Let The Fate Lead Me (Special Chapter)

Special Chapter…

Coba tebak saja, gadis mana yang tidak mau ditembak secara romantis? Membayangkan laki-laki yang kau sukai akan berlutut dengan seikat bunga di depan mata. Yeah, itu keinginan semua orang. Tapi apa daya kalau itu tidak terjadi, biarlah, toh seakut apapun kakunya laki-laki yang kau cintai. Pasti akan diterima.

Begitu pula dalam bayangan Jessica. Meskipun hatinya menerima kekecewaan karena—okay, mau tidak mau ia akui kalau Luhan sama sekali tidak romantis!—tidak ada sepucuk surat cinta, seikat bunga warna merah muda atau cincin pasangan.

Malam itu terjadi di apartemen kecil bernuansa jazz. Segelas vodka dan black tea mengiringi di sudut tangan masing-masing. Bintang tidak sebanyak malam sebelumnya kendati bulan merasa kasihan hingga ia membentuk sabit lewat pancaran terang.

Lantunan lagu yang bersaut-sautan bersama saxophone, menggelitik daun telinga sekaligus menyegarkan tubuh. Jessica masih diam termagu di balkon, matanya bersiborok pada gelas yang terus digoyangkan oleh tangan tanpa takut tumpah. Hitung-hitung menunggu Luhan mencuci piring kotor di dapur belakang. Biarkan saja laki-laki itu yang mengerjakan semuanya.

Sejenak tatapan kosong tak berartinya memperhatikan sang kaki yang masih terbalut perban putih. Tidak menyangka juga kalau sandungan tidak sengaja Luhan bisa membuat kakinya sebegini parah. Hey, ia cuman tersandung lalu jatuh, bukankah ini tidak masuk akal untuk kakinya sampai harus pakai tongkat berminggu-minggu?

“Hai,” suara itu menelusup membuyarkan lamunannya beriringan suara gedebuk pelan pertanda ada seseorang duduk di sebelah. Jessica mengangkat wajahnya, mencari kemana wajah yang baru saja menyapanya. Ketika kontak mata terjadi, detik itu pula sekelebat memori menghantarkannya pada mimpi buruk.

Wajah itu bukan lagi asing untuk dilihat. Menyimpan sejuta perjuangan demi mereka berdua, menyembunyikan betapa sakitnya harus ditinggalkan.
“Hai juga,” tenggorokan Jessica terasa kering padahal segelas vodka sudah meneguknya tadi, menimbulkan percikan serak pada suaranya. Mereka terkekeh kecil, menyadari betapa canggung suasana dengan sapaan ‘Hai’ yang coba mencarikan.

“Bagaimana makan malamnya?” Luhan menggerakan bibirnya menciptakan senyuman yang Jessica rindukan. Ia ingin sekali memeluk laki-laki itu, ingin sekali memukulnya hingga babak belur karena dia telah melukainya, ia ingin melakukan itu. Kendati hanya cibiran semata tentang telur gosong yang keluar dari dua belah bibirnya.

Dua menit berlalu membawa keheningan tersendiri. Jessica memutar matanya lantaran terus mencari cara supaya tidak terjebak dalam posisi layaknya sekarang. “Kau, tidak pulang?” ujarnya pelan pada Luhan yang masih terpaku akan langit malam.

Laki-laki itu menilik jam tangannya lewat si iris kecokelatan. Menyadari bahwa ini sudah tengah malam. “Mungkin sebentar lagi,” Jessica hanya bergerak mengangguk tandakan dia mengerti. Sebenarnya ada sebongkah pertanyaan yang muncul, untuk apa menunggu sebentar lagi? Tadi Luhan tampak terkejut kala jarum jam memampangkan angka sebelas malam. apa ada sesuatu yang menjanggal hati laki-laki itu?

Okay, lupakanlah kebingungan itu. Jessica kembali berkutat pada gelas kosongnya dan bibir yang berkomat-kamit tidak jelas. “Jessica,” mendadak jantungnya berdentum keras seperti ada bom atom meledak di sana. Kepalanya segera menengadah melihat Luhan, merasakan sensasi hangat dari mata itu menggerayangi tubuhnya.

Jessica menatapnya binar, entah kenapa tapi ada sesuatu yang ia harapkan akan keluar dari dua belah bibir Luhan. “Euummmm…….. “ yeah, gadis itu memutar bola matanya jengah, ia berhenti meluruskan pandangannya pada Luhan.

Terdengar desahan panjang Luhan di sebelahnya, mungkin juga dari tadi suara debukan cepat berasal dari jantung laki-laki itu.

“Aku rasa kita dekat, lebih dari sekedar teman kerja atau rasa bersalahku telah menyandungmu. Kau tampak tidak asing saat kita pertama kali bertemu siang itu. Seperti saling mengenal sebelumnya, dan pertanyaan itu masih terngiang sampai sekarang. Jantungku tidak pernah berdetak normal ketika berada sangat dekat denganmu. Aku sedih sekali saat kau pergi tanpa memberi kabar. Aku..”

Ia menoleh secepat kilat pada Luhan, lantaran sang otak masih sibuk mencerna deretan kalimat panjang barusan. Tampak klise di mata, mana mungkin laki-laki super cuek sepertinya bisa mengeluarkan kata-kata seperti kaliamat pengantar?

Luhan menyisir surai Jessica, menyelipkan poni panjangnya ke belakang telinga agar wajah cantik itu bisa terkuak. Jessica menatap si iris kepekatan, matanya berkaca-kaca tak percaya. “Aku mencintaimu.”

Sebuncah perasaan hampa datang, kendati harapan yang selama ini tidak jelas kepastiannya telah menguap begitu saja seiring butiran air mata keluar dari pelupuk mata. Sebuah rasa yang aneh, tidak bisa dideskripsikan.

Kau mendapatkan cintamu kembali, mungkin itu harapannya. Kau mencintainya dan ternyata lima tahun berlalu juga kecelakaan tak dapat menghapuskan cintanya kepadamu, itu membuatnya senang. Tapi, suatu mengganjal terus mengingatkan kalau Luhan yang sekarang berbeda, dia suka fotografi bukan sepak bola, dia cuek bukan perhatian, dia sahabat Woohyun bukan Baekhyun, atau Sehun, atau Chanyeol. Dia berbeda.
Lalu apa mereka masih bisa menyambung semuanya?

Jessica menunduk, biarkan pandangan lurus mereka pudar, ia mengelap air mata dengan telapak tangan. “Maukah kau jadi pendamping hidupku?” Luhan berusaha melihat wajah itu, berusaha menemukan kembali mata yang ia yakini sangat tepat berada di sisinya.
Jessica merapikan poninya, menatap Luhan sejenak dengan matanya yang memerah. Lagi-lagi harus menghapus air matanya, sembari memejuangkan hati bahwa pilihannya harus tepat. Bersama atau berpisah adalah yang tersulit.

Ia mengambil napas panjang-panjang, memejamkan matanya untuk perlahan mengangguk. Dia mengangguk, seakan mengerti apa yang Luhan tuturkan. Dia mengangguk sekali lagi, dua kali lagi, bahkan berulang-ulang sampai perasaannya yakin dan senyum di bibir Luhan merekah begitu saja.
Mereka berpelukan, begitu erat hingga rasanya mau mati saja. Jessica ikut menyunggingkan seburat kebahagian lewat bibir tipisnya. Ya, ini pilihan paling tepat, untuk terus bersama Luhan.

‘Ya, aku akan mendampingimu. Meskipun kenangan kita yang terdahulu telah hilang dari benak.’

“Ehm.. aku rasa umur kita tidak lagi muda, Jess.”


Luhan menggaruk leher belakangnya ragu.


“Lantas?”


Jessica tampak sama sekali tidak mengerti.


“Ayo menikah!”


“APA?”

What will happen on next chapter?
See you^^

Note:
Maafkandakuuuu demi Luhan aku gak tahu kenapa Let The Fate Lead Me jadi ngadet gini –– aku mulai kembali dengan special chapter, ini lebih memperasakan kejadian terakhir di chapter sebelumnya—soalnya beberapa menyatakan feel kurang—tapi aku ga merubah kata-kata mutiara Luhan kok, jadi kalo masih ga berasa ya..baca ulang lagi(?) /engga aku bercanda/ hari dekat ini next chapter bakal muncul hehe, gak bakal ngumbar janji lagi deh. Soalnya lagi libur berhubung SMP UN –– semangaaatt yang UN yaaa, dan mulai dua minggu kedepan aku harus full belajar (soalnya nilai turunn/nangis/maaf ya curcol._.)
Thanks for reading, and comment are reallyyywelcome^^

p/s: aku dapet ide gila Luhan bisa cetusin ‘Ayo menikah!’ itu dari sini

Advertisements

6 thoughts on “Let The Fate Lead Me (Special Chapter)

  1. wahhh!!!! so sweet !!! 😄
    luhanny d stu kyk brusaha klw dia ngingat jessica pdahal gk ingat.., hahha.., tpi srius ini so sweet !! 😄
    luhanny ngajak jessica mnikah.., OMG !! :3
    dtunggu klanjutanny thour dan smangat ne ^^

    • iyaa mereka bakal nikah yeay! wkwkwk. soalnya pas diakhir tadinya ga kepikiran untuk ngimbuhin kata menikah tapi tiba” tercetus ><
      Thanks for commenting yaa^^

  2. Kukira ini chap terakhir hahahaha
    Wah ku kira author udh sma lohh soalnya kata2nya bagus banget hahaha
    Bener kata jessi luhan brrubah udh jadi suka fotografer akan bola,cuek bukan perhatian, temen woohyun bkan baekhyun ayolahhhh thorrr kembalikan ingatan luhannnnnn
    Gile blum apa2 luhan udah ngajak nikah hahaha…kutunggu next chappp

    • wkwk, abisnya aku kurang srek buat lanjut tapi setelah ada special chapter ini ide untuk chapter 14 berkelebat semua 😄
      wah aku belom sma._. haha makasii /muah/?
      iya Luhan gila._.
      Thanks for commenting yaa^^

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s