I’m Just (chapter 4)

i'm just poster

I’m Just by Cicil. Staring with GG’s Yoona and Seohyun and EXO’s Luhan. Twoshoot. All belong to God.


Aku
Hanya
Terjebak dalam Cinta

“Yongie!” Yoona tersentak kaget dilihat dari tubuhnya yang bergerak kaku langsung bangkit untuk mengunjungi Bibi Cho di dapur. Pagi sudah menjelang semenjak beberapa jam lalu kendati gadis itu belum bisa menghilangkan bekas aneh yang terasa di dadanya sejak kemarin malam. sejak ia dan Luhan bertemu.
Yoona mengulum senyum kala matanya dan iris Bibi bersiborok, tungkainya segera merajut langkah mendekati wanita paruh baya itu. “Ada yang bisa kubantu?” tanya Yoona seperti pelayan di kafe-kafe.
“Tidak usah, Yoong. Aku hanya ingin menanyakan kepastianmu untuk pulang nanti sore. Apa itu benar?” Bibi Cho sibuk memotong wortel dan bunyi pisau memekik sembari Yoona berpikir.

“Tentu saja,” jawabnya sepersekian detik kemudian menghasilkan wajah lesu dari sang bibi.
“Karena itu kita akan bersenang-senang hari ini!” Bibi Cho melongok tidak percaya pada keponakannya itu, apa yang dimaksud senang-senang olehnya? Apa pergi ke klub malam? nonton bioskop? Dinner berdua saja? Tapi itu yang dilakukan anak remaja bukan wanita berumur hampir setengah abad sepertinya.
Menyadari tatapan Bibi Cho, Yoona membetulkan posisinya setelah mengikatkan tali celemek di belakang pinggang. “Maksudku, hari ini aku akan menemani Bibi Cho kemanaaapuuun itu” mereka berdua melukiskan tawa lantas melanjutkan kembali acara masak untuk makan siang yang menyenangkan.

 

…—…

Yoona merogoh saku celananya setelah mengelap keringat yang terasa lengket di wajah. hawa di dapur terasa amat panas lantaran hanya dipasangkan satu buah kipas angin.
“Halo?” Yoona bersuara kala terdengar deru napas di seberang. “Bagaimana kalau kita…” Yoona menautkan alisnya menunggu lanjutan dari kata kita yang begitu panjang. “Pergi?” ia berasa menunggu seribu tahun untuk Luhan menggumamkan lima huruf terakhirnya.
“Ke mana? Aku akan segera pulang nanti sore,” Bibi Cho yang mengaduk sup jagungnya di panci sesekali menguping pembicaraan. “Oh, nanti sore? Cepat sekali, padahal kita baru kemarin bertemu.” Yoona terkekeh setelah nada Luhan dibuat lesu seakan mereka akan berpisah lama.
“Oke, oke, tidak usah sampai begitu, Lu. Aku masih bisa pergi ke kafe dekat sini dan bertemu denganmu.” Membayangkan Luhan tersenyum cerah kembali saat lantunan pemecahan masalah dari Yoona.
“Aku tunggu di kafe dekat pertigaan sebelah kanan, ya? yang warnanya biru tua.”
“Iya, bye!” Yoona menutup telfonnya, membalikan badannya untuk memastikan Bibi Cho masih setia di sana dan mendapati tawa kecil wanita paruh baya itu. Pipinya mulai meronakan warna merah karena malu, mengalihkan pembicaraan rasanya tidak buruk. “Bibi sudah menambahkan lada di sana?”
“Sudah, rasanya pas sekali.”

 

…–…

Yoona menutup pintu gerbang lantas membetulkan tali tasnya yang hampir terjungkal jatuh. Berjalan kaki menjadi pilihan pertamannya sekaligus yang terakhir, lantaran transportasi kaki lebih sehat, lagipula kafe yang ditujukan rasanya tidak terpaut begitu jauh dari rumah.
Ia sampai di pertigaan tanpa satu kendaraan pun lewat sedari tadi, irisnya berkelana mencari kafe nuansa biru di sebelah kanan. Hap. Ia mendapatkannya, sekaligus menemukan sosok berbaju oranye dan celana selutut sedang memilah menu di depan kasir.
“Hai!” Yoona terkesan antusias sekali, kendati pada kenyataannya memang begitu. Luhan berbalik kaget lalu tersenyum lebar memperlihatkan lengkungan sabit bulan di kedua mata. Ia melambaikan tangannya meskipun Yoona hanya berjarak seperempat meter.
“Tunggu sebentar!” Luhan menunjuk kasir di belakangnya, Yoona mengangguk merasakan rindunya sirna begitu mendengar suara si laki-lakinya. Ia menggerakan tungkai mengunjungi salah satu meja bundar berbangku dua.

“Tidak mau pesan minuman?” Tanya Luhan kala ia menjatuhkan diri di kursi seberang Yoona. Gadis itu menjuntaikan alisnya ke atas kemudian mengangguk jelas. Irisnya berkata-aku akan memesannya-Luhan mengerti itu.
Menyesap jus stroberi saat sore memang tidak terkalahkan. Rasanya manis bercampur asam menggelitik lidah Yoona. Ia memutar-mutar sedotan putih itu lewat mata yang terus memandangi Luhan.
Menelusuri tiap milisenti wajah laki-laki itu. Bahkan tak segan-segannya ia tertawa kecil sendiri menyadari bahwa dirinya terlalu menyukai Luhan. menilik setiap gerakan yang dilakukan Luhan, entah apa yang terjadi padanya sore ini.
Luhan salah tingkah kala hari jadi mereka baru melewati kurang dari dua puluh empat jam. Ternyata berhadapan dengan Yoona adalah hal paling nyaman yang pernah ia rasakan. “Emm…bagaimana kabarmu?” yeah, basa-basi terbasi yang pernah ada mengingat mereka baru bertemu kemarin malam, sejenak pertanyaan itu seperti menggambarkan rasa ingin saling memeluk karena tidak bertemu bertahun-tahun.
“Baik, kau sendiri?”
“Tentu saja, aku senang bisa terus melihatmu.” Sebentar tawa mereka berdua pecah, akui bahwa hanya memandangi saja membuat tersenyum. “Aku juga,” ujar Yoona disela tawa mereka berdua.
Luhan melirik telfon genggamnya sebentar, lantas bertanya pada Yoona ketika ia mendapati tanggal berapa hari ini. “Pak Kim, tidak memberikan tugas apapun padamu?” Yoona tertegun, bagaimana ia bisa lupa kalau Pak Kim menghadiahkannya dua tugas lapangan.
“Ya ampun, aku lupa sekali tentang Pak Kim.” Rautnya berubah drastis jadi kawathir seperti ada awan mendung di atasnya dan Luhan ingin memunculkan kembali matahari cerah mereka. “Liburan masih dua hari lagi, kan? Kupikir itu cukup.”
“Tapi aku perlu pergi ke pameran setempat juga menganalisis beberapa buku di perpustakan. Mustahil aku bisa menyelesaikannya dalam dua hari.” Kilah Yoona menambah guratan jelas di keningnya.
“Aku akan membantu.” Yoona mendongak dari kepalanya yang tertunduk. Pandangan mereka bersiborok dalam satu garis tak kasat mata. Ia seakan menemukan rumah untuk pulang dan mengadu dalam iris Luhan, menenangkan begitu sejuk.
Ia menarik napas berat dan hembusannya menggema di telinga Luhan. kedua bahunya melorot menatap sayu pada kekasihnya. Lantas tersenyum tipis, “Terima kasih, sudah mau mencintaiku.”
Luhan membalas senyuman itu dengan lukis tarikan kedua sudut bibir selebar yang ia mampu. “Oya, kau akan segera pulang, bukan? Aku akan mengantarmu, lalu kita akan pergi ke perpustakaan sampai ibu penjaga mengusir karena sudah terlalu larut…”
Yoona seperti berbaring di atas awan selembut kapas, seakan masalahnya menguap begitu saja dibawa oleh semilir angin. Mendapatkan esensi nyaman kala telinganya mencerna tiap kalimat panjang milik Luhan tentang detail rencana mereka.
Terima kasih, Luhan.

 

…–…

 

Mereka berkemas setelah memutuskan pulang ke rumah masing-masing dan bertemu lagi di perpustakaan ujung kota. Jam memamerkan pukul setengah enam sore. Yoona merajut langkah sambil membawa segenggam buku catatan dan kotak pensil warna hijau-mint kesukaannya. Jarak perpustakaan tidak terbentang amat jauh membuat Yoona sampai dalam tempo waktu singkat.
Ia memasuki kedua pintu besar yang terbuka sejak pagi-pagi datang. Luhan ada di sana, sedang duduk memainkan handphone. “Lama menunggu?” Yoona menyentuh bahunya. “Tidak juga,” ia berdiri secepat kilat lantas menggandeng tangan Yoona mencari tempat duduk di sudut rak buku.
“Buku tentang apa yang kau cari?” tanya Luhan disela langkah mereka. “Sastra,”
“Ah, itu dia.” Mereka berbelok ke kanan, mengunjungi dua kursi dekat gorden jendela dan sampingnya adalah barisan buku sastra sesuai tema tugas Yoona. “Tunggu sebentar, ya. aku cari buku dulu.”
Yoona kembali dengan dua tumpuk buku setebal empat ratus halaman pula membuat bola mata Luhan hampir keluar karena kaget. “Kau akan membaca keduanya? Serius? Kalau begini caranya—“
“Sssttt…aku sedang berkonsentrasi.” Luhan memutar irisnya malas, kendati Yoona telah membuka halaman pertama bukunya dengan kacamata bertengger apik di hidung.

Kalau begini caranya, dua hari juga tidak selesai.

Setengah jam berlalu, Luhan tengah diambang kebosanan. Ia sudah mencoba bermain permainan di handphone, mencari buku sendiri untuk dibaca-walaupun akhirnya buku itu juga teronggok tak terbuka di ujung meja—dan menepon Sehun, bicarakan sepak bola—tapi tidak jadi, mengingat ini perpustakaan.

Luhan memangku wajahnya di tangan dengan mata super suntuk menatap Yoona di sebelah kirinya.
“Sudah selesai?” tukas Luhan yang melirik jam tangannya sebentar. Satu jam lagi perpustakaan umum akan tutup.
“Sampai klimaks saja belum, Lu.” Punggung laki-laki itu melorot sampai dadanya menyentuh meja dan kepalannya bersembunyi dibalik kedua lengkupan tangan. Yoona belum sampai ke permasalahan terbesar buku itu, berarti tiga perempat buku saja belum dirambanginya. Yang lebih parahnya lagi, itu mengisyaratkan Luhan masih harus menunggu.
Ia tidak tahu kalau menemani Yoona ke perpustakaan sebegini membosankan. Namun sedetik kemudian bahunya kembali tegap layaknya semula. Matanya sekali-kali berbinar. Kepalanya menengok ke kiri, memfokuskan retina hanya pada wajah Yoona.
Menelusuri tiap lekuk wajah gadis itu berhasil membuat Yoona risih. “Emm..” gumamnya malu, Yoona memalingkan wajah dari bukunya untuk membelakangi Luhan. supaya wajahnya tidak bertambah merah dan konsentrasinya tidak buyar.
Luhan terkikik pelan, “Kau cantik,”
“Apa?” imbuh Yoona kaget.
“Ya, cantik.” yeah, ada yang baru terpesona hari ini. Gadis itu berbalik untuk melihat Luhan. kala pipinya membuncahkan rona kemerahan dan darahnya berdesir lebih cepat karena lukisan senyum Luhan tampak tulus lagi itu yang membuatnya jatuh cinta.
“Jangan seperti itu, hei!” ujar Yoona dengan nada lebih tinggi pula vomule lebih keras. Jadi, ibu penjaga gembul yang menyebalkan itu datang dan mereka disuruh tidak berisik lagi atau keluar.

Luhan menarik lengan Yoona lekas-lekas untuk pindah ke meja lebih dalam supaya ibu penjaga tidak mendengar kekehan mereka lagi.
Senja itu mereka isi dengan rona merah pipi dan pukulan-pukulan kecil Yoona karena Luhan yang bandel.
Luhan juga sudah tahu bagaimana cara membunuh rasa bosan.
Caranya adalah, mematap kekasihnya.

 

It must be love.

 

…—…

Suatu pagi setelah kejadian di perpustakaan terlewati. Luhan menjemput Yoona, dapatkan sambutan baik dari ibunya yang memakai celemek masak dan rambut diikat satu. Mereka pergi ke universitas, saling menautkan tangan sampai jam kelas dan jurusan masing-masing memisahkan.
“Bye, dua jam lagi di kantin, ya!” teriak Yoona di depan pintu kelas pada Luhan yang mulai menjauh melambaikan tangan padanya. “Oke!” timpal lelaki itu sebelum tungkainya lekas berlari menuju ke gedung sebelah.
Laki-laki itu bertemu Seohyun bersama pelototan mata khasnya di kelas. Ia duduk di depan Seohyun sambil berujar malas, “Apa lagi sih? Aku sudah mengerjakan tugas, kok.” Bukannya balasan senyum, Luhan malah menuai jitakan di dahinya.
“Kemana saja kau kemarin? Harusnya kau menemani aku dan ibu ke supermarket.” Luhan memang sudah menganggap keluarga Seo layaknya keluarga sendiri bahkan ia tidak segan tidur di rumah Seohyun daripada rumahnya yang jarang dihuni pemilik rumah.
Apalagi ibu Seohyun yang baik itu sering membuatkannya bekal makan siang yang sampai ke tangannya lewat Seohyun.
“Aku ada pekerjaan yang saaanggaaattt penting. Jadi tidak bisa diganggu.” Seohyun cukup membulatkan mulutnya dengan sahutan ‘oh’ menjadi penghujung percakapan mereka. Tidak seperti biasanya.
Namun beberapa menit kemudian, memanfaatkan waktu sebelum Pak Kwon datang, Seohyun bertanya pada Luhan, “ Memangnya pekerjaan apa? kau punya kerja paruh waktu sekarang?” yang kedua adalah pertanyaan polos dari si pintar Seohyun karena mustahil laki-laki paling malas sedunia itu mau bekerja, mengingat uangnya juga kelebihan.
Luhan mendekatkan wajahnya pada Seohyun. Matanya ke kiri dan kanan seperti maling dan mulutnya mengeluarkan suara berfrekuensi rendah. “Ssstt.. jangan bilang siapa-siapa, ya. aku kemarin pergi ke perpustakaan bersama Yoona.”

 

…—…

Apa?

Perpustakaan?

a/n :
yesssss, keluar juga chapter empatnya walaupun pendek ya._. maafkan akuuuuu /teriak ga jelas/ ini aku buat aja butuh curi-curi waktu hehehe. Untuk mengobati rasa fanfic berchapterku yang aku tahu, semuanya tiap chapter itu pendek banget apalagi let the fate lead me belom keluar juga part 14 nya -_- dan beberapa ff lain yang belom jalan.
Thanyou for reading and comment are really welcome^^
See you in next chapter!

Advertisements

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s