Look in Your Heart

poster look in your heart

Tittle : Look in Your Heart || by Cicil || Genre : Friendship, brothership || Rating : for all readers || Length : <1500 || Disclaimer : I don’t own the cast, but the story is actually mine. ||

 With Sehun and Jongin.

Pagi itu sekolah dimulai seperti sedia kala. Ibu Kim, yang paling Sehun benci selama umur hidupnya itu masuk ke kelas sambil membenarkan si kacamata di hidung.  Jongin di sebelahnya kadang menyenggol sedikit karena tatapan tajam Sehun bisa saja menganggu Ibu Kim dan dia akan dapat ganjarannya.

Setelah selesai memberi salam, wanita setengah tua itu mulai membuka tutup spidol putihnya dan melukiskan tulisan-dengan-gaya-berlebihan-menurut-Sehun sepanjang dan selebar papan tulis. Kadang anak-anak berpikir apa mulut Ibu Kim tidak kering atau berbusa telah berbicara sekaligus teriak selama tiga jam penuh.

Tapi sudahlah, toh tidak ada yang peduli dengannya.

“Aku ingin dia keluar saja dari sekolah ini!” ketus Sehun di sela jalannya ke kantin bersama Jongin—mereka pura-pura ke kamar mandi dan membolos pelajaran—ohya, tentu saja itu ide Sehun.

“Kecilkan suaramu, atau kita akan berakhir di ruang kepala sekolah. Aku tidak mau itu terjadi, apalagi sampai ibuku dipanggil.” Jongin adalah murid paling teladan yang mau berteman dengan Sehun dan mungkin…err.. sekarang ia tercemar oleh kelakuan ‘nakal’ bocah itu.

Sejatinya, tanpa sedikitpun mengubris keluhan Jongin, Sehun memesan minuman pada ibu kantin dengan senyum lebarnya. “Bu, aku mau jus jeruk.” Kemudian di sela Sehun mengeluarkan uang dari kantong celananya, Jongin berucap “Aku juga.” Tanpa marah.

Mereka dua sahabat terlengket yang pernah ada, dua orang yang saling mengerti dan sepertinya mereka sudah bisa telepati.

Sehun duduk, untung tidak ada guru sama sekali yang lewat. Mereka aman sejauh ini. Mengobrol tentang bola, atau artis-artis cantik. Semenjak habisnya jus jeruk di gelas masing-masing, keputusan untuk kembali ke kelas tidak dapat diganggu-gugat lagi.

Lagipula berilah Ibu Kim sedikit waktu setengah jam terakhir untuk melihat Sehun dan Jongin sebelum bel tanda ganti pelajaran dideringkan dan ia keluar.

Sehun membuka pintu kelas bagian belakang penuh hati-hati, agaknya ia berencana untuk merayap di lantai bagai cicak dan kembali ke mejanya tanpa disadari Ibu Kim. Tapi nasib sungguh malang menimpa kedua sahabat karib itu.

“Oh Sehun, Kim Jongin! Dari mana saja kalian?” Keduanya berhenti merayap, Sehun menutup matanya kesal sedangkan Jongin, eumm.. rasanya ia ingin menjedukan kepalanya ke dinding lantaran setuju dengan ide bodoh Sehun.

Sehun yang berdiri duluan, begitu tegap sambil menggaruk-garuk leher belakangnya tanpa berani membalas tatapan menusuk  Ibu Kim. “Itu Bu, a-aku..aku…aku…” Sehun terus memutar otaknya karena itu matanya juga ikut berputar-_-

Jongin perlahan-lahan muncul dari balik bangku salah satu murid, mendapati mata seluruh kelas terpusat pada mereka berdua.

Sedetik kemudian, puingg, Sehun menaikan alisnya bahagia bagai ada sebuah bolam lampu warna kuning tiba-tiba jatuh di atas kepalanya. “Aahhhhh, Ibu…perutku sakit sekaliii!!”  Sehun memegangi perutnya, meremas-remas kemeja putihnya, lantas wajahnya berkerut semua karena—pura-pura—sakit.

Jongin melongo sendiri di sampinya. Oh, tidak, tidak, dia tidak sendiri karena sekarang seluruh kelas melongo melihat tingkah Sehun! Tapi beruntung mereka punya ‘telepati’ Jongin malah menimbrung memegangi perutnya pula wajahnya dibuat sepucat Sehun. “Bu, perutku juga sakitttt. Mungkin karena aku belum makan dari tadi pagi.” Jongin lebih pintar dari Sehun ternyata—dalam berbohong—bahkan dia menyertakan belum makan padahal mereka baru menyeruput jus jeruk tadi, Wow!

Ibu Kim membiarkan kedua bertingkah tidak jelas, dengan tangannya di kedua belah pinggang. Menyaksikan kedua murid nakal itu sampai terguling-guling di lantai berharap ia segera menyuruh mereka ke ruang kesehatan. Wanita itu tahu sekali kalau Sehun hanya berpura-pura lagi Jongin juga.

“Ayo anak-anak, kembali ke papan tulis dan sampai di mana kita tadi?” Ibu Kim melanjutkan pidatonya kendati tidak ada satu pun murid yang ingat apa yang terakhir Ibu Kim jelaskan tentang pelajaran.

Sehun masih berteriak tapi Jongin sudah berhenti. Meninggalkan laki-laki bodoh itu sendiri dan kembali ke mejanya meskipun para anak-anak lainnya memperhatikannya. “Aku hanya bercanda tadi, oke?” jelasnya tanpa membesarkan volume suara.

“Jadi sebenarnya, teknik untuk menulis yang dikatakan banyak itu hanya bualan belaka. Menulis adalah hal yang murni keluar dari pikiran kita apalagi kalau itu tentang sastra. Tapi ada beberapa juga yang memerlukan keahlian di bidang tertentu—“

Sehun bingung sendiri untuk apa dia di sini jadi ia berhenti meremas-remas kemejanya, bedanya dibandingkan Jongin, dia tidak kembali ke tempat duduknya tapi malah berdiri dan kakinya melangkah ke pintu keluar kelas. Bahkan Ibu Kim melihatnya jelas! Bocah satu itu memang tidak ada takutnya sama sekali.

“Oh Sehun! Kembali ke tempat dudukmu, sekarang juga!!!” teriak Ibu Kim apakagi murid-murid di dekatnya sibuk menutup telinga.

Sehun berhenti lantas berbalik ke arah bangku kosong di sebelah Jongin.

Tepat saat ia duduk, bel tanda pelajaran berakhir menggema di seluruh dinding sekolah. Semua murid melorotkan bahunya, terlalu senang untuk segera ‘mengusir’ Ibu Kim keluar dari kelas mereka.

Alih-alih segera pergi dari ruangan itu, Ibu Kim mendekati meja Jongin dan Sehun sambil menatap mereka bengis. “Kalian saya hukum.” Sehun dalam hati mengumpat. Jongin membalas kata-kata guru-tercintanya, “Kami tahu,” (betapa kurang ajar anak jaman sekarang)

“Membuat tulisan tentang kesalahanmu di kertas sebanyak seratus halaman dan kumpulkan di meja saya besok, atau saya akan melaporkan hal ini pada orangtua kalian.” Lantas berlalulah guru bahasa mereka yang paling menyebalkan itu.

…—…

 

Mereka tidak main salah-salahan lagi seperti waktu sekolah dasar. Entah salah siapa itu, Sehun yang mengajak mereka bolos kelas atau Jongin yang menjawab omelan seenak jidatnya. Tapi keduanya berusaha mengumpulkan seratus lembar kertas ketika pulang sekolah dan menyiapkan sebongkah pensil kayu beserta serutannya.

Jongin mulai menulis di meja belajarnya. Satu halaman selesai, dua halaman juga begitu. Seiring menit-menit  berlalu. Tapi Sehun, dia tidak tahu apa yang harus ia tulis, sejauh menit-menit terlewati ia telah berhasil menulis namanya sendiri dan kelasnya.

“Jongin,” panggil Sehun tanpa sadar. Yang memiliki nama itu tidak sengaja tidak mendengar.

“Jonginnn,” suara Sehun menggema lebih keras, tapi lagi-lagi Jongin tidak meniliknya.

“Jongin!! Kim Jongin!”

“Apaan, sih?” Jengkel Jongin.

“Bagaimana cara menulis—“

“Ya ampun, Sehun. Kau tidak bisa menulis? Sini, sini, aku perlihatkan caranya.” Kemudian satu suara gedebuk berhasil membuat kepala Jongin sakit. “Bodoh, tentu saja kau tahu caranya menulis.”

“Lalu, apa tadi aku salah dengar?”

“Bagaimana caranya menulis semua itu?” Sehun menunjuk-nunjuk kertas halaman ke-10 Jongin dengan pensilnya dan pasang tampang melas, siapa tahu Jongin juga bersedia menuliskan miliknya?

“Tulis saja,”

“Hah?”

“Ibu Kim guru paling cantik—“

“Uhuk, uhuk! Tidak ada sejarah mengatakan Ibu Kim CANTIK.”

“Banyak bicara kau, tulis saja.”

“Aku tidak mau,” Sehun melipat tangannya di dada.

“Ya sudah.”

“Jongin, beberkan padaku apa rahasia kau bisa menulis sepuluh lembar tanpa henti dalam setengah jam saja?”

“Eumm.. Look in your heart and write.”

 

 

 

 

 

 

 

Malam itu Sehun menghabiskan waktunya untuk mengerti kalimat Jongin.

Err.. omong-omong bagaimana caranya melihat hati kita sendiri?

Bukankah dia letaknya di dalam tubuh.

-Fin

 

Note :

Maafkan aku ya kalau ini kayak yaoi pelis-_- aku kalo buat friendship malah jadi gini. Apalagi kalo friendshipnya ga berasa sama sekali /gubrak/ ide ceritanya juga tercetus gara-gara liat posternya hehe^^ tadinya mau buat romance fluff, cuman bosen ah, pengen friendship kebeneran ada Jongin dan Sehun yang selalu setia jadi stok aku /ditendang/

p/s: bantu Sehun bagaimana menemukan cara untuk melihat hatinya sendiri-_-

Advertisements

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s