First Time

poster first time

Tittle : Spring love || made by Cicil || Rated PG-13 || I don’t own the cast, I just own the story || Staring by Xi Luhan and Lee Jieun || romance!, fluff || <800 words

 

Jieun doesn’t like spring. Luhan make her love it.

Jieun benci musim semi. Selalu. Tanpa terkecuali seperti ketika ada festival makanan atau diskon baju besar-besaran. Itu tidak berpengaruh. Setiap musim semi datang, maka Jieun hanya akan menghabiskan beribu-ribu detik waktunya di perpustakaan ujung kota setelah pulang sekolah atau hari libur mingguan.

Luhan kadang ikut bersamanya, tapi yang terjadi adalah suara batuk-batuk palsu oleh ibu penjaga karena mereka malah main lirik-lirikan. Lalu keduanya akan pindah ke rak paling ujung, paling pojok, paling terpencil, supaya ibu penjaga yang gemuk itu tidak bisa menemukan mereka.

Tapi itu kadang, karena Luhan punya segudang aktivitas tak terduga—seperti bidan yang siap ditelpon kapan saja kalau pasiennya melahirkan(oke, itu perumpamaan yang aneh)—dia mengikuti ekskul futsal, masuk dalam bagian anggota osis, teman segerombolnya suka main balap-balapan kalau malam, atau ia suka membuat bajunya lengket dengan keringat karena bermain bola basket.

Jadi, Jieun hanya akan memutar bola matanya mendengar keluhan pacarnya—sekarang mereka sudah jadian! Bukan teman lagi—yang capek. “Dia tidak tahu diri, menyuruhku lari keliling lapangan 100 kali hanya karena aku mengambil bola basket tanpa sepengetahuannya!” marah Luhan pada satpam tapi bapak tua itu tidak ada di depannya, hanya ada Jieun yang mengambil botol air mineral.

Tahun itu tahun pertama mereka menjalin hubungan lebih lanjut—seperti yang Luhan inginkan—dan musim semi pertama yang dilalui keduanya bersama. dengan masalah berbeda.

Luhan tahu, sangan tahu malah, kalau gadis yang ia cintai itu tidak suka pada musim semi, musim di mana bunga akan mekar dan matahari tidak terlalu membakar. Maka, suatu siang di liburan mingguan kedua mereka, Luhan mengajak Jieun pergi ke rumah neneknya.

Tidak terlalu jauh, mereka cuma memakan waktu 60 menit. Jieun dipeluk hangat oleh nenek Luhan, itu cukup untuk mengartikan sebagai sambutan yang baik. Mereka berjalan masuk ke rumah untuk makan siang bersama di taman belakang.

Dan, wow! Luhan sampai terperangah sendiri karena taman yang biasa ia kunjungi hanya ada sebilah pohon aple besar dan batu-batu bulat untuk berjalan. Tapi… kali ini lebih menyenangkan dari itu, nenek ternyata menyulapnya lewat sebuah meja persegi berbalut kain putih dan tiga bangku kayu bertempelkan pita pink-soft besar di bagian bawahnya.

Apa nenek menyediakan semuanya karena ia datang bersama Jieun kali ini? Biasanya hanya ada makan siang di dalam rumah dengan jitakan di dahi karena Luhan memakan terlalu banyak.

“Woah! Nek, bagus sekali!” pekik Jieun masih dengan tangan bertaut pada nenek, sementara pria satu-satunya mengikuti di belakang. Tidak ada acara cemburu—walaupun kalau ia jujur, ia akan mengatakan sangaaaattt  cemburu pada sang nenek—karena ini hanya sehari, Luhan, kau bisa menggenggam tangan Jieun sepuasnya besok, besok, dan besoknya lagi, tutur pria itu dalam hati.

Ketiganya duduk lalu makan pelan-pelan seiring obrolan ringan menyeludup. Jieun tertawa sesekali, Luhan tersenyum malu karena nenek mengolok-oloknya yang sudah jadian, atau memuji masakan nenek yang enak.

Sejam berlalu, mereka selesai makan. Nenek memanggil bibi untuk membantunya membawa piring-piring kotor kembali ke dapur. Sisalah dua orang manusia berbeda jenis denga hening mengisi penuh seluruh udara.

Luhan yang pertama, dia menatap Jieun sampai gadis itu sadar juga dan menatapnya balik. “Bagaimana?” tanya Luhan tentang entah apa bersamaan senyum lebar menguar dari gigi-giginya. “Baik, sangaatttt baik!” Jieun ikut tersenyum lantas keduanya tertawa. Luhan menyentuh buku-buku jari Jieun, menelusuri setiap kulit yang lembut seperti gumpalan awan, lama-kelamaan menggenggamnya halus.

“Jieun, aku mencintaimu.” Ujar laki-laki itu tanpa sadar, pandangannya masih kosong kala menilik jari-jari gadisnya.

Jieun mengangguk, “Aku juga,” Luhan menegapkan punggungnya secara tiba-tiba ke arah pintu belakang rumah nenek, satu-satunya jalan untuk masuk ke dalam. Jieun mengikuti lantas tidak mendapati suatu objek menarik pun di sana. Tapi Luhan tersenyum.

Nenek belum kembali, bukan?

“Jieun!” Panggil Luhan setengah berteriak. Gadis itu kaget setengah mati seraya kepalanya menoleh pada Luhan. dan… cup

Ugh, kejadian sepersekian detik itu berlalu meninggalkan rasa manis lebih dari permen kesukaan Jieun. Ia tidak berani menemukan mata Luhan. Bibirnya bergerak-gerak kaku, tangannya terasa gatal untuk menyentuh bagian bibir pinknya.

Jieun tidak lama tertawa kecil, mencoba mengulang apa rasa yang baru saja ia dapatkan. Sementara Luhan menatap gadis itu malu, matanya ragu—takut seandainya Jieun akan marah-marah seperti ketika ia lupa mengerjakan pr.

“Luhan, kau—“ Jieun bingung ungkapan apa yang pas untuk merespon, ucapannya tersedak di tenggorokan.

Beberapa menit berlalu, menyisakan keduanya dengan senyum semanis gulali di wajah masing-masing. “Apa kau masih tidak menyukai musim semi?” tutur laki-laki itu pelan.

“Hmmn? Musim semi?” Jieun memutar matanya sedang menimbang-nimbang. Luhan menyorotnya penuh harap. “Sepertinya, aku tidak membencinya lagi.”

“Benarkah? Kenapa?”

Tentu saja benar, karena kau merebut ciuman pertamaku di musim semi!

Luhan, kau berhasil membuat Jieun tidak benci lagi pada musim semi!

.

.

.

.

.

Fin

a/n: ini ff length apa aku juga bingung, kayak drabble tapi agak panjang, kayak ficlet tapi kependekan, kayak chapter—karena aku mengungkit dari ff kemarin—juga engga soalnya chapter ga sependek ini! Aku emang gabisa bikin panjang-panjang /nangis/

Terima kasih yang sudah membaca, kalo ini ga berasa fluffnya ya gapapa toh aku bukan author yang sejatinya suka manis-manis(?) maafkan aku kalo feelnya ga dapet 😄 mind to review? Thanks for reading and comment are reaallyy welcome^^

Advertisements

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s