibir dengar perkataan itu, sedikit berlebih tapi menyenangkan. Sampai keadaan tidak segenting tadi dan lebih menghanyutkan. Jessica siap untuk bertanya lagi, “Bagaimana itu bisa terjadi?”

Luhan menundukan kepalanya membuat Jessica merasa bersalah, namun sejenak kembali tersenyum tipis dan menjawab, “Waktu itu, aku telat bangun, maka terburu-buru dalam menyebrang jalan untuk sampai di halte sana.”

“Lalai, tidak memperhatikan jalan.” Komentar Jessica, terdengar seperti memarahi tapi diselingi candaan, keduanya tertawa sebentar. Kala Jessica siap untuk bertanya lagi, “Apa yang akan kau lakukan?”

Luhan mengerutkan dahinya, iris pekatnya memutar untuk mencerna kalimat Jessica barusan. “Maksudmu?”

“Maksudku, bagaimana kau melanjutkan hidupmu setelah itu terjadi?” oh, itu lebih dalam dan rasanya Jessica mengorek luka Luhan.

“Awalnya sulit, tinggal di rumah sakit untuk waktu yang lama, merasa tidak berguna, tidak bisa melakukan apa-apa lagi, sempat putus asa,”

“Lalu?” Jessica ingin jawaban lebih dari itu,

“Ada sepesekian keluarga yang menyemangati, teman-teman yang tulus,” tapi, tidak ada kata kekasih atau cinta di sana.

Jessica terdiam, mencoba tidak menangis lagi karena hatinya tergores. Dilupakan memang selalu menyakitkan.

“Apa hatimu sekeras batu jadi tidak hancur?”

“Hah?” lagi-lagi sulit mengerti maksud Jessica. (Luhan, apa otakmu kental akhir-akhir ini?)

“Apa kau tidak mau mencari tahu, tentang masa lalumu, tentang keadaanmu, tentang—“

“Iya, aku ingin, kembali mengumpulkan kenangan-kenangan terlupakan.”

“Lalu kenapa tidak kau lakukan?” Luhan menatapnya penuh, lebih sulit lagi dimengerti dari pertanyaan Jessica tadi. Tidak terbaca, tidak terekspresikan.

“Kamu ingin tahu, kenapa aku tidak melakukannya?” Luhan mencoba memperjelas, karena kalau Jessica menjawab ‘ya’ maka hatinya harus lebih tenang untuk tidak berteriak atau mengeluarkan emosi berlebih.

“Ya,” itu jawaban terburuk yang tidak pernah ingin Luhan dengar. Karena itu daerah paling dalam dari lukanya.

“Karena tidak ada yang mendukungku, kau tahu? tidak ada seorangpun yang bisa membantu, aku tidak diperbolehkan untuk kembali ke Seoul, Woohyun tidak mengetahui apapun mengingat ia baru mengenalku setelah kejadian itu.”

Jessica diam, Luhan memperjelas lagi, “Tidak ada siapapun yang membantuku.”

Kadang kenangan itu membuat rasa ingin kembali ke masa lalu muncul, ingin seperti dulu, kenangan itu lebih menyentuh perasaan dari sekedar film documenter. Maka yang pahit selalu ingin dilupakan dan yang manis selalu ingin diulang. Tapi apa yang terjadi kalau keduanya kau lupakan? Lebih dari tidak berguna dan kosong.

“Kau tahu rasanya hidup di ruangan hampa?” Jessica menggeleng. “Aku pernah merasakannya,” ekspresi tidak terbaca tampak jelas di wajah Jessica, ditemani mata membulat.

Tanpa sadar tangan mereka bertaut, seperti terakhir kali Jessica mengingatnya. Di sisi lain, Luhan tidak bisa berpikir rasional lagi, perasaan terlalu menggebu dan ingin bercampur. Tidak terkendali dan rasanya, otaknya memilih untuk berjalan sendiri.

Sepersekian detik berlalu, kendati Jessica lebih dari kurang siap untuk menuturkan pertanyaan terakhir, Dan, apa kau benar-benar tidak mengingatku?

Ia mengerjap mata sementara, mempersilahkan hanya ruang gelap yang tercetak. Lambat-laun tetesan tak kasat mata itu turun dari cela-cela bulu matanya. Lambat-laun sebuah usapan kecil oleh ibu jari berusaha menghapus air mata yang mengalir. Lebih lembut dari desauan angin.

Jessica membuka matanya kembali, menarik napas dalam-dalam lantas menghembuskannya. Pandangannya berfokus pada iris gelap itu—yang memancarkan seribu tanda tanya–, “Lu—“ kegugupan merenggut suaranya kala itu.

“Ya?” respon si lelaki.

Kembali menarik napas, “Luhan, apa kau benar-benar melupakanku?” keningnya mulai berkerut tak jelas, cahaya matanya perlahan meredup, maka gelengan kepala ikut menyambar. “Maksudku….”

Jessica berhenti di situ, ketika sosok Luhan mulai berubah total dari pandangannya, laki-laki itu memegangi kepalanya sekaligus memijatnya perlahan. Matanya dikerjapkan berkali-kali, Jessica terdorong menggenggam tangan yang gemetar itu.

Berusaha menenangkannya, keduanya bertemu pandang. Jessica menangkap  iris gelap itu kehilangan arah, sisinya juga memerah. “Luhan,”

—-,——

Jessica tidak tidur semalaman, ohya, tentu saja, dia baru menutup pintu kamarnya dan tiduran di ranjang ketika jarum jam menunjuk angka tiga. Tiga pagi. Hey, itu kelewat malam, oke? Ia ingin memanfaatkan sisa beberapa jam untuk pergi ke alam mimpi tapi ternyata matanya tidak bisa berkompromi.

Ia takut, melampiaskan rasa itu dengan memeluk gulingnya erat juga bersembunyi di balik selimut. Maka tadi ia berpisah dengan Luhan di pertigaan lorong hotel, laki-laki itu berusaha tersenyum meskipun jalannya tidak setegap yang biasa.

Ia merasa bersalah, bagaimana kalau …. Uh, terlalu banyak yang dicemaskan dan argument-argumen negatif lainnya menyusup begitu cepat ke sel-sel pikiran.

Apa kau benar-benar tidak mengingatku?

Apa untuk mengingatku kau perlu merasakan sakit? Kau perlu menderita?

Kenapa?

Ia tidak sanggup melihat bagaimana Luhan yang rambut keemasannya kacau balau, yang matanya memerah, yang iris gelapnya tidak punya tujuan, yang mulutnya bergetar juga tangan yang kaku.

Maka, segelas air putih mungkin bisa mengalir dalam kerongkongannya pagi itu. Jam sudah menunjukan pukul tujuh. Jessica beralih pada cermin, matanya melebar (lagi-lagi) ada kantung mata di sana! Warnanya hitam dan melingkar seperti milik Zitao—si pembuat masalah, teman Soojung.

Jadi, pagi itu, ia keluar kamarnya untuk ambil breakfast –setelah mandi dan merapikan surainya—tidak lupa dengan si kaca mata super kebesaran warna hitam melekat menutupi lingkaran hitamnya. (itu, konyol)

Lantas di balik kaca mata itu ia mendapati Luhan telah lebih dulu duduk di meja bersama seorang laki-laki—ia tidak mengenalnya—mereka tertawa, terdengar saling mengejek dan obrolan ringan menyebabkan polusi udara bagi Jessica.

Gadis itu pun mengambil piring dan memilah sarapan paginya, lalu duduk di meja kecil—untuk dua orang—lumayan jauh dari Luhan.

Luhan beranjak dari kursinya setelah selesai menyantap makanan, Woohyun kembali ke kamar untuk melanjutkan permainan playstation—yang mereka sengaja bawa (uh, dasar kekanak-kanakan, Woohyun!)

“Hei,” Luhan menepuk bahu mungil itu kemudian duduk di sebrangnya. Well, Jessica terlonjak kaget, hampir tersedak malah. “Uh, maaf mengejutkanmu.” Luhan pasang tampang ‘ngeri’ sedikit memundurkan kursinya.

Jessica menggeleng, “Tidak apa,”

“Eummmnn….” Luhan mengetukan jarinya di dagu, iris gelap yang berputar mencari topik pembicaraan. Dan, ah, ia bertemu jawabannya, “Joonmyun bilang, kita akan melakukan sekali lagi pemotretan, karena…katanya, hasil yang kemarin kurang memuaskan.” Jessica menganggukan kepala dengan fokus terbagi—sebagian besar pada makanannya.

Tapi sedetik kemudian melongo, “Apa?! sehari lagi? Kau tidak tahu betapa sibuknya aku, huh? Aku punya jadwal pertemuan hari ini, aku harus pulang, lagipula aku tidak mau membayar sewa kamar untuk semalam lagi.” Luhan menutup telinganya, mata yang tertutup sebelah dan alis bertaut.

Wajahnya dingin tapi ternyata dia bawel

 

—-,———

TBC

p/s : mendekati ending yaa, wooo!!!!! Akhirnya :”) untuk saran tambahan konflik alias orang ktiga hehehe sori banget gabisa huhuhuhu 😦 soalnya udah mentok, lagi kena wb pula aku -_- jadi moodnya bikin poster mulu >< thank you for reading, and comment are really welcome 🙂

13 thoughts on “FF : Let The Fate Lead Me (chapter 11)

  1. makin seru nih ceritanya…
    ahhh kenapa ada acara amnesia segala sih.. ukh…
    semoga luhan menyadarinya bahwa sica adalah seseorang yg istimewa….
    ah, pengennya sih kris punya rasa ke sica, tapi kayaknya nggak yah?

  2. Wow keren thorr!!!
    Feelnya berasa bangettttt..
    Pas di chap 10 ku kira luhan pura2 gk inget sma jessi,ternyata emang bener gk inget hahahahahahha
    Aduh jessi jngan sedih donggg
    Thor sehun,yoona,baekhyun,taeyeon,chanyeol pada kmana? Kok gk kliatan(?) Ya? Hahahahhaha
    Aku suka bgt chap ini,soalnya kata2nya udh gk ngebingungin lagi 🙂
    Ok ku tnggu next chap 🙂

  3. Baca dari awal sampe akhir berasa nyeseknya -_-” sedih banget klo jadi jess T3T dilupain sama orng yg dia cintai.
    Ah gang nya luhan jessica mana thor ?(YoonaSehunTaeyeonBaekhyunChanyeol) tumben kgak nongol ? xD
    ada beberapa kalimat yang sulit dimengerti , tapi untuk yg lainnya udh bagus kok:D
    klo diliat ini lebih panjang dari chap2 sebelumnya
    ditunggu lho thor chap 12nya 😀 hehe

    • iyaa, gang lagi pada ngumpet dulu(?) beberapa sulit dimengerti ya? next bakal lebih gampang dimengerti^^ dan yaa lagi berusaha untuk buat lebih panjang and panjang lagi hehehe, thanks for commenting^^

  4. wahh, thour ini bagus … !!!
    ksian jessica matany udh kyk panda …, hahaha
    pnasaran apa luhan benar-benar tidak mengingatny ..??
    dn jga luhan dan wooyoung gk nyadar klw ada jessica.., hahaha
    smangat thour ^^

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s