Let The Fate Lead Me (Chapter 12)

poster let the fate lead me 1

Tittle : Let The Fate Lead Me

Author : Cicil

Cast : exo’s Luhan and GG’s Jessica

Other cast : Woohyun infinite

Rating : G

Genre : Romance

Disclaimer : The story/fiction is actually mine, but I don’t own the cast.

Summary :

“Apa aku harus menembakmu?”

 

 

 

Jessica baru tersadar ketika pagi hari selanjutnya menjelang, tunggu! Kenapa aku mau menginap semalam lagi?

Ohya, entah alasan apa, tapi mata Luhan seakan menghipnotisnya, entah bagaimana caranya. Ia lupa, tidak bisa berpikir dan berakhir dengan menyewa kamar yang sama untuk satu malam lagi.

Pagi itu, ia keluar dari kamar dengan pakaian tidur setia melekat. Selera sarapannya pupus di telan angin begitu saja. Jadi, beginilah ia akhirnya, mencelupkan kaki pada air kebiruan kolam renang. Memain-mainkannya bosan. Kepalanya tertunduk, membiarkan ratusan bahkan beribu surai pirangnya berlambai-lambai di depan wajah. Sampai, kaki seseorang ikut dicelupkan di sebelahnya. Juga, ada telapak tangan menyentuh tangannya lembut, mengalirkan sensasi hangat tersendiri.

Dia mendongak, terlihat antusias di awal tapi berubah jadi tatapan bosan dan jengkel. Mendapati wajah Luhan dengan senyuman terlebarnya dan mata terbinarnya. Tampak begitu antusias.

Oh, aku pikir ia akan menampilkan senyuman setenang deburan ombak dan mata seteduh hembusan angin. Tapi, apa yang kau dapatkan, Jess? Wajahnya kelihatan polos seperti anak-anak, kelihatan bodoh.

Itu isi hati Jessica. Alasan kenapa wajahnya terlihat mendingin secara perlahan. Melawan sensasi hangat yang Luhan alirkan.

“Hei, tanganmu dingin sekali,” Luhan akhirnya melepas sentuhannya, menghusap-usap telapak tangannya sendiri. “So, kemana kita akan pergi, sekarang?”   Luhan lantas melanjutkan kalimatnya kala Jessica tidak mengubris sama sekali ucapannya.

“Aku bahkan belum ganti baju, tuan Xi yang terhormat.”

Okay, okay, santai saja, tidak usah pakai sebutan tuan.” Laki-laki itu selalu tidak suka dipanggil tuan atau tuan muda atau kata sebangsanya yang lain. Bahkan akan ejekan sekalipun.

Beberapa menit berlalu, menyisakan keheningan yang mengepul di udara. Kendati, seorang Xi Luhan tidak pernah tahan dengan suasana seperti itu. Maka ia bangkit dari duduknya, lantas ikut menarik Jessica agar segera mengganti pakainnya kemudian mereka bisa lekas merencanakan akan pergi ke mana hari ini.

Perdebatan terjadi lebih sengit dari yang ada di meja hijau sana. Luhan berargumen lebih baik kita ke pantai. Lalu, Jessica bilang, lebih baik kita ke tempat perbelanjaan. Keduanya amat bersemangat mengeluarkan seribu alasan bahwa pilihannyalah yang paling baik.

Pantai itu menenangkan, kau bisa melepaskan pikiranmu di sana.

Wanita butuh yang namanya berbelanja,

Tapi aku pria, hei

Dan, aku tidak peduli.

Pokoknya, kita bisa membangun istana pasir, kemudian membuat tulisan-tulisan dengan ranting kayu atau menaiki sepeda.

Intinya, kita bisa mendapatkan barang-barang lucu, baju, kosmetik untuk wajah, itu menyenangkan tahu!
Well, lebih banyak dari itu, mulut keduanya tidak pernah kehabisan kata-kata. Kemudian, satu jam berlalu sia-sia. Luhan menyerah, ditandai seringaian kemenangan dari Jessica. Ia pikir ia pria, lantas seorang pria sejati harus mengalah pada wanita, bukan?

Sejenak, mereka duduk pada bangku masing-masing dalam mobil Luhan. perjalanan cukup jauh untuk sampai ke pusat perbelanjaan yang Jessica minta.

Mereka dekat secara alami. Luhan rasa Jessica bagian dari masa lalunya, mengingat kalimat-kalimat yang kemarin gadis itu ucapkan, dan betapa sedihnya ia mendengar cerita Luhan. padahal ia sendiri berpikir, jalan hidupnya tidak semenyedihkan itu. Uh, Jessica memang berlebihan!

Jessica merentangkan tangan satunya keluar kaca mobil, mengingat Luhan bersedia membuka penutup mobilnya. Angin berlalu begitu cepat, seolah mobil yang ia tumpangi begitu berhasil membelah partikel-partikel udara tak kasat mata.

Ia memejamkan matanya, sibuk menikmati sensasi tersendiri dari sentuhan-sentuhan lembut angin. Rambutnya dibiarkan berkibar, tak peduli bagaimana terganggunya Luhan.

Sedangkan, si laki-laki sesekali memperhatikan Jessica, melukiskan senyum dewasa yang hanya sesekali ia tunjukan. Ohya, jangan lupa kalau Luhan juga menyukai suasana seperti ini, begitu menyenangkan.

Kau tahu rasanya? Melewati jalanan lebar yang kosong melompong dan hanya ada dirimu di sana. Bukan, bukan kesendirian yang mendominasi tapi semacam aura unik yang menyelusup ke bawah kulit.

Beberapa waktu berlalu, maka siang itu, mereka tiba di tempat perbelanjaan seperti Myeongdong market tapi penjualnya jauh lebih ramah dan harganya relatif sesuai kualitas barang. Jessica turun dari mobil, merenggangkan otot-otonya sebentar. Sementara Luhan juga melakukan hal serupa, mempersiapkan tungkai-tungkainya untuk bekerja kembali.

“Luhan,”

Luhan menoleh pada Jessica, tercetak jelas di wajahnya tampang-kenapa?- lalu, “Ayo, jangan membuang waktu.” gadis itu menarik tangan Luhan antusias, jadi Luhan hanya bisa mengikutinya ke mana pun mereka pergi.

Jessica berhenti pada toko pernak-pernik, membuat toko itu adalah toko pertama yang mereka kunjungi. Suara teriakan karena gemas meluncur senantiasa dengan wajah Jessica yang geregetan. Melihat gelang-gelang unik dari manik-manik, bando dari kain ukiran, dompet sederhana tapi memukau dan yang lainnya.

Sementara Luhan, terdiam di sampingnya meskipun selalu mengikuti ke mana Jessica beranjak. Tapi, oh, apakah seorang pria benar-benar harus melakukan ini? Menemani sang gadis yang histeris karena barang-barang lucu dan dia hanya bisa memasang tampang ngeri atau datar. Itu sama sekali tidak menyenangkan.

“Luhan, coba kau lihat yang ini, aku suka warnanya!”

“Kalau begitu kau beli saja yang ini, lalu kita bisa segera keluar dari sini dan pergi mencari makanan karena aku lapar.”

“Tapi ini kurang menarik.” Ujar Jessica memandangi gelang warna biru muda dengan miniatur kerang dan bintang laut sebagai hiasannya.

Luhan memutar matanya bosan, “Terserahlah.”

“Jess,” Luhan memanggil setelah beberapa menit berlalu dan mereka belum juga mencari makan siang, lantaran apa? lantaran sedari tadi Jessica hanya bolak-balik toko untuk melihat-lihat, bukan membeli! Dan Luhan jengkel karenanya.

“Ya, Luhan?”

“Bisakah kita istirahat sebentar?”

“Maksudmu?” dalam artian Jessica, istirahat adalah kembali ke hotel lalu tidur.

Luhan menunjuk-nunjuk perutnya yang keroncongan dan muka memelasnya yang hampir mengeluarkan air mata.

“Okay, tidak usah berlebihan seperti itu, Tuan Xi Luhan.”

“Berhenti memanggilku dengan embel-embel tuan, Nyonya Jessica.”

“Hei, aku masih muda tahu, tidak pantas disebut Nyonya, yang cocok itu Nona.”

Dan keduanya mulai berdebat lagi sepanjang perjalanan entah ke mana yang terpenting adalah mencari tempat makan.

“Woah, kenyangnya.” Luhan meminum tehnya sambil mengusap-usap perut. Jessica hanya mencibir, sedetik kemudian ia sudah menarik tangan Luhan untuk keluar dari restoran itu.

“Mau ke mana kita?” tanya si laki-laki antusias.

“Tentu saja kembali ke toko sepatu yang tadi aku lihat.”

Luhan berhenti melangkah, memaksa Jessica ikut melakukan hal yang sama. Genggaman mereka masih terpaut erat, Jessica memalingkan wajahnya pada Luhan, memandang mata laki-laki itu dengan tatapan-apa-lagi-sih?

Tak lama Luhan melepaskan genggaman itu paksa. “Kalau kau ingin berbelanja lagi, pergilah sendiri, aku di mobil saja.”

Oh, ternyata laki-laki itu tidak tahan dengan cara wanita berbelanja.

“Ya sudah, sebentar lagi aku akan menyusulmu ke mobil.” Mereka berpisah karena jalurnya berlawanan arah.

Luhan melongo, mulutnya pun ikut membulat sempurna. Melihat Jessica datang dengan banyak kantung warna-warni. “Hei! Mobilku bukan truk pengangkut barang, tahu!” Jessica malah terkikik geli sambil terus menjejalkan bawaannya ke bagian belakang mobil Luhan.

“Toh, aku membelinya dengan uangku sendiri bukan kau.”

Luhan memutar bola matanya pasrah lantas menginjak pedal gas kala Jessica baru saja duduk di sebelahnya dan menutup pintu. “Sudahlah,”

Perjalanan kembali ke penginapan memang terlampau panjang untuk Jessica, membuat gadis itu ketiduran setelah menguap berkali-kali. Luhan membuka atap mobilnya, membiarkan angin malam—yang setahunya tidak baik untuk dihirup—menerpanya. Ia memutar music dan biarkan suasana sepi itu hanya dia yang merasakan.

Kendaraan itu melewati jalan searah yang lenggang, bahkan yang terlihat seperti hanya ia yang melewati jalan sesepi ini. Tapi tidak apa, Luhan bukan orang yang penakut lantaran pengaruh film horror atau kepercayaan-kepercayaan mistis lainnya. Ia hanya mengendarainya dengan kecepatan normal.

Sedetik berlalu, pandangannya sempat teralihkan kala sebuah mobil sejenisnya—tidak menutup bagian atapnya—lewat berlawanan arah. Sang iris pekat menangkap dua orang di dalam kemudi itu, laki-laki dan perempuan, kendati mereka terlampau mesra untuk dilihat. Yang sempat ia tangkap adalah keduanya menautkan tangan dan yang perempuannya menidurkan kepala di bahu sang lelaki.

Alih-alih ia kembali pada pandangan lurus jalanan yang kosong tapi pikirannya tidak di sana. Pikirannya melayang setinggi bintang di langit. Rasa ingin seperti pasangan tadi pun muncul dalam lubuk hatinya.

Ingin memegang tangan yang ia cintai, ingin mengelus surai perempuannya dengan jari tangan lembut. Ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang kekasih. Karena Luhan lupa bagaimana rasanya itu.

Maka pikirannya yang melayang jauh kembali membawa sebongkah perihal. Apa itu?

Sang iris pekat kembali berkelana, tapi kali ini tidak pada mobil yang lewat berlawanan arah melainkan pada seorang gadis yang tidurnya kelihatan lelap sekali di samping kemudi. Luhan mengulum senyumnya yang setenang deburan ombak.

Mungkin ini yang paling tepat

Ya, ini yang paling tepat.

Mereka nyatanya memang baru mengenal satu sama lain tidak lebih dari seminggu. Kendati Luhan merasa amat mengenalnya dan begitu dekat seakan mereka merupakan teman lama yang akrab.

“Apa aku harus menembakmu?” bisiknya sesunyi suasana malam yang melanda. Ia bertanya sendiri, pada hati dan akal budinya. Apakah ini yang tepat?  Jatungnya jadi tak karuan, Luhan mengelus dadanya supaya si jantung tidak keluar dari rongga.

“Tapi bagaimana kalau Jessica menolaku?” oya, Luhan jadi mengobrol sendiri sekarang. Efek samping dari terlalu bimbang. “Eh, tapi dia tidak akan menolaku karena aku ‘kan tampan.” Okay, itu salah satu kekurangannya—terlalu percaya diri. Lantas kenapa Luhan masih ragu?

Jawabannya: karena Luhan belum pernah meminta seorang perempuan untuk menjadi pendamping hidup. Seingatnya.

Malam makin larut, waktu tidak pernah berbohong. Mobil itu terlah menghabiskan dua jam untuk kembali ke penginapan dan sekarang mereka sampai! Yeay, akhirnya—tandas Luhan dalam hati. Badannya pegal semua seperti ada seribu telunjuk yang menonjok punggungnya.

“Jess”

“Euugghh”

“Kau mau tidur di sini?” pertanyaan bodoh macam apa itu, Luhan? apa dia tega meninggalkan gadis cantik tersebut di mobilny lantas merasa kedinginan?

Jessica mendelikan satu matanya, mengusap wajahnya dan mencoba turun dari mobil. “Apa kita sudah sampai?” tanyanya lewat suara serak basah. “Tentu saja, aku mau tidur dulu ya.” kemudian Luhan makin mengecil dan buram dari pandangan Jessica dan lama-kelamaan menghilang.

Laki-laki jenis apa yang meninggalkan seorang gadis di tengah nyawa yang belum terkumpul? Ya, itu laki-laki jenis Luhan. -_-

Jessica masih terlalu termagu untuk mencerna semua yang terjadi, lantas ia tidak peduli dengan sikap Luhan yang aneh. Tungkainya mulai bergerak dan ia kembali tidur di kamarnya.

 

—-,———

 

Pagi menjelang begitu terik. Jessica bangun dengan hati begitu terburu-buru dan pergi check-out dari penginapannya tanpa sarapan dulu, tanpa bertemu dengan Luhan, dan tanpa berpamitan pada laki-laki itu. Karena ini jam delapan! Delapan pagi! Kalau ini masih dalam kawasan Seoul maka Jessica akan santai-santai saja, tapi ini di pinggiran daerah yang butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke tempat kerjanya. Apalagi, mengingat ia ada janji dengan Tiffany Hwang soal desain gaun.

Ia lenggang menaiki mobil yang telah dipesan oleh Kris dan kendaraan itu melaju cepat seiring dengan Luhan yang melangkah ke restoran untuk sarapan. Laki-laki itu tidak tahu kalau gadis yang membuat hatinya bimbang setengah hidup kemarin malam telah lenyap.

Masanya menjadi fotografer Jessica telah usai, sebentar memang. Padahal di awal perjanjian, Joonmyeon bilang akan memakan waktu lebih dari sebulan. Tapi apa boleh buat kalau Jongin telah kembali dari cutinya karena alasan tertentu—yang Luhan malas untuk mencari tahu.

Ia selesai sarapan, mengajukan kakinya ke kamar Jessica tapi yang ia temukan hanya seorang bibi paruh baya sedang memebereskan ranjang dan kamar itu tampak bersih dari barang-barang Jessica. “Maaf Bi, tapi bukankah penyewa kamar ini belum check-out?”

Luhan tergugu dalam hati kendati ia mencoba tersenyum saat mengucapkan terima kasih karena nyatanya Jessica sudah pergi dari jangkauan.

Apa yang harus ia lakukan sekarang? Harusnya ia menyatakan perasaan ini pada Jessica kemarin malam. harusnya ia tidak bersikap tidak peduli padanya. Harusnya ia mengirim pesan untuk Jessica supaya jangan pergi dulu. Ya, harusnya begitu.

Namun penyesalan tak pernah membuahkan apapun dalam sepanjang sejarah kehidupan.

“Hei, kawan!” oya! Jangan lupakan Woohyun si kawan karib Luhan. cowok dengan senyum menawan selalu bertengger itu merangkul pundak Luhan selagi mereka berjalan di tengah lorong kamar.

“Hai.” Tandas Luhan datar.

Woohyun melorotkan rangkulannya lantas berhenti melangkah dan terpaksa menyuruh Luhan untuk ikut berhenti juga.

“Kau terlihat lesu.” Ucap Woohyun.

“Ya, sepertinya.” Singkat dan itu bukan tipe Luhan si banyak omong.

“Apa yang terjadi denganmu?”

“Jessica hilang..” Luhan melengkungkan ke bawah sudut bibirnya sekaligus bahunya yang ikut membungkuk. Ia seperti anak kecil mengadu tentang penghapusnya yang hilang pada ibu guru.

“Jessica bukan barang, Lu.” Jelas Woohyun sebelum ia menjitak dahi kawannya.

“Tapi dia benar-benar hilang. Kau tahu, aku tidak memiliki kontaknya sama sekali, di mana rumahnya, di mana ia bekerja—“

“Jessica Jung seorang yang terkenal, oke? Kau bisa cari apapun tentangnya di internet.” Sebenarnya tidak apapun sih, tapi anggap saja begitu karena Woohyun yang mengatakannya.

“Apa kita bisa mencari nomor teleponnya di sana? Tidak ‘kan?” Luhan berbalik lantaran menuju meja resepsionis untuk mengembalikan kunci kamarnya. “Hei, hei, tidak semudah itu juga kau mendapatkan nomor teleponnya. Mungkin bisa kau mulai dari tempat agensi di mana ia bekerja.” Jelas Woohyun panjang seperti untaian kabel listrik dari tiang ke tiang.

“Kemudian apa yang harus kita katakana pada Appa?” Oh, yang satu itu Woohyun perlu berpikir sejenak dan beberapa waktu cukup sampai mereka ke tempat parkiran. Luhan hendak menyalakan mesin mobilnya ketika Woohyun menyela.

“Bilang saja Joonmyun menyuruhmu untuk memotret model lain.”

“Tidak semudah itu, Woohyun.”

“Sudahlah, serahkan saja semuanya padaku.” Woohyun menyunggingkan senyum seribu jahilnya.

Tanpa alasan yang tepat mobil mereka melaju melewati jalan tol, menuju kota Seoul.

TBC

 

A/N: haloha, aku balik dengan yang satu iniii yeaayy akhirnya satu chapter selesai padahal sempet buntu ide tuh—masih amatiran sih jadi nulis satu chapter aja butuh berapa hari hehehe.

Tomorrow akan ada chapter selanjutnya^^ jadi silahkan menungguu.. 😀

Advertisements

8 thoughts on “Let The Fate Lead Me (Chapter 12)

  1. Aduh thorrr aku udh lumutan 😦
    Knapa sifat luhan jadi beda? Apa karena efek lupa ingatan ya?
    Kapan luhan ingettttttttt,aku pngen luhan sma jessi jadian lagi tapi dalam keadaan luhan inget smuanya -,-
    Oke part ini bagus thor,feel nya krasa banget, kata-katanya sekarang udah mulai bisa dimengerti hehehehe
    Cuman 1 pertanyaan yang sama kaya komentar ku sebelumnya, kemana baekhyun cs -_- hahahahahha oke kutunggu next chap thor 😉

    • Iya jadi beda ya ._. Baekhyun cs menghilaanggg tidaakk–engga sih cuman aku bingung aja mau nempatin momen mereka dimana XD thanks for reading ya and commenting also^^

  2. ini keren thour !!
    sikap luhan kok beda bnget ya ..?? dan ngakak pas dblang senyumny itu dengan wajah polos sperti anak-anak hahha..
    smoga luhan mendapatkan kmbali ingaanny …
    dtunggu klanjutanny thour dan samangat ne ^^

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s