Let The Fate Lead Me (Chapter 16- end)

poster let the fate lead me 1

Tittle : Let The Fate Lead Me

Author : Cicil

Cast : exo’s Luhan and GG’s Jessica

Other cast : Sehun, Baekhyun, Chanyeol, Yoona, Taeyeon, Tiffany

Rating : G

Genre : Romance

Disclaimer : The story/fiction is actually mine, but I don’t own the cast.

Pagi itu matahari menggantungkan semangat tinggi-tinggi pada diri Luhan. Seperti tidak ada mimpi buruk saja dalam kamus hidupnya. Ia memalingkan wajah, melihat tanggalan tahun dan tersenyum lagi. Lebih manis dari biasanya.

Hari minggu! Man, hari terindah dalam hidupnya, karena itu artinya dia bisa…err….tidur lagi. Tidak seorang pun mau mengajaknya keluar kalau Luhan gila tidur hari itu. Tapi satu-satunya mungkin, Woohyun.

“Arrggghhh, diamlah!!” Luhan coba menendang kaki Woohyun, supaya laki-laki super-menyebalkan-buatnya-hari-ini-itu menyingkir dari ranjang kesayangan Luhan. berhenti loncat-loncat di sebelah Luhan, karena selain mengganggu SEKALI tidurnya, ada kemungkinan Woohyun salah meloncat dan berakhir menginjak tubuhnya. Ugh, Luhan tidak bisa membayangkannya sama sekali.

“Berhenti menutup matamu, Jessica sedang menonton tv di apartemen kita!” teriak Woohyun, dalam jarang seminimal mungkin dengan telinga Luhan. “Jessica?” keduanya terbengong lima detik—Woohyun berhenti meloncat—tapi dalam artian yang berbeda jauh, Luhan diam karena ia tidak tahu sama sekali kenapa gadis yang-gila-tidur-sama-sepertinya sudah datang pagi-pagi, sementara Woohyun tampak konyol menunggu reaksi apa yang akan Luhan berikan.

Tapi itu tidak berlangsung lama setelah lima detik berlalu. “Biarkan saja dia, nanti kalau bosan juga pulang sendiri.” Kalau kalimat itu didengar oleh Jessica, pasti Luhan sudah dimaki habis-habisan, ditonjok pipi kiri dan kanannya, ditendang perutnya, dan yang paling buruk adalah diinjak betisnya. Aw, pasti sakit sekali.

Namun, bukan Jessica yang ada didepannya, tapi Woohyun. Pria itu mengedipkan matanya beberapa kali sebelum berucap, “Oh, ya sudah, aku mau mandi dulu.” Lantas dengan konyolnya ia pergi dari ranjang kesayangan Luhan, mengambil handuk di sudut sana.

Berakhirnya tindakan itu, melanjutkan Luhan peluk guling kesayangannya dan menarik selimut ‘MU’nya. Sebelum matanya tertutup, “Tuan Xi Luhan!” dalam hati laki-laki itu mengumpat habis-habisan. Tadi Woohyun dan siapa lagi sekarang, berani-beraninya mengganggu hari minggu indah Luhan?

Seseorang menarik selimutnya sekuat tenaga pergi menjauh, Luhan mendelik tidak suka pada orang itu. “Hai!” sapa Jessica penuh semangat, kedua sudut bibirnya tertarik tinggi ke atas. Sedetik kemudian, Luhan lekas mengganti tatapan kebenciannya jadi senyum seribu bunga. Yeah, indah sekali.

“Hai, sayang.” Kecupan di dahi Jessica mengawali pembicaraan mereka. Tampak hangat, manis, penuh kasih cinta.

 

 

 

 

 

 

“Cepat bangun atau kubunuh kau!!!” Luhan lekas jauhkan wajahnya dari Jessica beberapa senti ke belakang. Bagaimana bisa bidadari secantik pacarnya itu bisa jadi serigala menyeramkan? Dan, gadis apa yang tega membunuh kekasihnya kalau ia tidak mau bangun tidur?

“Oke, oke, Jessica Jung, tidak perlu semarah itu. Calm down baby,”  Luhan menepuk-nepuk bahu Jessica, lantas kakinya langsung mengayun menuju tempat handuknya bertengger. Tapi belum sampai di sana, ia berhenti dan berbalik menatap Jessica polos.

“Woohyun sedang mandi,”

“Mandi saja berdua.”

“Tidak mungkin!”

“Ya sudah, sarapan dulu baru mandi.”

“Aku belum gosok gigi,”

“Minum obat kumur?”

“Obat kumurnya baru habis kemarin, hehe.”

Jessica ingin sekali mengambil panci penggorengan di dapur dan menggetoknya di kepala Luhan seperti yang Rapunzel lakukan di menaranya supaya otak itu—mungkin sudah terbalik posisinya—bisa sedikit benar. Tangan kecilnya mengepal kuat, berusaha meredakan emosi.

“Errr…mungkin kita bisa pergi ke minimarket di bawah dan membeli obat kumur rasa mint lagi.” Solusi Luhan ragu, mengetahui Jessica telah menyiapkan tinjunya. Untung Woohyun tiba-tiba keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Luhan buru-buru pergi melesat ke sana.

“Mandi yang bersih, kita akan vetting baju nanti siang!”

“Iya, baby!!”

 

…—…

 

Luhan tampak sangat pengecut hari itu. Dia yang memaksa untuk tetap tinggal dan mendengar penjelasanku malah kabur pada akhirnya. Di tengah hujan mengguyur, aku tidak dapat menemukannya di apartemen bersama Woohyun, kami kebingungan setengah mati seperti mencari anak umur lima tahun yang menghilang ketika baru ditinggal sebentar.

Woohyun bilang, ia tidak berkomunikasi lagi dengan Luhan setelah tadi siang kami makan di apartemen, dia sendiri sedang menunggu Luhan. Lebih parahnya lagi, saat malam itu aku mendatangi apartemen Luhan dan Woohyun, ada sekitar belasan orang tengah menari-nari tidak jelas, lampu dimatikan, dan musik berdentum amat kencang.

Tapi, lupakan pesta tidak jelas yang satu itu. Aku segera kembali lagi ke mobil dan mulai menyalakan mesin, menembus ribuan bintang di langit malam, melenggang begitu longgar di jalanan sepi.

Tepat pukul sembilan malam, ibu menghubungiku tiba-tiba tanpa disangka, berhenti sebentar dengan memarkirkan mobil di pinggir jalan sambil mendengarkan suara ibu yang aku selalu rindukan.

Ceramahan ibu tentang wanita-tidak-baik-baik-keluar-malam-hari, gawatnya mengetahui kondisi bahwa waktu makin larut dan aku masih terjebak dalam mobil dan kekalutan mencari kekasihku—membuat ibu makin menegaskan nasihatnya.

Aku terpaksa memutar balik arah dan kembali ke apartemen, tidur dalam lengkungan khawatir dan air mata terjun bebas dari pipi. Tapi tidak apa-apa selama masih ada hari esok, tadi teman-teman juga menyemangatiku. Mereka bilang mereka mengerti keadaan Luhan, mereka mengerti Luhan yang sekarang bukan lagi yang dulu. Mereka janji akan bersikap baik dan seolah-olah tidak ada apapun terjadi di masa lalu. “Kita akan coba perlahan-lahan, sudah konsultasikan ke dokter kalau Luhan masih punya kemungkinan bisa mendapatkan kembali memorinya?” kata Taeyeon sore itu, membuat jantungku berdetak lebih normal.

Benar saja dugaanku, ketika fajar baru menyingsing dari ufuk timur, suara bel tandakan tamu datang berdenting begitu mudah membangunkan aku yang tidak bisa tidur sama sekali. Dia datang, tepat di depanku dengan rambut setengah basah dan posisi di ambang kehancuran. Aku sadar, hujan baru berhenti setengah jam yang lalu, buat bajunya masih lepek dan tetesan air sesekali menuruni surainya.

Aku menariknya masuk, menyuruhnya tunggu sebentar di sofa sementara aku merebus air untuk black tea, kesukaannya. “Maaf,” bisiknya setelah satu seruputan teh. Aku sontak menoleh padanya, perhatikan iris itu mulai meredup.

“Maaf tidak bisa jadi pria yang tegas. Aku tahu aku pengecut.” Ia menyunggingkan senyum miris, yang paling aku tidak suka dan aku berharap itu yang pertama dan terakhir aku lihat. “Ini bukan salahmu, Luhan.” jelasku menenangkan.

“Jess, I’m just want to ask you something important. Will you continue this relationship? Aku bersedia menerima jawaban apapun darimu.” Bunyi ‘tak’ dari cangkirnya yang bersentuhan dengan meja kaca mengawali jantungku yang berdegup kencang. Aku seperti merasa seakan ia ingin hubungan kami berakhir, ia ingin aku menyelesaikannya.

It’s not important anymore, Lu.” Jawabku, menjelaskan bahwa keputusannya untuk bertanya itu adalah keputusan terbodoh di dunia. “Hal terpenting adalah, aku bersedia menerimamu, aku bukanlah satu-satunya yang terluka karena ini tapi kau juga. Aku tidak bisa merasakan apa yang kamu rasakan tapi aku percaya, masih ada cinta di antara kita. Masih ada yang lebih penting dari sekedar satu masalah.”

Luhan tampak terperangah, irisnya melebar begitu saja membalas tatapan sayu miliku. Sejenak aku ragu untuk melangkah ke lebih dalam dari sekedar ‘kekasih’ ,aku ragu memiliki seorang Luhan yang terlihat begitu mudah putus asa hanya karena sebuah masalah.

Namun, senyum yang merekah di bibir Luhan tanpa ada satu kata keluar darinya. Ya, aku tidak perlu kata-kata untuk mengerti bahwa aku mencintainya, bahwa dia juga mencintaiku. “Aku yakin, ini hanyalah awal, bukan titik akhir dari hubungan kita. Ini adalah awal.” Ia berucap, tinggalkan sensasi tersendiri membuncah dihatiku. Agak menggelitik tapi itu kenyataannya. “I will be the one who always stand by your side, will be protect you and the first who will be angry if someone hurt you.

“Trims,” satu terima kasih singkat dariku mengawali pelukan hangat yang aku rindukan. Seperti ada hujan bunga di atas kepala kami, ada seribu kupu-kupu berterbangan, dan pelangi di luar kaca sana menjadi saksi bisu bahwa aku yakin, dia yakin, atas langkah yang akan kami rajut sampai mati.

Sejak hari itu, tepatnya sih pagi itu, aku menendangnya keluar dari apartemenku dan menyuruhnya mandi sebersih mungkin. Maksudku mandi di apartemennya sendiri. Aku membuat janji dengan Taeyeon dan Baekhyun untuk makan malam bersama. aku yakin sepasang sejoli itu adalah yang paling siap menerima diskusi kami tentang pernikahan.

“Jess, aku akan segera menyusulmu di altar bersama Baekhyunie,” Baekhyun bergidik jijik mendengar namanya yang terkesan…err…begitulah. Aku menggelak tawa bersama Taeyeon. “Yah, kami tunggu, ohya kira-kira menurut kalian gedung mana yang cocok jadi tempat pernikahan?”

Baekhyun mulai akrab lagi dengan Luhan, mereka membicarakan bisnis masing-masing, perkembangan kota, dan bidang-bidang tertentu. Obrolan laki-laki memang selalu begitu, kan? Membosankan.

Aku juga baru tahu kalau Luhan tidak hanya bergelut menjadi fotografer—ternyata itu hanya hobinya alias kerja sampingan—dia juga bekerja untuk perusahaan ayahnya, lulus jurusan bisnis pula. Tapi, itu tidak penting selama yang aku ingin dari Luhan hanya secuil perasaan cinta yang membuat kami utuh.

Lalu besoknya kami bertemu dengan Yoona dan Sehun, membincangkan hal yang sama seperti malam sebelumnya. Bedanya, Yoona tampak tidak berniat buru-buru mengambil keputusan untuk sehidup-semati dengan laki-laki kekanankan di sebelahnya.

Luhan dan Sehun juga makin lengket, mereka bukan mengobrol tentang bisnis tapi tentang bola! Yeah, laki-laki di dunia belahan mana yang tidak suka bola, dari yang kecil sampai tua sekalipun suka pertandingan bola.

Hyung, kau harus lihat pertandingan nanti malam, jam dua. Aku bertaruh MU pasti kalah.”

Dan malamnya kami bertemu Tiffany-Chanyeol. Walaupun aku tidak terlalu dekat dengan Tiffany tapi soal fashion dan belanja kami berdua lebih lengket dari Sehun dan Luhan. “Hyung, kau harus membelikanku jas hitam yang bagus untuk acaramu.” Kata Chanyeol sesaat setelah kami memberitahu mereka.

Mwo? Kenapa aku yang harus membelinya? Kata Jessica, kau punya banyak jas di rumahmu.” Ekspresif Luhan kaget, kami semua tertawa karena tingkahnya. Lagi pula, laki-laki setinggi tiang itu, aneh-aneh saja dengan permintaannya.

Aku baru merasakan hidup ada yang sebahagia ini, masalah-masalah kecil seperti Soojung yang tidak mau aku menikah atau debat rancangan undangan tidak mengecilkan nyali Luhan untuk terus bersamaku.

Kami menjalani hari-hari kami lebih cheesy—entah kenapa Luhan jadi romantisme berlebihan dari biasanya—meskipun ayah sempat tidak menyetujui, tapi lama-kelamaan dia melunak, melihat tingkah Luhan dan kata-kataku yang berusaha meyakinkannya.

Aku juga menulis surat cuti dari pekerjaanku, kami terbang ke China untuk mengabari ayah Luhan. Plus, baru kali ini aku (semudah membalikan telapak tangan) dapati ayah Luhan begitu cepat membiarkan anak tunggalnya itu menikah. Katanya, “Pilihanmu adalah yang terbaik.”

Kami berdua tersenyum, aku tidak sadar memukul lengannya karena terlalu senang. “Aww!”

Ups, maaf, Lu.”

Seraya cengiran melengos sempurna dari mulutku.

 

…—…

 

“Bagaimana?” aku bertanya pada Luhan yang duduk di depan sana. Menatapku dari ujung rambut sampai gaun terbawah—menutupi sepatuku—malas. Tak lama kemudian ia memutar bola matanya, menguap sedikit, menggaruk-garuk leher belakangnya, baru memberi komentar.

Tapi bukan komentar seperti yang aku harapkan.

“Itu gaun ke berapa yang kau coba?”

Aku menghembuskan napas kasar ke udara. Perempuan di sebelahku tampak ingin tertawa melihat tingkah kami berdua. (Luhan kau memalukan!) “Ini yang pertama.” Balasku, berusaha timbulkan nada sedatar mungkin, supaya dia sadar, dia salah.

“Oh, maaf, aku lupa. Yang ini bagus,” aku tidak lagi mengharapkan komentar SEDERHANAnya itu. Terima kasih.

“Tunggu sebentar, aku akan mencoba gaun yang kedua.”

Beberapa menit kemudian.

Setelah tirai terbuka lagi, tampilkan tubuhku terlapiskan gaun berbeda. Kali ini, Luhan tidak menguap, memutar bola matanya, atau menggaruk leher belakangnya. Ia berdehem sedikit, matanya pancarkan sinar tersendiri. “Aku lebih suka yang ini, Jess.” Tukasnya semangat.

“Lebih pas di tubuhmu.” Aku tersenyum mendengarnya, gaun pertama memang agak kebesaran, dan yang ini lebih nyaman dipakai.

“Aku mendapatkan gaunya, Luhan!”

 

…—…

 

“Nona Jessica, sudah selesai melamunya?” aku teradar, sebuah tangan melambai-lambai tegas di depan wajahku. “Oh, maaf.” Aku menatap bawah sejenak, kemudian kembali lagi mendongak. Melihat pantulan diriku di cermin. Terasa begitu cantik dengan polesan make-up tipis dan tatanan rambut sesuai keinginanku.

Ini adalah harinya, dimana kami akan melangkah.

“Jess, ayo, semua sudah menunggu.” Aku menutup mataku sebentar, mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Namun rasa gugup tidak bisa hilang begitu saja.

Taeyeon menggandeng tanganku, keluar dari ruang rias. Ketika aku berpindah tangan pada ayah, aku menatap Taeyeon yang cantik sekali dalam balutan gaun putih, sama seperti Yoona dan Tiffany. Aku melangkah satu demi satu, ditemani ayah menuju ujung sana di mana Luhan telah menunggu.

Soojung ada di deretan bangku paling depan, ia tampak indah—aku tebak pasti banyak laki-laki mengejarnya—dan ibu, tersenyum haru padaku tanpa bisa menghapus jejak air mata di wajahnya.

Setelah aku berhadapan begitu lurus dengan calon suamiku. Jantung ini seakan ingin copot saja, aku ingin melompat ke angkasa dan umumkan pada dunia bahwa hari ini adalah yang terindah dalam hidupku. Bahwa aku bukan lagi wanita terpuruk dalam kesedihan. Aku bukan lagi wanita sendiri, aku akan hidup saling mendampingi dan bersama-sama.

Senyuman Luhan menambah debit air mata yang mengalir dari kelopak mata. Aku coba menghapusnya, sementara suara pendeta dari samping terdengar begitu jelas.

Ya, aku bersedia untuk jadi miliknya.” Tukasku dalam hati.

Kami mengucapkan janji itu, janji sehidup-semati dengan lantang. Hingga maut memisahkan, aku akan melewati hari-hari indah bersamanya, hari-hari keterpurukan bersamanya. Semua akan kami lalui bersama-sama mulai detik ini.

Luhan memasangkan cincin pada jari manisku, tampak bertengger apik dan indah di sana. Aku melakukan hal yang sama padanya. Seiring tepuk tangan para tamu yang ada berdengung merayapi daun telingaku.

Aku menatapnya ragu, seburat merah pasti telah menghiasi pipi ini. Ia tersenyum lagi dan tanpa sadar langsung mendaratkan ciumannya di bibirku. Kaget, tentu saja,  tapi dengan lekas aku membalasnya. Seketika itu juga getar di tanganku menghilang karena genggamannya yang hangat. Kami tersenyum pada para tamu yang datang, lalu melempar bunga ke belakang dan wow! Sehun mendapatkannya! Yoona akan segera menikah pasti, kkkkk~

Kami makan-makan malam harinya dengan keluarga dan teman-teman dekat kami. Luhan membuat hidupku sempurna, dia menyempurnakannya di bawah tangan Tuhan.

Aku percaya, takdir yang semula tidak mulus, berliku-liku, menumpahkan air mata perihku beribu-ribu kali akan berakhir bahagia. Begitu manis seperti permen lollipop yang sering aku makan sewaktu kecil.

…—…

 

Minggu berjalan, hari berganti, jam berdentum. Aku menyisir rambutku asal ke belakang, segera melangkah ke kamar mandi karena ada jadwal pemotretan dengan Jongin hari ini. Luhan masih bergelut dengan selimut ‘MU’nya yang sekarang jadi milik kami berdua.

Biarkan dia, aku bosan juga menarik-narik paksa selimutnya tiap pagi atau memukulnya dan bilang, “Cepat pergi kerja!” padanya. Jadi aku hanya menyalakan ponsel dan mengirim pesan pada Woohyun untuk datang ke rumah kami—membangunkan si gila tidur itu—

Ada kebiasaan-kebiasaan lucu yang ditemukan ketika kami sudah berumah-tangga. Yang dulunya tidak sempat ditunjukan ketika pacaran. Seperti, Luhan sangat mudah mengantuk kalau bertemu ranjang. Percayalah, aku memang sudah tahu dari jaman purba sekalipun kalau suamiku itu susah sekali dibangunkan. Tapi aku tidak menyangka akan membangunkannya setiap hari dan menghabiskan tenaga untuk menariknya dan menendangnya ke kamar mandi (sisi positif: aku tidak perlu olahraga pagi, membangunkan Luhan adalah olahraga terberat yang pernah ada bagiku.)

Tapi, Luhan tidak pernah lupa mengecup dahiku tiap dia atau aku duluan akan pergi bekerja. Selalu ucapkan ‘Good night baby, sweet dream.’ Yang cheesy-nya berlebihan tiap malam. dia juga memainkan rubik setiap pagi disela-sela berita tv, katanya sih, bermain rubik membantu tangannya lebih lincah bergerak.

Kami belum berencana memiliki anak, lebih tepatnya belum pernah memikirkan. Aku masih sibuk di dunia fashion, Tiffany juga menjadi teman sekerjaku sekarang. Kadang pulang pagi tidak lagi asing bagi kami. Sedangkan, Luhan beberapa kali lembur sampai malam di kantor atau dia izin keluar kota karena ada job pemotretan.

Masalah-masalah kecil juga tidak jarang timbul. Soal, liburan kali ini akan pergi ke mana, atau ingkar janji makan malam, atau lebih parahnya lagi Luhan sering memotret wanita—walaupun itu untuk pekerjaan sampingannya—tapi tetap saja aku cemburu. Dia sama sekali tidak tahu bagaimana rasanya.

Tapi, suatu malam di tengah bulan maret. Hawa dingin masih sesekali menyerbu kaca jendela yang terbuka, aku menarik selimut ‘MU’ Luhan sampai dagu. Luhan tiba-tiba membalikan badannya dan kami berhadapan langsung. Kurang dari setengah meter.

Ia menilik irisku lebih dalam, menarik napas sejenak sebelum berkata, “Aku rasa rumah kita kesepian, Jess.”

Itu ‘kode’ kata Taeyeon sambil menjitak kepalaku keras kala aku menceritakan padanya esok siang setelah malam itu. “Itu artinya dia ingin punya anak, bodoh.” Oww, baiklah silahkan bilang aku bodoh, idiot, tidak peka, tidak berperasaan, feeling pendek, atau apapun sebangsanya. Tapi aku benar-benar tidak tahu apa maksudnya malam itu.

Maka malam berikutnya, aku menarik lengan Luhan pelan. Menyuruhnya menatapku lagi seperti kemarin dalam jarak minimal. “Luhan, aku mengerti.” Dan setelah itu, yeah, uh-huh, aku tidak bisa menjabarkannya. (Kalian bisa berpikir dan membayangkannya sendiri!)

Wow, aku tidak tahu juga kalau rasanya lebih dari sekedar kupu-kupu terbang dalam perutmu, mengetahui…

“I’m pregnant, baeb!” teriaku sore hari di akhir bulan Maret. Setelah kami mandi aku kembali lagi ke kamar mandi dan tadaaa! Aku menangis sambil keluar dan Luhan tampak terengah-engah mendatangiku.

Dia tersenyum.

 

Aku tersenyum.

 

Dia tertawa.

 

Aku tertawa.

 

Dia memeluku.

 

Aku memeluknya balik.

 

Lebih erat dan erat lagi. Rasakan kebahagian tak kasat mata membuncah di antara kami.

 

Ups, jangan peluk terlalu erat, Lu. Ada bayi dalam perutku.”

 

 

 

Let The Fate Lead Me

END

a/n:

happy ending! Yeah, aku merasakannya kok. Terharu karena this is my first fanfict chapter dan akhirnya setelah setahun bergelut dalam ide kemarin malam aku  menemukannya dan inilah akhirnya :”)

ohya, maaf aku jadi kebanyakan nyelipin kalimat inggris di sini, karena dari kemaren lagi baca di Asianfanfict terus sih, hehe. Maaf ya kalo grammar-nya salah, I’m so bad in English.

Then, aku mau ucapin terima kasih buat @aullia nur adawiyah dan @jungice mayumi yang setia sama chapter ini. Big, big thanks for you two yah /ketcup hangat/?

Juga siders, makasih mau baca, aku harapkan diri kalian di akhir chapter ini ya (:

See you on next LuSica fiction!

4 thoughts on “Let The Fate Lead Me (Chapter 16- end)

  1. OMG HELLOOOO!! sumpah ink keren banget dan inj soooo sweeet sekaliiii huhuhu saya terharu bacanya.
    walaupun sedikit errrr….kecewa(?) karena luhan tidak mendapatkan ingatan masa lalunua tapi sudah cukup terobati dengan kedekatan luhan, baekhyun, sehun, dan chanyeol lagi hehehe
    kode luhan emang rada bingungin hahaha
    BTW aku suka bnget ff inj, terus berkarya thorrr..love youu ♥♥♥♥

    • iya sooo sweet??? seriusss? aku masa baca ulang lagi tapi gitu deh._.
      hahaha, abisnya pasti gabakal ending ending dong kalo Luhan balik ingetannya alias mereka harus ke dokter dulu lah, marah marah dulu sama bokap Luhan lah, begini lah begitu lah. Thank yaa for commenting dan selalu baca tulisanku yang satu ini^^

Leave a reply please^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s