Let The Fate Lead Me (Chapter 15)

poster let the fate lead me 1

Let The Fate Lead Me (chapter 15)

Author : Cicil
Cast : exo’s Luhan and GG’s Jessica
Other cast : member lainnya.
Rating : G
Genre : Romance
Disclaimer : The story/fiction is actually mine, but I don’t own the cast.

Summary :

Maaf…

Backsound: Raisa-pemeran utama (tapi gak ada hubunganya sama sekali sama isi lagu tersebut ya^^)

“APA?” Luhan segera menjauhkan kepalanya dari Jessica, tidak membalas respon gadis itu, malah sibuk mengusap-usap telinganya.

“Kau, serius?”

“Tentu saja,” Jessica tampak ragu dari sorotannya.

“Tidak semudah itu, kau harus bertemu orangtuaku lalu berbicara, kemudian kita—“

“Oke, oke, kita bisa urus semua itu, bukan? Aku juga tidak ingin yang buru-buru.” Ia bingung, apakah ini yang paling tepat?

Dimana puncak segala hubungan yang mereka jalin dan masalah-masalah tidak jelas akan berujung di pelaminan depan altar nanti.

Mereka saling mencintai satu sama lain, Luhan bertanggung jawab lebih lagi ia berani mengambil keputusan untuk ini semua. Kendati bukan itu saja yang memikat Jessica untuk tetap tinggal di hatinya, Luhan punya cara tersendiri untuk membuatnya seperti pulang ke ‘rumah’ ketika ia memeluknya.

“Yakin?” Tanya Jessica untuk lebih memastikan lagi. Guna memantapkan hatinya.

“Ya ampun, harus berapa kali aku bilang padamu? Kita bisa mulai dari besok, ehm…kau ada jadwal?” Jessica mengisyaratkan matanya tunjukan keadaan si kaki yang teronggok tidak berdaya dibalut perban putih. Itu berarti dia pasti free besok, layaknya hari-hari kemarin.

“Kita ke dokter, tanya kapan kau bisa berjalan lagi. Lalu kau akan membawaku ke rumahmu, berkenalan dengan orangtuamu, kemudian kita…”

Yeah, Jessica tidak tahu kalau malam ini akan terasa begitu indah di matanya. Seperti menghirup sejuta oksigen bersih, terasa menggelitik dada karena kesejukannya. Matanya masih memerah dan berair, tapi senyumnya sudah merekah tidak bisa dikendalikan lagi.

Mendengar suara Luhan, mendengar penjelasannya, mendengar rencana mereka untuk hari esok, dan esok, dan esoknya lagi seakan terjun dari langit dan jatuh di gumpalan awan lembut.

“Tolong ambilkan buku note di meja sana,” perintah Jessica menunjuk sebuah meja dekat tv yang penuh serakan kertas. Luhan segera meraihnya meskipun ia tidak tahu apa yang akan Jessica lakukan, dan hei, tadi Jessica memotong ucapannya!

“Ini,” gadis itu mulai menulis dengan kotak-kotak kecil setelahnya. Luhan memandanginya ingin tahu. “Untuk apa itu?”

“Aku tidak bisa mengingat satu persatu rencana kita, jadi tulis saja di sini, lalu yang sudah dilakukan akan dicentang di kotaknya.”

Luhan tersenyum haru, itu berarti Jessica serius dengan ajakannya. Itu berarti mereka akan segera menemukan titik akhir dan memulai awal yang baru.

“Jadi… bisa ulangi dari awal, Tuan Xi Luhan?” laki-laki itu mengangguk. “Omong-omong, jangan panggil aku dengan embel-embel; Tuan lagi, ya.” kebiasaan tidak berubah.

 

…—…

Masalah pertama yang mereka temui ketika pagi menjelang dan seperempat buku note Jessica telah terisi penuh oleh daftar adalah Luhan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan ketika ia datang pagi itu ke apartemen Jessica dan gadis itu masih berkutat di kamar mandi!

Laki-laki itu mengacak rambut cokelatnya kasar kemudian menjatuhkan tubuhnya di antara bantal sofa dan menyalakan tv. “Luhan?”

“Ya?”

“Oh, itu kau, aku pikir seorang pencuri masuk.” Mungkin otak Jessica belum sepenuhnya bekerja pagi ini karena tidak ada pencuri yang mencuri pagi-pagi, Jess.

Luhan hanya bisa geleng-geleng melihat Jessica. Gadis itu ikut duduk di sebelah Luhan dan ia menghembuskan nafas sejenak sambil membuka selembar pertama buku note kesayangannya.

“Ehmm…bagaimana kalau kita mulai dari—“

“Makan cupcake?” potong Luhan penuh semangat seperti anak umur lima tahun. Jessica melongo dibuatnya apalagi sikap laki-laki itu kemarin malam penuh rancangan dan terkesan dewasa.

“Okay, setelah makan cupcake di toko eomma Taozi, kita ke rumah sakit sesuai daftar pertama.”

“Memangnya Taozi, teman adikmu itu punya toko kue?” tanya Luhan kala dahinya berkerut tidak jelas tandakan kebingungan.
“Ya, dia punya banyaakk sekali cupcake warna-warni.”

Luhan jadi tersenyum ceria secerah mentari pagi itu dan akan langsung menarik Jessica kalau tidak diingatkan tentang kakinya.
“Pelan-pelan!”

 

…—…

Setelah menikmati cupcake super manis dan berbentuk unik dari toko Taozi—sebenarnya milik ibunya—yang sangat enak mereka bergegas ke rumah sakit walaupun Luhan masih mau berlama-lama di tempat berwarna pelangi itu. Sepertinya dia ketagihan kue manis hari ini.

“Banyak perkembangan yang terjadi. Saya rasa, mulai besok Jessica tidak perlu pakai perban lagi. Kita akan mulai proses berjalannya. Diharapkan bisa datang ke sini setiap hari, ya.” jelas sang dokter ramah, mengembangkan senyum di wajah kedua insan itu.

Mereka keluar dari ruangan, Luhan mengurus biaya pemeriksaan hari ini dan Jessica menunggu di mobil.

“Selanjutnya?” tanya Luhan setelah menutup pintu mobil dan menilik Jessica yang sibuk berkutat dengan pen dan buku note.

“Melihat cincin mungkin? Atau kau mau mengunjungi kerabatmu untuk memberitahu hal ini? Terserah.”

“Bagaimana kalau kita kembali ke apartemenku? Lalu menemui Woohyun, dia pasti masih bermain playstation di sana.”

“Yeah, kita ke sana dan beritahu dia kalau sahabat karibnya ini akan segera jadi miliku.” Usul Jessica penuh semangat.

Mereka bertemu Woohyun lalu laki-laki ‘gila main’ itu hampir terjungkal dari kursi meja makan karena kaget tapi akhirnya memberi selamat juga pada keduanya dan, “Ada yang mau main winning eleven bersamaku?”

Luhan memutar bola matanya sementara Jessica coba meraih tongkatnya dan berharap segera keluar dari apartemen milik laki-laki-yang-berantakan-habis-itu.

“Sudahlah, aku dan Jessica sibuk. Sampai nanti!” teriak Luhan meninggalkan Woohyun sendiri di bangku.

“Ohya, jangan lupa undang teman-temanmu untuk pesta nanti malam!” itu yang terakhir dan setelah itu terdengar suara dentingan tanda pintu telah ditutup.

Jessica menyalakan musik di radio, entah mereka akan pergi ke mana setelah keluar dari arena parkiran kendati ia tahu kalau arah yang dituju Luhan adalah toko cupcake Taozi. Itu menjengkelkan, maka ia marah-marah, “Ya, aku tidak mau ke sana lagi, aku bisa gemuk kalau berlama-lama dengan kue manis itu!”

Luhan langsung meminggirkan mobilnya dari tengah jalan raya untuk berhenti. Lantaran suara melengking Jessica bisa membuatnya tidak fokus. “Iya, iya, iya, puas?” ketus Luhan tanpa menatap Jessica.

“Iya, aku puuaaass!…..sekali….hehehe.” Jessica tertawa kecil lewat senyum terlebarnya, kedua alisnya pun ikut terangkat tandakan ia sangat bersemangat.

Ugh, karena hal itu Luhan luluh seketika. “Jadi, mau ke mana kita sekarang?”
Ini sudah mantap terngiang di pikiran Jessica. Bahwa mereka harus bertemu dengan teman-temannya, setidaknya bernostalgia sedikit dan mengungkap sebuah masalah.

“Aku ada janji reuni SMA di sekolah kami, siang ini—“Jessica melirik jam tangannya dan terkejut, “—oh, kita akan terlambat! Cepat putar balik mobilmu.” Luhan mengikuti saja, toh tidak ada salahnya berkenalan dengan teman-teman Jessica dan memberitahu mereka bahwa Jessica akan segera jadi miliknya.

 

…—…

Bukan main-main, tentu saja. Jantung Jessica terasa akan melompat keluar sebentar lagi, karena itu ia terus memegangi dadanya sepanjang mereka berjalan ke kantin sekolah—berhubung ada rapat guru hari ini jadi seluruh murid sekolah diliburkan—dengan Luhan disampingnya, laki-laki itu tampak keren lewat tangan bersembunyi di balik saku celana juga kaca mata hitam bertengger apik di hidung.

Tidak tampak bermasalah mengetahui kantin berada di ujung sekolah. Jessica mencoba menghubungi Taeyeon di sela langkah kakinya. Berbincang dengan gadis di seberang tentang apa-semuanya-sudah-sampai-atau-belum. Sementara Luhan,

Laki-laki itu mengurungkan tingkah kagetnya dibalik kaca mata. Ia terkejut sejak Jessica menyebutkan nama sekolah itu di mobil, seperti sudah mengetahui letaknya di mana meskipun Jessica yang mengarahkan. Ruangan-ruangan sekolahnya yang kosong tidak asing lagi bagi pandangannya. Justru itu yang memicu sesak di dadanya.

Kepalanya sakit, seperti terakhir mereka berada di pantai malam itu dengan isak tangis Jessica. Kendati ia hanya merendamnya sendirian.

“Ah, itu dia kantinya.” Jessica menunjuk sisi sebelah kanan, tampak beberapa orang sedang berkumpul di satu meja.

“Jess, di sini!” panggil Taeyeon, sedetik kemudian ia tercengang akan sosok yang di bawa Jessica. Bukankah itu…?

Taeyeon mengerutkan kening sementara Baekhyun di samping cepat sekali menyadari kejanggalan di antara mereka. Kedua insan itu datang ikut bergabung. Jessica tidak bisa berpikir sejenak, hanya terus berharap supaya kali ini tidak akan berakhir buruk dan membawa pengaruh negatif untuk kekasihnya. Semoga saja.

Jessica menjatuhkan pandangannya pada sekeliling. Ada Taeyeon bersama Baekhyun, Yoona dan Sehun, dan Chanyeon dengan kekasihnya, Tiffany. Ia tidak mengerti, sungguh. Kenapa semua pandangan tertuju pada Luhan kemudian berganti pada Jessica.

Luhan tidak melepas kaca matanya, tetap diam walaupun segerombol perasaan campur aduk meringkupinya.

“Jess…err…siapa ini?” pecah Yoona mewakilkan seluruh kata-kata mereka.

Jessica menarik napasnya dalam-dalam.

Ia berbisik sebentar pada Luhan dan laki-laki itu mengangguk.

 

“Namanya—“

 

 

 

Seiring dia melepaskan sang kaca mata penuh ragu.

 

 

 

Luhan.”

 

Mereka semua kaget bukan main. Itu sama sekali tidak bisa disembunyikan dari raut mereka.
“Luhan? Xi Luhan?” Baekhyun memastikan.

Luhan menutup matanya sejenak. Ia mengangguk. Ia keabisan akal kenapa laki-laki yang satu itu tahu namanya, bahkan secara lengkap.
“Luhan, kau—“ Chanyeol justru tidak kuat lagi berkata hingga ucapannya melayang hampa di udara.

“—dari mana saja?” Sehun melanjutkan kalimat Chanyeol.

Iris gelap itu kebingungan, ia menatap Jessica penuh tanya seiring makin banyak yang berbicara padanya. Jessica menunduk, biarkan surainya menjuntai ke bawah menutupi wajahnya. Ia menggelengkan kepalanya jelas, ia menangis. Taeyeon mengusap punggungnya pelan.

“Luhan, jawab kami.” Seru Sehun lagi bagai reporter berita penting.

“A-aku tidak tahu—“ Luhan coba menetralisir keadaan yang jadi semakin panas.

“Dia tidak tahu, dia tidak mengenal kalian, dia bukan Luhan yang terakhir kalian temui.” Potong Jessica.

“Apa?” mereka semua menyatukan mata menatap Jessica termasuk Luhan ikut meninjau kekasihnya. laki-laki itu tidak mengerti kenapa ia harus mengenal teman-teman Jessica, kenapa ia harus menjawab dari manakah ia selama ini, kenapa ia pura-pura, atau apapun itu yang terlalu ambigu baginya.

 

 

…—…

 

 

Mereka semua lebih tenang dalam kurun beberapa menit, Yoona dan Tiffany pergi membeli makanan, Baekhyun permisi ke kamar mandi, Sehun dan Chanyeol ingin keliling sekolah sebentar.

Meninggalkan Taeyeon, Jessica, dan Luhan yang masih membeku.

Jessica perlahan menegapkan punggungnya, beralih menatap lekat-lekat kekasihnya itu. “Luhan, sebaiknya kau pulang saja. Aku bisa diantar oleh Taeyeon. Ini semua terlalu sulit untukmu.” Jelas Jessica yang sudah memikirkan matang-matang keputusannya.

Biarkan Luhan pergi dulu dari mereka karena Jessica tahu sorot mata laki-laki itu tampak kesakitan, ia tidak mau melihat lagi Luhan yang kacau, ia akan menjelaskan semuanya.

Namun nyatanya Luhan menggeleng pelan. “Aku tetap di sini, aku ingin tahu apa yang terjadi, apa yang aku lakukan di masa lalu.”
Jessica mendongak ke langit-langit lampu sambil menghapus air matanya lagi. Kesal karena Luhan tidak mau bekerjasama. “Luhan, aku bilang lebih baik kau pulang! Keadaan ini akan semakin buruk.”

“Aku akan pulang dan membawa rasa sakit ini karena aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Lebih baik sekarang atau tidak selamanya.” Pupil mata Jessica melebar, mendengar kalimat terakhir laki-laki itu. “Tidak selamanya?”

“Iya, aku lebih benci menelan rasa sakit di kepalaku terus-menerus daripada berusaha menggali masa lalu. Aku benci itu, karena—“ Luhan membuang napasnya kasar, tidak mau melanjutkan ucapannya.

Karena jika aku pulang dalam keadaan kacau, Woohyun tidak akan membiarkanku tinggal di sini lagi, dia akan membawaku kembali dan menghubungi ayah tentang keadaanku yang memburuk selama di Seoul.

“Apa? karena apa?”

“Aku tetap di sini.” Luhan mendinginkan hatinya sejenak, kembali bersender pada punggung bangku.

Jessica benar-benar ingin memukul kepala anak itu karena keras kepalanya bagai batu besar yang kuat. Ia mengalihkan pandangan pada Taeyeon dan meminta bantuan sahabatnya itu untuk menyuruh semua kembali ke sini.

Taeyeon mulai menekan sederet nomor beberapa kali lantas mereka kembali berkumpul meskipun langit mulai berwarna ungu dan suasana menjadi canggung.

Kala semua dalam keadaan sunyi tanpa raut wajah bersemangat, Jessica berbisik sesuatu pada Luhan, “Jangan salahkan aku, Luhan. aku harus menjelaskan semuanya pada mereka, tentangmu. Jangan dengarkan aku kalau kau tidak mampu memaksa.” Nadanya selembut alunan lagu kemarin malam, menyentuh gendang telinga Luhan.

“Aku tidak pernah menyangka ini semua terjadi. Aku pikir Luhan memang sudah menghilang dari hidup kita. Tapi pekerjaanku dan takdir Tuhan menuntunku kembali padanya. Meskipun dengan keadaan yang jauh berbeda.

Luhan mengalami kecelakaan sewaktu dia di Beijing, dan tidak memiliki satu kontak pun dari kita semua mempersulit ia untuk mengingat masa lalunya. Ia bertemu denganku, itu mengejutkan, sangat malah. Luhan tidak mengenalku sama sekali siang itu di tengah pantai. Kami melakukan pekerjaan kami, lantas tanpa sadar ajakan untuk mendatangi pesta tahunan di sana saat malam aku terima. Aku berusaha untuk mengembalikannya saat itu dengan mengulang masa-masa kami dulu, dan ia malah…”

Jessica melirik Luhan sebentar, mendapati laki-laki itu sedang menutup matanya bersamaan kerutan dan wajah yang memerah.
“Jadi seperti ini, aku tidak tahu apapun, tapi sewaktu kami berdua keadaannya lebih parah dari ini.”

Ia meraih tangan Luhan dan menggenggamnya erat. Ketika semua mengetahui penjelasan itu telah usai mereka berusaha menerima juga bersikap setenang mungkin. “Luhan,” panggil Baekhyun lewat sorot mata yang lama sekali tidak bertemu.

“Maaf….” Luhan tidak balik menatap mereka, ia pergi, ia bangkit dari kursinya dan lari sekencang yang ia bisa untuk kembali ke arena parkiran. Ia melarikan diri, ia berasa seperti pengecut sekarang. Namun kepalanya bisa pecah berada dalam jangka waktu panjang di sana. Ia tidak bisa, butuh waktu untuk ini semua.

Jessica mematung di tempatnya. Ia tersenyum kecut, air matanya mulai banjir lagi. Benar, kan? Lebih baik Luhan pulang sedari tadi
daripada dia harus kabur seperti ini. Meninggalkan mereka semua tenggelam dalam pikiran penuh tanya tentang keadaaanya.

“Aku sama sekali tidak menyangka ini semua terjadi,” ujar Baekhyun menghusap wajahnya frustrasi.

Aku pun begitu. Biarkan takdir yang membawa kita kembali bersama, selamanya

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Kkeut!

Note:
Huffttt, ini ngebut banget(soalnya udah mau sekolah lagi dan gaada libur setelah itu-_-). Maaf ya tulisannya amburadul gini dan alurnya cepet banget. Aku pikir masalah udah selesai pas kemarin jadi tinggal nyusun ending tapi ternyata masih ada satu yang belum selesai 😄

See you on next chapter!

Thanks for reading and comment are reallywelcome!

Advertisements

2 thoughts on “Let The Fate Lead Me (Chapter 15)

  1. luhanny msih gk mengerti klw dia amnesia.., ak jga agak-agak bingung bacany.., hehhehe
    jdi, luhanny ntar sama-sama jessica lgi kn ..?? 😄
    dtunggu klanjutanny dan smangat ne ^^

  2. thorrrr akhirnyaa luhan cs bertemu lagiiiiii,aku kangen baekhyunn masa hahahhahahaha
    itu…luhan ke parkiran terus mau kemana? balik gitu ningglin jessi? tk patutttt…hehehehehehe
    kapan luhn inget semuanyaa, aku gk sbar sma chapter selanjutnya hehehehe
    kutunggu next chap

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s