FF : Reality

poster reality copy

Cicil news note. Reality. Firendship. Sehun and Jongin as main cast. Seohyun as support cast. I don’t own the cast, but the story actually mine and God’s.

<2500 words

Summary :

Oh Sehun tidak akan bisa hidup tanpa seorang Kim Jongin.

Sehun tidak pernah sekalipun berpikir untuk meninggalkan Kim Jongin. Sahabatnya, tapi tentu saja dia masih normal, dia masih menyukai Seohyun si murid kelas 3 yang pintar. Tapi, Jongin jauh lebih dari itu menurutnya.

Mereka bertemu di sekolah dasar, begitu kebetulan, tampak sebuah keberuntungan besar. Kala itu, Sehun kelabakan setengah hidup karena belum menghafal rumus tambah-tambahan untuk tes masuk sekolah dasar. Dia duduk di bangku dengan wajah pucat, lalu secuil harapan mendatanginya bersama anak laki-laki bernama Jongin, yang mengajarinya sekaligus memberitahunya kalau “Tambah-tambahan tidak memakai rumus, Sehun.”

Ohya, jangan ingat hal yang satu itu karena Sehun terlalu malu untuk bernostalgia dengan masa tes masuk sekolah dasarnya.

Jongin itu pendiam, terlihat cool dari luar, juga pintarwell Sehun harus mengakui yang satu itu.  Jongin segalanya bagi Sehun. Ia membantu Sehun mengerjakan soal IPA dan matematika, hingga setidaknya meraih angka 7 dari 10.

Itu Kim Jongin, seorang yang terlampau sabar menghadapi kebodohan Sehun setiap waktu.

Saat kelas 3 sekolah dasar, Sehun pernah menangis karena ditinggal ibunya dua malam untuk pergi keluar kota—bekerja. Dan Jongin di sana, menepuk bahunya sampai tidak ada air mata lagi yang keluar. lantas, Jongin belum kehabisan akal, sampai “Kau tahu? kemarin ada anak laki-laki yang jorok,” Sehun menolehkan pandangannya pada Jongin, ingin tahu kelanjutan dari cerita Jongin. “Dia mengelap ingusnya dengan baju, eww” Jongin memasang tampang jijik, membayangkan kembali kejadian kemarin sore saat di taman bermain umum. Sehun memecahkan tawanya karena tak sanggup melihat tingkah Jongin.

“Ohya, Sehun, apa kau tahu juga? Bulan lalu…“ ia mengucapkan beribu-ribu—seingat Sehun—cerita lucu supaya dia tertawa. Karena Jongin adalah sahabat Sehun.

Dua tahun kemudian, di depan panggung aula sekolah, Jongin bersama teman-teman se-tim-basket-nya dengan bangga mengangkat piala kemenangan mereka. Sehun melihat dari kejauhan, tampak menyesal karena saat pertandingan itu berlangsung ia justru jatuh sakit—jadi tidak bisa ikut berpartisipasi.

Tapi sesudah Jongin turun dari panggung, ia bergegas mendekati tempat duduk Sehun, melihat sahabat satu-satunya itu merubah air mukanya jadi sedingin lemari es di rumah Jongin. “Sehun,” Jongin menepuk bahunya, kemudian melanjutkan ucapannya “Aku tidak bermaksud menang—“

“Iya, aku tahu“ potong Sehun, “ Itu bukan masalah.” Sehun coba menyunggingkan senyum. Sejak itu, ia tahu, ia dapat melakukan sesuatu yang setidaknya membuat Jongin tidak kecewa.

Jongin meringis lega karenanya, lantas menjatuhkan tubuhnya keras di bangku sebelah Sehun. “Aww, sakit!—“ ohya, Jongin menonjok bahu Sehun karena ia terlalu senang. Hei, itu hanya pengartian dari terlalu senang, oke? “—Kau pikir kalau aku bilang ‘itu bukan masalah’, kata itu juga berlaku saat kau memukulku?” Jongin berusaha menahan tawanya, mengingat acara sekolah mereka masih berlangsung. Sedetik kemudian, Sehun juga balas menonjok laki-laki jahil di sebelahnya itu.

Ketika hari kelulusan tiba, “Jongin,” yang dipanggil menoleh pada Sehun, “Kau pasti ‘kan masuk sekolah menengah yang sama denganku?” tersirat nada kawathir di sana, semendung wajah Sehun.

Jongin tersenyum, “Tentu saja, aku akan masuk Seoul Arts Junior High School.” Begitu pasti dan tegas, karena, oh, Jongin sudah mengatakan itu sejak satu bulan yang lalu. Lebih dari sepuluh kali untuk menjawab pertanyaan yang sama dari Oh Sehun.

“Aku tidak percaya,” Sehun melipat tangannya, juga membuang mukanya dari hadapan Jongin. “Percayalah, ibuku juga sudah mengatakannya padamu.” Sehun sontak menoleh lagi, dihiasi matanya yang melebar sepersekian milisenti. “Benarkah? Kapan itu?” Jongin kadang ingin menampar wajah polos itu. Menyebalkan.

“Kemarin, saat menjemputku dari gladi bersih acara akhir sekolah.” Sehun menepuk jidatnya di detik kedua. Lantas tertawa hambar dan gigi yang tampak. “Ohya, maaf, hehehe, aku melupakannya.”

Jongin akan memukul kepala Sehun kalau saja tidak ada suara si kepala sekolah yang menyuruh mereka semua untuk diam.

Sehun pikir, bersahabat dengan Jongin adalah takdir. Kenapa ia pikir itu takdir? Kau tahu? Sehun tersenyum begitu bahagia saat melihat namanya dan Jongin tersemat di daftar kelas 8B, mereka sekelas lagi! Well, itu takdir kata Sehun.

Pada suatu sore yang cerah, Jongin mengelap keringatnya dengan handuk kering, setelah menari… Apa? menari? Laki-laki menari? Sehun sempat menertawakan itu selama sebulan, oke, dan itu membuat Jongin jengkel. Tapi jujur, Menari dan Basket adalah kesukaannya.

klek

Jongin mendongak mendapati pantulan diri Sehun dari kaca super besar, sedang menutup pintu ruang latihannya. “Apa lagi?” ketus Jongin. “Ow, jangan marah begitu, kawan.” Sehun mendekati Jongin, merangkul bahunya yang lengket.

Tidak mendapat respon dari Jongin, maka Sehun melanjutkan ucapannya, “Kita bersahabat sejak kecil kkamjong” Jongin memutar kedua matanya bosan, dia sudah lebih dari kebal untuk disebut kkamjong. “Lalu?” tanya Jongin kembali. “Hehehe—“ oh, kalau sudah begini pasti ada yang diinginkan Sehun dari sang sahabat terdekatnya.

“Euummn..itu loh… kau tahu kan besok ulangan matematika?” Jongin mencibir, mengetahui apa maksud dari basa-basi Sehun. Pasti habis ini ia akan pulang ke rumah Sehun, membuka buku pelajaran matematika dan segera menjelaskan panjang lebar tentang rumus–yang seperti benang kusut untuk Sehun.

“Oke, oke, asal kau traktir aku sarapan di kantin, besok.” Gentian Sehun meledek. “Ck, sarapan saja kau perlu ak traktir.”

“Matematika saja kau perlu aku ajarkan.” Sehun kalah telak, dia membungkam mulutnya, bergegas menjauhi Jongin dan keluar dari ruang latihannya untuk menunggu di luar. Lebih baik begitu.

Dua tahun berlalu. Sehun tumbuh jadi anak remaja yang popular, tampangnya dibuat cool saat berjalan di koridor sekolah. Dia jadi hobi menari seperti Jongin—tentu bukan ballet, Sehun lebih suka pop-dance. Para gadis di sekolahnya sering berteriak histeris saat Sehun dan Jongin mulai menggerakan tungkai-tungkai mereka mengikuti irama musik di ruang serbaguna sekolah.

Sehun tak luput dari bola basket, masih berkecimpung di dunia yang sama—lagi—dengan Jongin. Mereka jadi partner hebat dalam pertandingan. Tersenyum bersama-sama saat mengangkat piala sebesar gitar Yixing.

“Jongin,” panggil Sehun, Jongin mengalihkan pandangannya dari catatan kimia, menangkap ekspresi super bahagia terjiplak sempurna di wajah Sehun. “Ada apa? kau tidak gila ‘kan?” Jongin memasang tampang—pura-pura—khawatir sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Sehun.

Sehun menepisnya kasar. Jadi cemberut karena ulah Jongin. “Jongin! Aku serius.” Jongin memegangi perutnya yang sakit karena terlalu keras tertawa. “Oke, oke, ada apa?” Jongin kembali berucap setelah beberapa menit berlalu—cukup untuk meredakan tawanya.

“Kau kenal Seohyun?”

“Iya, aku mengenalnya, kenapa? Dia murid kelas piano ‘kan?” Sehun mengangguk pasti. “Aku menyukainya.” Jongin melebarkan matanya detik itu juga, hatinya mulai berdegup tak karuan karena terlalu kaget. Bagaimana bisa ini terjadi? Apa karena mereka sahabat, mereka terlalu dekat, mereka mempunyai hobi yang sama, kesukaan yang sama, umur yang sama, kelas yang sama, itu berarti mereka juga harus menyukai gadis yang sama?

“O-oh.” Sehun mengerutkan dahinya kala hanya mendapat respon sebegitu datarnya.

“Hanya itu?” tanya Sehun.

“Apa?”

“Kau tidak ingin membantuku mendapatkannya? Aku sudah berencana akan menjadikannya pacarku sore nanti.” Jongin makin gelagapan, seperti ada yang merenggut oksigen dari kehidupannya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Membantu sahabatnya untuk mendapatkan orang yang ia cintai? Itu tidak mungkin.

“Maaf Sehun, aku punya jadwal tambahan les bahasa inggris.” Ia berbohong.

“Tapi—“ Jongin lebih dulu beranjak dari bangkunya dan pergi meninggalkan kelas.

Maka sore itu adalah yang paling kelam bagi Jongin, lebih kelam dari langit mendung. Ia bersembunyi di balik pilar, menyaksikan Sehun berlutut lantas mencium tangan Seohyun, mengucapkan kata-kata mutiara—yang mungkin laki-laki itu contek dari internet—dan Seohyun menerimanya!

Jongin tidak pernah tahu kalau patah hati itu rasanya sesakit ini. Ia berbalik menjauh dari koridor sekolah yang sepi sambil memegangi dadanya.

Sehun merasa sahabatnya itu lama-kelamaan menjauhinya. Jongin selalu menolak ajakannya untuk berduet dance di ruang serbaguna. Selalu beralasan saat diajak latihan basket. Selalu datang paling lambat di kelas dan pulang paling cepat. Selalu bermain bersama Kyungsoo—mungkin Jongin sudah menemukan sahabat baru—tapi kenapa? Kenapa ia menjauhi Sehun?

Minggu berikutnya ada ulangan matematika, Sehun menghubungi Jongin tapi sambungannya dimatikan, Sehun menuliskan pesan di text message-nya tapi Jongin tidak mengubris. Jadilah, pada detik-detik pembagian soal ulangan, Sehun menyuguhkan tampang tanpa dosanya ketika semua soal pilihan ganda itu ia jawab A. ya, itu cara lama Sehun sebelum Jongin bersedia menawarkan diri untuk membantunya belajar.

Dan ia dapat nilai 60!  Sehun tersenyum begitu bangga dengan hasilnya. Menurut orang nilai itu tidak memuaskan tapi bagi seorang Sehun, 60 adalah nilai terbaiknya—yang menggunakan usaha sendiri.

Tapi ia tetap rindu ketika Jongin menjitak kepalanya kalau ia dapat nilai merah. Ia rindu sosok seorang Jongin yang sekarang lebih dekat dengan—uh, entah siapa itu, Sehun tidak peduli.

Seohyun memberikan segelas air putih pada Sehun ketika mereka baru saja duduk di meja kantin sekolah. Gadis itu menangkap mata frustrasi pada sorotan Sehun. “Kau kenapa?” tanyanya pelan.

“Kau tahu Jongin?”

“Tentu saja, dia kan sahabatmu.”

“Aku pikir sekarang tidak lagi.” Sehun menyeruput air putihnya sendu.

“Kenapa?”

“Dia menjauhiku.” Oh, Seohyun tersentuh, maka ia mengulurkan tangannya dan menepup-nepuk bahu Sehun. “Cobalah mencari waktu untuk berbicara—“

“Tapi dia selalu tidak mau bicara denganku” potong Sehun, ia memasang tampang anak-anaknya buat Seohyun gemas.

“Dengarkan aku dulu, Sehun. Mungkin pulang sekolah nanti kau bisa menariknya untuk duduk sebentar dan berbicara di kelas. Coba tanyakan kenapa dia menjauhimu.” Sehun mengulum senyum tipisnya, mengecup singkat pipi Seohyun “Thank you baeb.”  lantas beranjak dari kursi untuk mengambil makan siangnya.

Sesuai anjuran Seohyun, Sehun menarik tangan Jongin, memaksanya untuk duduk lagi. “Kenapa, sih?” ketus Jongin.

“Seharusnya aku yang bertanya kenapa, kenapa kau menjauhiku?” Jongin menggeleng, memasang tampang malasnya dan mulai menumpu dagunya di tangan seperti ketika Kim songsaenim berdongeng tentang anatomi katak.

“Bahkan kau bersikap dingin padaku.”

“Tidak ada apa-apa, sudahlah, aku harus mengajari Kyungsoo.” Oh, sekarang bahkan Jongin menggantikan posisi Sehun dengan Kyungsoo. Setaunya Kyungsoo itu murid pintar. Tidak kekurangan nilai seperti otaknya.

Jongin beranjak dari kursi, mengambil langkah seribu kali lebih panjang guna mencapai luar kelas secepat mungkin. Tapi Sehun tidak menyerah sampai di situ saja, ia berusaha mengejar Jongin.

Menarik tangannya lagi untuk sekedar berhenti di tengan koridor sekolah yang melompong sepi.

“Jongin!” bentaknya.

“Aku bilang, aku sibuk!” balas Jongin tak kalah galak. Mereka mulai berteriak ketika langit yang mendung berangsur-angsur menurunkan ratusan tetes air dari awan gelap.

Jongin kembali melepaskan genggaman Sehun dan berbalik untuk berlari meninggalkan sahabatnya itu. Kendati Sehun mengehentikannya lagi, tepat dibelakangnya adalah petir yang menyambar dan hujan yang mengguyur.

“Itukah alasanmu? Tidak masuk akal, tahu!” Sehun mulai menyipitkan matanya, gemetaran sebab terlalu kesal.

“Baik, akan aku katakana yang sebenarnya. Kau mau tahu alasanku?”

Sehun mengangguk.

“Karena kau adalah kekasih Seohyun.” Jongin berbicara sehalus hembusan angin, namun terasa begitu keras di telinga Sehun. “Jadi, kau menyukai Seohyun juga?” Jongin gentian mengaggukan kepalanya.

Sehun membuang mukanya, tersenyum kecut tandakan hatinya terluka—persis kala Jongin tahu Sehun menyukai Seohyun. “Aku bisa lakukan apapun supaya kau tidak lagi meninggalkanku.” Ucap Sehun.

Sehun menangkap Jongin mengatkan—lalu-apa-yang-akan-kau-lakukan?-lewat matanya.”Aku akan—“ ia perlu menyiapkan sejenak detik untuk mengambil keputusan, bukan?

“Aku akan..akan..” Sehun memejamkan matanya “Aku akan memutuskan Seohyun.” Jongin melongo.

Kenapa? Kenapa Sehun mau memutuskan Seohyun hanya demi seorang sahabat seperti Jongin?

Jawabannya adalah karena Sehun tidak pernah bisa hidup tanpa seeorang Kim Jongin.

Sehun tersenyum senang merasa Jongin kembali dekat dengannya. Meskipun Seohyun masih tidak rela hubungan mereka kandas, tapi Sehun memberi pengertian sebesar teve rumahnya untuk membuat Seohyun paham.

Mereka kembali menari saat waktu istirahat di ruang serbaguna, kembali membuat hiruk-pikuk teriakan gadis. Jongin kembali rutin mengunjungi rumah Sehun hanya untuk mengajarkannya materi yang baru saja dijelaskan di sekolah kala siang.

Sehun lega. Merasa lebih baik daripada saat Jongin meninggalkannya.

Tapi, suatu waktu, Jongin menariknya ke kedai bubble tea dan mentraktirnya segelas besar rasa coklat. Mereka duduk di sana. “Sehun,”

“Ya?”

“Kembalilah pada Seohyun.” Walaupun sakit tapi menurut Jongin lebih sakit lagi kalau ia jadi penghalang di antara hubungan seseorang. Itu tidak enak, tahu.

Sehun membulatkan matanya, hampir tersedak bubble yang ia kunyah di mulut. “Tapi kenapa?”

“Karena—“ uh, Jongin bingung harus berkata apa sebagai penjelasan. “Karena—eumm, sudahlah, kau banyak bicara, yang penting aku mau kau kembali berpacaran dengan Seohyun.”

“Tidak mau.”

“Kenapa?” Jongin balik bertanya.

“Kau banyak bicara.”

“Hei! Aku serius.”

“Nanti kalau aku berpacaran dengan Seohyun kau akan menjauhiku lagi.”

“Tidak akan.”

“Yakin?”

“Tentu saja.”

“Kau berjanji?”

“Baiklah, aku berjanji.”

Tapi Sehun masih ragu.

“Sungguh?”

“Ya sudah, kalau kau tidak mau! Terserah!” Jongin berteriak, kesabarannya habis untuk seorang Sehun.

“Ouu, kau tidak boleh marah begitu kkamjong, kita kan sahabat.” Sehun merangkul pundak Jongin.

Dan keduanya tertawa saat perjalanan pulang ke rumah masing-masing sore itu.

Jongin merasa lebih lega dari kemarin. Ia bisa tersenyum lebar walaupun masih ada sakit menyengat juga kala melihat kemesraan Seohyun dan Sehun. Tapi sudahlan, toh ia mulai tertarik dengan Soojung—si murid perempuan kelas menari.

Siang itu adalah ujian matematika.

Sehun lebih dari terlonjak kaget kala matanya menangkap lima hurup dengan cetakan tebal tersemat sebelum soal. ESSAY

Murid di kelas sibuk protes karena adanya essay di soal ulangan mereka, bahkan Sehun berteriak paling keras. Tapi Jung Songsaenim berkata “Tidak ada yang tidak mengerjakan soal essay atau nilai kalian akan dipotong 40%” membuat semuanya bungkam seketika.

Apa? essay? Sejak kapan matematika di sekolahnya punya soal essay? Bahkan dari taman kanak-kanak sampai ulangan terakhirnya bulan lalu, Sehun tidak pernah melihat lima huruf termenyebalkan itu di kertas ulangan matematika.

Bagaimana jadinya ini? Pilihan ganda saja begitu sulit apalagi essay?

Maka, ketika kelas menjadi sunyi karena semua murid memfokuskan pada lembaran-lembaran soal. Sehun celingak-celinguk dan berbisik pada Jongin yang duduk di sebelahnya.

“Pssttt…psstttt..Jongin.” jongin menolehkan kepalanya sambil waspada takut dicurigai mencontek. Padahal, realitanya, untuk apa mencontek jawaban seorang Oh Sehun? Kau akan bertambah bodoh. Pasti.

“Essay tidak dikerjakan ‘kan?” ohya, Jongin lupa kalau sahabatnya itu masih anak-anak.

“Tentu saja dikerjakan, Sehun.”

“Kau yakin?”

“Ya, aku yakin.”

“Sungguh?”

“Iya.”

“Kau berjanji?”

“OH SEHUN!”

Karena Sehun tidak bisa hidup tanpa seorang Kim Jongin

Bahkan dengan jawaban semudah apapun—atau tidak patut dipertanyakan lagi. Sehun akan tetap bertanya dan Jongin selalu sabar untuk menjawab.

Final

Note : ini ff friendship pertama aku, jadi gimana menurut kalian?  Ohya dan idenya datang saat aku remed pkn, terus ada cowok dikelas yang nanya ‘essay ga dikerjain kan?’ dan itu suer aku pengen bilang ‘yaiyalah dikerjain kalo ga ngapain tuh guru bikin essay -__-‘ tapi temenya malah sabar banget jawab ‘iya dikerjain’

thankyou for reading^^ and comment are really welcome.

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s