Something Flutters

poster-something-flutters

A new one by Cicil with Kim Seokjin and Bang Minah, Lee Jieun as support cast,  Fluff and Romance, Rated-G.

Minah melihat Seokjin lagi. terhitung yang ketiga kalinya.

Last! i think this song —Ra.D-Somehing Flutters — take a part of my story.

 

Minah melepas napasnya lega serentak kala kedua tangan ia rentangkan lebar tanpa khawatir orang akan mengomel. Udara sejuk menelusuri relung rongga dadanya, terasa begitu dingin dan menggelikan. Pun segar menyerbu mukanya begitu ia menutup mata. Menikmati suasana pagi yang jarang ia temui di kota.

Liburan ke daerah pegunungan memang pilihan paling tepat untuk lari dari kejaran dosen Kim karena Minah belum mengumpulkan tugasnya selama sebulan terakhir. Siapa yang peduli dengan guru tua berkacamata bulat dan kumis menempel di segala sudut mulutnya, tinggalkan saja.

Minah membuka matanya, begitu terang dilihat dan segalanya tampak hijau dipandang. Kebun teh dengan para ibu bertopi lebar memetik ujungnya, gunung-gunung besar tak terhitung berwarna abu-abu kelam dari sudut matanya.

Ia berlari ke sana, menawarkan bantuan—memetik daun teh–pada salah seorang ibu yang amat  senang hati menerimanya. “Terima kasih anak muda, kau sangat cantik.” Minah tergelitik mendengarnya, ia menggulung lengan baju tidurnya ke atas, kemudian mulai melakukan tugasnya.

Kedua wanita itu sibuk mengobrol sambil melakukan pekerjaan mereka. Minah sesekali menunjukan tawanya kala kalimat-kalimat pujian atau lucu keluar dari mulut sang ibu paruh baya.

Ia berpikir hidup seperti ini memang sangat menyenangkan untuk dijalani. Tidak ada bau asap kota, tidak ada orang yang berjalan terburu-buru mengejar waktu, tidak ada mobil ataupun motor—yang ada hanya sepeda dan tungkai-tungkai kaki. Berharap suatu saat nanti ia bisa tinggal di sini dengan membantu para ibu juga bercengkrama dengan mereka layaknya saat ini.

Dua jam berlalu, matahari mulai mengeraskan teriknya meskipun dingin udara masih belum terkalahkan. Minah kembali ke villanya yang tampak sederhana dengan tembok dan pagarnya dicat putih juga kaca-kaca besar lebih mendominan dibanding pintu berkayu. Ia menginap sendiri lantaran kesibukan orang tua dan tidak ada saudara kandung lain yang bisa diajak—ia anak tunggal—apalagi Hyeri, cewek model dia tidak akan mau meninggalkan bertumpuk-tumpuk tugas yang membosankan.

Minah beralih pada meja makan ketika ia selesai mengeringkan rambut setelah mandi. Memanggang roti dan menggoreng telur mata sapi. Rahangnya terus bergerak mengunyah makanan sementara lagu-lagu milik Ra.D terus melantun dari sang ponsel.

Jam menunjukan pukul satu siang saat Minah menengok untuk meliriknya. Ia bergegas mengambil kunci pintu villa dari dalam tas dan tungkainya segera bergerak menuju ke luar. Setelah mengunci pintu, Minah pergi meninggalkannya. Tanpa tujuan kakinya hanya melangkah sesuai jalan yang jarang dilalui pengendara mobil itu.

Beberapa kali mengulum senyum dan membungkuk pada ibu yang bertemu dengannya di jalan. “Iya, selamat siang juga, bu.” Ujarnya untuk kesekian kali. Mereka ramah, tidak seperti kota yang diisi oleh orang-orang sibuk pentingkan urusan sendiri.

Minah melewati perumahan penduduk sekitar, namun tanpa sengaja kakinya berhenti. Mengamati salah satu rumah dengan spanduk kecil bertuliskan ‘Ruang Latihan’ dihiasi juga beberapa gambar alat musik. Ternyata ada juga studio-studio kecil di sana meskipun dalam  bentuk rumahan.

Hatinya membawa Minah untuk masuk ke dalam sana, menemukan seorang perempuan paras sederhana sedang membungkuk mengikat tali sepatunya.  “Permisi,” ujar Minah berusaha melihat wajah perempuan itu.

“Ah, iya?” perempuan itu menengadah menemukan pandangannya berseteru dengan mata Minah. Keduanya tersenyum. “Apa di sini menyewa ruangan untuk dance?” Kening perempuan berkerut sejenak dan Minah mengerti kalau kata-katanya cukup sulit dicerna. “Maksudku, apa di sini ada ruangan untuk menari? Seperti dengan dinding-dinding besar yang ditempeli kaca dan lantai dari kayu.” Minah memperagakan bagaimana bentuk ruang latihan yang sering ia kunjungi di tempat kuliah.

Perempuan itu mengangguk tanpa lupa menarik kedua sudut bibirnya, “Ada, dengan kaca-kaca besar dan lantai kayu tapi masing-masing diisi sebuah alat musik. Kami menyediakannya untuk sekedar menyalurkan hobi.”

“Bolehkah aku meminjamnya satu?”

“Tentu saja, kau yang beruntung memiliki ruangan terakhir.” Perempuan itu lantas bergerak ke meja panjang dan menyodorkan pada Minah seuntai kunci warna keemasan. “Woah, aku beruntung sekali” tuturnya kekanak-kanakan. “Apa di sini memang selalu ramai?” menyadari bahwa hanya mereka berdua yang ada sedari tadi, Minah agak ragu kalau tiap ruang yang disediakan telah penuh.

Minah menangkap perempuan itu mengangguk lagi. “Mari aku antar.” Mereka pergi menaiki lantai dua menuju ruangan yang dimaksud.

“Siapa namamu?” tanya Minah disela-sela keheningan mereka. “Jieun,” lantas mereka bersalaman lembut, “Aku Minah, senang berkenalan dengamu, kau terlihat cantik.” Pujinya menghasilkan tawa malu dari Jieun.

Jieun berhenti di salah satu pintu dan membukakannya untuk Minah, “Ada piano di sudut sana, kau bisa memainkannya.” Iris Minah menelusurinya dan benar mendapati sebuah piano hitam lengkap dengan bangkunya.

“Terima kasih banyak, Jieun.”

“Sama-sama, Minah” Jieun tampak sederhana dengan irisnya yang berbinar dan senyum manis dari bibir warna merah mudanya. Mereka berpisah kala Jieun menarik daun pintu dan menutupnya, kembali pada kesibukan masing-masing.

Minah mengeluarkan sepatu ballet dari dalam tasnya.  Tunggu, dia memang akan menari, tapi jangan membayangkan bagaimana cara ia menari dengan celana jins panjang dan kemeja warna pink seperti pakaian sehari-harinya. Dia hanya memakai celana pendek warna coklat muda dan t-shirt putih tanpa lengan yang dimasukan ke dalam celana, rapih.

Jadi tidak ada masalahnya untuk melakukan satu-satunya kegiatan yang ia sukai itu, bukan?

^^

 

Ceklek

 

Minah berhenti memutar tubuhnya lantas segera menengok ke asal suara—pintu—karena seseorang pasti telah membukanya. Dentuman musik masih merayap di dinding-dinding udara. Di sana, di sebelah pintu kayu itu ada seorang laki-laki dengan muka polosnya menatap Minah.

Gadis itu tidak tahu harus berbuat apa, karena otaknya mendadak beku mendapati seseorang yang tidak asing. Mulutnya terbuka sedikit dan matanya tampak mencari-cari apa yang harus ia katakana. Detik-detik berlalu, tanpa sadar suara jam yang berputar lebih kencang terdengar setelah alunan lagu berakhir. Dan mereka masih terpaku satu sama lain!

Laki-laki itu mulai bergerak kaku, menggaruk belakang lehernya yang entah sejak kapan terasa gatal, “Kau gadis yang kemarin tidak sengaja—“

“Jatuh karenamu.” Lanjut Minah buru-buru membuahkan tawa ringan dari sang laki-laki. “Maaf, tidak bermaksud menabrakmu juga.” Entah apa yang terjadi tapi laki-laki itu maju selangkah agar obrolan mereka lebih dekat. Lekas-lekas menutup pintu yang tadi ia buka.

“Aku tidak berpikir kita akan bertemu lagi.” Tuturnya dengan nada riang dan senyum mengembang begitu saja tanpa diperintah.

“Apa yang kau lakukan di sini, Seokjin?” laki-laki itu membulatkan matanya, “Woah, ternyata kau mengetahui namaku, Minah.” Minah lebih terbelalak lagi karena laki-laki itu menyebutkan namanya. Jantungnya berdegup tak karuan dan pipinya bersemu merah.

Bagaimana caranya mereka dapat mengetahui nama masing-masing padahal belum berkenalan sama sekali? Keduanya memang sudah pernah bertemu—dengan cara tak menyenangkan—tapi keadaan mendesak untuk berpisah lagi sehingga tidak ada ruang waktu untuk saling berjabat tangan, memperkenalkan diri.

Apa yang harus Minah lakukan? Ia tidak bisa berpikir sama sekali karena yang ada di depannya adalah Seokjin! Seokjin yang membuatnya senyum-senyum sendiri.

Menyadari Minah masih terbengong dalam lamunan panjang, Seokjin melanjutkan “Biasanya aku yang memakai ruangan ini. Tapi entah kenapa, Jieun memberikannya padamu.”

Oh, jadi pertemuan mereka kebetulan belaka? Lantaran Seokjin memang sering ke tempat itu-untuk berlibur atau mungkin punya alasan yang sama dengan Minah– dan Minah tak jarang menginap di villanya.

Seokjin tidak tahu kenapa hatinya seperti jatuh ke dasar perut, rasanya begitu geli tapi tidak bisa diungkapkan, seperti menghantam batu keras tapi tanpa  satupun terasa perih. Ada sesuatu yang menyenggol jantungnya keras, terasa aneh. Apalagi melihat wajah Minah yang dihiasi warna pink-kemerahan.

 

 

Fin

 

a/n: huaaaa apa ini /nangis di pinggir jalan/ kenapa aku nulai semacam engga terdefinisikan karena disebut drabble juga engga, disebut oneshoot juga engga, tapi disebut chapter juga engga. Aku cuman kelebihan ide dari drabble kemarin. Ditambah menemukan lagu Ra.D yang mengalun santai banget, suer deh aku seneng yang begituan 😄 thank you for reading and comment are really welcome^^

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s