Let The Fate Lead Me (chapter 13)

poster let the fate lead me 1

Tittle : Let The Fate Lead Me

Author : Cicil

Cast : exo’s Luhan and GG’s Jessica

Other cast : member lainnya.

Rating : G

Genre : Romance

Disclaimer : The story/fiction is actually mine, but I don’t own the cast.

Backsound : Something Special – Urban Zakapa

Summary :

“Jessica?”

Sebulan bukan waktu yang sebentar, berkat kerja keras Woohyun—membujuk Tuan Xi agar mereka bisa tinggal lebih lama di Seoul—mereka memiliki sebuah apartemen di daerah pusat kota. Lalu apa yang mereka lakukan selama itu?

Luhan membicarakannya dengan Joonmyun maka ia mendapatkan jawaban yang memuaskan—menjadi fotografer di suatu majalah. Sedangkan Woohyun? Oh, namja satu itu memang tidak pernah habis akal untuk menjalani hidupnya. Ia kembali masuk ke sebuah universitas lewat jurusan entah apa—lantaran ia asal memilih—hanya untuk menghabiskan waktu sekaligus membantu Luhan mencari gadis yang ‘gagal’ ditembaknya itu.

“Luhan!” teriak Woohyun di suatu pagi pertengahan bulan april. “Apa kau ada jadwal kerja hari ini?” Luhan menggeleng, tanpa mengalihkan pandangan dari mangkuk serealnya. Kelihatan seperti orang tidak makan berhari-hari.

“Aku ada jam pagi ini, tapi..” Woohyun mengelus-elus dagunya mencoba tampilkan wajah berpikir dan meninggalkan sarapannya yang mulai dingin. “bosan juga yah pergi ke universitas, di sana banyak perempuan cantik tapi sebagian besar sudah memiliki kekasih.” Okay, ternyata Woohyun cuman ingin cari jodoh di tempat kuliahnya. Itu ide yang bagus juga.

Luhan tidak merespon, terlalu sibuk akan sendok dan susu putihnya.
Semenit berlalu lantas Woohyun selesai berpikir dan menjentikan jarinya di depan wajah Luhan kemudian memecahkan fokus si iris gelap. “Bagaimana kalau kita ke Lotte World?” ucapan barusan membuahkan tiga kerutan di dahi Luhan.

“Apa itu?” rupanya Luhan tidak mengenal Lotte World, jadi Woohyun menepuk jidatnya lalu mulai membuka mulut, “Itu semacam Disney Land, kau tahu ‘kan?” yang kali ini memecahkan pertanyaan Luhan, ia membulatkan mulutnya lantas berkata kalau ia mengerti maksud Woohyun.

Mereka terdiam setelah Luhan yang terakhir kali berkata.

Satu menit…

Dua menit… Luhan masih sibuk dengan sereal

Tiga menit… Woohyun menumpu dagunya kala sesekali melirik jam dinding model pasir dan kerang.

Empat menit…

Lima menit…

“Ya! kenapa caramu makan lama sekali? Cepat mandi kita akan ke Lotte World untuk bersenang-senang.” Woohyun menggebrak meja kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi setelah ia mengambil handuk.

Sementara Luhan hanya bisa melongo sejenak, namun detik berikutnya ia melanjutkan makan.

—-,———

“Woah!” kedua cowok itu sibuk berkagum-kagum dengan dekorasi Lotte World dan permainannya. Mereka menaiki roller-coaster yang pasti—tapi sepertinya bukan mereka karena Luhan tetap pada pendiriannya untuk hanya menunggu Woohyun di bawah, tidak ada acara naik ke tempat tinggi atau bermain permainan mengacu adrenalin seperti itu.

Selesai makan siang, Woohyun menarik tangan Luhan pergi ke tempat yang mirip festival. Ada pistol mainan, kaleng, dan berbagai macam hadiah tergantung di atas tendanya. Permainan cukup mudah ketika di lihat—menembak kaleng dan jika berhasil menjatuhkan semuanya makan kau dapat memilih hadiah yang kau mau—tapi Luhan ingin meleparkan pistolnya ke kepala penjaga karena ia tidak berhasil menjatuhkannya satu pun!

Ia membanting si pistol malang dan meninggalkan Woohyun yang masih sibuk dengan kaleng dan hadiah. Ia menembus kerumunan ramai, menemukan bangku untuk sekedar duduk setelah membeli es krim. Kakinya dipanjangkan dengan santai tanpa kawathir akan ada orang yang memarahi lantaran caranya duduk kurang sopan.

Bukkk

Okay, Luhan langsung menyembunyikan kedua kakinya, lantas menilik matanya untuk melihat apakah perempuan yang jatuh karena sandungannya itu marah. cukup lama menurutnya, sampai sisi seorang pria dari dirinya keluar dan membantu perempuan itu bangun dari terjatuhnya.

“Maaf sekali nona, aku benar-benar tidak sengaja.” Luhan tidak dapat memastikan wajahnya karena tutupan rambut kecoklatan dan luka yang tersemat di lutut kelihatannya lebih menarik perhatian.

Perempuan itu tidak menghiraukan ucapan maaf Luhan. ia melepas genggaman tangan Luhan ketika sudah berdiri kemudian mencoba berjalan sendiri. Tapi itu tidak berhasil, Luhan menangkapnya yang akan jatuh limbung lantaran sepertinya kaki dari perempuan itu terkilir.

Luhan memapahnya, merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Mungkin karena terkejut dengan kesalahan yang ia lakukan. “Aku tidak apa-apa.” tutur si perempuan dengan lembut sepelan hembusan angin. Ia mulai coba lepaskan tangan Luhan lagi, namun justru laki-laki itu mengeratkannya sambil berkata, “Kau terjatuh, tidak mungkin tidak apa-apa.” Luhan tidak memerlukan permisi untuk menggendong perempuan itu.

Mereka bertemu seorang petugas yang Luhan rasa itu keberuntungan sebab sebelumnya ia tidak tahu akan kemana dengan keadaan mengangkat seseorang. Tidak perlu berpikir dan pasti kau tahu jawabannya, apakah ada tempat yang menyediakan suster atau dokter darurat di sebuah lokasi taman bermain?

“Permisi, apa ada rumah sakit terdekat di sekitar sini?” petugas muda itu mengiyakan lalu menunjukan jalannya. Jadi Luhan membawa si perempuan ke mobil, lalu dengan lenggangnya empat roda itu berputar menuju lokasi yang ditunjukan si petugas.

Dua suster menyambut Luhan dan perempuan itu, mereka membopong si perempuan sekaligus meninggalkan Luhan di meja administrasi. Luhan pergi ke ruang yang ia tahu tempat di mana perempuan itu diobati setelah membayar biayanya.

“Apa dia baik-baik saja?” tanyanya pada suster yang satu. “Kakinya terkilir, kalau tidak ada anjuran dokter maka ia boleh pulang tapi ada kemungkinan dokter menyuruhnya memakai tongkat untuk bantu berjalan.” Luhan menghembuskan nafas kasar sehabis mendengar penjelasan panjang tersebut.

Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia harus pakai tongkat? Lalu aku harus melakukan apa?
Luhan mengacak rambutnya kala ia duduk di bangku tunggu bagian depan ruangan. Ia lupa akan Woohyun. Apa? Woohyun? Oh, bagaimana bisa ia melupakan si sahabat yang baik itu?

Ia segera menilik telepon dan menekan sejumlah nomor untuk menghubungi Woohyun

1 detik…

2 detik…

3 detik..

“Ya! kemana saja kau, huh? Kau meninggalkanku di sini? Mobilnya tidak ada di parkiran!” laki-laki surai keemasan itu menjauhkan teleponnya lantaran merasa telinganya tidak akan kuat mendengar frekuensi suara Woohyun yang lebih dari biasa.

“Aku di rumah sakit.” Jelasnya pendek. Tapi itu membuat salah paham seorang Nam Woohyun. “Apa, kau di rumah sakit?! Apa yang terjadi padamu? kau terluka? Kau ditabrak mobil tadi? Kau kecelaka—“

“Sssttt…. Diamlah.” Potong Luhan.

“Aku tidak apa-apa, tadi aku tidak sengaja menyandung seorang perempuan dan sekarang ia kesulitan berjalan! Apa yang harus kulakukan?”

“Mudah—“

“Apanya yang mudah?!” teriak Luhan di telepon.

“Pilihan pertama adalah kabur—“ ups, yang satu ini juga dipotong oleh Luhan. “Aku pria bertanggung jawab, tahu!”

“Oke, oke, kau bisa jadi pembantunya selama kakinya tidak bisa berjalan.” Luhan melongo sendiri sementara Woohyun bingung kenapa kawannya itu tidak merespon.

Apa? jadi pembantunya? Kau gila Woohyun?

“Permisi.” Lontar sebuah suara di belakang Luhan, membuat cowok itu terkejut kemudian segera memutuskan sambungan dan menyembunyikan si telepon di balik saku celana. “Ada masalah?” balas Luhan ketika yang ia tangkap adalah suster tadi.

“Silahkan masuk, Anda bisa membicarakannya.” Suster itu lantas pergi dari hadapan Luhan hingga menyisakan jarak antara dirinya dan perempuan yang—ugh, kenapa surai kecoklatannya selalu menutupi muka?

Luhan mempersempit jarak mereka, sampai yang tersisa tinggal dua senti. “Apa kau baik-baik saja?” tutur Luhan tepat di depan si perempuan, iris pekatnya sibuk menilik helaian rambut coklat itu. Sedetik kemudian perempuan itu mendongak dan…

“Jessica?” ia kaget setengah mati, masih tidak percaya kalau yang retinanya sorot adalah wajah Jessica. Gadis itu berbeda dari terakhir kali mereka bertemu di pinggiran kota. Rambutnya yang pirang sekarang berubah menjadi cokelat.

Jessica membulatkan matanya sebesar mata Kyungsoo—si teman les Soojung.

Keduanya kehilangan kata-kata. Hanya mata yang saling berpandangan, menyatakan lewat pikiran dan ekspresi. Saling berusaha membaca apa yang dimaksud. Seperti menuturkan apa yang ingin dikatakan oleh mulut tapi kau tunjukan lewat mimic wajah.

Drrttt

Luhan merogoh saku celananya ketika ia rasakan teleponnya bergetar menandakan panggilan masuk.

“Halo?”

“Di mana kau sekarang?”

“Di rumah sakit—“

“Aku akan menyusul.”

Klik

Luhan menatap layar ponselnya bingung, lagipula apa Woohyun tahu di rumah sakit mana ia berada? Baiklah, biarkan saja namja konyol yang sok tahu itu. Jadi kita kembali ke suasana canggung Luhan dan Jessica.

“Aku harus pakai tongkat.” Ucap Jessica pelan sebagai awal pembicaraan mereka. Luhan memejamkan matanya, siap menerima bahwa yang terjadi adalah kemungkinan terburuk. “Berapa lama?”

“Sebulan sampai dua bulan.” Luhan ingin menepuk jidatnya, salahkan kakinya yang menyebabkan semua ini terjadi. Tapi omong-omong, ia merasa senang juga lantaran telah bertemu Jessica—so, dalam hatinya ketika melihat Jessica dalam surai pirang, jantungnya seperti ingin keluar dan ia memaksa untuk tidak tersenyum senang. Mengingat kaki Jessica terluka.

“Kata Woohyun—“ okay, anak itu pakai alasan nama Woohyun sekarang meskipun kenyataan kalau itu memang usul Woohyun. Tapi Luhan, kau juga menginginkannya ‘kan? Menjadi pembantu Jessica? Oh, itu sama sekali tidak apa-apa menurut Luhan, malah ia senang setengah mati karena bisa terus bersama Jessica.

“—aku bisa membantumu mengerjakan apapun sampai kakimu benar-benar sembuh.” Jessica mengangguk-anggukan kepalanya, irisnya berputar mencari entah apa. “Bisa saja, jadi—“

“Luhan!” Woohyun muncul di balik pintu, dan jelas itu mengejutkan keduanya. Dasar perusak suasana!

Woohyun melangkah memasuki ruangan dan mendekati mereka, matanya seakan terbuka dan sadar kalau Jessica secantik itu. “Ooh, ini yang namanya Jessica.” Mereka bersalaman, saling mengenalkan diri.

Tak lama setelah itu ketiganya larut dalam pembicaraan riuh karena seorang Woohyun tidak pernah habis akal, seorang Luhan selalu berusaha menunjukan kebodohan kawannya, dan seorang Jessica yang terlampau bawel ikut menimbrung pembicaraan.

—-,———

Seminggu berlalu.

Luhan biasa keluar masuk apartemen Jessica di lantai Sembilan. Oya, Jessica tinggal di apartemen untuk sementara, sepanjang kontraknya dengan Tiffany. Karena rumahnya agak berjauhan dengan tempat bekerja dan memakan waktu panjang untuk bolak-balik pulang-pergi.

Laki-laki iris pekat itu sekarang tahu apa makanan kesukaan Jessica, kenapa dia bawel, bahwa Jessica terlihat dingin di luarnya saja, dan masih banyak lagi. Ia membuka pintu apatemen pagi itu sekitar pukul sepuluh.

“Jess,” matanya menangkap siluet Jessica sedang mengganti balutan perban di pergelangan kakinya. Luhan mempersempit jarak anatara mereka, mencoba membantu gadis itu. “Apa rasanya sakit?” tukasnya pelan. Namun tanpa dikira Jessica justru menjitak kepalanya.

“Tentu saja sakit, bodoh!”

“Ya sudah! Kalau sakit tidak perlu memukulku juga.” Luhan mengusap-usap dahinya yang memerah. Meninggalkan sederet tawa untuk Jessica. “Sebentar lagi temanku mau datang.”

“Siapa? Tiffany? Jongin?”

Jessica menggeleng pelan.

“Bukan, teman baiku, Taeyeon dan Yoona.”

“Ooh.” Laki-laki itu tidak perduli siapa namanya karena ia tidak mengenal setiap huruf pun dari yang Jessica ucapkan. Maka ia membuang balutan yang telah dipakai dan mengembalikan obatnya ke rak kayu.

“Luhan, kau tidak mengenal mereka?” Luhan kembali pada Jessica yang duduk di sofa sambil mengganti chanel teve. Ikut duduk di sisi gadis itu. “Tentu saja tidak, bukankah katamu mereka itu teman sekolah?”

Tentu saja iya, Lu. Kau mengenalnya, sangat, bahkan kau berteman baik dengan kekasih mereka.

“Iya, sih.” Sangkal gadis itu, jauh bertolak belakang dengan isi hatinya.

“Tapi mereka mengenalmu.” Ceplosnya asal namun nyatanya dianggap cukup serius oleh Luhan.

“Kenal? Apa mereka bagian dari yang aku lupakan?” Jessica berusaha untuk tidak menangis. Ia menggelengkan kepala pelan, tidak mau apa yang terjadi sebelumnya ketika ia berusaha membuat Luhan ingat padanya—membuat sosok Luhan yang berbeda.

Satu jam berlalu begitu cepat, seiring acara music yang berakhir begitu saja. Menyisakan tontonan tak menarik dan sibuk pada pikiran masing-masing. “Katanya temanmu ingin datang?” tanya Luhan menjadikan Jessica segera mengecek ponselnya.

Gadis itu melorotkan bahunya dan pasang wajah lesu. “Kenapa?” Luhan ikut mendekatkan wajahnya pada Jessica supaya ia bisa melihat apa yang membuat Jessica jadi lesu, mungkin ponsel pink-nya. “Mereka tidak jadi datang.”

“Pwahahaha.”

“Apa yang lucu?”

“Tidak, tidak, hanya caramu berbicara itu sangat…sangat…sangat…apa yah.” Luhan bingung mendeskripsikan kenapa ia tertawa, meninggalkan garukan di kepala dan wajah polos.

“Hahahahahahha.” Gantian Jessica yang kegelian kala jari telunjuknya sibuk menunjuk wajah Luhan yang menatapnya tidak mengerti. “Wajahmu kelihatan bodoh, Lu” laki-laki itu pasrah dibilang bodoh. Sudahlah, buat apa bertengkar tentang ‘siapa yang bodoh’ dengan Jessica.

Jessica jadi lupa akan Taeyeon dan Yoona yang berhalangan hadir menjenguknya. Tidak apa-apa asal ada si iris pekat menemaninya. Tidak apa-apa.

Malam menjelang, keduanya baru saja turun dari mobil Luhan setelah rapat dengan Kris soal kakinya yang menyulitkan untuk bekerja. Dan asal kau tahu, ternyata membantu seorang Jessica sampai masuk ke apartemennya sendiri itu sulit! Buktinya, ada sejumlah keringat yang membasahi dahi Luhan.

“Berat sekali.” Keluh Luhan

“Apanya yang berat?”

“Kau, tubuhmu beraaatttt seekaaaliiii.” Jessica memukul lengan Luhan. “Aku—sudahlah, ayo kita makan. Aku lapar.” Gadis surai kecokelatan itu mengambil tongkatnya dan berjalan pelan menuju meja makan.

“Cepat masak.” Suruhnya pada Luhan yang datang menyusul.

“Kau pikir aku siapa? Koki?”

“Pembantuku.” Luhan akan mengeroyok Jessica kalau saja ia lupa yang menyebabkan gadis itu tidak bisa melakukan semuanya sendiri adalah dirinya. Akhrinya ia mulai menyalakan kompor, membuka kulkas dan mengambil apapun yang bisa ia jadikan makanan.

Sepuluh menit berlalu, Jessica mengetukan jarinya pada meja makan bosan, mukanya kusut seperti baju bekas. Kemudian matanya disajikan oleh sepiring telur dadar tak berbentuk dan dua mangkuk nasi dilengkapi sumpit.

“Apa ini?” Jessica meniliknya, berusaha menetralkan matanya karena yang terlihat hanya warna kekuningan dan hitam. “Tentu saja telur.” Luhan memotong telur dadar itu sebgian dan memasukannya ke mulut disusul dengan nasinya.

“Apa ini bisa disebut telur?”

“Sudahlah, makan saja, membuatnya perlu perjuangan, tahu.” Jessica mencibir, mengangkat kedua bahunya lantas langsung memilah mana bagian dari telur itu yang tidak gosong.

“Hai.” Luhan duduk di samping Jessica dengan secangkir black tea di tangannya. Berada di ujung balkon tinggi tanpa pelingdung apapun memang mengerikan apalagi ini malam hari. Kendati, Jessica tetap santai duduk di sana sambil sesekali menyeruput teh hangat.

“Kau tidak pulang?” Luhan melirik jam tangannya kala pertanyaan Jessica menyambut. “Sebentar lagi mungkin.” Sebenarnya ia juga ingin pulang, tapi sudah dari jauh pagi hari sebelum ia ke apartemen Jessica, ia merencanakan sesuatu yang tidak akan gagal lagi seperti malam itu.

Luhan memberikan jeda waktu untuk jantungnya bekerja normal juga suaranya agar tidak bergetar gugup. “Jessica.” Ia mengucapkannya sambil menunduk dan kala ia mendongak, mata mereka saling bertemu dalam satu lintasan lurus tak kasat mata.

“Eummnn…” Luhan kau akan menembak seseorang saat ini tapi kenapa kau malah bergumam tidak jelas?!

“Aku rasa kita dekat, lebih dari sekedar teman kerja atau rasa bersalahku telah menyandungmu. Kau tampak tidak asing saat kita pertama kali bertemu siang itu. Seperti saling mengenal sebelumnya, dan pertanyaan itu masih terngiang sampai sekarang. Jantungku tidak pernah berdetak normal ketika berada sangat dekat denganmu. Aku sedih sekali saat kau pergi tanpa memberi kabar. Aku..”

Luhan menyisir surai Jessica, menyelipkan poni panjangnya ke belakang telinga agar wajah cantik itu bisa terkuak. Jessica menatap si iris kepekatan, matanya berkaca-kaca tak percaya.

“Aku mencintaimu.”

Jessica menunduk, biarkan pandangan lurus mereka pudar, ia mengelap air mata dengan telapak tangan. “Maukah kau jadi pendamping hidupku?” Luhan berusaha melihat wajah itu, berusaha menemukan kembali mata yang ia cintai.

Jessica merapikan poninya, menatap Luhan sejenak dengan matanya yang memerah, bahkan dua gelas teh dan black tea itu telah mendingin karena tidak diacuhkan.

Ia mengangguk. Berulang kali supaya Luhan yakin bahwa jawabannya adalah ‘ya, aku akan mendampingimu. Meskipun kenangan kita yang terdahulu telah hilang dari benak.’

TBC

a/n: terima kasih sebesar Jupiter karena aku pengen ff ini cepet kelar huaahh biar bisa lanjut I’m Just :’) maybe next chapter is the last ya^^ thank you for reading and comment are really welcome. p/s: bentar lagi kelas 9 mau US sama UN semangat ya, dan aku bakal lebih aktif lagi di sini karena libur akan melanda 😀

Advertisements

5 thoughts on “Let The Fate Lead Me (chapter 13)

  1. Wiw…cpt bgd update nya..hehehe…wew luhan doyan bgd nendang2..hahaha…tp nembak nya kurng romntis thor..hahaha…

    Si luhan bnr2 dah kocak d sni..tp apa ingatan nya gag bkal balik???

  2. si woohyun memang prusak suasana tuh..,, -,- #dijitak woohyun
    ak sngat brharap smga luhan ingat kenanganny… btw, ini bgus thour dan pas part terakhirny kata-katany meyentuh bnget !! 😄
    dtunggu klanjutanny thour dan smangat ne ^^

  3. Wohyun SKSD bgt sma jessi -_-
    Oke sip dia kuliah cman mau cari jodoh doang? Knapa gk daftar di take me out aja?#ngawur
    Udh seneng tae sma yoona mau ke rmah jesii…ehhh mlah gk jadi
    Oke next chap aku tnggu 🙂

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s